KHUTBAH JUM’AT – ALLAH ASH-SHOMAD

KHUTBAH JUM’AT – ALLAH ASH-SHOMAD

Khutbah Pertama

إن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستهديه وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْ فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الل

ه وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله. لا نبي معده.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فإن أصدق الحديث كتابُ الله، وخيرَ الهدى هدى محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار.

معاشر المسلمين، أًوصيكم وإياي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

Sesungguhnya surah Al-Ikhlas diketahui oleh seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, tidak seorang pun dari kita kecuali sudah menghafal surah tersebut. dia adalah surah yang agung yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesehariannya berulang-ulang kali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya tatkala hendak tidur, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya setiap selesai shalat fardhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya dalam dzikir pagi maupun petang, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya tatkala shalat dua raka’at sebelum subuh, dan juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya ketika shalat witir. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian khusus terhadap surah ini. Surah ini dinamakan dengan Al-Ikhlas yang artinya pemurnian, mengapa dinamakan demikian? Karena dia dimurnikan khusus untuk membahas sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ وَلَمْ يَكُنْ لَّه كُفُوًا اَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Maka seluruh ayat dari awal hingga akhir khusus berbicara tentang rabbul ‘Alamin. Karenanya membaca surah Al-Ikhlas yang mendapat pahala seperti membaca sepertiga Al-Quran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ القُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا: أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: «اللَّهُ الوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ القُرْآنِ

“Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Quran dalam satu malam?” Hal itu membuat mereka keberatan, (sehingga) mereka pun berkata: “Siapa di antara kami yang mampu melakukan hal itu, wahai Rasulullah?” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allahul Wahidush Shamad (surah al Ikhlash) adalah sepertiga Al-Quran.” ([1])

Ma’asyirol Muslimin, dalam surah tersebut ada nama Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat agung yaitu  Ash-Shomad, banyak di antara kita membaca surah Al-Ikhlas namun dia kurang memahami dengan baik tentang makna Ash-Shomad, di antara nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala yang terindah adalah Ash-Shomad.

Ash-Shomad secara bahasa kembali kepada dua makna sebagai yang disebutkan oleh Ibnul Faris dalam mu’jam maqoyis Al-Lughoh, yang pertama maknanya Al-Qoshdu yaitu  tujuan, dan yang kedua maknanya sesuatu yang sholb yaitu sesuatu yang kokoh dan kuat. Dan ini sama dengan makana secara istilah secara terminologi tentang  makna Ash-Shomad, jika kita kembali kepada para salaf dalam penafsiran makna Ash-Shomad maka semuanya kembali kepada dua makna secara bahasa ini. Di antara tafsiran para salaf yang dimaksud dengan Ash-Shomad,

الَّذِيْ تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْخَلَائِقُ بِحَوَائِجِهِمْ

“(yaitu) Dzat yang seluruh makhluk menuju kepadanya untuk menyampaikan hajat-hajat mereka.” ([2])

Dan ini adalah Allah subhanahu wa ta’ala, seluruh makhluk meminta hajatnya kepada Rabbul ‘Alamin karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah Ash-Shomad.

Di antara tafsiran para salaf tentang Ash-Shomad,

الَّذِي لَا جَوْفَ لَهُ

“Dzat yang tidak ada rongga pada-Nya.” ([3])

Dan ini berbeda dengan dzat-dzat selain Allah subhanahu wa ta’ala, maka DZat Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada rongga pada-Nya sehingga Allah subhanahu wa ta’ala tidak makan dan tidak minum, dan tidak ada nafasnya, sebagaimana penjelasan para Ulama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ ۗ قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik”.” (QS. Al-An’am: 16)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57)

Oleh karenanya dzat yang memiliki rongga yang membutuhkan energi dan membutuhkan makan dan minum maka itu adalah dzat yang penuh dengan kekurangan. Adapun Allah subhanahu wa ta’ala tidak butuh makan dan tidak butuh minum karena dia adalah maha kaya dan tidak membutuhkan makhluknya sama sekali.

Di antara tafsiran para salaf tentang Ash-Shomad,

الْبَاقِي بَعْدَ خَلْقِهِ

“yang tetap kekal setelah makhluknya.” ([4])

Allah berfirman,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)

Allah subhanahu wa ta’ala berkata tentang diri-Nya,

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 3)

Dan At-Thobari menjelaskan makna Al-Akhir:

وَالْآخِرُ بَعْدَ كُلِّ شَيْءٍ بِغَيْرِ نِهَايَةٍ

“dan Al-Akhir adalah dzat setelah segala sesuatu yang tidak ada akhirnya.” ([5])

Di antara tafsiran para salaf tentang Ash-Shomad yaitu penafsiran Ibnu ‘Abbas:

السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ

“Dialah pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinan-Nya, Dialah yang mulia yang sempurna dalam kemulian-Nya, Dialah yang agung yang sempurna keagungan-Nya, Dialah yang lembut yang sempurna kelembutan-Nya, Dialah yang kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Dialah yang Maha Kuasa yang sempurna kekuasaan-Nya, Dialah maha mengetahui yang sempurna dalam ilmu-Nya, Dialah yang maha bijak yang sempurna dalam kebijakan-Nya, Dialah yang telah sempurna di segala maca kemuliaan dan kepemimpinan-Nya, Dialah Allah subhanahu, inilah sifat-Nya yang tidak pantas kecuali hanya untuk Dia.” ([6])

Intinya Allah subhanahu wa ta’ala maha sempurna dalam segala sifat-sifatnya, seluruh kesempurnaan maka yang paling sempurna adalah sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ini adalah makna Ash-Shomad yang hendaknya diketahui oleh seorang muslim tatkala dia membaca قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ, semakin kita mengenal Allah subhanahu wa ta’ala maka kita akan semakin cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana pepatah kita “tak kenal maka tak sayang”, jika seseorang ingin mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, ingin semakin khusyu’ dalam shalatnya, dan ingin semakin tenteram dalam bacaan Al-Qurannya maka hendaknya dia berusaha mengenal nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala dan mengenal sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala. Dan di antara nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah Ash-Shomad.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب وخطيئة فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

 

Khutbah Kedua

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانه.

Ma’asyirol Muslimin, tatkala kita mengetahui di antara nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah Ash-Shomad. Apa faedah yang bisa kita dapatkan dari pengetahuan kita tersebut?

Pertama: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)

Maka di antaranya kita bisa bertawassul dengan nama Allah Ash-Shomad ketika kita memohon sesuatu kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Buraidah

سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقُولُ: اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. فَقَالَ: ” قَدْ سَأَلَ اللهَ بِاسْمِ اللهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berdoa: “Ya Allah, aku memohon padamu dengan bertawassul dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, Yang esa, Yang tempat bergantung, yang tidak beranak dan tidak dilahirkan, serta tidak ada satu orang pun yang setara dengan-Nya” Maka Nabi bersabda, “sungguh orang itu telah meminta pada Allah dengan nama-Nya yang agung, yang apabila diminta dengannya pasti Dia memberi dan apabila Dia dimohon dengannya pasti Dia mengabulkan.” ([7])

Kedua: bahwasanya kita tahu betapa keji orang-orang yang mengatakan Allah subhanahu wa ta’ala punya anak, karena di antara penafsiran Ash-Shomad adalah Allah subhanahu wa ta’ala maha sempurna tidak ada satu pun yang setara dengan Allah subhanahu wa ta’ala yang Allah subhanahu wa ta’ala tidak melahirkan dan juga tidak dilahirkan. Dalam sebuah hadits qudsy yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي، كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفْئًا أَحَدٌ ”

“’Anak Adam telah mendustakan-Ku, padahal ia tidak pantas untuk mendustakan-Ku. Dan ia juga telah mencaci-Ku padahal ia tidak pantas untuk mencaci-Ku. Ada pun kedustaanya padaku adalah ungkapannya, ‘Dia tidak akan membangkitkan aku kembali sebagaimana ia telah menciptakanku pertama kali.’ Padahal penciptaan yang pertama tidak lebih mudah daripada hanya sekedar mengembalikannya. Adapun caci makinya pada-Ku adalah ungkapannya, ‘Allah telah mengambil anak.’ Sementara Aku adalah Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa Dengan-Ku.'” ([8])

Oleh karenanya barang siapa yang menyatakan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai anak maka dia telah emngingkari sifat Shomad Allah subhanahu wa ta’ala, dan dia telah dianggap telah mencaci Allah subhanahu wa ta’ala, karena mengambil anak menunjukkan kekurangan  yang dimiliki oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Karena konsekuensinya jika Allah subhanahu wa ta’ala memiliki anak maka anak tersebut akan setara dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketiga: bahwasanya di antara makna Ash-Shomad adalah

الَّذِيْ تَصْمُدُ إِلَيْهِ الْخَلَائِقُ بِحَوَائِجِهِمْ

“(yaitu) Dzat yang seluruh makhluk menuju kepadanya untuk menyampaikan hajat-hajat mereka.”

Semua makhluk butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Allah subhanahu wa ta’ala maha kaya dan maha sempurna. Sifatnya penuh dengan kesempurnaan. Ketika kita tahu bahwa than kita maha sempurna, dan ketika tahu bahwasanya kita butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka kita berusaha untuk tidak meminta kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berusaha untuk tidak berharap kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita merendahkan diri kita memohon dan berdoa hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka sungguh celaka orang-orang yang  tatkala mereka dalam kondisi terdesak  kemudian mereka meminta kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala , mereka meminta kepada wali-wali, mereka meminta kepada nabi, mereka meminta kepada sunan-sunan, mereka meminta kepada mayat-mayat di kuburan, dan mereka meninggalkan al-fardu ash-shomad, al-ahadu ash-shomad yaitu Allah subhanahu wa ta’ala yang maha esa dan yang segala seuatu membutuhkan kepada-Nya. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengajarkan kepada para sahabat agar mereka tidak meminta kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seorang sahabat berkata yaitu ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تِسْعَةً أَوْ ثَمَانِيَةً أَوْ سَبْعَةً، فَقَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» وَكُنَّا حَدِيثَ عَهْدٍ بِبَيْعَةٍ، فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» فَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللهِ؟» قَالَ: فَبَسَطْنَا أَيْدِيَنَا وَقُلْنَا: قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا» فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ، فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ

Ketika kami sedang duduk bersama beberapa orang sahabat, jumlah kami kira-kira tujuh, delapan atau sembilan orang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Saat itu kami baru saja berbaiat kepadanya. Maka kami menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah berbaiat kepadamu.” Kemudian Nabi bersabda lagi, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami pun kembali menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah berbaiat kepadamu.”  Lalu beliau bersabda lagi, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”. Maka kami segera mengulurkan tangan untuk berbaiat sambil berkata, “Kami telah berbaiat, wahai Rasulullah, maka untuk apa kami berbaiat lagi?”. Nabi menjawab, “Berbaiat untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kemudian shalat lima waktu serta taat kepada Allah.” Kemudian Nabi merendahkan suaranya sambil bersabda, “Dan jangan meminta-minta kepada manusia suatu apapun.” (Auf bin Malik Al-Asyja’i berkata): sungguh aku melihat sebagian dari mereka yang ada di situ (ketika menaiki tunggangannya kemudian) cambuk kendaraannya jatuh, dia tidak meminta pertolongan kepada siapa pun untuk mengambilkannya.” ([9])

Sahabat yang cemetinya terjatuh tersebut mengambil cemetinya sendiri, tidak meminta kepada orang lain untuk mengambilkannya, dia ingin menerapkan baiat dia kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam لَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا “jangan meminta-minta kepada manusia suatu apapun”. Semakin seseorang tidak meminta kepada orang lain maka akan semakin kuat tauhidnya, semakin kuat tawakkalnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semakin tinggi rasa butuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan semakin dia tidak butuh kepada orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkata dalam hadits Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَتَكَفَّلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ؟ ” فَقَالَ ثَوْبَانُ: أَنَا فَكَانَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا

“Barang siapa mau menjamin untukku untuk tidak meminta sesuatu pun (kepada manusia), maka kujaminkan surga untuknya.” Maka Tsauban berkata, ‘Aku.’ Maka jadilah ia tidak pernah meminta sesuatupun kepada seseorang.” ([10])

Oleh karenanya di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ، وَعِزِّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“telah datang Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: wahai Muhammad hiduplah sesukamu, engkau akan meninggal. Dan lakukan apa yang engkau kehendaki sesungguhnya engkau akan dibalas. Dan cintailah orang yang engkau suka maka engkau akan berpisah dengannya. Dan ketauhilah bahwasanya kemuliaan seseorang  mukmin adalah shalat malam  dan kejayaannya adalah dia tidak butuh kepada manusia.” ([11])

Dan di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

Allaahummakfinii bi halaalika ‘an haraamik, wa aghninii bi fadhlika ‘amman siwaaka

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan apa yang Engkau halalkan dari yang Engkau haramkan dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.” ([12])

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

للَّهمَّ اغفِرْ لنا ما قَدَّمنا وما أَخَّرْنا وما أَسْرَرْنا ومَا أعْلَنْا وما أَسْرفْنا وما أَنتَ أَعْلمُ بِهِ مِنِّا، أنْتَ المُقَدِّمُ، وَأنْتَ المُؤَخِّرُ لا إله إلاَّ أنْتَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

__________________________

([1]) HR. Bukhori no. 5015

([2]) Tafsir Muqotil bin Sulaiman 4/926

([3]) Ini adalah tafsiran Mujahid (lihat: Tafsir Ath-Thobari 24/731)

([4]) Ini adalah tafsiran Al-Hasan dan Qotadah. (lihat: Tafsir At-Thobari 24/736)

([5]) Tafsir Ath-Thobari 22/385

([6]) Tafsir Ath-Thobari 24/736

([7]) HR. Ahmad no. 22965, dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini shohih

([8]) HR. Bukhori no. 4974

([9]) HR. Mslim no. 1043

([10]) HR. Ahmad no. 22374, dan dikatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini shohih

([11]) HR. Ath-Thobrony dalam Al-Mu’jam Al-Awsath no. 4278

([12]) HR. At-Tirmidzi no. 3563, dan dikatakan oleh Al-Albani hadits ini hasan