Kisah Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kisah Nabi Isa ‘Alaihissalam

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahasa kisah Nabi Isa ‘alaihissalam yang merupakan sosok yang kontroversial di antara umat manusia di alam semesta ini antara umat Islam, umat Nasrani, dan Yahudi. Orang Islam menganggap Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai seorang nabi yang mulia, bukan tuhan dan bukan pula anak tuhan, adapun orang-orang yahudi menganggap bahwa Nabi Isa ‘alaihssalam adalah anak hasil zina dan mereka mengaku telah membunuh Nabi Isa ‘alaihssalam dengan menyalibnya. Adapun orang Nasrani menganggap Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai anak tuhan atau sebagai tuhan itu sendiri. Maka pendapat yang benar adalah pendapat orang-orang Islam sebagaimana dituturkan oleh Allah dalam Al-Quran Al-Karim.

Kita akan membawakan kisah Nabi Isa ‘alaihisssalam dari Al-Quran. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di atas alam semesta.” (Qs. Ali ‘Imran: 33)

Nabi Adam ‘alaihissalam adalah Abul Basyar (nenek moyang manusia), dan nabi Nuh ‘alaihissalam disebut sebagai Abul Basyar ats-Tsani (nenek moyang manusia yang kedua)([1]) karena pada zaman nabi Nuh ‘alaihissalam seluruh manusia ditenggelamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, kecuali pengikut nabi Nuh yang berjumlah sekitar 80 orang([2]). Dan kemudian tidak ada keturunan yang berlanjut dari mereka kecuali dari anak-anak nabi Nuh ‘alaihissalam.

Dalam ayat ini Allah menyebutkan bagaimana Allah memuliakan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran. Imran adalah salah seorang ‘alim dari kalangan rahib Bani Israil([3]) dan juga pemimpin para rahib yang mengurus baitul Maqdis. Beliau memiliki seorang istri yang disebutkan oleh ahli sejarah bahwa sebelumnya dia adalah orang yang mandul. Namun akhirnya dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa ingin memiliki anak laki-laki dan bernazar bahwa anaknya kelak akan berkhidmat sepenuhnya untuk Masjidil Aqsha([4]). Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepadaMu, apa (janin) yang ada dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepadaMu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Ali Imran: 35)

Sebelumnya tidak diketahui apakah di dalam perutnya tersebut anak laki-laki atau perempuan. Dan dia telah bernazar kalau anaknya laki-laki akan dijadikan pengurus Masjidil Aqsha. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Maka ketika melahirkan, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan.” Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku memohon perlindunganMu untuknya dan anak cucunya dari (ganguan) setan yang terkutuk.” (Qs. Ali Imran: 36)

Tatkala telah melahirkan, ternyata anak yang dilahirkan adalah perempuan yaitu Maryam yang kelak menjadi ibu dari Nabi Isa ‘alaihissalam. Nama Maryam menurut bahasa mereka adalah ‘Aabidah yaitu wanita yang rajin beribadah, atau dalam kata lain bermakna Khadimah yaitu berkhidmah yang maksudnya adalah berkhidmah di Masjidil Aqsha([5]). Maka kemudian tatkala Nabi Isa ‘alaihissalam lahir, beliau tidak menangis sebagaimana anak-anak pada umumnya karena tidak diganggu oleh syaithan. Hal ini dikarenakan doa dari neneknya yaitu istri dari Imran yang berdoa kepada Allah perlindungan untuk Maryam dan keturunannya([6]).

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman,

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya…” (Qs. Ali Imran: 37)

Ketika Maryam lahir, dengan segera ibunya membawanya kepada para rahib (pendeta) yang ada di Masjidl Aqsha untuk dirawat. Ternyata mereka (para rahib) saling rebutan untuk merawat Maryam, karena mereka merasa bangga bahwa yang dirawat adalah putri dari pimpinan mereka yaitu Imran, yang di mana kalau mereka hendak berkurban kepada tuhan melalui Imran. Akhirnya Nabi Zakaria ‘alaihissalam menganggap bahwa dia lebih utama merawat Maryam karena dia adalah pamannya. Diketahui bahwa istri Nabi Zakaria ‘alaihissalam adalah saudari dari istrinya Imran. Akan tetapi para pendeta tetap tidak terima dan akhirnya dilakukan undian untuk memutuskan siapa yang berhak merawat Maryam([7]). Kemudian setelah diundi, keluar nama Nabi Zakaria ‘alaihissalam sebagaimana firman Allah Subahanahu wa ta’ala,

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Qs. Ali Imran: 44)

Maka mulailah Maryam tumbuh besar sampai akhirnya menjadi wanita yang dewasa di bawah pengasuhan Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Tatkala telah dewasa, dia (Maryam) membuat sebuah mihrab (kamar khusus) di Masjidil Aqsha yang digunakan untuk fokus ibadah. Maka nabi Zakaria terus merawat Maryam dan membawakan makan, karena memang Maryam telah dinazarkan untuk beribadah kepada Allah dan tidak memiliki kesibukan yang lain. Maka jadilah Maryam wanita yang terkenal di kalangan Bani Israil sebagai wanita yang salihah yang ibunya menazarkan dirinya untuk berkhidmat untuk Masjidil Aqsha.

Nabi Zakaria ‘alaihissalam tidak memiliki anak, dia pun sudah tua dan istrinya mandul, maka dari itu dia senang untuk merawat Maryam. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

…كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يا مريم أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“…Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (Qs. Ali Imran: 37)

Disebutkan oleh ahli tafsir bahwa Nabi Zakaria ‘alaihissalam heran dengan kejadian yang dialaminya. Pertama, makanan yang tiba-tiba ada dalam ruangan Maryam, sedangkan tidak ada yang mengantar makanan selain dia karena dia yang bertanggung jawab untuk merawat Maryam. Kedua, ketika musim panas terdapat buah-buahan yang hanya tumbuh di musim dingin, dan ketika musim dingin, terdapat buah-buahan yang hanya tumbuh pada musim panas. ([8])

Maka dari sinilah Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (QS. Ali Imran: 38)

Sebelum peristiwa ini, ternyata Nabi Zakaria telah putus asa dan tidak pernah berdoa untuk memiliki anak karena alasan sadar diri bahwa dirinya sudah tua dan istrinya pun mandul. Akan tetapi ketika melihat keajaiban yang dialami oleh Maryam([9]), maka Nabi Zakaria memberanikan diri meminta anak kepada Allah yang diabadikan di awal surah Maryam yang kemudian Allah kabulkan dan istrinya melahirkan Nabi Yahya,

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا

Ia (Zakaria) berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera“. (QS. Maryam: 4-5)

Akhirnya Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan permintaan nabi Zakaria. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يا زكريا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan kehadiran seorang anak yang Bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7)

قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua“. (QS. Maryam: 8)

Setelah kejadian tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala ingin memberikan kemuliaan kepada Maryam dengan memberikan seorang anak tanpa ayah. Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan kisah bagaimana Maryam mengandung dan ujian yang dia alami. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا (16) فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Masjidil Aqsha). Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam: 16-17)

Maka setelah Maryam menjauh ke arah timur untuk konsentrasi beribadah, Allah mengujinya dengan kehadiran malaikat Jibril yang menjelma menjadi seorang laki-laki yang ‘Sawiyya’. Sawiyya maknanya adalah sempurna atau sangat tampan. Maka kemudian Maryam terkejut dengan kehadiran laki-laki yang sangat tampan di hadapannya, padahal dia telah membuat hijab. Maryam pun mengira bahwa Jibril yang menjelma sebagai laki-laki yang tampan akan berbuat jahat terhadapnya([10]), maka dengan segera Maryam berkata,

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa“. (QS. Maryam: 18)

Lihatlah, seorang wanita yang digoda oleh lelaki tampan, di tempat yang jauh dari penglihatan orang-orang, dan ini menjadi godaan yang berat bagi Maryam, maka langsung dia berlindung kepada Allah. Maryam menyangka lelaki tersebut hendak merayunya dan melakukan keburukan. Kemudian Maryam mengingatkan kepada orang tersebut untuk bertakwa kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Maryam adalah wanita yang suci sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا

dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya (kemaluannya)…” (QS. At-Tahrim: 12)

Maka jelaslah bahwa Maryam adalah wanita yang suci, tidak sebagaimana tuduhan orang-orang Yahudi bahwa Maryam adalah wanita yang berzina dengan tukang kayu sehingga lahirlah Nabi Isa ‘alaihissalam([11]). Maka tatkala Maryam digoda, dia segera berlindung kepada Allah dan mengingatkan laki-laki tersebut untuk bertakwa kepada Allah. Maka berkatalah Jibril ‘alaihissalam,

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci” (QS. Maryam: 19)

Maka Maryam semakin terkejut dan berkata,

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!“. (QS. Maryam: 20)

Penyataan Maryam ini adalah benar, karena tidak mungkin seorang wanita bisa memiliki anak kecuali dengan dua jalan tersebut, yaitu telah disentuh laki-laki atau dia sebagai wanita pezina yang hamil di luar nikah. Dan kalimat ‘wa lam yamsasnii basyar‘ (tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku) merupakan kalimat yang indah dalam Al Quran. Maka Maryam mempertanyakan bagaimana bisa dia memiliki seorang anak sedangkan dia tidak pernah melakukan dua hal tersebut. Maka malaikat Jibril menjawab

قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan” (QS. Maryam: 21)

Maka Maryam pun bingung apa yang harus dilakukannya. Dia dikenal sebagai wanita salihah, yang kalau pulang ke kampung dan mengandung maka akan banyak cacian orang. Meskipun dia mendatangkan seratus orang saksi, tidak akan ada yang percaya bahwa dia hamil tanpa disentuh laki-laki. Maka pasti berat kejiwaan dan psikologi Maryam pada waktu itu. Tatkala dia mengandung, dia mengasingkan diri karena takut kalau orang lain tahu bahwa dia dalam kondisi hamil, sementara dia dikenal sebagai wanita yang salihah. Inilah ujian yang amat besar bagi Maryam.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan kondisi tatkala Maryam mengandung nabi Isa ‘alaihissalam,

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَالَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan“. (QS. Maryam: 22-23)

Maryam kemudian mengasingkan diri ke tempat yang lebih jauh. Tatkala dia hendak melahirkan, ahli tafsir menyebutkan bahwa terkumpul pada Maryam tiga kesulitan (rasa sakit), yaitu rasa sakit untuk melahirkan, lapar dan haus. Maka terpaksa dia mencari sesuatu untuk dimakan, sementara dia sudah sangat kesakitan untuk melahirkan.

Ujian yang berat tersebut membuat Maryam berangan-angan untuk meninggal sebelum mendapatkan ujian seperti ini. Sedangkan Allah telah berfirman “wa kaana amran maqdhiyaa“, dan itu adalah perkara yang sudah di tetapkan. Sedangkan Maryam tidak bisa memilih. Maka ditengah-tengah rasa sakit dan angan-angannya itu, ada suara yang berseru kepada Maryam,

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا…

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu…” (QS. Maryam: 24-26)

Al Quran menjelaskan bahwasanya Maryam melahirkan saat musim panas. Dan ayat ini dijadikan oleh para ulama sebagai dalilnya, karena ruthab tidaklah muncul kecuali pada musim panas. Nabi Isa ‘alaihissalam tidak lahir pada musim dingin sebagaimana yang diyakini oleh orang nasrani bahwa Isa ‘alaihissalam lahir pada 25 Desember, tepatnya musim salju. Hal ini pun juga disebutkan dalam Injil Lukas 2:6-11. Injil juga menceritakan tentang proses kelahiran nabi Isa ‘alaihissalam.

2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. 2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam… dst” (lukas. 2:6-11)

Di dalam Injil disebutkan, Maryam melahirkan dalam kondisi para pengembala menjaga gembalaan mereka di waktu malam di padang. Kata para ulama hal ini tidak mungkin dilakukan di musim dingin, karena gembalaan hanya diletakkan di kandang ketika musim dingin dan diletakkan di padang pada saat musim panas. Maka yang benar adalah Nabi Isa ‘alaihissalam lahir di musim panas dan bukan di musim dingin.

Pelajaran lain dari ayat tersebut bagi kita adalah, Allah mengajarkan kepada Maryam untuk melakukan suatu sebab walaupun sedikit. Ketika Maryam dalam kondisi sangat lemah, dia tidak akan bisa membuat pohon kurma itu bergoyang apalagi sampai jatuh buah-buahnya. Orang kuat sekalipun ketika menggoyangkan akar pohon kurma tidak akan bisa membuat pohon kurma bergoyang. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan Maryam untuk melakukan sebab dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Maka terkadang di antara kita ada yang melakukan sebab kecil, akan tetapi hasilnya di luar dugaan karena Allah yang mengatur.

Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian berfirman,

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini“. (QS. Maryam: 26)

Maryam kemudian makan dari ruthab tesebut, dan minum dari air yang mengalir, maka lahirlah Nabi Isa ‘alaihissalam. Maka lepaslah kesulitan yang dialami oleh Maryam setelah melihat anaknya yang dicintai yang lahir tanpa ayah.

Setelah itu Allah memerintahkan Maryam untuk tidak berbicara kepada siapapun. Karena tidak akan mungkin Maryam bisa menjelaskan keanehan yang dialaminya kepada masyarakat karena akal dan nalar mereka tidak bisa menerima. Jika Maryam berbicara maka akan jadi hal yang sia-sia. Kemudian Allah menjelaskan bagaimana ujian yang dhadapi Maryam setelah melahirkan,

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يا مريم لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا يا أخت هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” (QS. Maryam: 27:28)

Ketika Maryam pulang bersama Nabi Isa ‘alaihissalam dalam gendongannya dan telah sampai di kampungnya, orang-orang yang melihatnya kemudian mulai mengingkari dan menanyakan perkara yang dialaminya. Sampai mengaitkan dengan orang tuanya yang juga saleh. Dalam hal ini pepatah orang Indonesia yang menyebutkan bahwa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” itu ada benarnya. Karena anak-anak tumbuh berkembang akibat didikan orang tua, dan pengaruh orang tua sangatlah besar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” ([12])[ HR. Bukhari]

Sedangkan pepatah Arab mengatakan,

مَنْ شَابَهَ اَبَاهُ فَمَا ظَلَمْ

Barang siapa yang menyerupai ayahnya, maka dia tidak berbuat zalim.” ([13])

Maka pada umumnya akhlak anak tidak jauh dari akhlak orang tua. meskipun hal ini juga tidak selalu demikian. Akan tetapi Maryam mirip seperti ayahnya yang saleh. Maryam pun tidak bisa menjawab karena telah bernazar untuk tidak berbicara sama siapa pun. Kemudian Maryam memberikan isyarat, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا

Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?“. (QS. Maryam: 29)

Maryam pun dianggap aneh karena orang-orang yang bertanya disuruh berbicara dengan anak bayi. Maka bagaimanakah kira-kira kondisi psikologis Maryam saat itu? Sampai disebutkan sebelumnya bahwa Maryam berangan-angan untuk mati sebelum datangnya ujian yang berat ini karena takut tidak dapat menghadapi perkataan manusia tentang dirinya. Akan tetapi Allah mengetahui bahwa Maryam mampu melalui ujian yang berat ini. Tiba-tiba nabi Isa ‘alaihissalam berbicara,

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 30-33)

Perkataan nabi Isa ‘alaihissalam dalam ayat ini menunjukkan bahwa beliau bukanlah anak tuhan melainkan hamba Allah Subhanahu wa ta’ala. Dari ayat ini pula nabi Isa ‘alahissalam kelak menjadi seorang guru yang mengajarkan ilmu di mana saja dia berada, makanya disebutkan bahwa dia diberkahi.

Maka di antara mukjizat nabi Isa ‘alaihissalam adalah dapat berbicara ketika masih bayi. Dan Mukjizat ini menurut pendapat Ibnul Qayyim bahwa penyebutan mukjizat ini hanya ada di dalam Al-Quran dan tidak termaktub di dalam Injil([14]). Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran memuliakan nabi Isa ‘alaihissalam lebih dari pada Injil. Dan Allah sering menyebutkan penyebutan nabi Isa ‘alaissalam dengan sebutan “Wahai Isa putra Maryam“.

Kemudian pendapat ulama menyebutkan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam tidak berbicara terus tatkala itu. Nabi Isa ‘alaihissalam dijadikan oleh Allah bisa berbicara sebentar saja hanya untuk menghilangkan tuduhan orang-orang terhadap Maryam (Ibunya) sebagai wanita pezina. Oleh karenanya menurut pendapat yang kuat dan pendapat tersebut dipilih oleh Asy-Syaukani dan yang lainnya bahwa nabi Isa ‘alaihissalam belum menjadi nabi sejak kecil([15]). Maksud perkataan nabi Isa ‘alaihissalam adalah kelak dia akan diangkat menjadi nabi, diberikan Injil, dan diberkahi sehingga bisa mengajari masyarakat di manapun berada.

Nabi Isa ‘alaihissalam menyebutkan sifat-sifat seorang rasul tatkala Allah karuniakan beliau berbicara di waktu kecil. Di antaranya adalah beliau berkata bahwa dia hamba Allah dan kelak akan memiliki Alkitab. Maka ini juga merupakan dalil bahwa nabi Isa ‘alaihissalam bukanlah tuhan. Karena jika tuduhan terhadap nabi Isa ‘alaihissalam adalah tuhan, maka seharusnya tidak perlu bagi seorang tuhan untuk membawa Alkitab dan bisa berfirman secara langsung kepada makhluknya. Kemudian nabi Isa ‘alaihissalam juga menyebutkan bahwa dirinya memiliki sifat-sifat kemanusiaan yaitu dia shalat, sujud, berdoa, dan bayar zakat. Maka jika anggapan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam adalah tuhan itu benar, maka kepada siapakah dia beribadah?

Dalam ayat tersebut disebutkan pula bahwa nabi Isa ‘alaihissalam diberikan keselamatan tatkala beliau lahir maupun meninggal, dan tatkala beliau dibangkitkan. Ketahuilah bahwa keselamatan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah tentang selamat atas kelahirannya. Akan tetapi orang-orang liberal menjadikan potongan ayat tersebut sebagai dalil bahwa karena Allah menyebutkan keselamatan atas kelahiran nabi Isa ‘alaihissalam, maka boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal kepada orang-orang Nasrani. Padahal keselamatan yang dimaksud pada ayat tersebut bukanlah ucapan selamat sebagaimana dalam artian bahasa Indonesia, melainkan keselamatan atas gangguan syaithan ketika nabi Isa ‘alaihissalam lahir([16]). Sebagaimana doa dari ibunya Maryam yang memohonkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala perlindungan untuk Maryam dan keturunannya dari syaithan.

Yang terdapat dalam Injil Lukas, Yohanes, dan yang lainnya adalah disebutkannya silsilah atau nasab nabi Isa ‘alaihissalam. Disebutkan bahwasanya nabi Isa ‘alaihissalam lahir dari Maryam yang memiliki suami bernama Yusuf An-Najjar yang memiliki nasab sampai kepada nabi Daud ‘alaihissalam([17]). Sedangkan dalam agama Islam meyakini bahwa nabi Isa ‘alaihissalam lahir tanpa ayah dan tidak memiliki hubungan dengan Yusuf An-Najjar, apalagi menikah dan punya anak darinya. Akan tetapi anehnya di dalam Injil disebutkan nasab nabi Isa ‘alaihissalam, dan hal ini dibantah oleh para ulama Islam bahwa Maryam tidak menikah dengan Yusuf An-Najjar. Dan Islam memuliakan nabi Isa ‘alaihissalam untuk menghilangkan tuduhan bahwa Maryam berzina dan menunjukkan kehebatan nabi Isa ‘alaihissalam bisa lahir tanpa ayah, sedangkan dalam Injil menyebutkan memiliki ayah. Dan ternyata nasab yang disebutkan sangat kontradiktif, di mana dalam Injil yang satu dengan yang lainnya berbeda jumlah keturunan dan berbeda kakek.

Adapun bantahan lain dari para ulama, bahwa aturan dari Bani Israil tidak boleh satu sibth (al-asbath) menikah dengan sibth yang lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa nabi Ya’qub memiliki dua belas anak disebut sebagai Bani Israil dan juga disebut sebagai alAsbath yang masing-masing disebut sibth. Di antaranya ada sibht Yahudza dan sibth Lawi. Maryam merupakan keturunan nabi Harun ‘alaihissalam sampai ke Lawi, sedangkan Yusuf An-Najjar adalah keturunan nabi Daud ‘alaihissalam yang keturunan dari Yahudza. Dalam aturan Bani Israil, dalam satu suku (Sibth), tidak boleh menikah dengan suku yang lain. Maka secara aturan tidak mungkin Yusuf An-Najjar berani melamar Maryam karena secara keturunan dan sibthnya berbeda, dan hal ini memang tidak dibolehkan dalam aturan Bani Israil. Maka ini menguatkan pendapat bahwa Maryam melahirkan nabi Isa ‘alaihissalam lahir tanpa ayah. ([18])

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Itu lah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia” (QS. Maryam: 34-35)

Pada ayat ini Allah menjelaskan hakikat nabi Isa ‘alaihissalam yang jika se-andainya Allah memiliki anak, maka anak itu harus disembah sebagaimana firman Allah Subahanahu wa ta’ala,

قُلْ إِنْ كانَ لِلرَّحْمنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعابِدِينَ

Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)“. (QS. Az-Zukhruf: 81)

Sifat seorang anak harusnya mirip seperti bapaknya. Kalau nabi Isa ‘alaihissalam merupakan anak Allah, maka harus sifatnya sama seperti sifat Allah. Adapun sifat Allah antara lain seperti tidak makan, tidak minum, tidak tidur, maha kuasa, tidak istirahat, tidak capek, tidak takut dan sifat ketuhanan yang lainnnya. Maka benar kata Allah bahwa jika dia memiliki anak, maka anak tersebut wajib diibadahi. Akan tetapi Nabi Isa ‘alaihissalam tidak memiliki sifat tersebut yang berarti bahwa dia bukanlah anak Allah Subhanhu wa ta’ala.

Adapun Nabi Isa ‘alaihissalam yang lahir tanpa ayah tidak melazimkan bahwa dia anak tuhan. Bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan anak tanpa ayah, karena jika Allah menghendaki sesuatu tinggal berkata “Kun Fayakun“. Bahkan Allah menyebutkan kejadian yang lebih aneh dari Nabi Isa ‘alaihissalam yaitu Nabi Adam ‘alahissalam yang lahir tanpa ayah dan ibu. Allah berfirman,

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 59)

Sangat mudah bagi Allah untuk menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam tanpa ayah dan ibu, apalagi hanya Nabi Isa ‘alaihissalam yang sekedar tanpa ayah.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” (QS. Maryam: 37)

Dalam ayat ini diceritakan timbul hizb (kelompok) di antara kaum Yahudi dan Nasrani tentang perkara Nabi Isa ‘alaihissalam. Sebagian kaum Yahudi terpecah menjadi beberapa kelompok dan mengatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah anak zina. Sedangkan kaum Nasrani juga berkelompok-kelompok mengatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah anak tuhan, yang lain menyebutkan bahwa Isa ‘alaihissalam adalah tuhan itu sendiri, dan yang lain mengatakan nabi Isa ‘alaihissalam adalah satu dari yang tiga (Trinitas) sampai saat ini.

Setelah kejadian ini, nabi Isa ‘alaihissalam tumbuh semakin dewasa dan diangkat menjadi nabi. Akan tetapi Allah tidak sebutkan bagaimana proses pertumbuhannya dalam Al-Quran. Allah hanya menyebutkan dakwah yang dilakukan nabi Isa ‘alaihissalam terhadap kaum Yahudi, karena mereka (kaum Yahudi) terjerumus dalam penyimpangan kesyirikan dengan ‘Uzair sebagai putera Allah.

Rupanya orang-orang Yahudi tidak senang dengan kehadiran nabi Isa ‘alaihissalam. Karena Nabi Isa ‘alaihissalam dari sibth Lawi, sedangkan orang Yahudi mengatakan bahwa nabi harus dari keturunan Daud. Orang Yahudi awalnya meyakini bahwa nabi terakhir yang diutus akan membawa kejayaan bagi kaum mereka dalam melawan kerajaan Romawi. Akan tetapi dakwah Nabi Isa tidak mengajak untuk memberontak terhadap kerajaan romawi yang berkuasa pada waktu itu, melainkan dakwah nabi Isa ‘alaihissalam adalah tentang tauhid, akhlak dan perbaikan. Nabi Isa ‘alaihissalam juga melakukan perbaikan terhadap aturan agama mereka (yahudi), Allah berfirman,

وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ

dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu“(QS. Ali Imran : 50)

Maka dari itu kaum Yahudi tidak senang dan ingin membunuh Nabi Isa ‘alaihissalam. Kemudian orang-orang Yahudi memprovokasi kerajaan Romawi untuk menangkap Nabi Isa ‘alaihissalam.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah bahwa banyak para nabi yang Allah berikan mukjizat kepada mereka sesuai dengan perkara yang digandrungi masyarakat pada zaman mereka. Contohnya adalah Nabi Musa ‘alaihissalam, dimana banyak orang yang sombong dengan sihir-sihir mereka, maka nabi Musa ‘alaihissalam diberikan mukjizat mirip dengan sihir tapi bukan sihir, yaitu tongkatnya dapat berubah menjadi ular, sehingga orang yang awalnya hendak menentang nabi Musa ‘alaihissalam akhirnya beriman dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana juga di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masyarakat Arab jahiliyah digandrungi masalah balaghah (bahasa) syair-syair, dan sering diperlombakan di antara mereka. Maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan mukjizat oleh Allah yang berkaitan dengan ketinggian bahasa yaitu dengan Al-Quran Al Karim yang bukan karangan manusia melainkan langsung dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Sehingga orang-orang yang pandai syair mendengar Al-Quran, maka mereka tahu bahwa itu bukan karangan manusia.

Maka begitupun yang terjadi di zaman nabi Isa ‘alaihissalam. Pada zaman tersebut yang banyak digandrungi masyarakat adalah masalah pengobatan. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan mukjizat kepada nabi Isa ‘alaihissalam berupa mukjizat tentang pengobatan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِ الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (QS. Ali-‘Imran: 49)

Ini semua menjadikan mukjizat Nabi Isa ‘alaihissalam mengungguli ilmu kedokteran pada zaman tersebut. Sehingga mulailah sebagian orang Yahudi dari Bani Israil mengikuti ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam. Namun sebagian kaum Yahudi yang lain tidak senang dan menentang kerasulan beliau karena Nabi Isa ‘alaihissalam bukan dari keturunan nabi Daud ‘alaihissalam, sedangkan mereka kaum Yahudi mengagungkan nabi Daud ‘alaihissalam. Mereka (Yahudi) juga tidak percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai anak zina, dan terlebih lagi nabi Isa ‘alaihissalam tidak berdakwah tentang politik, sehingga mereka semakin membenci nabi Isa ‘alaihissalam.

Akhirnya Yahudi melakukan tipu daya agar nabi Isa ‘alaihissalam ditangkap dan dibunuh oleh kerajaan Romawi dengan mengatakan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam mengaku sebagai raja dan akan melakukan pemberontakan. Menurut versi Islam dalam Al-Quran bahwa nabi Isa ‘alaihissalam ditangkap oleh tentara Romawi dengan bantuan orang-orang Yahudi, akan tetapi tidak disalib dan juga tidak dibunuh. Allah membantah perkataan orang-orang yahudi bahwa mereka membunuh nabi Isa ‘alaihissalam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 157-158)

Lihatlah betapa luar biasa kejamnya kaum Yahudi, tatkala ada nabi yang tidak sesuai dengan selera mereka maka akan dibunuh. Dan Allah sebutkan di antara sifat kejamnya mereka adalah suka membunuh para nabi,

وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ

Dan mereka (Yahudi) membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar…” (QS. An-Nisa: 155)

Inilah versi Islam dimana mereka kaum Yahudi tidak membunuh nabi Isa ‘alaihissalam. Beliau diselamatkan oleh Allah dengan diangkat ke langit dan akan turun saat menjelang hari kiamat untuk menyelesaikan segala kontroversial tentang dirinya. Kelak nabi Isa ‘alaihissalam akan menjelaskan tentang dirinya bahwa dia adalah rasul dan akan hidup dengan menjalankan syariat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kurang lebih selama tujuh tahun. Setelah itu meninggal dan dikuburkan sebagaimana nabi-nabi yang lain. Maka semakin jelaslah bahwa nabi Isa ‘alaihissalam bukanlah tuhan dan bukan pula anak zina, akan tetapi dia adalah nabi yang dimuliakan oleh orang Islam.

Adapun versi kaum Nasrani (Injil) itu berbeda-beda dalam menjelaskan tentang kematian nabi Isa ‘alaihissalam. Injil Barnabas menyebutkan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam tatkala hendak ditangkap, maka ada orang yang diserupakan dengan nabi Isa ‘alaihissalam yang dikenal dengan Yahudza Iskariot (Judas Iscariot). Terdapat cerita dengan beberapa versi dalam beberapa kitab Injil, akan tetapi ada Injil yang diakui dan Injil yang tidak diakui. Injil Barnabas adalah salah satu yang tidak diakui. Kalau diperhatikan, Injil tidak seperti Al-Quran. Injil modelnya seperti hadits bagi orang Islam yang dimana pernyataannya bukan langsung dari Allah seperti Al-Quran. Maka dari sini menunjukkan bahwa Injil bukan lagi murni firman Allah akan tetapi sudah mengalami perubahan, karena tatacara penyusunannya tidak seperti Al Quran yang pembicaraan langsung datang dari Allah. Cerita versi Nasrani yang diakui adalah nabi Isa ‘alaihissalam ditangkap dan disalib untuk menebus dosa nabi Adam ‘alaihissalam. Dan ini adalah khurafatnya orang-orang Nasrani yang mengantarkan mereka menganggap nabi Isa ‘alaihissalam adalah anak tuhan.

Dalam versi Injil intinya menyebutkan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam meninggal dunia dan dikuburkan. Setelah beberapa hari kemudian dia bangkit dari kubur yang dikenal sebagai hari Paskah, yaitu hari kebangkitan Isa al Masih menurut mereka. Ternyata perkara ini ternyata banyak membuat orang-orang Nasrani masuk Islam dengan suatu pertanyaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa keyakinan mereka terhadap nabi Isa ‘alaihissalam ada tiga yaitu dia adalah anak tuhan, dia adalah tuhan, dan dia adalah satu dari yang tiga. Di Arab Saudi banyak orang Filipina masuk Islam dengan pertanyaan tersebut. Pertanyaannya adalah “Apakah Tuhan Bapa juga ikut meninggal dunia ketika nabi Isa meninggal dunia?” Jika jawaban orang-orang nasrani adalah ‘tidak’, maka perkara selesai dan membuktikan bahwa nabi Isa bukanlah tuhan. Akan tetapi ketika mereka menjawab ‘ya’ maka itupun akan membuat mereka bingung bahwa siapakah yang mengatur alam semesta jika Tuhan Bapa juga meninggal dunia ketika itu.

Sedikit kita jelaskan tentang khurafat mereka, bahwa kaum Nasrani memiliki keyakinan bahwa tatkala nabi Adam ‘alaihissalam memakan buah khuldi maka dia berdosa. Tatkala nabi Adam ‘alaihissalam diturunkan ke dunia, mereka menganggap dosanya nabi Adam ‘alaihissalam masih ada dan menjadi dosa turunan. Sehingga anak yang lahir dari keturunan Adam ‘alaihissalaam itu membawa dosa warisan. Adapun Islam tidak meyakini demikian karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. (QS. Al-Isra’: 15)

Islam meyakini bahwa setiap anak yang baru lahir itu bersih dari dosa. Sebagaimana sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji karena Allah dengan tidak melakukan rafats dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan (tanpa memiliki dosa) dari kandungan ibunya.” ([19])

Kemudian khurafat orang Nasrani tersebut (dosa warisan) akan terus ada pada seluruh anak keturunan nabi Adam ‘alaihissalam. Dosa tersebut tidak dapat dihapuskan kecuali dengan yang suci. Sedangkan seluruh manusia tidak ada yang suci karena semua merupakan anak keturunan Adam ‘alaihissalam. Yang suci dalam keyakinan mereka hanyalah Allah, dan sebagian mereka mengatakan bahwa jika Allah hendak turun ke bumi harus menjelma menjadi manusia atau mengirim anaknya. Sehingga menurut mereka Allah harus menjelma dalam bentuk bayi dalam perut Maryam agar lahir dari dzat yang suci dan tidak ada dosa warisan. Sehingga mereka mengatakan nabi Isa ‘alaihissalam adalah Allah, dan Allah adalah Isa ‘alaihissalam.

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra’: 43)

Akhirnya mereka mengambil Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai anak tuhan untuk menebus dosa warisan tersebut dengan cara disalib. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau memang nabi Isa ‘alaihissalam diutus untuk disalib dan menghapuskan dosa warisan tersebut, kenapa di dalam Injil disebutkan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam ketakutan, gelisah dan sembunyi tatkala tentara romawi datang? Bukankah seharusnya nabi Isa ‘alaihissalam menyerahkan diri?

Jika anggapan mereka kemudian menyebutkan bahwa Allah harus menjelma menjadi nabi Isa ‘alaihissalam dalam perut Maryam, pertanyaan selanjutnya adalah bukankah Maryam sebelumnya juga memiliki dosa keturunan? Kalau aturan mereka sebelumnya menyebutkan bahwa penebusan dosa warisan tersebut harus dari sesuatu yang suci, maka tentunya hal ini keluar dari logika mereka, karena Maryam tidak suci karena juga mengandung dosa warisan. Mereka menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa Maryam telah disucikan sebelumnya oleh Allah. Ketahuilah bahwa logika mereka ini sangatlah tidak wajar, karena jika dengan mudah dosa keturunan bisa disucikan terhadap Maryam, maka kepada orang lain pun seharusnya mudah untuk disucikan. Dan tidak perlu Allah bersusah payah menjelma menjadi manusia yang kemudian dibunuh untuk menghapuskan dosa turunan tersebut.

Kemudian kalau memang nabi Isa telah menebus dosa yang mereka maksud, maka kita bisa kembali menanyakan bahwa apakah dosa yang dihapuskan adalah dosa turunan semata atau dosa keseluruhan? Jika mereka menjawab seluruh dosa di hapuskan, maka tentu hal itu hanya bermanfaat untuk orang-orang yang memiliki dosa sebelum nabi Isa terbunuh, dan dosa orang setelahnya tidak terampuni, juga akan ada anggapan bahwa orang-orang akan bebas berbuat maksiat. Tentunya mereka tidak akan berani mengatakan hal demikian. Adapun jika mereka mengatakan bahwa dosa yang terampuni hanya dosa warisan, maka kita bisa membantah perkataan mereka dengan membandingkan dosa yang disebabkan oleh memakan buah dibandingkan dosa zina, mencuri, LGBT dan dosa berat yang lainnya. Maka tidak akan bermanfaat dosa kecil tersebut menjadi persoalan besar untuk diampuni, sedangkan ada dosa yang lebih besar dari itu yang pernah manusia lakukan yang seharusnya lebih layak untuk diampuni.

Kemudian khurafat lain mereka adalah bahwa seseorang akan masuk surga dengan meyakini bahwa nabi Isa adalah penebus dosa turunan tersebut. Maka seharusnya ketika nabi Isa telah menebus dosa keturunan tersebut, orang yang beriman maupun tidak beriman dengan keyakinan ini akan tetap bisa masuk surga karena sejak awal telah diampuni dosanya. Maka orang Islam yang tidak beriman terhadap itu pun tidak menjadi masalah karena dosa turunan telah diampuni.

Inilah semua adalah khurafat orang Nasrani yang menimbulkan pernyataan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam adalah tuhan. Padahal nabi-nabi terdahulu tidak pernah menceritakan khurafat tersebut. Maka janganlah kita terperdaya dengan banyaknya jumlah orang-orang Nasrani, meskipun kita umat Islam jumlahnya lebih sedikit dari mereka, akan tetapi agama mereka dibangun di atas khurafat-khurafat.

Dari beberapa literatur didapati bahwa seluruh cerita khurafat ini ternyata datang dari orang yang bernama Paulus. Dalam Injil disebutkan ada Risalatur Rosul (Surat Paulus). Siapakah Paulus ini? Paulus bukanlah murid dari nabi Isa ‘alaihissalam, bukan juga murid dari muridnya nabi Isa ‘alaihissalam, akan tetapi dia adalah seorang Yahudi yang memusuhi Bani Israil, bahkan dia adalah orang yang paling benci dengan pengikut nabi Isa ‘alaihissalam. Dalam risalahnya disebutkan bahwa dia sering menyiksa pengikut nabi Isa ‘alaihissalam. Diceritakan bahwa suatu hari dia hendak keluar dengan tujuan menyiksa para pengikut nabi Isa ‘alaihissalam, tiba-tiba tuhan Yesus mengangkatnya menjadi seorang rasul. Logika dia (Paulus) mengatakan bahwa agar dia bisa menjadi rasul, maka Yesus harus menjadi tuhan. Sementara para hawariyyin (penolong nabi Isa ‘alaihissalam) tidak ada yang menganggap dirinya sebagai rasul. Dan anehnya bahwa dia (Paulus) diangkat jadi nabi padahal sebelumnya dia adalah penjahat. Dari seluruh kisah para nabi, tidak ada sejarah bahwa seorang penjahat diangkat jadi nabi. Salah satu kisah yaitu nabi Yusuf ‘alaihissalam disebutkan diangkat menjadi seorang nabi karena dia dahulunya orang yang baik. Maka ini semua sangat tidak masuk akal.

Maka segala puji bagi Allah atas nikmat Islam, nikmat akidah yang membuat kita tidak menyembah manusia, nabi, malaikat ataupun jin, dan yang kita sembah hanyalah Allah, Tuhan alam semesta. Karena ketahuilah bahwa orang-orang Nasrani dengan keyakinannya yang salah tersebut memiliki IQ yang tinggi dari kebanyakan kita umat Islam, juga mendapatkan kelebihan dari segi materi dan fisik. Akan tetapi kita harus mensyukuri nikmat Allah atas hidayah Islam meskipun kita kurang dari sisi lain mereka, karena nikmat hidayah tersebut Allah tidak berikan kepada sembarang orang.

Jadi dalam keyakinan umat Islam dan ini adalah keyakinan yang benar, bahwa nabi Isa ‘alaihissalam tidak meninggal juga tidak disalib, akan tetapi diangkat ke arah Allah (langit). Maka ada pendapat yang menyebutkan bahwa nabi Isa ‘alaihissalam berada di langit ke dua karena bersiap untuk turun ke bumi menjelang hari kiamat. Kelak ketika telah datang Imam Mahdi dan munculnya Dajjal, barulah nabi Isa ‘alaihissalam turun untuk membunuh dajjal, dan setelah itu akan tegaklah hari kiamat.

Inilah kisah singkat tentang nabi Isa ‘alaihissalam, semoga bermanfaat.

Footnote:

____________________
([1]) Lihat: Al-Bahrul Muhit 7/556

([2]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 15/326

([3]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 3/231

([4]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/66

([5])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/68

([6])  Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ، إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ» ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ} [آل عمران: 36]

“Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali setan pasti menyentuhnya hingga ia menangis keras karena sentuhan tersebut, kecuali Ibnu Maryam (Isa) dan ibunya.” Kemudian Abu Hurairah berkata: Jika kalian mau bacalah ayat ini: “INNII U’IIDZUHAA BIKA WA DZURRIYYATAHAA MINAS SYAITHOONIR ROJIM (Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk).” HR. Muslim no 2366 dan Tafsir Al-Qurthubi 4/68

([7])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/86

([8])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 4/71

([9]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 6/359

([10])  Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/91

([11]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/105

([12]) HR. Bukhori no. 1385

([13]) Subhul A’syaa Fii Shinaa’atil Insyaa’ 15/621

([14]) Lihat: Hidayatul Hayaaroo Fii Ajwibatil Yahuudi Wan Nashooroo 2/530

([15])  Lihat: Fathul Qadir 3/392

([16]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 18/193

([17])  Injil lukas 3:23

([18]) Lihat: Hidayatul Hayaaroo Fii Ajwibatil Yahuudi Wan Nashooroo,  diteliti ulang oleh Doktor Ahmad Hijazy hal: 245

([19]) HR. Bukhari no. 1521