Tafsir Surat Asy-Syams

Tafsir Surat Asy-Syams

Surat Asy-Syams adalah surat Makiyah, yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Surah Asy-Syams disebutkan dalam beberapa hadits, diantaranya adalah kisah masyhur tentang Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya apabila shalat hendaklah membaca surat salah satunya Asy-Syams. Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,

صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى

“Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun berkata, “Itu orang munafiq”. Tatkala perkataan Mu’adz sampai kepada orang tersebut maka orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin menjadi orang yang suka membuat fitnah, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim, no. 465)

Di awal-awal surat, Allah bersumpah dengan banyak makhluk-Nya secara berturut-turut untuk menekankan betapa beruntungnya orang-orang yang menyucikan jiwanya.

Allah berfirman pada permulaan surat:

  1. وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا

“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari”

Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Seperti matahari, salah satu makhluk besar ciptaan Allah yang diketahui oleh seluruh manusia di muka bumi. Dimana setiap harinya manusia tidak pernah luput dari sinar yang dipancarkan oleh matahari. Kemudian Allah juga bersumpah dengan sinar di waktu dhuha. Waktu dhuha dimulai sejak kurang lebih 15 menit setelah matahari terbit dan berakhir kurang lebih 10 menit sebelum adzan dhuhur dikumandangkan.

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا

“Demi bulan apabila mengiringinya”

Yaitu bulan ketika mengikuti matahari. Karena bulan itu muncul setelah matahari terbenam. Sebagian ulama menyatakan hikmah dikatakan rembulan mengikuti matahari yaitu karena bulan tidak mengeluarkan cahayanya sendiri tetapi membiaskan cahaya matahari.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا

“Demi siang apabila menampakkannya

Yaitu ketika menyingkapnya. Para ulama berselisih pendapat tentang kata ganti “nya” pada ayat ini kembali kemana. Sebagian mengatakan bahwa “nya” disini adalah kegelapan, sehingga kegelapan tersebut disingkap lalu berganti menjadi siang. Sebagian ulama yang lain seperti Ibnu Jarir Ath-Thabary rahimahullah memilih pendapat yang lain. Dalam tafsirnya, beliau menafsirkan bahwa seluruh kata ganti “nya” yang ada pada beberapa ayat di awal surat ini kembali kepada matahari. Karena yang pertama kali disebutkan di ayat paling pertama surat adalah tentang matahari. Dan inilah pendapat yang paling kuat, yaitu kata ganti “nya” semua kembali kepada matahari.

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا

“Demi malam apabila menutupinya”

Yaitu tatkala menutupi matahari, sehingga keadaan menjadi gelap gulita.

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا

“Demi langit dan pembangunannya”

Terkait makna huruf maa pada ayat ini ulama juga berselisih menjadi dua pendapat. Sebagian mengatakan maa disini adalah maa masdariyah sehingga artinya menjadi “Demi langit dan demi bangunan langit yang begitu kokoh. Sebagian yang lain mengatakan maa disini adalah maa mausulah sehingga artinya menjadi “Demi langit dan demi yang menegakkan langit yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا

“Demi bumi dan penghamparannya”

Dalam ayat ini ulama juga berselisih menjadi dua pendapat terkait makna maa. Yang mengatakan maa masdariyah maka artinya “Demi bumi dan bentangan bumi tersebut” sedangkan yang mengatakan maa mausulah maka artinya “Demi bumi dan demi yang membentangkan bumi” yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya

Inilah beberapa sumpah yang Allah sebutkan di bagian-bagian awal surat. Jika dicermati lebih lanjut, akan dijumpai bahwasanya Allah menyebutkan makhluk-makhluk-Nya secara berpasangan. Pada ayat pertama dan kedua, secara berturut-turut Allah menyebutkan matahari dan rembulan. Kemudian ayat ketiga dan keempat Allah menyebutkan siang dan malam. Lalu ayat kelima dan keenam Allah menyebutkan langit dan bumi. Seakan-akan Allah ingin menjelaskan bahwa segala sesuatu itu berpasangan. Sehingga begitu pula dengan jiwa, ada jiwa yang baik dan ada jiwa yang buruk. Oleh karena itu, Allah bersumpah dengannya.

Jiwa merupakan perkara yang sampai sekarang tidak bisa diketahui hakekatnya dan rahasianya. Oleh karena itu, takkala orang-orang kafir bertanya kepada Nabi tentang ruh, maka Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberikan pengetahuan kecuali hanya sedikit ilmu (QS. Al-Isra’ : 85)

Kemudian Allah berfirman:

  1. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya”

Para ahli tafsir berselisih menjadi dua pendapat terkait makna kejahatan dan ketakwaan. Pendapat yang pertama menyatakan bahwa Allah memberi ilham kepada jiwa tersebut kefajiran dan ketakwaan sehingga setiap jiwa bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Karena Allah menciptakan setiap jiwa manusia di atas fitrah, dan fitrahnya tersebut membawa dia agar bisa membedakan mana keburukan dan mana kebaikan.

Pada dasarnya jiwa itu tidak suka dengan keburukan namun senang dengan kebaikan, karenanya setiap orang bisa merasakan dalam dirinya mana yang baik dan mana yang buruk. Diantara manusia tidak ada yang suka dengan kedustaan, bahkan pendusta pun tidak suka jika ia didustai. Kecuali apabila itu adalah syubhat yaitu sesuatu yang samar, terkadang fitrah orang bisa berubah karenanya. Adapun perkara-perkara yang jelas seperti berbuat dusta, berbuat zhalim, dan mencuri maka setiap jiwa yang masih di atas fitrahnya mengetahui akan keburukannya. Oleh karena itu, seseorang yang sengaja melakukan keburukan berarti dia sendiri yang memilih keburukan tersebut.

Pendapat yang kedua menyatakan bahwa Allah memberi ilham kepada jiwa tersebut kefajiran dan ketakwaan, ini berkaitan tentang takdir. Segala hal yang dilakukan oleh manusia di atas muka bumi ini telah ditakdirkan oleh Allah, apakah itu kebaikan ataupun kefajiran. Dalam Shahih Muslim, ada seorang yang bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ، وَيَكْدَحُونَ فِيهِ، أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ مِنْ قَدَرٍ قَدْ سَبَقَ، أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ، وَثَبَتَتِ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ؟ فَقَالَ: لَا، بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ، وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau tentang apa yang dilakukan manusia pada hari ini dan mereka bersungguh-sungguh di dalamnya, apakah hal itu merupakan sesuatu yang ditetapkan atas mereka dan telah berlaku atas mereka takdir sebelumnya? Ataukah sesuatu yang dihadapkan kepada mereka dari apa-apa yang dibawa kepada mereka oleh Nabi mereka dan hujjah telah nyata atas mereka?” Nabi menjawab, “Bahkan, hal itu merupakan sesuatu yang telah ditentukan atas mereka. Dan pembenaran akan perkataanku adalah firman Allah, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. (HR Muslim no. 2650)

Semua yang kita lakukan telah tercatat sebagai takdir Allah. Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui apa takdir hidupnya. Oleh karena itu, diantara faedah beriman kepada takdir adalah seseorang tidak ujub dengan amalan shalehnya. Tatkala dia beramal shalih, dia akan menyadari bahwa semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Allah-lah yang telah mengilhamkan kepada dirinya agar beramal shaleh. Dan tidak ada manusia yang bisa membanggakan dirinya, karena tidak ada yang mengetahui bagaimana akhir dari kehidupannya. Tidak ada juga yang mengetahui kehidupan selanjutnya akan berlanjut dimana, di surga atau di neraka. Oleh karena itu, tugas manusia hanyalah beramal. Karena masalah takdir adalah rahasia Allah.

Hakikat takdir tidak bisa ditangkap oleh otak manusia, tidak satu pun yang mampu mencernanya. Oleh karena itu, dalam Al-Quran Allah selalu menutup segala pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya, diantaranya mengenai takdir. Karena sering kali syaithan datang memberi was-was kepada manusia lalu mengatakan, kenapa Allah mentakdirkan iblis masuk neraka jahannam, kenapa Adam ditakdirkan keluar dari surga, dan semua pertanyaan yang menandakan seolah-olah lebih paham daripada Allah. Maka Allah menjawab dengan firman-Nya:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS Al-Anbiya’ : 23)

Karena sesungguhnya manusia penuh dengan kebodohan. Terlalu banyak perkara remeh yang tidak mampu manusia renungkan hakikatnya, lantas dia ingin menyingkap hakikat takdir yang merupakan rahasia Allah. Oleh karena itu, diantara rukun iman yang harus diyakini adalah rukun iman yang keenam yaitu beriman kepada takdir. Barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah maka amalannya tidak akan diterima.

Kemudian Allah berfirman:

  1. قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)”

  1. وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”

Inilah jawaban dari sumpah-sumpah Allah dengan beberapa makhluk-Nya secara berturut-turut dalam beberapa ayat, untuk menjelaskan betapa beruntungnya orang yang menyucikan jiwanya dan betapa meruginya orang yang mengotori jiwanya. Allah menjelaskan bahwasannya manusia ada dua jenis, ada manusia yang berusaha menyucikan jiwanya dan ada pula manusia yang mengotori jiwanya. Dan Allah telah memberikan petunjuk kepada dia mana jalan kebenaran dan mana jalan keburukan, pilihan ada di tangannya.

Sesungguhnya menyucikan jiwa itu tidak mudah, butuh perjuangan yang tidak ringan. Terlebih lagi Allah menciptakan dunia yang dipenuhi dengan syahwat, sesuatu yang manusia sangat tertarik terhadapnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR Muslim no. 2822)

Sebelum kita memperhatikan amalan badan, hal paling pertama yang kita lakukan adalah terlebih dahulu menyucikan jiwa dan hati. Hendaknya setiap muslim membersihkan hatinya dari segala jenis kesyirikan, dari sikap suudzhan kepada Allah, sombong, hasad, dengki, riya’ dan penyakit hati lainnya. Adapun orang yang hanya memperhatikan amalan zhahirnya (amalan badan) dan dia lupa memperhatikan jiwanya, maka sangat rentan untuk futur (malas beribadah). Tadinya dia semangat shalat, semangat puasa, semangat bersedekah, tetapi karena dia tidak memperhatikan keadaan jiwanya, hatinya, dan keikhlasannya, maka suatu saat dia akan berubah. Oleh karena itu, yang paling utama apabila ia ingin menyucikan jiwanya adalah menyucikan hatinya terlebih dahulu. Lalu amalan zhahirnya dan lisannya. Sehingga dia termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung.

Adapun orang yang mengotori jiwanya, yang mengikuti hawa nafsunya, menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka dia telah mengotori jiwanya sehingga termasuk dari golongan orang-orang yang merugi.

Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa sebagaimana di dunia ini hanya ada dua kelompok yaitu kelompok manusia yang masuk surga dan kelompok manusia yang masuk neraka, maka manusia juga ada dua model jiwa yaitu jiwa yang disucikan oleh pemiliknya dan jiwa yang dikotori oleh pemiliknya. Tidak ada model yang ketiga.

Kemudian setelah itu Allah menyebutkan salah satu contoh ummat yang mengotori jiwa mereka dengan berbuat seenaknya untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Lalu mereka diazab oleh Allah. Mereka adalah kaum Tsamud, kaumnya Nabi Shalih ‘alaihissalam. Para ulama menjelaskan alasan mengapa yang Allah sebutkan adalah kaum Tsamud, yaitu karena kaum Tsamud adalah salah satu kaum dari bangsa Arab dan surat ini adalah surat Makiyyah yang diturunkan ketika Nabi sedang berdakwah di Mekkah, dimana beliau menghadapi orang-orang musyrikin Arab yang mengingkari hari kebangkitan. Sehingga mereka diharapkan akan mudah menerima karena berita tentang kaum Tsamud telah diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy dan bekas puing-puing kehancuran kaum Tsamud ada di sekitar mereka. Allah berfirman:

  1. كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا

“(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas (zhalim)”

Kisah Kaum Tsamud

Kisah kaum Tsamud dan juga kaum ‘Ad tidak terdapat di dalam Injil dan Taurat. Melainkan hanya terdapat di dalam Al-Quranul Karim. Kaum Tsamud adalah kaum Arab yang datang setelah kaum ‘Ad yang juga berasal dari bangsa Arab. Oleh karena itu, berita tentang dibinasakannya kaum ‘Ad telah diketahui oleh kaum Tsamud. Allah berfirman tentang kaum Tsamud:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan yang berhak sembah) bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat dan memperkenankan (doa hamba-Nya)’.” (QS Hud : 61)

Rupanya kaum Tsamud terjerumus dalam kesyirikan. Bahkan sampai sekarang bekas-bekas perkampungan mereka masih ada, disana bisa dijumpai ada sisa-sisa pahatan kepala manusia dan patung-patung, yang mungkin saja itu adalah bekas-bekas sesembahan mereka.

Nabi Shalih telah mengingatkan mereka bahwasannya sudah berlalu kaum ‘Ad yang habis dibinasakan oleh Allah. Sehingga didatangkanlah mereka sebagai pengganti kaum ‘Ad. Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.” (QS Al-A’raf : 74)

Dikisahkan dalam sejarah tentang mukjizat Nabi Shalih. Para ahli tafsir menyebutkan, pada suatu hari kaum Tsamud berkumpul di tempat perkumpulan mereka. Lalu Nabi Shalih datang menghampiri mereka, lantas menyeru mereka kepada Allah, memperingati, mengingatkan, serta menasehati mereka. Mereka berkata kepada Shalih, “Sanggupkah engkau mengeluarkan untuk kami seekor unta betina dari batu ini -seraya menunjukkan sebongkah batu- dengan ciri-ciri seperti ini dan seperti itu?” Kemudian mereka menyebutkan ciri-ciri unta yang mereka inginkan, di samping itu unta tersebut mesti dalam keadaan bunting (sepuluh bulan) lagi berbadan panjang. (lihat Fathul Baari 6/379)

Sebenarnya permintaan mereka ini bukan dalam rangka membenarkan Nabi Shalih akan tetapi untuk menolak Nabi Shalih, karena menurut persangkaan mereka pengabulan permintaan mereka merupakan suatu kemustahilan. Jika unta keluar dari hutan, atau dari laut, atau dari gunung, masih lebih memungkinkan. Akan tetapi unta keluar dari batu -yang tidak ada sumber kehidupan sama sekali-?

Akan tetapi Nabi Shalih menjawab, “Beritahukan kepadaku, jika aku sanggup memenuhi permintaan kalian sesuai dengan yang kalian inginkan, apakah kalian akan beriman dengan apa yang aku bawa dan membenarkan apa-apa yang dengannya aku diutus?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi Shalih pun mengambil sumpah dan janji mereka atas hal itu, lalu ia beranjak menuju tempat shalatnya dan shalat disana dengan ikhlash karena Allah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan baginya, kemudian berdoa kepada Rabbnya agar Dia mengabulkan permintaan mereka. Maka Allah memerintahkan batu besar tersebut untuk terbelah dan mengeluarkan seekor unta betina yang besar lagi bunting, sesuai dengan permintaan mereka.

Tatkala mereka melihatnya, mereka menyaksikan perkara yang agung, pemandangan yang mengagumkan, kemampuan yang luar biasa, bukti yang nyata, dan penjelasan yang terang. Maka banyak dari mereka yang beriman, namun lebih banyak lagi yang tetap dalam kekafiran, kesesatan, dan pembangkangannya. Allah berfirman:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِن قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُّرْسَلٌ مِّن رَّبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ (75) قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنتُم بِهِ كَافِرُونَ (76)

“(75) Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman diantara kaumnya, ‘Tahukah kamu bahwa Shalih adalah seorang rasul dari Tuhannya?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami percaya kepada apa yang disampaikannya’; (76) Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu percayai’.” (QS Al-A’raf : 75-76)

Disebutkan bahwasanya setelah unta tersebut keluar, Nabi Shalih memerintahkan agar tidak ada yang mengganggu unta tersebut dan membiarkannya hidup tenang. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Shalih:

هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.” (QS Al-A’raf : 73)

Nabi Shalih juga memerintahkan kepada mereka agar memberi waktu khusus kepada unta tersebut minum dari sumur. Allah berfirman:

قَالَ هَٰذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ

“Dia (Shalih) menjawab, ‘Ini seekor unta betina, yang berhak mendapatkan (giliran) minum, dan kamu juga berhak mendapatkan minum pada hari yang ditentukan’.” (QS Asy-Syu’ara : 155)

Kaum Tsamud mendapat banyak manfaat dari keberadaan unta tersebut, mereka bisa meminum susu yang sangat lezat dari unta tersebut. Jika tiba hari jatah minum sang unta maka mereka tidak boleh mengambil air dari sumur itu sama sekali. Maka sang unta minum dari sumur di pagi hari sementara di sore hari mereka memerah susu yang banyak dari unta tersebut. Mereka baru boleh mengambil air dari sumur tersebut keesokan harinya yaitu pada jatah giliran mereka (Lihat Tafsir al-Qurthubi 13/131). Semua ini dilakukan agar mereka mau meninggalkan kesyirikan mereka. Namun kemudian mereka jengkel, dan mulai membantah Nabi Shalih. Allah berfirman:

قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَن نَّعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

“Mereka (kaum Tsamud) berkata, “Wahai Shalih! Sungguh engkau sebelum ini berada di tengah-tengah kami merupakan orang yang diharapkan, mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.” (QS Hud : 62)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. إِذِ انبَعَثَ أَشْقَاهَا

“Ketika bangkit orang yang paling celaka diantara mereka

Akhirnya kaum Tsamud bersepakat membunuh unta tersebut. Maka yang pertama kali berdiri untuk membunuh unta tersebut disebutkan oleh para ulama namanya adalah Qudaar bin Saalif. Dialah orang yang paling celaka diantara mereka. (lihat Fathul Baari 1/318). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari ketika menyebutkan unta Nabi Shalih dan orang-orang yang menyembelihnya. Beliau bersabda mengutip ayat ini lalu bersabda:

{إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا} [الشمس: 12] انْبَعَثَ لَهَا رَجُلٌ عَزِيزٌ عَارِمٌ، مَنِيعٌ فِي رَهْطِهِ، مِثْلُ أَبِي زَمْعَةَ

“Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, (QS Asy-Syams :12), yaitu seorang ‘aziiz (langka/jarang yang seperti dia), ‘aarim (banyak keburukannya, sulit dihadapi), manii’ (kuat dan dibela oleh kaumnya) seperti Abu Zam’ah.” (HR Bukhari no. 4942 dan Muslim no. 2855)

Dia kemudian bangun lalu membunuh unta Nabi Shalih. Atas perbuatan itu, Nabi Shalih memperingatkan mereka. Allah berfirman:

فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ

“Maka mereka menyembelih unta itu, kemudian dia (Shalih) berkata, ‘Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan’.” (QS Hud : 65)

Meskipun yang langung mengeksekusi pembunuhan unta hanyalah satu orang -yaitu Qidaar bin Saalif- akan tetapi Allah menyandarkan pelaksanaan pembunuhan tersebut kepada mereka semuanya. Karena pembunuhan tersebut itu adalah hasil dari kesepakatan mereka.

Namun mereka juga tidak mempercayai ancaman serius tersebut. Allah berfirman tentang perkataan mereka:

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Mereka berkata, ‘Wahai Shalih! Buktikanlah ancaman kamu kepada kami, jika benar engkau salah seorang rasul’.” (QS Al-A’raf : 77)

Rupanya merekapun menyesal setelah membunuh unta tersebut. Allah berfirman :

فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ

“Kemudian mereka membunuh unta tersebut, lalu mereka menjadi menyesal” (QS Asy-Syu’aroo’ : 157)

Akan tetapi penyesalan tersebut tidak bermanfaat bagi mereka dan tidak bisa menolak adzab yang akan menimpa mereka. Penyesalan mereka tidak bermanfaat setelah mereka melihat adzab. Sebagian ulama berpendapat bahwa penyesalan mereka tidak bermanfaat karena mereka tidak bertaubat, buktinya setelah itu mereka malah sekalian ingin membunuh Nabi Shalih. (lihat Tafsir al-Qurthubi 13/131). Allah berfirman:

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ (48) قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ (49) وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (50) فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ (51)

“(48) Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan; (49) Mereka berkata, ‘Bersumpahlah kamu dengan (nama) Allah, bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh kita orang yang benar; (50) Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya, sedang mereka tidak menyadari; (51) Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.” (QS An-Naml : 48-51)

Akhirnya rencana mereka tidak berhasil. Allah kemudian membunuh sembilan orang tersebut sebelum turun adzab kepada kaum Tsamud seluruhnya. Nabi Shalih pun menunggu tiga hari akan diturunkannya adzab.

 

Disebutkan bahwa mereka membunuh unta tersebut pada hari rabu.  Ibnu Katsir menyebutkan pada hari kamis pagi, wajah-wajah kaum Tsamud berubah menjadi kekuning-kuningan. Dan di saat sore harinya mereka semua menyeru, “Telah berlalu satu hari dari batas waktunya.” Kemudian pada hari kedua yaitu hari jum’at wajah mereka menjadi kemerah-merahan. Dan pada hari yang ketiga yaitu hari sabtu berubah menjadi kehitam-hitaman. Di hari ahad shubuh mereka bersiap-siap menuai datangnya adzab. Tiba-tiba tatkala matahari menyingsing, terdengarlah oleh mereka suara pekikan dari langit serta gempa dari arah bawah mereka sehingga nyawa-nyawa mereka pun melayang. Allah berfirman:

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka.” (QS Al-A’raf : 78)

Semuanya meninggal dan tidak ada yang tersisa. Allah membinasakan mereka semua dalam satu waktu. Allah berfirman tentang perkataan Nabi Shalih:

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

“Kemudian dia (Shalih) pergi meninggalkan mereka sambal berkata, ‘Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu. Tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat’.” (QS Al-A’raf : 79)

Demikianlah kisah kehancuran kaum Tsamud atas kesombongan dan keangkuhan yang telah mereka lakukan. Meskipun yang membunuh unta tersebut adalah satu orang yaitu yang disebut sebagai orang yang paling celaka di antara mereka, tetapi yang lainnya juga mendapatkan siksaan karena telah ikut bersepakat dengan perbuatan tersebut. Ini menunjukkan bahaya seseorang yang tidak melakukan maksiat akan tetapi suka atau setuju dengan maksiat tersebut.

 

Allah berfirman:

  1. فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا

“Lalu Rasul Allah (Shalih) berkata kepada mereka, ‘(Biarkanlah) unta betina dari Allah ini dengan minumannya”

  1. فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا

“Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah)”

Allah mengatakan bahwa Allah membinasakan mereka akibat dosa yang mereka perbuat. Karena tidak mungkin Allah menimpakan suatu musibah kepada seorang pun jika bukan karena dosa. Karenanya Allah berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura : 30)

Apa saja musibah yang menimpa kita, baik itu kesedihan, rasa sakit, atau dililit hutang, atau bahkan istri dan anak-anak yang nakal, itu karena maksiat yang kita lakukan. Oleh karena itu, para salaf dahulu mengatakan:

إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ خَادِمِي وَدَابَّتِي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku pembantuku dan hewan tungganganku.” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam 1/468)

Bahkan Allah pernah menegur para sahabat akibat kesalahan mereka. Allah berfirman:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada perang uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada perang badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali ‘Imran : 165)

Bagaimana pula dengan kita yang tidak ada apa-apanya dibanding keimanan para sahabat. Para sahabat yang luar biasa keimanannya saja terkena musibah gara-gara maksiat yang pernah mereka lakukan. Oleh karena itu, apabila seseorang tertimpa musibah dia harus segera menyadari bahwa mungkin saja itu adalah akibat maksiat yang pernah dia lakukan. Kemudian hendaknya dia bersabar atas musibah-musibah tersebut, agar dosa-dosanya menjadi terhapuskkan dan derajatnya diangkat oleh Allah.

As-Sam’aani berkata tentang makna فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ:

أَطْبَقَ عَلَيْهِم بِالْعَذَابِ يَعْنِي: عَمَّهُمْ وَلم يُبْقِ مِنْهُم أَحَدًا، وَيُقَال: الدَّمْدَمَةُ هُوَ الْهَلَاكُ بِاستِئْصَالٍ

“Yaitu Allah menjadikan adzab menimpa mereka secara keseluruhan sehingga tidak menyisakan seorangpun dari mereka. Dan dikatakan الدَّمْدَمَةُ adalah kebinasaan yang menyeluruh sampai pada akarnya” (Tafsir As-Sam’aani 6/235)

 

Kemudian Allah berfirman:

  1. وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا

“Dan Dia tidak takut terhadap akibatnya”

Ada tiga pendapat dikalangan ahli tafsir tentang makna ayat ini (lihat Tafsir Al-Qurthubi 20/80).

Pertama, yaitu si pembunuh unta Nabi Shalih yang tidak takut akibat dari aksi pembunuhan yang dia lakukan. Dia sombong dan merasa dia akan selamat setelah membunuh unta tersebut. Padahal kepada Nabi Muhammad saja Allah memerintahkan agar beliau berkata takut akan adzab akibat maksiat, lalu bagaimana pula dengan manusia biasa yang derajatnya di bawah Nabi. Allah berfirman:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku benar-benar takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku’.” (QS Al-An‘am : 15)

Kedua, yaitu Nabi Shalih yang tidak takut ketika unta tersebut dibunuh karena dia tahu dia akan selamat dari adzab Allah. Yang akan diadzab hanyalah orang yang membunuh dan yang sepakat dengan pembunuhan unta tersebut.

Ketiga, yaitu Allah yang tidak takut dengan akibat perbuatan Allah tersebut, dan inilah pendapat jumhur ahli tafsir. Artinya, setiap orang yang melakukan sesuatu, melakukan pembinasaan, atau melakukan kezhaliman, pasti dalam hatinya ada rasa takut, siapapun dia dan bagaimanapun kesombongan ataupun keberaniannya, kecuali Allah subhanahu wata’ala. Jika Allah ingin membinasakan suatu kaum, maka Allah tidak khawatir dengan perbuatan-Nya. Allah tahu bahwa mereka berhak untuk dibinasakan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.