Doa Setelah Wudhu

Doa Setelah Wudhu

Pertama

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Asyhadu al-laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh.

“Aku bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.” ([1])

Kedua

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

Asyhadu al-laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh Allaahummaj ‘alnii minat-tawwaabiina waj ‘alnii minal mutathohhiriin.

“Aku bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat([2]) dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci([3]).” ([4])

Ketiga

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.

“Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.” ([5])

____________________________________________

Footnote:

([1]) HR. Muslim no. 234

At-Thiby berkata: ucapan 2 kalimat syahadat setelah berwudhu adalah isyarat akan ikhlasnya amal hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, dan sucinya hati dari kesyirikan dan riya setelah mensucikan anggota wudhu dari hadats. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 1/349)

Disebutkan dalam kelanjutan hadits ini bahwa barang siapa yang membaca 2 kalimat syahadat ini setelah wudhu maka akan dibukakan baginya 8 pintu surga yang dia bisa memasukinya dari pintu mana saja yang dia kehendaki.

([2]) Yaitu dari segala dosa dan kembali dari segala perbuatan yang tercela. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 1/350)

([3]) Yaitu suci dari dosa-dosa yang telah lalu dan dosa-dosa yang akan datang, atau suci dari akhlak-akhlak yang tercela. (lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 1/350)

([4]) HR. At-Tirmidzi no. 55, di shohihkan oleh Al-Albani

([5]) HR. An-Nasai dalam kitabnya ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 81. Ibnul Mulaqqin mengatakan hadits ini shohih dengan syarat Bukhori dan Muslim. (Lihat: Al-Badrul Munir 2/289)