Tafsir Surat Al-Insyirah

Tafsir Surat Al-Insyirah

Surat Al-Insyirah atau disebut juga surat As-Syarh yang bermakna kelapangan dada, adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Sebagaimana yang telah berlalu di awal-awal tafsir surat Adh-Dhuha, disana dijelaskan bahwa antara surat Adh-Dhuha dan surat Al-Insyirah memiliki keterkaitan, yaitu sama-sama membahas mengenai nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad. Sehingga sebagian ulama menyatakan bahwasanya kedua surat ini tergabung dalam satu surat, meskipun yang benar adalah masing-masing tersendiri. Tetapi apabila diperhatikan lebih lanjut, akan dijumpai surat Adh-Dhuha berbicara mengenai nikmat-nikmat yang zhahir yang nampak terlihat dalam diri beliau. Adapun Al-Insyirah cenderung berbicara mengenai nikmat-nikmat yang maknawi berupa semangat dan kelapangan dada beliau. Oleh karena itu, surat Al-Insyirah diturunkan untuk mengingatkan beliau akan nikmat Allah berupa kelapangan dada sehingga beliau bisa bersabar menghadapi kesulitan-kesulitan, godaan-godaan, dan tantangan-tantangan dalam medan dakwah.

 

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?”

Allah lah yang telah menjadikan dada Nabi lapang, sehingga beliau diberi kelembutan, ketegaran, dan kesabaran dalam menghadapi segala ujian yang beliau hadapi dalam dakwah. Oleh karena itu, kita jumpai pada diri Nabi tertanam akhlak mulia yang sangat menakjubkan, hal ini karena dada Nabi telah dilapangkan oleh Allah. Meskipun beliau digelari dengan gelaran-gelaran buruk, dikatakan sebagai pendusta, penyihir, penyair gila, orang yang tersihir, orang yang murtad dari adat nenek moyangnya, tetapi semua itu bisa dihadapi oleh Nabi dengan lapang dada. Inilah bekal utama seorang dai ketika berkecimpung dalam medan dakwah, senantiasa berhias dengan akhlak mulia dan selalu berusaha melapangkan dadanya. Seorang dai yang berkecimpung dalam amar ma’ruf nahi munkar, pasti akan mendapatkan pertentangan dari masyarakat. Atau bahkan bisa jadi sering kali dia mendapatkan cercaan dan celaan manusia. Oleh karena itu, seorang dai butuh akan lapangnya dada. Jika dia tidak sanggup menghadapi tantangan-tantangan tersebut maka gugurlah dakwahnya.

Sebagaimana kisah Nabi Musa ketika diperintahkan oleh Allah untuk mendakwahi Fir’aun yang sombong dan angkuh hingga mengaku sebagai tuhan. Allah berfirman:

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ (24) قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي (27) يَفْقَهُوا قَوْلِي (28)

“(24) Pergilah kepada Fir’aun, dia benar-benar telah melampaui batas; (25) Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku; (26) Dan mudahkanlah untukku urusanku; (27) Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku; (28) Agar mereka mengerti perkataanku’.” (QS Thaha : 24-28)

Perhatikanlah apa yang diminta oleh Musa setelah Allah memerintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun. Pertama kali yang diminta oleh Nabi Musa adalah agar beliau diberi kelapangan dada, sebelum meminta yang lain. Setelah itu baru meminta agar beliau dimudahkan dalam mengungkapkan perkataan. Karena seseorang yang dadanya lapang maka semuanya menjadi mudah. Segala kesulitan yang ada di hadapannya, akan dihadapinya dengan lapang. Adapun jika dadanya sempit maka perkara yang sebenarnya mudah pun, bisa jadi terasa berat. Oleh karena itu, diantara karunia Allah terhadap seorang mukmin adalah ketika Allah menjadikan dadanya lapang, sebagaimana nikmat yang Allah berikan kepada Nabi sebelum nikmat-nikmat yang lain.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan bahwa lapangnya dada disini mencakup lapang dada maknawi (abstrak) dan lapang dada hissi (inderawi). (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/415). Lapang dada yang maknawi yaitu kekuatan dalam menghadapi cobaan, kesabaran dalam menghadapi gangguan, kelembutan dalam menghadapi celaan, serta akhlak mulia lainnya. Adapun lapang dada yang hissi yaitu yang pernah dialami beliau ketika Allah mengirim malaikat Jibril sebanyak dua kali yaitu ketika masih kecil dan ketika Isra’ Mi’raj. Beliau membelah dada Nabi kemudian mencuci bagian buruk dari jantungnya, lalu dibersihkannya dengan air zam-zam dan diisi dengan keimanan dan hikmah. Sehingga Nabi memiliki dada yang lapang. Namun -wallahu a’lam- kedua pelapangan ini saling berkaitan, dengan dibelahnya dada Nabi dan dicucinya jantung Nabi oleh malaikat Jibril dari kotoran syaitan maka mempengaruhi kelapangan dada Nabi sehingga memilik akhlak yang super mulia.

Nabi adalah orang yang sangat penyabar dan tidak mudah terpancing emosinya. Segala cercaan dan celaan dihadapinya dengan lapang dada. Bahkan beliau membalasnya dengan memaafkan. Renungkanlah keadaan Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik yang selama hidupnya menganggu dan mencerca Nabi, bahkan menuduh istri Nabi yaitu ‘Aisyah sebagai pezina, sehingga ini membuat dada Nabi sesak. Namun ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, maka datanglah anaknya kepada Nabi, lalu meminta agar Nabi menyolatkannya. Bahkan Abdullah bin Ubay bin Salul ketika meninggal dia tidak memiliki apa-apa, sehingga Nabi lah yang memberikan bajunya sebagai kain kafannya. Dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar, beliau bercerita:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ لَمَّا تُوُفِّيَ، جَاءَ ابْنُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ، وَصَلِّ عَلَيْهِ، وَاسْتَغْفِرْ لَهُ، فَأَعْطَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَمِيصَهُ، فَقَالَ: «آذِنِّي أُصَلِّي عَلَيْهِ»، فَآذَنَهُ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ جَذَبَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: أَلَيْسَ اللَّهُ نَهَاكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى المُنَافِقِينَ؟ فَقَالَ: ” أَنَا بَيْنَ خِيَرَتَيْنِ، قَالَ: {اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لاَ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً، فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ} [التوبة: 80] ” فَصَلَّى عَلَيْهِ، فَنَزَلَتْ: {وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا، وَلاَ تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ} [التوبة: 84]

Ketika Abdullah bin Ubai (pemimpin orang-orang munafik) meninggal, anak lelakinya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah! Berikan pakaian anda untuk mengkafaninya, shalatlah untuknya, dan mohonkanlah ampunan untuknya”. Maka Rasulullah memberikan pakaiannya kepadanya dan berkata, ”Beritahu aku (apabila pemakaman telah siap) sehingga aku mungkin menshalatkan jenazah nya”. Maka ia pun memberitahu Nabi. Ketika Nabi bersiap untuk menshalatkan (jenazahnya), Umar memegang tangan Nabi dan berkata, “Bukankah Allah telah melarang anda menshalatkan orang-orang munafik?” Nabi bersabda, “Aku telah diberikan pilihan karena Allah berfirman: “Apakah kau memohon ampun bagi mereka atau tidak memohon ampun bagi mereka, dan sekalipun kau memohon tujuh puluh kali untuk ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka.” (QS At-Taubah : 80) Maka Nabi pun mengerjakan shalat jenazah dan pada waktu itu turunlah wahyu Allah: “Dan janganlah kau sekali-kali menshalatkan seorang pun di antara mereka (orang-orang munafik) yang mati.” (QS At-Taubah : 84) (HR Bukhari no. 1269)

Padahal Abdullah bin Ubay bin Salul selalu mengganggu dan menyakiti Nabi ketika dia masih hidup, namun Nabi ingin agar Allah mengampuni dia. Sampai akhirnya turun ayat yang melarang Nabi untuk memintakan ampun bagi seorang munafik. Ini menunjukkan bagaimana lapangnya dada Nabi.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

“Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu”

Secara bahasa وِزْرٌ maknanya adalah dosa. Ada beberapa pendapat ahli tafsir tentang tafsir وِزْرَكَ pada ayat ini, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Qurthubi (20/105-106) dan al-Baghowi (8/463). Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan dosamu wahai Muhammad’, artinya dosa-dosa Nabi di zaman jahiliyah. Karena Nabi di zaman jahiliyah pernah terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan sebelum beliau diutus menjadi seorang Nabi seperti mengikuti sebagian adat kebiasaan kaumnya -meskipun Nabi tidak pernah menyembah berhala-. Sebagian ahli tafsir yang lain menafsirkannya dengan dosa ummatmu yang membebanimu’, karena begitu perhatiannya Nabi kepada umatnya sehingga seakan-akan beliau ikut memikul suatu beban berat. Dan diantara sifat Nabi adalah ikut merasa berat terhadap apa yang memberatkan ummatnya, diantaranya dosa-dosa mereka. Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS At-Taubah : 128)

Ada pula yang menafsirkan dengan, ‘kesulitan yang engkau hadapi dalam berdakwah’. Sehingga itu semua diangkat oleh Allah agar tidak membebani beliau. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama yang sesuai dengan zhahir ayat yaitu dosamu wahai Muhammad’  baik dosa yang telah lalu maupun yang akan datang, dan inilah pendapat yang dipilih oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/416). Hal ini sebagaimana firman Allah :

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَما تَأَخَّرَ

“Agar Allah mengampuni bagimu dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang” (QS Al-Fath : 2)

Oleh karena itu, jumhur ulama berpendapat bahwasanya para Nabi mungkin saja untuk berdosa, dengan catatan :

  • Dosa mereka tidak berkaitan dengan risalah (wahyu), karena mereka ma’sum dari kesalahan dalam menyampaikan risalah Allah. Tidak ada yang disembunyikan oleh mereka dan tidak ada yang dikurangi atau ditambah
  • Dosa yang mereka lakukan sangatlah sedikit dan bukan dosa besar. Ini menguatkan bahwasanya para Nabi adalah benar-benar seorang manusia. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa’.” (QS Al-Kahfi : 110)

Dan Nabi telah bersabda :

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh anak-anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan)

Dan para Nabi seluruhnya adalah keturunan Nabi Adam. Maka demikian pula dengan Nabi-Nabi sebelum beliau juga pernah melakukan kesalahan.

Nabi Adam pernah berdosa, dia memakan buah yang dilarang oleh Allah, kemudian Allah memberikannya taufik untuk segera bertaubat dan akhirnya taubatnya diterima. Allah berfirman :

وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى

“Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia, kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk” (QS Thoha : 121-122)

Nabi Nuuh ‘alaihis salam juga pernah bersalah dan memohon ampun tatkala meminta keselamatan untuk anaknya yang kafir. Maka Allah menegur beliau dengan berfirman :

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS Huud : 46-47)

Nabi Musa juga pernah berdosa, dia pernah memukul pengikut Fir’aun hingga meninggal dunia, meskipun tanpa bermaksud membunuh. Kemudian Nabi Musa bertaubat kepada Allah dan Allah pun mengampuninya.

Allah berfirman :

فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Qoshosh : 15-16)

Nabi Dawud juga pernah bersalah :

وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ فَغَفَرْنَا لَهُ ذَلِكَ

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. (QS Shood : 24-25)

Kesalahan Nabi Daud ‘alaihis salam adalah beliau terlalu cepat memutuskan hukum tanpa mendengar dari pihak kedua.

 

Maka demikian juga Nabi Muhammad juga pernah bersalah dan ditegur oleh Allah beberapa kali. Diantaranya Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS At-Tahrim : 1)

Terkadang Nabi berijtihad kemudian salah, lalu ditegur oleh Allah, sehingga syariat tidak mungkin keliru. Kemudian kesalahan-kesalahan para Nabi juga tidak mungkin menunjukkan keburukan akhlak mereka. Contohnya, tidak mungkin para Nabi itu berdusta, tidak mungkin para Nabi mencuri, tidak mungkin para Nabi berkhianat. Semua dosa-dosa yang menunjukkan rendahnya kedudukan dan wibawa seseorang tidak mungkin dilakukan oleh para Nabi (lihat Tafsir Juz ‘Amma syaikh al-Utsaimin). Tetapi para Nabi mungkin saja salah dalam berijtihad, lalu ditegur oleh Allah. Dosa-dosa seperti ini tidak menggugurkan kedudukan Nabi. Namun namanya seorang Nabi, ketika mereka melakukan dosa, maka mereka akan merasa sangat berat.

Diantara hikmah Allah menjadikan Nabi berdosa yaitu agar kita bisa meneladani beliau dalam bermunajat dan meminta ampun kepada Allah. Diantara doa Nabi yaitu:

رَبِّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى كُلِّهِ ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطَايَاىَ وَعَمْدِى وَجَهْلِى وَهَزْلِى ، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, (dosa) yang aku sembunyikan dan (dosa) yang aku lakukan terang-terangan. Engkaulah yang terdahulu dan Yang Terakhir dan Engkau berkuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari no.6398)

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi benar-benar meminta ampun kepada Nabi atas kesalahan yang mungkin saja dia lakukan. Dan demikianlah kenyataannya, beliau pernah terjatuh di dalam dosa, akan tetapi Allah mengampuninya.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ

“Yang memberatkan punggungmu”

أَنقَضَ  diambil dari kata نَقْضٌ yaitu suara yang keluar dari punggung unta ketika diletakkan di atas pelananya tumpukan beban yang banyak sehingga membuatnya merasa berat. Demikianlah kondisi Nabi dan secara umum orang-orang shaleh. Orang shaleh ketika terjerumus ke dalam dosa maka dia akan merasa berat. Dia akan merasa malu di hadapan Allah, dadanya terasa sempit dan sangat menyesalinya. Oleh karena itu, Allah menyuruh Nabi agar takut kepada Allah akan maksiat. Allah berfirman:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku’.” (QS Al-An’am : 15)

Adapun para pelaku maksiat yang sudah sering melakukan kemaksiatan, maka dia akan merasa biasa saja, dan seakan-akan dia tidak pedulikan lagi.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu”

Para ulama mengatakan bahwasanya ini merupakan kekhususan Nabi Muhammad yang tidak dimiliki oleh para Nabi sebelumnya (lihat Tafsir As-Sa’di hal 929). Oleh karena itu, kita senantiasa mendengar pujian untuk Nabi. Nama Nabi selalu disebut dalam khutbah-khutbah, dalam ceramah-ceramah, dalam pembahasan-pembahasan hadits. Setiap orang yang melaksanakan shalat maka nama Nabi selalu disebut dalam bacaan tasyahud. Nama Nabi selalu digandengkan dengan nama Allah ketika seseorang mau masuk Islam, digandengkan dalam tasyahhud, dan digandengkan di dalam adzan dan iqomat, sedangkan adzan dan iqomat tak pernah berhenti berkumandang di muka bumi ini setiap waktu, karena jadwal adzan berjalan terus seiring berjalannya matahari. Bahkan saat anda membaca tulisan ini di atas muka bumi ini ada yang adzan dzhuhur, di belahan bumi yang lain ada yang adzan ashar, di belahan bumi yang lain ada yang adzan maghrib ada yang adzan isya, dan ada yang adzan subuh.

Sungguh telah berlalu orang-orang hebat, para raja, para penguasa, para penemu, para pejabat, para konglomerat, akan tetapi kemana sebutan-sebutan terhadap mereka?!

Demikian juga nama Nabi terangkat di hati-hati kaum muslimin, mereka mencintai dan mengangungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari siapapun

Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini memang berbicara tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi barang siapa yang menempuh jalannya Nabi maka dia akan mendapatkan sebagian keutamaan seperti Nabi.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وَاَلَّذِينَ أَعْلَنُوا مَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَارَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنْ قَوْله تَعَالَى {وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ} فَإِنَّ مَا أَكَرَمَ اللَّهُ بِهِ نَبِيَّهُ مِنْ سَعَادَةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلِلْمُؤْمِنِينَ الْمُتَابِعِينَ نَصِيبٌ بِقَدْرِ إيمَانِهِمْ

“Dan orang-orang yang menyiarkan apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka bagi mereka bagian juga dari firman Allah “Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu, karena kebahagiaan dunia dan akhirat yang Allah anugrahkan kepada NabiNya maka kaum mukminin yang meneladani beliau juga mendapat bagian sesuai dengan kadar iman mereka” (Majmuu’ Al-Fataawaa 28/38, lihat penjelasan Ibnul Qoyyim dalam al-Jawaab al-Kaafi hal 80), yaitu namanya akan diabadikan oleh Allah. Karena itu, dijumpai para ulama yang penuh hikmah dalam berdakwah dan penuh kelembutan, kesabaran, dan keikhlasan dalam mendidik manusia, namanya diabadikan oleh Allah lewat karya-karyanya dan nama mereka juga sering disebut-sebut dalam kajian maupun tulisan.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan

  1. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan

Para ahli tafsir berkata bahwasanya ayat ini berkaitan dengan kesulitan dakwah yang dihadapi oleh Nabi. Sehingga Allah menenangkan Nabi dengan dua ayat ini, bahwasanya setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Allah berfirman dalam ayat yang lain :

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Allah akan memberikan kemudahan setelah kesulitan” (QS At-Tholaaq : 7).

Sebagaimana sabda Nabi

وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Dan sesungguhnya pertolongan datang bersama dengan kesabaran, kelapangan datang Bersama penderitaan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (HR Ahmad no 2803 dengan sanad yang shahih)

 

Kata para ulama, dalam dua ayat ini terdapat 4 penguat bahwasanya setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan, yaitu:

Pertama, Allah membuka ayat ini dengan إِنَّ yang artinya ‘sesungguhnya’, yang memberikan faidah penekanan bagi kalimat setelahnya.

Kedua, Allah mengulangi kalimat tersebut dengan maksud untuk benar-benar menekankan.

Ketiga, Allah menyebutkanالْعُسْرِ  dalam bentuk ma’rifah yang diawali oleh alif lam. Alif lam disitu dalam bahasa Arab adalah alif lam al-‘ahdiyah sehingga الْعُسْرِ yang kedua adalah الْعُسْرِ yang pertama yang disebutkan kembali. Berbeda dengan يُسْرًا yang disebutkan dalam bentuk nakirah yang berakhiran tanwin, sehingga يُسْرًا yang kedua berbeda dengan يُسْرًا yang pertama. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dalam dua ayat ini, ‘kesulitan’ itu hanya disebutkan satu kali sedangkan ‘kemudahan’ disebutkan dua kali. Oleh karena itu, diriwayatkan dari para salaf bahwasanya mereka mengatakan, لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Tidak mungkin satu kesulitan akan mengalahkan dua kemudahan[1].” (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/465)

Keempat, Allah menggunakan kalimat مَعَ  yang bermakna ‘bersama’. Menunjukkan bahwasanya kemudahan tersebut akan segera datang setelah kesulitan. Sampai-sampai Ibnu Mas’ud berkata

لَوْ دَخَلَ الْعُسْرُ فِي جُحْرٍ، لَجَاءَ الْيُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ

“Seandainya kesulitan itu masuk ke dalam sebuah lubang maka kemudahan akan datang dan ikut masuk bersamanya.” (Tafsir At-Thobari 24/496)

Ini semua menekankan bahwasanya apabila seseorang menghadapi kesulitan lalu dia berusaha bertakwa kepada Allah niscaya kemudahan akan mengiringi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS Ath-Thalaq : 2)

Dan ketahuilah bahwasanya jalan keluar itu dekat, seakan-akan dia datang bersama kesulitan yang baru saja dihadapi. Yang terpenting adalah senantiasa perbaiki hati, perbaiki husnudzhon kepada Allah, perbaiki ibadah kepada Allah, perbaiki tawakkal dan takwa kepada Allah. Dan kesulitan dalam ayat ini mencakup seluruh bentuk kesulitan, karena lafal الْعُسْرِ diawali dengan “alif laam” yang menunjukan al-istghrooq (memberikan faidah keumuman) mencakup seluruh kesulitan dan juga menunjukan betapapun berat dan besar kesulitan tersebut, maka ujungnya adalah kemudahan (lihat Tafsir As-Sa’di hal 929)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”

Ada dua pendapat di kalangan ahli tafsir,

Pertama, “Jika engkau telah selesai dari urusan akhiratmu maka fokuslah dan seriuslah untuk ibadah selanjutnya”. Dan banyak perkataan salaf akan hal ini, diantaranya :

  • Jika engkau telah selesai dari sholat maka seriuslah untuk berdoa
  • Jika engkau telah selesai dari tasyahhud maka berdoalah untuk dunia dan akhiratmu
  • Jika engkau telah selesai dari mendakwahkan risalah maka tegaklah untuk berjihad
  • Jika engkau telah selesai dari perkara-perkara yang wajib maka tegaklah untuk melaksanakan perkara-perkara yang sunnah (lihat Tafsir As-Sam’aani 6/252)

Pendapat kedua, فَإِذَا فَرَغْتَ artinya “Maka apabila engkau telah selesai dengan urusan duniamu dan فَانصَبْ artinya “Tetaplah semangat dan konsentrasi untuk urusan akhirat. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/518). Adapun At-Thobari memandang ayat ini umum mencakup kedua pendapat tersebut (lihat Tafsir at-Thobari 24/497-499).

Ayat ini mengingatkan agar berkonsentrasi, serius dan fokus tatkala beribadah, bukan hanya konsentrasi dalam masalah dunianya saja. Seseorang perlu dengan dunia akan tetapi dia lebih butuh terhadap akhiratnya. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (Al-Qashash : 77)

Namun dunia juga tidak boleh ditinggalkan, karena setiap orang punya kewajiban. Apakah dia bekerja untuk menafkahi dirinya, anak-anaknya, istrinya, atau orang tuanya. Allah berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah : 10)

Sehingga yang menakjubkan bukanlah seseorang yang terus-menerus di masjid berdiam diri berdzikir terus-menerus, tetapi yang menakjubkan adalah seseorang yang berdagang atau bekerja, kemudian setelah tiba waktu shalat dia tinggalkan dagangannya tersebut lalu segera menegakkan shalat dan berkonsentrasi terhadap ibadahnya. Allah memuji orang-orang yang seperti ini. Allah berfirman:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdaganganmu dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat).” (QS An-Nur : 37)

Bukan pula seseorang yang terlalu berkonsentrasi dengan dunianya lalu melupakan akhiratnya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Munafiqun : 9)

Oleh karena itu, sebagaimana seseorang itu serius dengan dunianya, maka dia juga harus serius ketika beribadah kepada Allah. Berangkat dari hal tersebut, Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan tentang riwayat-riwayat yang melarang seseorang yang sedang beribadah kemudian pikirannya terlalaikan dari Allah. Diantaranya, beliau menyebutkan dalil tentang larangan shalat ketika makanan sudah dihidangkan. Nabi bersabda:

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar).” (HR Muslim no. 560)

Sehingga jika telah tiba waktu shalat namun dia benar-benar dalam kondisi kelaparan, sementara itu makanan telah dihidangkan, maka hendaknya dia terlebih dahulu makan agar ketika shalat nanti pikirannya tidak terfokus dengan rasa lapar dan makanan yang telah dihidangkan tersebut. Hal ini semakna dengan seseorang yang menahan kentutnya atau buang air ketika shalat, hendaknya dia mengeluarkannya terlebih dahulu sebelum shalat dilaksanakan.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap

Berdasarkan kaidah bahasa Arab, pada umumnya susunan jar majrur (إِلَىٰ رَبِّكَ) itu diakhirkan ketika berada dalam susunan kalimat lengkap, sehingga menjadi فَارْغَبْ إِلَىٰ رَبِّكَ yang artinya “Berharaplah kepada Tuhanmu”. Dalam bahasa Indonesia pun demikian, objek selalu diakhirkan. Namun ketika objeknya didahulukan daripada kata kerjanya maka dalam bahasa Arab memberi faidah kekhususan. Sebagaimana ayat di atas. Ketika jar majrur-nya (yang merupakan objek) didahulukan maka kalimat mengandung makna pembatasan, yaitu “Hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” dan tidak boleh berharap kepada selain-Nya. Tidak sebagaimana apabila objek diakhirkan, tidak menutup kemungkinan untuk berharap kepada selain Allah.

Demikianlah seharusnya seorang muslim, dia hanya berharap kepada Allah, dan tidak berharap kepada makhluk. Karena barang siapa yang berharap kepada makhluk, pasti dia akan kecewa. Apabila kita membutuhkan bantuan dari seseorang maka kita berharapnya kepada Allah, kita memohon agar Allah membuka hatinya. Jangan berharap langsung kepada dia, karena hati manusia berubah-ubah. Hari ini dia mengiyakan, besok mengatakan tidak.

Dalam ayat ini Allah juga menggunakan ungkapan رَبٌّ yang kembali kepada makna rububiyah Allah. Karena dalam masalah berharap, kita butuh terhadap makna rububiyah Allah. Dialah yang memberi rezeki dan memberi kemudahan. Kita tidak berharap kecuali kepada penguasa alam semesta ini, kepada Dzat yang membolak-balikan hati manusia.

 

[1] Diriwayatkan lafal ini juga dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi sanadnya lemah, dilemahkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (8/417) dan Al-Albani (Lihat Ad-Do’iifah 3/594)