Tafsir Surat Al-Lail

Tafsir Surat Al-Lail

Surat Al-Lail adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah, dan pokok pembicaraan surat ini berkaitan dengan orang-orang yang berinfak dan orang-orang yang bakhil. Pada umumnya surat-surat Makiyah terutama yang terdapat dalam Juz Amma dibuka dengan sumpah, karena pembicaraannya ditujukan kepada orang-orang musyrikin Arab yang mengingkari hari kebangkitan dan juga mengingkari Rasulullah, sehingga butuh adanya penguat atau penekanan di dalam penyampaian informasi. Dan diantara uslub bahasa Arab, salah satu cara untuk memberikan penekanan adalah dengan menggunakan sumpah. Orang-orang Arab dahulu jika mereka ingin menekankan sesuatu maka mereka mengawalinya dengan sumpah, sampai pun zaman sekarang, uslub tersebut tetap bertahan di tengah-tengah bangsa Arab. Hanya saja perbedaan antara sumpahnya Allah dengan sumpahnya manusia adalah Allah bebas bersumpah dengan makhluk-makhluk yang dikehendaki-Nya. Adapun manusia maka tidak boleh seorang pun bersumpah kecuali dengan nama Allah. Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan.

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)”

  1. وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ

“Demi siang apabila terang benderang

Pada dua ayat ini, Allah bersumpah dengan dua hal yang saling berlawanan, yaitu antara siang dan malam. Allah bersumpah dengan malam karena malam hari merupakan anugerah Allah yang besar untuk hamba-hamba-Nya dimana orang-orang beristirahat dengan tenang di rumahnya masing-masing setelah seharian bekerja mencari nafkah. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

“Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS An-Naba’ : 10)

Dan seorang hamba yang beriman akan menyisihkan waktunya di malam hari untuk berkhalwat (berdua-duaan) dengan Allah beribadah kepada-Nya, terutama di waktu sahur. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)

“(15)Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air; (16) Mereka mengambil apa yang diiberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik; (17) Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; (18) Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS Adz-Dzariyat : 15-18)

Kemudian Allah bersumpah dengan siang yang mana Allah menjadikan siang hari sebagai waktu bagi manusia untuk mencari penghidupan mereka.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ

“Dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan”

Terkait ayat ini ada dua pendapat di kalangan para ulama mengenai makna lafadz maa apakah maa masdariyah atau maa mausulah. Pendapat pertama, maa-nya bermakna maa mausulah berarti ayat ini bermakna وَالَّذِي خَلَقَ الذَّكَرَ وَالأُنْثَى sehingga artinya menjadi “Dan demi Yang menciptakan laki-laki dan perempuan”, hal ini sama saja Allah bersumpah demi DzatNya sendiri, karena yang menciptakan laki-laki dan perempuan adalah Allah. Pendapat kedua, maa-nya bermakna maa masdariyah berarti ayat ini bermakna وَخَلْقِ اللهِ لِلذَّكَرِ وَالأُنْثَى sehingga artinya menjadi “Dan demi penciptaan Allah terhadap laki-laki dan perempuan”, (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/442). Pendapat kedua inilah yang lebih kuat. Pendapat ini dikuatkan dengan adanya qira’ah dari Abu Darda’ dan Ibnu Mas’ud yang pernah dibaca oleh Nabi

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى

Demi laki-laki dan perempuan (HR Al-Bukhari no 3742 dan Muslim no 824).

Meskipun setelah itu dimansukh dari Al-Quran ketika Nabi menyetorkan bacaannya yang terakhir kepada Jibril sebelum Nabi meninggal, dimana Nabi merubah bacaannya menjadi sebagaimana yang sekarang وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ dan inilah yang dipilih oleh jumhur (mayoritas) dan yang termaktub di rosm al-mushaf al-Utsmani yang tersebar di seluruh penjuru (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/403)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ

“Sesungguhnya usaha kalian bermacam-macam

Pada ayat-ayat sebelumnya Allah bersumpah dengan berbagai macam makhluknya untuk menekankan satu pernyataan yaitu amalan perbuatan manusia itu bermacam-macam. Sebagaimana siang lawannya adalah malam, laki-laki lawannya adalah perempuan, demikian juga amalan manusia itu ada amalan yang baik dan ada pula amalan yang buruk. Tidak semua manusia berada dalam satu jenis. Ada yang melakukan kebaikan ada yang melakukan keburukan. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/403)

 

Setelah itu Allah memberi contoh perbandingan antara orang dengan amalan yang baik yaitu mereka yang berinfaq di jalan Allah dan orang dengan amalan yang buruk yaitu mereka yang pelit, kikir, dan bakhil. Allah berfirman:

  1. فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ

“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”

Pemberian merupakan salah satu amalan, artinya dia mengeluarkan sesuatu atau berkorban sesuatu demi kebaikan. Kata para ulama, jika berkumpul antara kata amal dan takwa dalam satu kalimat, maka amal adalah mengerjakan ketaatan sedangkan ketakwaan adalah meninggalkan kemaksiatan. Adapun jika takwa disebutkan bersendirian tanpa disertai amal maka takwa berarti mengerjakan ketaatan sekaligus meninggalkan kemaksiatan.

Kata Allah, adapun orang berinfak kemudian dia bertakwa yaitu menginggalkan semua kemaksiatan yang dilarang oleh Allah, atau meninggalkan kebakhilan (lihat Tafsir Al-‘Iz bin ‘Abdissalam 3/459), diantaranya meninggalkan hal-hal yang dilarang ketika dia berinfak dia tidak bermaksiat. Karena ketika berinfak, seseorang bisa saja sekaligus bermaksiat. Diantara bentuk-bentuk maksiat dalam infak adalah sebagai berikut:

Pertama, dia berinfak karena riya’. Dia berinfak agar dipuji oleh masyarakat, dan namanya disebut-sebut di tengah masyarakat. Misalnya seseorang yang mengeluarkan biaya untuk melakukan haji dan umrah berulang-ulang agar orang-orang memujinya. Maka ini adalah bentuk infak yang maksiat.

Kedua, dia berinfak lalu ujub. Dia menganggap dirinya hebat dan membanggakan amalannya. Dia kemudian lupa bahwasannya semua hartanya dari Allah.

Ketiga, mengungkit-ungkit sedekahnya kepada orang lain dan menyakiti penerimanya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS Al-Baqarah : 264)

Perbuatan seperti ini banyak terjadi, ketika dia berinfak kepada seorang miskin dia lalu mengungkit-ungkitnya, sehingga ini menyakiti orang miskin tersebut karena diketahui oleh banyak orang. Menyakiti seperti ini membatalkan pahala sedekah seseorang, dan ini merupakan bentuk infak dengan bermaksiat.

Keempat, mengeluarkan infak bukan pada tempat yang diridhai oleh Allah. Seperti mengeluarkan uang untuk kemaksiatan dan perkara yang sia-sia.

Kelima, berinfak sementara hutangnya belum dia bayar padahal sudah jatuh tempo. Tentu lebih utama dia bersedekah pada dirinya sendiri dengan mengembalikan hak orang lain dari pada bersedekah kepada orang lain.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ

“Dan membenarkan  yang terbaik”

Makna kata الْحُسْنَى “yang terbaik” dalam ayat ini ada tiga pendapat di kalangan ahli tafsir (lihat Tafsir At-Thobari 24/461-464).

Pertama, pendapat dari kalangan salaf yang menyatakan bahwa الْحُسْنَى adalah kalimat laa ilaha illallah sehingga maksudnya adalah membenarkan laa ilaha illallah.

Kedua, الْحُسْنَى adalah surga. Sebagaimana firman Allah di ayat yang lain. Allah berfirman:

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan memandang wajah Allah).” (QS Yunus : 26)

Tafsiran salaf terhadap ayat ini yaitu bagi orang-orang yang berbuat baik الْحُسْنَى yaitu surga, وَزِيَادَةٌ yaitu memandang wajah Allah. Sehingga makna ayat ini adalah membenarkan adanya surga.

Ketiga, الْحُسْنَى disini adalah بِالْخَلَفِ مِنَ اللهِ “ganti dari Allah?. Ketika dia berinfak maka harta yang dia keluarkan tersebut akan mendapat ganti dari Allah.

Ketiga pendapat ini adalah benar. Namun yang lebih tepat dan sesuai dengan konteks pembicaraan pada ayat ini adalah pendapat ketiga. (dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh At-Thobari dalam tafsirnya). Karena topik pembahasan surat Al-Lail adalah tentang antara orang yang berinfak dan orang yang pelit. Dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah akan memberi ganti bagi orang yang berinfak sangatlah banyak. Seperti firman Allah:

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apa saja yang kalian infaqkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.” (QS Saba’ : 39)

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada serratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 261)

Begitu pun dalam hadits-hadits Nabi juga banyak. Rasulullah bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : يَاابْنَ آدَمَ! أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, ‘Wahai anak Adam! Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberikan rizki) kepadamu’.” (HR Muslim no. 993)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir’.” (HR Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Dan sabda Nabi yang lain, bahwasanya sedekah itu tidak akan mengurangi harta:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR Muslim no. 2558)

Hal ini banyak dijumpai di kehidupan nyata bahwasanya orang yang bersedekah justru hartanya semakin bertambah. Oleh karena itu, orang yang bersedekah kepada orang miskin, sesungguhnya kebutuhannya terhadap si miskin lebih besar daripada kebutuhan si miskin terhadap dirinya. Si miskin ketika menerima infak dari si kaya maka dia gunakan pemberian tersebut untuk menghilangkan rasa laparnya, untuk menutup hutangnya, atau untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya. Adapun si kaya ketika berinfak kepada si miskin, maka dia mendapatkan lebih banyak keuntungan.

Pertama, Allah akan memberikan untuknya ganti di dunia lebih banyak daripada apa yang diberikannya kepada si miskin. Karena sedekah tidak akan mengurangi harta sebagaimana dalam suatu hadits, bahkan justru menambahnya. Dengan syarat sedekahnya ikhlas karena Allah dan bukan semata-mata mencari ganti dunia saja.

Kedua, dia juga akan mendapat ganti untuk akhiratnya berupa pahala yang berlipat ganda. Dan hal ini sangat dia butuhkan.

Ketiga, Allah akan menganugerahi kebahagiaan ke dalam dirinya. Sesuai kaedah syariat, aljaza min jinsil amal (balasan itu sesuai dengan amalan seseorang). Ketika dia membahagiakan si miskin dengan memberikan kepada si miskin sebagian hartanya, maka Allah akan memberikan kebahagian ke dalam dirinya. Bahkan kebahagiaan yang dia rasakan melebihi kebahagiaan yang dirasakan si miskin yang mungkin saja sifatnya sesaat. Sedangkan orang yang berinfak maka Allah akan memberikan kebahagiaan yang lama di dalam hatinya.

Oleh karena itu, ketika ada seorang sahabat mengeluhkan kepada Nabi tentang kerasnya hatinya. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ

“Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR Ahmad no. 7576)

Hadits ini menunjukkan bahwasanya amalan membantu orang lain akan berpengaruh pada hati. Karenanya orang yang paling bahagia adalah orang yang paling sering membantu orang lain, yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits, tatkala Nabi baru pertama kali menerima wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril dengan bentuknya yang sangat dahsyat, maka Nabi pun ketakutan dan segera turun dari gua Hira menuju rumah Khadijah, lantas ia berkata, “Aku mengkhawatirkan keburukan menimpa diriku”, maka Khadijah menenteramkan hati suaminya seraya berkata:

كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Sekali-kali tidak, bergembiralah! Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah.” (HR Bukhari no. 3 dan Muslim. no 160)

Ini adalah sifat-sifat Nabi sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Sehingga Nabi adalah orang yang paling bahagia, karena dialah orang yang paling banyak memberi manfaat untuk orang lain. Dalam hadits lain, Nabi juga bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Al-Awsath no. 5787)

Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa kebutuhan seseorang terhadap orang miskin lebih besar daripada kebutuhan si miskin kepada dirinya, karena justru dirinyalah yang paling banyak mendapatkan manfaat jika dia menginfakkan hartanya tersebut.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

“Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)”

Yaitu orang yang berinfak kemudian meyakini bahwasanya Allah akan memberikan balasan berupa ganti di dunia dan ganjaran pahala di akhirat, maka Allah akan mudahkan urusan-urusannya (lihat tafsir As-Sa’di hal 926). Demikianlah yang dialami oleh banyak orang dalam kehidupan nyata. Orang yang sering membantu orang lain maka urusannya pasti dimudahkan oleh Allah. Dengan syarat dia membantu bukan karena riya’, bukan karena ingin dipuji, tetapi karena Allah semata. Di dunia akan dimudahkan menuju kebaikan-kebaikan dan di akhirat dimudahkan menuju surga (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/404)

 

Setelah itu, Allah menyebutkan golongan yang kedua yaitu mereka yang pelit dan bakhil. Allah berfirman:

  1. وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ

“Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah)”

Setelah dia diberikan harta yang banyak, dia tidak salurkan ke jalan-jalan kebaikan, dia tidak butuh lagi dengan pahala dari Allah. Dia merasa cukup dengan kelezatan dunia dan tidak butuh dengan kenikmatan akhirat (lihat Fathul Qodiir 5/551). Jika dia merasa tidak butuh lagi dengan pahala Allah, apalagi dengan orang lain. Dia merasa tidak ada urusan lagi dengan orang lain, yang penting hartanya banyak. Dia enggan mengeluarkan hartanya karena menganggap mencari harta itu tidak mudah.

 

Allah berfirman:

  1. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ

“Serta mendustakan yang terbaik”

Dia tidak meyakini adanya ganti dari Allah. Dia merasa jika ia mengeluarkan hartanya maka uangnya akan berkurang. Sehingga orang yang bakhil adalah orang yang sangat menderita. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda sebagaiman diriwayatkan oleh Abu Huroiroh:

«مَثَلَ البَخِيلِ وَالمُتَصَدِّقِ، كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ، قَدِ اضْطُرَّتْ أَيْدِيهِمَا إِلَى ثُدِيِّهِمَا وَتَرَاقِيهِمَا، فَجَعَلَ المُتَصَدِّقُ كُلَّمَا تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ انْبَسَطَتْ عَنْهُ، حَتَّى تَغْشَى أَنَامِلَهُ وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ، وَجَعَلَ البَخِيلُ كُلَّمَا هَمَّ بِصَدَقَةٍ قَلَصَتْ، وَأَخَذَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ بِمَكَانِهَا» قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَأَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِإِصْبَعِهِ «هَكَذَا فِي جَيْبِهِ، فَلَوْ رَأَيْتَهُ يُوَسِّعُهَا وَلاَ تَتَوَسَّعُ»

Perumpamaan bakhil (orang yang pelit bersedekah) dengan mutashaddiq (orang yang gemar bersedekah) seperti dua orang yang masing-masing mengenakan baju jubah[1] terbuat dari besi yang mengekang keduanya sehingga terpaksa kedua tangan mereka terbelenggu terlipat ke dada dan kerongkongan mereka berdua. Setiap kali mutashaddiq hendak bersedekah maka bajunya akan melonggar dan akhirnya menutupi ujung kakinya dan menutupi bekas jalannya. Jika orang yang bakhil (pelit) ingin berinfak, baju besinya mengerut, dan setiap baju besi tetap di tempatnya (tidak melebar)”. (Abu Hurairah berkata), Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil meletakkan jari-jarinya di sakunya beliau berkata, “Kalau engkau melihatnya (orang yang bakhil) berusaha melonggarkan bajunya akan tetapi bajunya tidak menjadi longgar.” (HR Bukhari no. 2917 dan Muslim no. 1021)

 

Setiap dia berinfaq semakin lega. Oleh karenanya As-Sa’di rahimahullahu menyebutkan diantara datangnya kebahagiaan adalah berbuat baik kepada orang lain diantaranya dengan berinfaq, memikirkan orang lain, memasukkan kebahagiaan pada orang lain, itu sebab datangnya kebahagiaan.

Beliau berkata :

ومن الأسباب التي تزيل الهم والغم والقلق: الإحسان إلى الخلق بالقول والفعل، وأنواع المعروف

“Dan diantara sebab yang menghilangkan kesedihan, galau, dan kegelisahan adalah berbuat baik kepada orang lain, dengan perkataan dan perbuatan serta berbagai macam kebaikan” (Al-Wasaail Al-Mufiidah li al-Hayaat as-Sa’iidah hal 16)

Bagaimana anda tidak diberi kebahagiaan oleh Allah sementara anda membahagiakan orang lain. Allah akan berikan kebahagiaan pada diri anda.

Nabi memberikan perumpamaan orang yang gemar bersedekah setiap kali dia bersedekah seperti melebarnya baju besi yang dia pakai sehingga dia menjadi lega dalam bernafas. Hatinya semakin tenang dan bahagia. Karena Allah akan memberikan kebahagiaan ke dalam dirinya sebagai balasan setimpal karena ia telah membahagiakan orang lain. Bahkan bajunya semakin melebar sampai menutupi jari-jarinya dan bekas langkah kakinya. Menurut Ibnu Bathool rahimahullah maknanya adalah Allah akan menutup aurotnya dan aib-aibnya di dunia dan Allah akan melimpahkan ganjaran baginya di akhirat (lihat Syarh Shahih Al-Bukhari, Ibnu Batthool 3/441).

Adapun orang yang bakhil setiap dia ingin bersedekah, seakan-akan baju besi yang dia pakai semakin mengikat dan menyempit. Kedua tangannya terkekang dengan baju besi tersebut, ia tidak  bisa menggerakannya dan tidak bisa mengeluarkannya.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

وَلَمَّا كَانَ الْبَخِيْلُ مَحْبُوْساً عَنِ الإِحْسَانِ مَمْنُوْعاً عَنِ الْبِرِّ وَالْخَيْرِ وَكَانَ جَزَاؤُهُ مِنْ جِنْسِ عَمَلِهِ، فَهُوَ ضَيِّقُ الصَّدْرِ مَمْنُوْعٌ مِنَ الاِنْشِرَاحِ ضَيِّقُ الْعَطَنِ صَغِيْرُ النَّفْسِ قَلِيْلُ الْفَرَحِ كَثِيْرُ الْهَمِّ وَالْغَمِّ وَالْحَزَنِ

“Tatkala orang yang bakhil terpenjara dari berbuat baik (Kepada orang lain) terhalangi dari kebaikan dan kebajikan -dan balasan sesuai dengan perbuatan- maka jadilah dia orang yang sempit dadanya, terhalangi dari kelapangan hati, sempit dadanya (mudah marah dan tidak sabaran), kerdil jiwanya, jarang gembira, sering bersedih, gelisah, dan galau” (Al-Waabil As-Shoyyib hal 33)

Demikianlah keadaan orang bakhil, ketika dia akan mengeluarkan uang maka dia akan benar-benar mempertimbangkannya, menunjukkan pelitnya yang luar biasa. Sehingga ia tidak jadi mengeluarkan uangnya, tetapi kalau jadi terpaksa bersedakah maka dia akan merasa sedih dan menyesal karena uangnya berkurang. Sehingga dadanya semakin sempit, dan jauh dari kebahagiaan.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

“Maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)”

Realita seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan nyata. Seseorang yang punya banyak harta tetapi infak untuk acara-acara kebaikan dia berat hati mengeluarkannya. Berbeda halnya jika dalam acara kemaksiatan, maka dia rela uangnya keluar banyak. Inilah diantara hukuman Allah kepadanya. Uangnya habis untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat, sungguh semua itu akan dihisab oleh Allah.

Sebagian ahli tafsir seperti Al-Hafidz Ibnu Katsir dan lainnya menyebutkan tafsiran lain tentang ayat ini bahwa ayat فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ dan فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ berkaitan dengan takdir. Yang beriman akan dimudahkan jalannya menuju kebaikan dan menuju surga. Yang tidak beriman akan dimudahkan jalannya menuju keburukan dan neraka Jahannam. Oleh karena itu, ketika Suraaqah Bin Malik pernah bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ، أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ. قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Wahai Rasulullah, mohon berikan penjelasan tentang agama ini kepada kami, seolah-olah kami diciptakan sekarang ini. Untuk apakah kita beramal hari ini, apakah pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang pena telah kering darinya dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa guna beramal?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR Muslim no. 2648)

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini pada asalnya sudah tercatat di kitab lauhul mahfuzh 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR Muslim no. 2653)

Bahkan setiap manusia telah dicatatkan untuk dirinya tempat tinggal terakhirnya kelak, surga atau neraka. Namun jika ada yang bertanya, kalau begitu apa gunanya beramal jika pada akhirnya masuk neraka juga? Jawabannya adalah seandainya setiap manusia diberi kabar sebelumnya tentang ditakdirkan ke surga atau ke neraka, maka tidak usah beramal. Akan tetapi tidak ada satu pun dari manusia yang mengetahui akan hal itu. Seandainya dia ditakdirkan masuk ke dalam neraka, maka dia akan dimudahkan untuk menuju neraka dengan melakukan sebab-sebab sehingga dia bisa terjerumus ke dalamnya. Adapun jika dia ditakdirkan masuk ke dalam surga, maka dia akan dimudahkan untuk menuju surga dengan melakukan sebab-sebab sehingga dia bisa masuk ke dalamnya. Oleh karena itu, Nabi memerintahkan untuk beramal karena tujuan akhir setiap manusia sesuai dengan amalannya tersebut. Dan hendaknya seorang muslim berhusnuzhan kepada Allah bahwa dia akan dimasukkan ke dalam surga sehingga dia akan terus beramal kebajikan.

Lebih dari itu, setiap manusia sadar bahwasanya dirinya bisa memilih. Apa yang kita lakukan bukan merupakan hasil paksaan dari luar, sebagaimana pemahaman sekte Jabariyyah. Mereka menganggap bahwasanya semua perbuatan manusia seperti bulu yang diterbangkan oleh angin, gerakannya ditentukan oleh arah angin, sehingga manusia tinggal pasrah akan dimasukkan ke dalam surga atau neraka. Namun setiap manusia juga sadar bahwa apa yang dia lakukan sebagiannya memang di luar kontrol dia, tidak sebagaimana pemahaman sekte Qadariyyah yang menganggap bahwa campur tangan Allah tidak ada. Padahal seorang manusia itu bisa membedakan ketika badannya sedang gemetar dimana dia tidak bisa mengontrolnya dan ketika berjalan dimana dia sendirilah yang mengendalikan kakinya. Seseorang yang turun dari tangga bisa merasakan bahwa dirinyalah yang berkeinginan memijak anak tangga satu demi satu, tetapi apabila dia tiba-tiba terjatuh dari tangga maka dia sadar bahwa saat itu dia tidak bisa mencegahnya seketika.

Namun yang harus diyakini adalah semua kehendak kita dan keinginan kita hakikatnya di bawah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, harus ditekankan bahwasanya takdir merupakan rahasia Allah. Tidak boleh seseorang bertanya kenapa Allah menakdirkan demikian dan demikian, karena Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS Al-Anbiya’ : 23)

Karena berusaha mengetahui rahasia Allah adalah perkara yang sia-sia. Terlalu banyak perkara-perkara di sekitar kita yang tidak mampu otak kita cerna. Ruh yang selama ini menyertai diri kita saja tidak bisa singkap hakikatnya. Mimpi yang menghiasi tidur-tidur kita, malaikat, jin, dan makhluk ghaib lainnya semuanya tidak bisa kita nalar. Apalagi tentang takdir yang merupakan rahasia Allah. Tugas manusia hanyalah berhusnuzhan kepada Allah bahwasannya dia akan dimudahkan masuk ke dalam surga, sehigga dia semangat melaksanakan amalan-amalan shaleh. Karena setiap manusia akan dimudahkan menuju takdirnya.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّىٰ

“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa”

“Binasa” di sini ada dua tafsiran, ada yang mengartikan “binasa dengan terjerumus dalam neraka” dan ada yang mengartikan “binasa” maksudnya adalah “mati”. (lihat Tafsir At-Thobari 24/473-475)

Orang ini adalah orang yang disifatkan oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3) كَلَّا ۖ لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (4)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela; (2) Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya; (3) Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya; (4) Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah.” (QS Al-Humazah : 1-4)

Harta yang dimilikinya tidak akan bisa mengekalkannya. Bahkan dia tidak akan bisa menunda umurnya barang 1 detik pun. Jika ajal itu sudah datang maka sampai disitulah kehidupannya. Dan tidak akan bermanfaat harta tersebut.

Kata maa pada ayat ini terbagi menjadi dua tafsiran. Pertama, sebagian menafsirkan sebagai maa nafiyah (untuk meniadakan) sehingga makna ayat ini menjadi, Tidak bermanfaat hartanya apabila dia telah binasa”. Saat dia ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir di kubur hartanya selama dia di dunia tidak akan bermanfaat. Saat dia disidang oleh Allah di akherat, hartanya selama dia di dunia tidak akan bermanfaat. Bagaimana hartanya akan bermanfaat sedangkan dia dibangkitkan dalam keadaan tidak membawa apa-apa.

Kedua, sebagian lain menafsirkan sebagai maa istifhamiyah (untuk pertanyaan) sehingga makna ayat ini menjadi, (seakan-akan Allah bertanya) “Manfaat apa yang bisa diberikan oleh hartanya apabila dia telah binasa? Jawabannya tentu saja tidak ada manfaat sama sekali. Justru harta yang dia kumpulkan selama dia di dunia akan membinasakannya di akhirat kelak. Karena setiap orang di akherat kelak akan ditanyai dengan dua pertanyaan tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan kemana ia menghabiskannya. Rasulullah bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR Tirmidzi no. 2417)

Pertanyaan pertama saja sudah membuat banyak orang yang binasa, yaitu dari mana dia dapatkan hartanya. Apakah dengan cara yang haram, dengan cara yang syubhat, dengan cara menzhalimi orang lain, dengan cara menipu orang lain, dengan cara  korupsi, dan lain-lainnya. Jika pertanyaan pertama dia lolos, karena hartanya didapatkan dengan cara yang halal. Sisa pertanyaan kedua yang juga tidak mudah mempertanggungjawabkannya, yaitu kemana dia habiskan hartanya. Untuk di jalan Allah atau untuk berfoya-foya. Semuanya akan ditanya oleh Allah subhanahu wata’ala.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ

“Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk

Yaitu tentang jalan yang benar dan jalan yang salah. Allah mengirim para Rasul untuk menjelaskan mana jalan kebenaran dan mana jalan keburukan. Allah berfirman:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan kejahatan).” (QS Al-Balad : 10)

Allah juga berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS Al-Insan : 3)

Maka sesungguhnya petunjuk telah jelas. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya dengan sangat gamblang, tinggal manusia itu mau ikut atau tidak.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَىٰ

“Dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu”

Jika manusia itu telah mengetahui bahwa dunia beserta akhirat itu milik Allah, Allahlah yang mengatur keduanya (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/404). lantas kepada siapa lagi dia harus menyembah dan beribadah kalau bukan kepada Allah semata.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ

“Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala”

Allah memperingatkan akan neraka yang menyala-nyala terhadap orang-orang yang bakhil, orang yang pelit, yang tidak beriman dengan hari akhir, yang tidak mau berinfak di jalan Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah:

أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ حَتَّى لَوْ أَنَّ رَجُلًا كَانَ بِالسُّوقِ لَسَمِعَهُ مِنْ مَقَامِي هَذَا قَالَ حَتَّى وَقَعَتْ خَمِيصَةٌ كَانَتْ عَلَى عَاتِقِهِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ

“Aku ingatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka, aku ingatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka, aku ingatkan kalian akan (dahsyatnya) neraka.” Seandainya seseorang berada di pasar, niscaya ia akan mendengarnya dari tempatku ini.” Dia (Nu’man) berkata, “Sampai-sampai selendangnya yang ada di pundak beliau jatuh ke kakinya.” (HR Ahmad no. 17672)

Peringatan dari beliau menunjukkan akan dahsyatnya neraka jahannam, tak ada seorang pun yang bisa membayangkannya. Bahkan siksaan paling ringan yaitu bara api yang diletakkan di kakinya kemudian otaknya mendidih akibat panasnya. Rasulullah bersabda:

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Sesungguhnya orang yg paling ringan azabnya pada Hari Kiamat ialah seorang lelaki yg diletakkan pada tapak kakinya dua batu bara dari Neraka, kemudian otaknya mendidih karena sebab panasnya keduanya.” (HR Muslim no. 313)

Inilah adzab yang paling ringan, dan adzab ini akan dirasakan oleh Abu Thalib, yang merupakan paman Nabi, yang mati-matian membela Nabi dan Islam, akan tetapi dia tidak beriman kapada Allah, sehingga dia diadzab di neraka jahannam dengan adzab yang paling ringan tersebut. Lantas bagaimana dengan adzab-adzab yang lebih parah lainnya. Tentu lebih dari keras dari apa yang akan dirasakan Abu Thalib.

Imam Malik berkata :

صَلَّى بِنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ المغرب، فقرأ وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشى فَلَمَّا بَلَغَ فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى وَقَعَ عَلَيْهِ الْبُكَاءُ، فَلَمْ يَقْدِرْ يَتَعَدَّاهَا مِنَ الْبُكَاءِ، فَتَرَكَهَا وَقَرَأَ سُورَةً أُخْرَى

“Umar bin Abdil Aziz sholat maghrib mengimami kami, lalu ia membaca surat Al-Lail. Tatkal sampai pada ayat فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى “Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala maka beliaupun menangis, dan beliau tidak mampu melanjutkan ayatnya karena menangis. Akhirnya beliau mengganti dengan surat yang lain” (Tafsir Al-Qurthubi 20/86-87)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى

“Tidak ada yang memasukinya kecuali orang-orang yang paling celaka”

Sehebat apapun keadaan seseorang di dunia, jika ia dilemparkan ke dalam neraka maka dialah secelaka-celakanya manusia. Rasulullah bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا

“Pada hari kiamat nanti akan didatangkan penduduk neraka yang ketika di dunia adalah orang yang paling merasakan kesenangan di sana. Kemudian dia dicelupkan di dalam neraka sekali celupan, lantas ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini?’ Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku!’.” (HR Muslim no. 2807)

Gara-gara satu celupan di neraka jahannam, dia melupakan semua kenikmatan yang pernah dirasakannya, padahal dia adalah orang yang paling senang kehidupannya di dunia.

Allah berfirman:

  1. الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

“Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)”

  1. وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى

“Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang bertakwa”

  1. الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ

“Yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya)”

Yaitu dia berinfaq untuk mencari kesucian jiwa bukan untuk riya’ dan sum’ah (lihat Tafsir Al-Bahghowi 8/448)

Seluruh ahli tafsir mengatakan bahwa surat ini turun menceritakan tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Bahkan sebagian ulama mengklaim adanya ijma, sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir. Bagaimana ketika dakwah masih fase Mekkah para budak disiksa seperti Bilal bin Rabah. Dia disiksa dan dipukul oleh tuannya yaitu Umayyah bih Khalaf bahkan dijemur di atas batu yang panas di bawah terik matahari. Nabi hanya bisa menyuruhnya bersabar. Akhirnya Abu Bakar karena dia kaya, maka dia pun membeli Bilal dan budak-budak yang lain.

Abu Bakar telah membebaskan 6 atau 7 budak yang lemah diantaranya Bilal dan ‘Aaamir bin Fuhairoh, dan dia sama sekali tidak mengharapkan pamrih/balasan dari mereka di kemudian hari (lihat Tafsir At-Thobari 24/480)

Tatkala Abu Bakar membebaskan Bilal dengan membayar mahal kepada tuannya Umayyah bin Kholaf maka kaum musyrikin berkata, “Abu Bakar melakukan demikian karena punya hutang budi kepada Bilal”. (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/449). Maka turunlah firman Allah membantah mereka dengan berfirman :

 

  1. وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰ

“Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya”

  1. إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ

“Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi”

  1. وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

“Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna)”

 

 

Yaitu Allah akan memberi ganjaran kepada Abu Bakar dengan berlipat ganda dari apa yang dia infakan sehingga menjadikannya rido/puas (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/89)

Mak ayat ini jelas menunjukan bahwa Abu Bakar masuk surga, karena Allah janji akan memberi beliau ganjaran yang menjadikan beliau puas.

Intinya surat ini menjelaskan tentang perbedaan antara orang yang suka bersedekah dan orang yang bakhil. Bahwasannya dua-duanya berbeda dan tidak mungkin Allah menyamakannya. Adapun orang yang berinfak di jalan Allah maka Allah akan mudahkan jalannya kepada kemudahan dan menuju surga, sedangkan orang yang bakhil akan dimudahkan jalannya menuju kesulitan.

 

[1] Dalam riwayat yang lain جُنَّتَانِ “dua baju perang” yang tentu terbuat dari besi