Khutbah Jumat – Berprasangka Baik Kepada Allah

Khutbah Jumat – Berprasangka Baik Kepada Allah

Khutbah Pertama

إن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستهديه وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله. لا نبي بعده.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فإن أصدق الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدى هدى محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.

معاشر المسلمين، أًوصيكم ونَفْسِيْ بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ

Sesungguhnya di antara ibadah yang sangat agung yang merupakan ibadah hati adalah berhusnudzan kepada Allahﷻ. Berbaik sangka kepada Pencipta yang telah memberikan rezeki kepada kita, yang telah memudahkan segala urusan kepada kita. Allahﷻ berfirman:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Ibnu Jarir At-Thabari di dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ikrimah ketika menafsirkan ayat ini, bahwa maksudnya adalah

أَحسِنُوا الظَّنَّ بِاللهِ

“Berprasangka baiklah kepada Allah.”([1])

Nabiﷺ telah bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah sampai salah seorang dari kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.”([2])

Di dalam hadis qudsi Allahﷻ berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

“Sesungguhnya aku tergantung persangkaan hamba-Ku. Oleh karenanya, hendaknya hamba-Ku berprasangka apa yang dia mau terhadap diri-Ku.” ([3])

إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Jika dia berbaik sangka berupa kebaikan, maka kebaikan baginya. Jika dia berprasangka buruk, maka keburukan pula baginya.” ([4])

 

Para hadirin yang dirahmati Allah

Sungguh, tatkala seorang hamba senantiasa berprasangka baik kepada Allahﷻ, maka dia telah mendapatkan kebaikan yang sangat besar. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhuma pernah berkata:

مَا أُعْطِيَ عَبْدٌ مُؤْمِنٌ شَيْئًا قَطُّ بَعْدَ الْإِيمَانِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ يُحْسِنَ ظَنَّهُ بِاللهِ

“Tidaklah seorang hamba mukmin diberikan kebaikan yang lebih baik setelah iman kepada Allah dari pada berbaik sangka kepada Allah.” ([5])

Oleh karenanya, kita sebagai seorang muslim hendaknya berbaik sangka kepada Rabb kita, terutama pada kondisi-kondisi berikut ini:

Pertama, tatkala seseorang melakukan dosa. Hendaknya dia segera bertaubat kepada Allahﷻ dan berbaik sangka kepada-Nya bahwa Allahﷻ akan menerima taubatnya. Allahﷻ berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang?” (QS. At-Taubah: 104)

Ingatlah hadis Nabiﷺ, beliau bersabda:

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فَقَالَ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي

“Seorang hamba melakukan dosa, kemudian dia berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku’.”

Maka Allahﷻ menjawab:

أَذْنَبَ عَبْدِي ذَنْبًا، فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ، وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ، ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ

 “Hambaku melakukan dosa, maka dia mengetahui bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa.”

غَفَرْتُ لِعَبْدِي

“Maka aku ampuni dosa hamba-Ku (ini).”

ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا، أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا

“Kemudian, hamba ini selama beberapa waktu tidak bermaksiat. Kemudian, dia bermaksiat kembali, terjerumus lagi di dalam dosa.”

فَقَالَ: رَبِّ أَذْنَبْتُ، فَاغْفِرْهُ

“Kemudian dia segera berkata: Ya Allah, aku telah melakukan dosa, maka ampunilah aku.”

فَقَالَ: عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ, غَفَرْتُ لِعَبْدِي

“Maka Allah berfirman: ‘Sesungguhnya hamba-Ku mengetahui bahwasanya dia memiliki Tuhan yang menyiksa karena dosa dan mengampuni dosa-dosa. Maka, aku ampuni hamba-Ku’.”

ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا، قَالَ: رَبِّ أَذْنَبْتُ آخَرَ، فَاغْفِرْهُ لِي

Kemudian dia bertahan (untuk tidak melakukan kemaksiatan) selama waktu yang Allah kehendaki. Kemudian terjerumus lagi di dalam kemaksiatan berikutnya. Kemudian, dia berkata (dengan penuh keyakinan dan berprasangka baik kepada Allah): ‘Ya Allah ampuni aku’.”

فَقَالَ: عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ

“Maka Allah berfirman: ‘Sesungguhnya hamba-Ku mengetahui bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa-dosa dan menyiksa karena dosa.([6])

أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي

Maka, Aku saksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni hamba-Ku. ([7])

Dan di dalam suatu riwayat Allahﷻ berfirman,

فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ

“Hendaklah (hambaku) melakukan apa yang dikehendaki.” ([8])

Para ulama mengatakan bahwa selama seseorang berbuat dosa kemudian bertaubat, kemudian berdosa lagi, kemudian bertaubat dan memenuhi persyaratan taubat. Maka, selama itu pula Allahﷻ senantiasa mengampuni dosa-dosa. Oleh karenanya, ketika seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan, janganlah menunda-nunda taubatnya. Yakinlah, bahwa Allahﷻ menerima taubatnya. Seketika dia bertaubat, seketika itu pula Allahﷻ mengampuni dosa-dosanya. Ingatlah sabda Nabiﷺ,

لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya dari pada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya sendiri.”([9])

Kondisi kedua, tatkala kita berdoa kepada Allahﷻ. Hendaknya kita berdoa dengan kondisi meyakini bahwa Allahﷻ akan mengabulkan doa-doa kita. Bagaimana tidak? Padahal Allahﷻ telah berfirman:

وَقالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Di dalam ayat yang lain, Allahﷻ berfirman,

وَإِذا سَأَلَكَ عِبادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذا دَعانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Rasulullahﷺ bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاه

“Berdoalah kalian kepada Allah dalam kondisi yakin bahwasanya Allah akan mengabulkan dosa kalian. Dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan doa seseorang yang hatinya lalai.”([10])

Artinya Allahﷻ tidak akan mengabulkan doa orang yang tidak berhusnudzan kepada-Nya, yaitu orang yang tidak yakin doanya akan dikabulkan. Akan tetapi, jika seseorang berbaik sangka kepada Allahﷻ dan meyakini bahwasanya Allahﷻ akan mengabulkan doanya. Maka, Allahﷻ akan mengabulkan doanya.

Bagaimana Allahﷻ tidak mengabulkan permintaan seorang mukmin yang bertakwa kepada-Nya. Sedangkan Iblis saja, Allahﷻ telah mengabulkan doanya. Allahﷻ berfirman:

قالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Ia (Iblis) berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka berilah penangguhan kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” (QS. Al-Hijr: 36)

Allahﷻ mengabulkan permintaannya dengan berfirman:

قالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

“Allah berfirman, “(Baiklah) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan.” (QS. Al-Hijr: 37)

Bagaimana kita bersu’udzan/berburuk sangka kepada Allahﷻ, sementara Allahﷻ mengabulkan doa-doa orang kafir. Di dalam Al-Quran Allahﷻ berfirman,

فَإِذا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-‘Ankabut: 65)

Bagaimana dengan seseorang yang beriman, bertakwa, sujud dan merendahkan dirinya karena Allahﷻ disertai dengan mengalirkan air mata dengan penuh pengharapan dan meminta kepada Allahﷻ. Terlebih lagi, dengan yang berdoa di sepertiga malam yang terakhir, tatkala semua orang sedang tertidur. Bagaimana orang yang seperti ini tidak akan dikabulkan doanya oleh Allahﷻ? Sementara Allahﷻ mencari hamba-hamba-Nya yang berdoa di sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman,

هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأُجِيبَهُ؟

“Apakah ada di antara hamba-hamba-Ku yang meminta, maka Aku akan mengabulkan permintaannya. Dan apakah ada di antara hamba-hamba-Ku yang beristigfar, maka Aku akan mengampuni dosanya. Dan apakah ada di antara hamba-Ku yang berdoa, maka Aku kabulkan.” ([11])

Di antara kondisi seseorang adalah hendaknya berhusnudzan kepada Allahﷻ tatkala dia mencari rezeki. Hendaknya dia selalu berbaik sangka bahwa Allahﷻ akan memberi rezeki kepadanya.

 

Ketahuilah para hadirin yang dirahmati Allah

Sungguh, perkara yang menakjubkan terhadap perkara seorang manusia yang berburuk sangka kepada Allahﷻ. Sementara dalam masalah rezeki, tatkala dia masih berupa janin di dalam perut ibunya, Allahﷻ telah memberikan rezeki kepadanya melalui ibunya. Tatkala dia dilahirkan dalam keadaan masih kecil, tidak bisa berbuat apa-apa. Maka, Allahﷻ memberikan rezeki kepadanya sampai dia tumbuh besar. Kemudian, dia duduk di bangku sekolah hingga menjadi dewasa. Setelah, dia memiliki ijazah dan memiliki gelar dan memiliki kekuatan. Namun, dia bersu’udzan kepada Allahﷻ bahwasanya Allahﷻ tidak akan memberikan rezeki kepadanya. Ini merupakan bentuk su’udzan kepada Allahﷻ yang tidak pada tempatnya. Jika, tatkala dia masih berupa janin dan masih kecil, Allahﷻ telah memberikannya rezeki kepadanya. Maka, bagaimana setelah dia memiliki kekuatan, kemudian Allahﷻ tidak memberikan rezeki kepadanya.

Hendaknya dia berusaha untuk bertawakal kepada Allahﷻ dan mencari sebab-sebab rezeki. Baik sebab-sebab rezeki yang dzahir maupun sebab-sebab ukhrawi.

Kebanyakan orang tatkala mereka mencari rezeki, mereka hanya bersandar kepada sebab-sebab yang dzahir. Padahal, Dibalik itu semua ada sebab-sebab ukhrawi yang harus diperhatikan bagi orang-orang yang mengharapkan rezeki dari Allahﷻ:

  • Bertakwa kepada Allahﷻ. Allahﷻ berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Oleh karenanya, jika seseorang tatkala mencari rezeki mendapati seluruh pintu tertutup, hingga mengakibatkan sulit baginya untuk mencari rezeki, usaha telah dilakukan, namun tidak datang rezeki baginya. Maka, hendaknya dia memperbaiki dirinya. Jangan terlalu percaya diri dengan dirinya. Bisa jadi, dia telah terjerumus di dalam berbagai macam kemaksiatan. Apakah dia tidak menjaga lisannya atau pandangannya ataupun hatinya. Maka, hendaknya dia memperbaiki ketakwaan kepada Allahﷻ. Niscaya, Allahﷻ akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak dia sangka-sangka.

Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa apabila seseorang telah dimudahkan rezekinya dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Itu adalah tanda bahwa dia telah bertakwa kepada Allahﷻ.

  • Di antara hal yang dapat mendatangkan rezeki adalah bersilaturahmi. Nabiﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.” ([12])

Jika Anda telah menyambung silaturahmi, memberikan hadiah kepada kerabat, terutama menyambung silaturahmi kepada ayah dan ibu dan menyenangkan hati keduanya. Maka, yakinlah bahwasanya segala kesuksesan akan mendatangi Anda, tatkala telah menyambung silaturahmi kepada orang yang paling berhak Anda sambung dengan silaturahmi, yaitu kedua orang tua.

Para hadirin yang dirahmati Allah

  • Nabiﷺ bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sesungguhnya sedekah tidak akan mengurangi rezeki (sama sekali).”([13])

Bahkan, Allahﷻ berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Wahai anak Adam, berinfaklah! Maka, Aku akan berinfak untukmu.” ([14])

Semakin sering seseorang bersedekah, maka yakinlah bahwasanya Allahﷻ akan menambahkan rezekinya. Bagaimana caranya? Maka, itu menjadi urusan Allahﷻ.

Para Hadirin yang dirahmati Allah

Di antara kondisi yang sangat dituntutkan bagi seorang hamba untuk berhusnudzan kepada Allahﷻ -dan ini adalah kondisi yang sangat genting-, yaitu tatkala dia hendak meninggal dunia. Di dalam Shahih Muslim Rasulullahﷻ bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah sampai salah seorang dari kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.”([15])

Tatkala seorang hamba hendak meninggal dunia, maka hendaknya dia kuatkan sisi pengharapannya kepada Allahﷻ. Hendaknya dia ingat tentang janji Allahﷻ bahwasanya Allahﷻ memiliki sifat-sifat yang mulia bahwa Allahﷻ adalah Al-Ghafur -yang Maha Pengampun-, Ar-Rahman Ar-Rahim -Yang Maha Penyayang-. Allahﷻ berfirman di dalam hadis qudsi:

إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Sesungguhnya kasih sayangku  mengungguli kemarahanku.” ([16])

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156)

Ingatlah janji Allahﷻ bahwasanya Allahﷻ Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Seseorang tatkala hendak meninggal dunia, hendaknya dia menguatkan sisi harapannya kepada Allahﷻ, karena Allahﷻ telah berfirman di dalam hadis qudsi:

إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Jika dia berbaik sangka berupa kebaikan, maka kebaikan baginya. Jika dia berprasangka buruk, maka keburukan pula baginya.” ([17])

Akan tetapi hadirin yang dirahmati Allah

Berhusnudzan kepada Allahﷻ tidaklah mudah, terutama bagi orang-orang yang bergelimang dalam kemaksiatan. Hati-hati mereka akan terbungkus dengan warna hitam, sehingga membuatnya selalu su’udzan kepada Allahﷻ. Dan begitu buruk tatkala dia akan meninggal dunia, dia tidak mampu berhusnudzan kepada Allahﷻ. Dia menyangka Allahﷻ akan menyiksanya, Allahﷻ akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Dan jika dia berprasangka buruk, maka Allahﷻ akan bermuamalah/menyikapinya sesuai dengan prasangkanya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيْئَةٍ فَاسْتَغْفِرُوْه إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah kedua

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله

وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى

رضوانه، اللهم صل عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه. معاشر المسلمين،

Hadirin yang dirahmati Allah

Di antara kondisi yang mana kita juga perlu untuk berhusnudzan kepada Allahﷻ adalah tatkala kita tertimpa musibah. Seorang mukmin yang bertakwa kepada Allahﷻ, yang berusaha menjauhi kemaksiatan dan menjauhi larangan-larangan Allahﷻ, meskipun terkadang terjerumus di dalam kemaksiatan dan melanggar perintah Allahﷻ. Akan tetapi, dia senantiasa berusaha untuk bertakwa kepada Allahﷻ. Jika kemudian, dia telah berusaha selalu bertakwa kepada Allahﷻ, kemudian tiba-tiba musibah datang menimpanya. Maka, yakinlah bahwasanya apa pun yang diberikan oleh Allahﷻ, itulah yang terbaik. Apa yang dipilih dan ditetapkan oleh Allahﷻ kepadanya adalah yang terbaik. Allahﷻ berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Allahﷻ yang menciptakan kita dan Allahﷻ pula yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita dan yang lebih banyak membawa maslahat bagi kita. Seorang hamba boleh berangan-angan dan bercita-cita dan mempunyai harapan-harapan. Akan tetapi, terkadang keputusan Allahﷻ bertentangan dengan cita-cita dan harapannya. Yakinlah bahwasanya apa yang diputuskan oleh Allahﷻ itu yang terbaik baginya dan masa depannya. Karena, Allahﷻ lebih mengetahui tentang masa depan dan kemaslahatannya. Bahkan, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa terkadang Allahﷻ menurunkan anugerah kepada seorang hamba dalam bentuk musibah. Dan Allahﷻ telah memberikan contohnya di dalam Al-Quran.

Yang pertama, adalah kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam. Bagaimana bisa beliau menjadi seorang Al-‘Aziz, seorang menteri yang mulia di negeri Mesir. Setelah melalui berbagai macam musibah. Dan ternyata, musibah-musibah yang datang beruntun tersebut merupakan anugerah dari Allahﷻ, sehingga beliau bisa menjadi seorang menteri. Pertama, beliau dipisahkan dari kedua orang tuanya, dimasukkan ke dalam sumur dalam keadaan masih kecil, kemudian ada orang yang menemukan beliau di dalam sumur dan dikeluarkan darinya. Bukannya, beliau diselamatkan dan disuruh pulang ke rumah orang tuanya, namun ternyata dijadikan budak untuk dijual, dan ini menjadi musibah yang beruntun bagi beliau. Kemudian, setelah beliau tinggal di Mesir, beliau dirayu oleh permaisuri dan menjadi tertuduh, yang akhirnya beliau dipenjara. Dan hal ini menjadi musibah berikutnya. Kemudian, tatkala beliau dipenjara didatangi oleh dua orang yang meminta untuk ditafsirkan mimpinya. Kemudian, salah satu dari mereka ditafsirkan akan dibunuh dan salah satunya ditafsirkan akan selamat. Allahﷻ berfirman:

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ

“Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” (QS. Yusuf: 42)

Maksud nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah tatkala orang tersebut menyebutkan kebaikan beliau, maka sang raja akan membebaskan beliau dan dikembalikan kepada rumah orang tuanya. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebagaimana firman Allahﷻ,

فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

“Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (QS. Yusuf: 42)

Namun, ternyata orang tua tersebut lupa akan kebaikan nabi Yusuf ‘alaihissalam dan bertambah lagi musibah bagi beliau. Dan bertambah pula beliau di penjara selama bertahun-tahun. Dan ternyata, Allahﷻ menghendaki kebaikan. Allahﷻ menghendaki beliau untuk menafsirkan mimpi sang raja, hingga beliau di penjara selama bertahun-tahun dan bertambah lagi masa beliau di penjara. Sampai akhirnya, sang raja bermimpi,

إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ

“Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.” (QS. Yusuf: 43)

Maka, tatkala itulah,

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ

“Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitahukan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” (QS. Yusuf: 43)

Ternyata, orang yang ditafsirkan selamat di dalam mimpinya baru ingat tentang nabi Yusuf ‘alaihissalam, yang merupakan seorang penafsir mimpi. Kemudian, dihadirkanlah nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk menafsirkan mimpi sang raja. Tatkala itu, nampaklah kemuliaan nabi Yusuf ‘alaihissalam. Akhirnya, beliau diangkat menjadi seorang menteri.

Lihatlah, bagaimana kemuliaan dan anugerah yang diberikan kepada nabi Yusuf ‘alaihissalam, kemuliaan itu datang melalui berbagai macam musibah yang datang beruntun menimpa beliau. Ternyata, dibalik musibah selama bertahun-tahun tersebut adalah karunia dan anugerah dari Allahﷻ yang luar biasa. Beliau diangkat menjadi seorang menteri.

Contoh yang kedua, Allahﷻ menurunkan anugerah dalam bentuk musibah. Sebagaimana yang dialami oleh ibunda nabi Musa ‘alaihissalam. Allahﷻ berfirman:

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرى. إِذْ أَوْحَيْنا إِلى أُمِّكَ مَا يُوحى. أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلى عَيْنِي

“Dan sungguh, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain (sebelum ini). (yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan, (yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Taha: 37-39)

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada tahun tersebut, tentara Fir’aun sedang mencari anak-anak laki-laki yang lahir untuk dibunuh. Kemudian, tatkala nabi Musa ‘alaihissalam keluar dari perut ibunya, ternyata beliau yang masih bayi diperintahkan untuk berpisah dengan ibunya. Ibunya telah mengandungnya selama sembilan bulan. Kemudian, mengharapkan sang Musa yang masih kecil. Namun, begitu lahir harus berpisah. Allahﷻ memerintahkan untuk dimasukkan ke dalam peti, kemudian dilepaskan ke dalam sungai Nil. Sungai yang begitu besar, bergelombang yang mungkin ada binatang buas di dalamnya. Namun, dia bertawakal kepada Allahﷻ. Setelah dia mengerjakan itu semua, urusan selanjutnya adalah urusan Allahﷻ. Allahﷻ yang mengatur apa yang terjadi dengan bayi Musa ‘alaihissalam.

Ternyata, sebagaimana firman Allahﷻ,

فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَناً

“Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.” (QS. Qasas: 8)

Ternyata, peti tersebut melewati kerajaan Fir’aun. Akhirnya, peti tersebut yang berisi nabi Musa ‘alaihissalam yang saat itu masih bayi, diambil oleh istri Fir’aun. Dan Allahﷻ telah mengatur dan menakdirkan istri Fir’aun tidak memiliki anak. Kemudian, dia jatuh cinta kepada nabi Musa ‘alaihissalam yang masih bayi. Akhirnya, suaminya -yaitu Fir’aun- yang sedang mencari bayi untuk dibunuh, kalah dengan istrinya yang cinta kepada bayi tersebut, yaitu nabi Musa ‘alaihissalam. Akhirnya, Fir’aun pun merawat nabi Musa ‘alaihissalam. Dan nabi Musa ‘alaihissalam dirawat dan dipelihara di kerajaan Fir’aun. Bahkan, menjadi anak angkat Fir’aun. Begitu beliau dirawat di kerajaan, membuat Fir’aun sibuk mencarikan wanita yang mau menyusui bayi tersebut. Dan, ternyata tidak ada yang mau menyusui bayi tersebut. Bayi itu mau menerima susuan dari ibu kandungnya. Sebagaimana firman Allahﷻ,

فَرَجَعْناكَ إِلى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُها وَلا تَحْزَن

“Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati.” (QS. Taha: 40)

Subhanallah, akhirnya ibu nabi Musa ‘alaihissalam dipindahkan dan tinggal di kerajaan Fir’aun untuk menyusui anaknya sendiri, bahkan digaji oleh Fir’aun. Ini semua adalah anugerah yang datang dari Allahﷻ dalam bentuk musibah. Jika, seandainya ibunya menahan nabi Musa ‘alaihissalam lalu selamat dari kejaran Fir’aun. Maka, nabi Musa ‘alaihissalam akan tinggal di kampung Bani Israil, kampung miskin yang tertindas. Akan tetapi, Allah menghendaki musibah datang kepada Ibunya, sehingga nabi Musa ‘alaihissalam dirawat di kerajaan Fir’aun dengan penuh ketenangan. Bahkan, sang ibu pun tinggal di kerajaan itu pula dengan penuh ketenangan dan digaji oleh Fir’aun.

Oleh karena itu, Para hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Jika kita didatangkan musibah oleh Allahﷻ, hendaknya kita bersabar dan berhusnudzan kepada Allahﷻ bahwasanya dibalik segala musibah pasti ada kebaikan dan hikmah yang terkadang kita ketahui dan terkadang tidak kita ketahui.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

اللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

______________________

([1]) Tafsir Ath-Thabari 3/595

([2]) H.R. Muslim  no. 2877

([3]) H.R. Ahmad no. 16979 dan disahihkan oleh Al-Albani

([4]) H.R. Ahmad no. 9076. Al-Hakim mengatakan hadis dengan sanad sahih

([5]) H.R. Al-Baihaqi no. 983 di dalam Syu’abul Iman

([6]) H.R. Bukhari no. 7507 dan Muslim no. 2758

([7]) H.R. Ahmad no. 7948

([8]) H.R. Bukhari no. 7507 dan Ahmad no. 7948

([9]) H.R. Bukhari no. 5999

([10]) H.R. Tirmidzi no. 3479, Ath-Thabrani no.5109, Al-Hakim no. 1817 dan dihasankan oleh Al-Albani

([11]) H.R. Ahmad no. 9591 dengan sanad sahih

([12]) H.R. Bukhari no. 5986

([13]) H.R. Muslim no. 2588

([14]) H.R. Muslim no. 993

([15]) H.R. Muslim no. 2877

([16]) H.R. Bukhari no. 7422, 7453, 7554

([17]) H.R. Ahmad no. 9076. Al-Hakim mengatakan hadis tersebut sanadnya sahih