Tafsir Surat At-Tiin

Tafsir Surat At-Tiin

Menurut pendapat jumhur ulama, surat At-Tiin adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Karena dalam surat ini Allah berfirman وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ “Demi kota ini yang aman.” Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan isim isyarah هَٰذَا yang bermakna “ini” (isyarat kepada yang dekat) sehingga yang dimaksudkan adalah kota Mekkah yaitu sebelum Nabi berhijrah ke kota Madinah.

Surat At-Tiin berisi penjelasan tentang nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah telah menciptakan manusia di atas bentuk yang paling indah. Tetapi setelah diberi kenikmatan, manusia terbagi menjadi dua model. Diantara mereka ada yang bersyukur kemudian beriman dan beramal shaleh sehingga bagi mereka surga Allah. Namun ada pula yang kufur terhadap nikmat Allah sehingga mereka dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya yaitu ke neraka Jahannam.

Dalam shahih Muslim dari Al-Baroo’ bin ‘Aaazib :

أَنَّهُ كَانَ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ فَقَرَأَ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ بِـ التِّينِ وَالزَّيْتُونِ

“Bahwasanya Nabi pernah bersafar lalu beliau sholat ‘isyaa’ maka beliau membaca pada salah satu rakaatnya dengan surat at-Tiin” (HR Muslim no 464)

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

“Demi (buah) Tiin dan (buah) Zaitun”

Buah tiin adalah buah yang tidak dikenal di Hijaz (Mekkah dan Madinah), sehingga penduduk kota Mekkah dan Madinah tidak mengerti tentang buah tiin, karena buah ini tumbuhnya di negeri Syam (Suriah, Libanon, Palestina).

Sebagian ulama menyebutkan bahwa buah tiin adalah buah yang paling mirip dengan buah-buahan yang ada di surga sehingga Allah bersumpah dengannya (lihat Tafsir al-Baghowi 8/468). Hal ini karena sebagian sifat-sifat yang ada pada buah-buahan surga dijumpai juga pada buah tiin. Diantara sifat buah-buahan surga adalah buah-buah tersebut tidak terhalang artinya mudah untuk diambil, kemudian dahan-dahannya juga rendah sehingga mudah untuk dipetik. Demikian juga pada buah tiin, mudah diambil dan tidak perlu manjat. Selain itu, buah tiin habis termakan dan tidak ada yang terbuang. Tidak seperti buah-buahan lainnya yang harus dibuang kulitnya terlebih dahulu baru bisa dimakan. Itulah persamaan diantara buah-buahan surga dan buah tiin. Dan sampai sekarang banyak dokter-dokter yang mulai meneliti tentang keajaiban buah tiin, diantaranya mengandung gizi yang tinggi dan juga bisa menjadi obat.

Setelah itu, Allah juga bersumpah dengan buah zaitun. Buah zaitun adalah buah yang lebih menakjubkan lagi, dan merupakan buah dari pohon yang diberkahi. Allah bersumpah dengannya karena begitu banyak manfaatnya. Allah berfirman dalam Al-Quran:

الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ

“..    itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api..” (QS An-Nur : 35)

Pohon zaitun juga tumbuh di negeri Syam. Buahnya bisa d  imakan dan minyaknya sangat bermanfaat, bisa digunakan sebagai obat. Sehingga minyak zaitun dan buah zaitun adalah kebutuhan penduduk negeri Syam saat itu. Allah menyebutkannya di dalam Al-Quran:

وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِن طُورِ سَيْنَاءَ تَنبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِّلْآكِلِينَ

“Dan (Kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan.” (QS Al-Mu’minun : 20)

Oleh karena itu, Allah bersumpah dengan buah tiin dan buah zaitun karena dua-duanya merupakan buah yang sangat menakjubkan. Para ulama menyebutkan bahwasanya Allah bersumpah dengan dua buah ini dengan maksud untuk memalingkan perhatian orang yang mendengar ayat ini, yaitu Abu Jahal, Abu Lahab, dan penduduk Mekkah lainnya, dimana ayat ini diturunkan. Sehingga begitu mereka mendengarnya pikiran mereka langsung ke negeri Syam, asal kedua buah ini. Oleh karena itu, akan kita dapati tafsiran sebagian salaf terhadap ayat ini, bahwasanya Allah bersumpah dengan negeri Syam. Buktinya adalah ayat-ayat selanjutnya Allah bersumpah dengan tempat-tempat.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَطُورِ سِينِينَ

“Demi bukit sinai”

Tidaklah dikatakan طُورٌ kecuali bukit tersebut dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan. Sehingga gunung yang hijau yang dipenuhi pepohonan dalam bahasa Arab disebut dengan طُورٌ. Dan سِينِينَ pada ayat ini maksudnya adalah sinai yaitu gunung. Sinai dimana Allah pertama kali memanggil Nabi Musa dan berbicara dengannya. Kemudian dinamakanlah tempat tersebut dengannya. Sehingga orang ketika mendengar ayat ini maka pikirannya akan langsung menuju Nabi Musa, karena di tempat itulah Allah menurunkan wahyu dan berbicara dengan Nabi Musa dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

“Dan demi kota (Mekkah) yang aman ini”

Kota Mekkah adalah tempat diturunkannya wahyu Allah untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sini, sebagian ulama berpendapat bahwasanya maksud Allah bersumpah dengan buah tiin dan buah zaitun adalah tempat tumbuhnya buah tiin dan buah zaitun. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah bersumpah dengan tempat-tempat. Pertama, tempat tumbuhnya buah tiin dan buah zaitun yaitu negeri Syam, dimana Syam adalah tempatnya para Nabi seperti Nabi ‘Isa. Kedua, Allah bersumpah dengan Thur Sinai, yang merupakan tempat berbicaranya Allah kepada Nabi Musa. Ketiga, Allah bersumpah dengan kota Mekkah, tempat diturunkannya wahyu Allah untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat Tafsir al-Qurthubi 20/113 dan al-Kasyyaaf, Az-Zamakhsyari 4/774)

Pada ayat ini Allah bersumpah dengan kota Mekkah. Kota Mekkah merupakan kota suci yang diberi keamanan oleh Allah. Nabi bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ

“Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga.” (HR Muslim no. 1362)

Oleh karena itu, tidak boleh berburu di kota Madinah dan kita Mekkah, tidak boleh juga mematahkan pohon. Allah berfirman tentang keamanan kota Mekkah:

وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

“Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia.” (QS Ali ‘Imran : 97)

Bahkan keamanan kota Mekkah sudah ada sejak zaman jahiliyah. Sampai-sampai para ahli tafsir menyebutkan, dahulu orang-orang Arab apabila ayahnya dibunuh oleh orang lain kemudian dia ingin membalas dendam terhadap pembunuh ayahnya, lantas menemukan pembunuhnya di kota Mekkah maka dia tidak akan jadi membunuhnya. Hal ini karena mereka mengagungkan kota Mekkah. Namun kota Mekkah pernah dihalalkan khusus untuk Nabi, dalam waktu yang sebentar. Nabi bersabda:

وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ

“Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku pada suatu saat di siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya.” (HR Bukhari no. 104 dan Muslim no. 1354)

Yaitu tatkala Fathu Makkah, ketika Nabi ingin membunuh Ibnu Khatal, sebagaimana telah lalu penjelasannya pada tafsir surat Al-Balad. Setelah Nabi menguasai kota Mekkah maka kota Mekkah tidak lagi dihalalkan untuk Nabi.

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan tiga tempat dari para Nabi yang berbeda-beda. Kata para ulama, ini menunjukkan bahwasanya seluruh Nabi di atas agama yang satu. Baik Nabi Musa, Nabi ‘Isa, Nabi Muhammad, maupun Nabi-Nabi yang lain. Oleh karena itu, Nabi bersabda:

وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365)

Kata para ulama, maksudnya adalah seluruh agama para Nabi menyerukan kepada tauhid dan aqidah yang sama. Akan tetapi syariatnya berbeda-beda. Allah berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“.. Untuk setiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang..” (QS Al-Maidah : 48)

Semua Nabi adalah muslim, kembali kepada tauhid dan akidah yang sama. Barangsiapa yang meyakini bahwa Yahudi yang sekarang, Nasrani yang sekarang, dan Islam adalah agama yang sama, maka ini adalah keyakinan yang bathil. Karena Yahudi dan Nasrani yang sekarang semuanya menyimpang dan sudah teracuni dengan kesyirikan. Allah kafirkan mereka di dalam Al-Quran dan menyatakan bahwa mereka adalah musyrikin. Allah berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS Ali ‘Imran : 67)

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk’. Katakanlah, ‘(Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan’.” (QS Al-Baqarah : 135)

Menganggap seluruh agama sama dan membenarkan semuanya adalah propaganda kaum liberal. Mereka mengatakan bahwasanya surga bukan hanya milik orang Islam, tetapi Yahudi dan Nasrani juga akan masuk ke dalam surga. Seandainya semuanya masuk surga, maka untuk apa Nabi Muhammad diutus dan diturunkan Al-Quran. Untuk apa Nabi memerangi Yahudi dan Nasrani. Untuk apa Allah mengkafirkan orang-orang Nasrani. Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ (72) لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73)

“(72) Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.’ Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orangorang zhalim itu; (73) Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” (QS Al-Maidah : 72-73)

Sehingga meyakini bahwa Yahudi dan Nasrani masuk surga adalah keyakinan yang bathil. Sesungguhnya ini merupakan bentuk kekufuran kepada ayat-ayat Allah. Padahal Nabi juga bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim no.153).

Semua agama di muka bumi ini mengajarkan kesyirikan, kecuali Islam. Ada yang mengajarkan peribadatan kepada seorang Nabi seperti Nasrani. Ada yang mengajarkan peribadatan kepada manusia seperti Budha. Ada yang mengajarkan peribadatan kepada jin-jin dan dewa-dewa seperti Hindu. Hanya Islam yang mengajarkan peribadatan kepada Allah semata. Oleh karena itu, Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS Ali ‘Imran : 19)

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS Ali ‘Imran : 85)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Allah bersumpah dengan empat perkara pada ayat-ayat sebelumnya untuk menekankan bahwasanya Allah menciptakan manusia di atas bentuknya yang paling baik. Para salaf mengatakan, diantara bukti manusia diciptakan dalam bentuk yang paling indah adalah manusia diciptakan dalam bentuk tegak apabila berdiri. Berbeda dengan hewan, yang pada umumnya mereka berjalan bungkuk atau seakan-akan merunduk. Baik itu hewan berkaki dua ataupun berkaki empat. Ini sekaligus bantahan terhadap teori evolusi Darwin yang meyakini bahwasanya manusia itu asalnya hasil perubahan dari monyet. Karena seandainya teori evolusi itu benar niscaya monyet sekarang bentuknya berbeda dari monyet yang dahulu. Kenyataannya tidak ada perbedaan antara monyet ratusan atau ribuan tahun yang lalu dengan monyet yang sekarang. Oleh karena itu, pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang bathil, karena sesungguhnya manusia sejak awalnya diciptakan yaitu Nabi Adam sudah dalam bentuk yang terbaik.

Diantara bukti lain kata para salaf yaitu manusia makan dengan tangan. Berbeda dengan kebanyakan hewan, apabila mereka makan maka langsung dengan mulutnya. Tangan manusia bisa difungsikan untuk berbagai hal yang tidak bisa dilakukan oleh hewan. Diantaranya pula yaitu Allah menjadikan manusia memiliki akal yang cerdas. Berbeda dengan hewan yang tidak ada satu pun dari mereka yang bisa secerdas manusia. Demikian juga manusia memiliki lisan yang menakjubkan bisa mengungkapkan berbagai macam hal, lain halnya dengan manusia. Selain itu, tidak ada hewan yang memiliki wajah rupawan dan tubuh yang indah seperti manusia. Ini menunjukkan akan sempurnanya penciptaan manusia.

Bahkan sebagian ulama -seperti Ibnul ‘Arobi- menjelaskan sisi lain dari kesempurnaan manusia, yaitu bukan hanya dari sisi bentuk anggota tubuh, bahkan juga dari sisi akhlak dan sifat. Ibnul ‘Arobi rahimahullah berkata :

لَيْسَ لِلَّهِ تَعَالَى خَلْقٌ هُوَ أَحْسَنُ مِنْ الْإِنْسَانِ، فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَهُ حَيًّا عَالِمًا، قَادِرًا، مُرِيدًا، مُتَكَلِّمًا، سَمِيعًا، بَصِيرًا، مُدَبِّرًا، حَكِيمًا، وَهَذِهِ صِفَاتُ الرَّبِّ، وَعَنْهَا عَبَّرَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ، وَوَقَعَ الْبَيَانُ بِقَوْلِهِ: «إنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ»، يَعْنِي عَلَى صِفَاتِهِ الَّتِي قَدَّمْنَا ذِكْرَهَا

“Tidak ada ciptaan Allah yang lebih indah daripada manusia. Sesungguhnya Allah menciptakannya hidup, berilmu, berkehendak, berbicara, mendengar, melihat, mengatur, bijak, dan ini semua adalah sifat-sifat Rabb. Dan inilah yang sebagian ulama mengungkapkannya dengan perkataannya : “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas bentukNya” yaitu atas sifat-sifatNya yang telah lalu penyebutannya” (Ahkaamul Qur’aan 4/415)

Ibnul ‘Arobi dalam tafsirnya juga menyebutkan suatu kisah tentang seorang yang bernama ‘Isa bin Musa Al-Hasyim. Dia adalah seorang lelaki yang sangat cinta kepada istrinya, diantaranya karena kecantikan yang dimiliki oleh istrinya tersebut, dia pernah mengungkapkan satu ungkapan yang sangat berbahaya, dia berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, jika kamu tidak lebih indah daripada rembulan maka kamu aku cerai talak tiga.” Seketika istrinya langsung bangkit dan segera berhijab dari suaminya ketika mendengar kalimat itu. Karena dia menganggap bahwasanya dirinya telah jatuh talak tiga. Hal ini karena orang Arab dahulu jika ingin mengungkapkan ketampanan/kecantikan yang paling puncak maka mereka akan menjadikan rembulan sebagai perumpamaan. Sehingga istrinya tidak merasa lebih indah dari rembulan. Suaminya pun menyesal atas perkataannya. Dia lalu pergi ke Abu Ja’far Al-Manshur menyampaikan kegundah-gulanaannya. Abu Ja’far al-Manshur pun mengumpulkan seluruh fuqaha (ahli fiqih) untuk menyelesaikan masalah ini, apakah telah jatuh talak tiga pada istrinya. Maka seluruh ahli fiqih mengatakan bahwa telah jatuh talak tiga. Kecuali satu orang dari sahabat Imam Abu Hanifah. Dia tidak setuju dengan kesimpulan mereka dan menganggap bahwasanya talak tiga belum jatuh. Ketika dia ditanya, dia menjawab bahwa bagaimanapun manusia lebih indah daripada rembulan. Kemudian beliau menyitir ayat ini, “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Akhirnya sang istri kembali kepada suaminya karena tidak jadi jatuh talak tiga. (lihat Ahkaamul Qur’aan 4/415-416 dan dinukil juga oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya 20/114)

Ini hanyalah sekedar kisah yang menunjukkan bahwasanya manusia dibuat dengan bentuk yang sangat menakjubkan. Andai saja Allah manciptakan manusia dengan paru-paru yang ditempatkan di posisi jantung sekarang, jantung diletakkan di luar tubuh, hidung yang diletakkan di perut, dan organ-organ tubuh lainnya tidak sebagaimana sekarang, niscaya akan menghasilkan tubuh yang aneh. Maka sepatutnya manusia itu bersyukur atas kesempurnaan yang diberikan oleh Allah terhadap bentuk tubuhnya. Allah berfirman:

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memerhatikan?” (QS Adz-Dzariyat : 21)

Tidak usah jauh-jauh cukup dengan melihat dan mengamati organ-organ tubuh kita maka kita akan mengetahui betapa sempurnanya tubuh manusia telah diciptakan oleh Allah. Dan yang lebih paham akan hal ini adalah para dokter.

Kita renungkan saja tentang jumlah saraf mata menuju ke otak. Saraf mata itu ibarat kabel-kebel kecil yang mengantarkan informasi dari kamera (mata) menuju komputer otak. Sebagian dokter menyatakan bahwa jumlah kabel saraf mata tersebut hingga 20 juta, yang setiap saraf itu memiliki fungsi tersendiri yang membantu penglihatan sehingga menjadikan pandangan menjadi tajam dan detail. Ada saraf yang menangkap warna tertentu, ada saraf yang menangkap bentuk tertentu, panjang, lebar, gelap, terang, dan lain-lain. Kalau ada kekurangan pada sebagian saraf mata maka akan mempengaruhi penglihatan. Oleh karenanya ada sebagian orang yang buta warna, hal itu karena sebagian sarafnya bermasalah.

Namun meskipun demikian Allah tidak memasang kabel saraf pada mata munusia untuk melihat jin dan malaikat, tentu hal ini karena ada maslahat bagi manusia dan ketenangan hidup mereka. Namun Allah meletakan kabel saraf tersebut pada ayam yang bisa melihat malaikat dan kabel saraf pada anjing yang bisa melihat jin.

Jika kabel-kabel saraf tersebut putus maka tidak ada yang bisa menyambungnya kecuali Allah, siapa yang bisa menyambung 20 juta kabel tersebut?

Ada seorang hafiz al-Qur’an mengalami kecelakaan sehingga saraf penglihatannya terputus maka iapun tidak bisa melihat lagi. Bahkan ada seseorang yang dia sebelum tidur Bersama kawan-kawannya dalam kondisi sehat wal afiyat, tatkala terjaga ia tidak bisa melihat apa-apa. Lalu ia bertanya kepada kawan-kawannya, “kenapa lampu mati?”. Mereka menjawab, “Lampu tidak ada yang mati?”. Ia berkata, “Apakah kalian serius?, jangan bercanda?”. Ternyata ia tidak bisa lagi melihat karena saraf matanya telah putus. Ini menunjukan kita selalu membutuhkan Allah dalam segala kondisi, kita selalu membutuhkan Allah dalam segala hal.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”

Inilah inti pembicaraan dari surat At-Tiin, Allah bersumpah dengan beberapa perkara untuk mengingatkan manusia bahwasanya Allah telah menciptakannya dengan bentuk yang terindah tetapi Allah mengembalikannya ke tempat yang serendah-rendahnya. Hal tersebut disebabkan karena mereka kufur kepada Allah akan nikmat tersebut.

Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang tafsiran makna أَسْفَلَ سَافِلِينَ (tempat yang serendah-rendahnya). Pendapat pertama sebagaimana yang dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, bahwasanya أَسْفَلَ سَافِلِينَ artinya masa tua, tempat yang rendah maksudnya adalah kepikunan. (lihat Tafsir At-Thobari 24/516). Seakan-akan Allah mengingatkan manusia bahwa mereka telah diciptakan dengan tubuh yang indah, sifat tubuh yang kuat, akan tetapi suatu saat manusia itu akan dikembalikan kepada masa tua yang pikun. Dimana orang-orang yang sudah tua kadang bersikap seperti seorang anak-anak, suka lupa, suka marah, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwasanya Allah-lah yang mengatur kehidupan setiap manusia. Seseorang tidak bisa dalam keadaan muda terus-menerus, kelak Allah akan membuatnya jadi tua, lemah, dan pikun. Dia pula lah yang akan membangkitkan manusia setelah meninggalnya.

Pendapat kedua sebagaimana yang dipilih oleh Ibnu Katsir dan yang lainnya, bahwasanya أَسْفَلَ سَافِلِينَ adalah neraka jahannam. Dalam surat ini, Allah menyebutkan tentang orang-orang kafir yang Allah berikan kenikmatan berupa tubuh yang sehat, akal yang cerdas, badan yang kuat, tetapi mereka kafir kepada Allah dan tidak bersyukur, sehingga Allah mengembalikan mereka ke neraka jahannam, neraka yang paling dasar.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putusnya”

Berdasarkan pendapat pertama pada tafsir ayat sebelumnya, maka orang-orang yang sudah tua dan menjadi pikun tetapi dia adalah orang yang beriman dan selalu beramal shaleh di masa mudanya maka dia tetap mendapatkan pahala sebagaimana sebelum pikun. Meskipun dia tidak shalat atau tidak puasa karena pikunnya, maka dia tetap mendapatkan pahala. Bahkan pahala yang terus mengalir tersebut adalah pahala yang terbaik yang ia lakukan tatkala di masa mudanya di masa sehat dan kuatnya. (lihat Tafsir At-Thobari 24/517-518). Hal ini sesuai dengan sabda Nabi:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR Bukhari, no. 2996)

Orang yang sedang bersafar kemudian tidak melaksanakan shalat rawatib atau orang yang sakit kemudian tidak puasa atau tidak bisa shalat malam, maka dia tetap mendapatkan pahala sebagaimana dia senantiasa melakukannya saat sedang mukim (tidak bersafar) atau saat dalam kondisi sehat. Begitu pula dengan seseorang yang masa mudanya rajin beribadah, maka saat pikunnya dia tetap mendapatkan pahala meskipun dia tidak lagi bisa beribadah seperti masa mudanya dahulu.

Berdasarkan pendapat kedua pada tafsir ayat sebelumnya, maka orang-orang yang dikembalikan ke neraka jahannam adalah orang-orang kafir yang tidak mensyukuri nikmat Allah, bukan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Dan inilah pendapat yang benar yang dipilih oleh Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/420). Sebagaimana dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ (23) فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (24) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (25)

“(23) Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka); (24) Maka sampaikanlah kepada mereka (ancaman) adzab yang pedih; (25) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS Al-Insyiqaq : 23-25)

Ayat di atas sama dengan ayat yang sedang dibahas ini, dan ayat pada surat Al-Insyiqaq di atas berbicara tentang kabar dari Allah untuk orang-orang kafir bahwasanya mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Demikian pula yang dimaksudkan pada ayat ini. Mereka akan dikembalikan ke neraka jahannam kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta bersyukur kepada Allah.

Kemudian tentang tafsiran غَيْرُ مَمْنُونٍ, maka ada tiga penafsiran. Pertama, ganjaran mereka غَيْرُ مَنْقُوْصٍ tidak pernah dikurangi. Kedua, ganjaran mereka غَيْرُ مَقْطُوْعٍ tidak pernah terputus. Ketiga, ganjaran mereka غَيْرُ مَحْسُوْبٍ tidak ada batasannya. (lihat Tafsir At-Thobari 24/521-522). Inilah ganjaran yang Allah siapkan di surga kelak. Allah berfirman:

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.” (QS Fusshilat : 31)

Demikianlah kenikmatan surga, tidak berkurang, tidak terputus, dan tidak terbatas. Apapun yang diinginkan oleh para penghuninya Allah siapkan seketika. Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّا لحِينَ مَ لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرِ

“Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan (tinggi di surga) yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia.” (HR Bukhari no. 3072 dan Muslim no. 2824)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

“Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?

Tentang kata ganti كَ dalam kalimat يُكَذِّبُكَ, maka para ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat. Pendapat pertama, kata ganti كَ tersebut kembali kepada orang kafir, sehingga makna potongan ayat adalah, “Maka apa yang menyebabkan engkau wahai orang kafir mendustakan hari pembalasan?” Padahal Allah telah memberi kenikmatan dan telah menciptakanmu dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Pendapat kedua, kata ganti كَ tersebut kembali kepada Nabi Muhammad, sehingga makna potongan ayat adalah, “Maka apa yang membuat mereka mendustakan engkau wahai Muhammad?” Padahal Nabi telah membawakan banyak dalil dan hujjah dari Allah, tetapi mengapa mereka tetap mendustakan hari pembalasan?.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

“Bukankah Allah hakim yang paling adil?”

Kata أَحْكَمِ bisa kembali kepada dua sifat, kembali kepada الْحُكْمُ sehingga maksudnya adalah “Hukuman-Nya yang paling adil” atau kembali kepada الْحِكْمَةُ sehingga maksudnya adalah “Hakim yang paling hikmah.” Hukum Allah-lah yang paling adil. Tidak mungkin Allah akan menyamakan dua manusia yang satunya rajin beribadah kepada Allah, beramal shaleh, tidak melakukan kemaksiatan, tidak menzhalimi orang lain, dan satunya yang rajin melakukan kemaksiatan, suka menzhalimi orang lain, malas beribadah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Adil, pasti Allah akan membedakan diantara keduanya. (lihat tafsir Ibnu Katsir 8/420).

Demikian juga sifat Allah yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Tidak mungkin Allah akan memutuskan suatu hukum kecuali ada hikmah yang terbaik di balik hukum tersebut. Yang bisa jadi hikmah tersebut manusia ketahui dan seringnya hikmah tersebut tidak diketahui.

As-Sa’di berkata :

فَهَلْ تَقْتَضِي حِكْمَتُهُ أَنْ يَتْرُكَ الْخَلْقَ سُدًى لاَ يُؤْمَرُوْنَ وَلاَ يُنْهَوْنَ، وَلاَ يُثَابُوْنَ وَلاَ يُعَاقَبُوْنَ؟

Apakah konsekuensi hikmah Allah adalah Allah menciptakan manusia lantas dibiarkan begitu saja tanpa diperintah, tanpa dilarang, tidak diberi pahala dan tidak diberi hukuman? (Tafsir As-Sa’di hal 929)

Jawabannya tentulah tidak, Allah pasti akan membangkitkan mereka untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama di dunia.

Oleh karena itu, hendaknya orang beriman itu menggunakan segala nikmat keindahan yang ada pada tubuhnya untuk taat kepada Allah semata. Dia menggunakan matanya untuk memandang perkara-perkara yang dihalalkan. Lisannya digunakan untuk mengucapkan ucapan-ucapan yang baik. Tidak digunakan untuk bermaksiat dan membangkang terhadap perintah Allah yang bisa membuat dia dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya yaitu neraka jahannam.