Membaca Takbir

Takbir

Makna Takbir

Makna takbir menunjukan Allah maha besar secara dzatNya, yang hal ini melazimkan Allah maha agung dan maha tinggi kebesaranNya.

Ibnu Taimiyyah berkata :

وَفِي قَوْلِهِ: ” اللَّهُ أَكْبَرُ ” إثْبَاتُ عَظَمَتِهِ فَإِنَّ الْكِبْرِيَاءَ يَتَضَمَّنُ الْعَظَمَةَ وَلَكِنَّ الْكِبْرِيَاءَ أَكْمَلُ. وَلِهَذَا جَاءَتْ الْأَلْفَاظُ الْمَشْرُوعَةُ فِي الصَّلَاةِ وَالْأَذَانِ بِقَوْلِ: ” اللَّهُ أَكْبَرُ ” فَإِنَّ ذَلِكَ أَكْمَلُ مِنْ قَوْلِ اللَّهُ أَعْظَمُ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ: عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: «يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إزَارِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا عَذَّبْته» فَجَعَلَ الْعَظَمَةَ كَالْإِزَارِ، وَالْكِبْرِيَاءَ كَالرِّدَاءِ، وَمَعْلُومٌ أَنَّ الرِّدَاءَ أَشْرَفُ

“Pada sabda Nabi “Allahu Akbar” ada penetapan ádzomah (kemuliaan) Allah, karena al-kibriyaa’ (kebesaran/kegungan) mengandung (kemuliaan) akan tetapi al-kibriyaa’ lebih sempurna. Karenanya datang lafal-lafal yang disyariátkan dalam shalat maupun adzan dengan lafal “Allahu Akbar”, karena ini lebih sempurna daripada “Allahu A’dzom” (Allah termulia). Sebagaimana valid dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu álaihi wasallam bahwasanya beliau berkata, “Allah berfirman : “Kebesaran/keagungan adalah selendangKu, dan kemuliaan adalah sarungKu, maka barangsiapa yang menyaingiKu pada salah satu dari keduanya maka aku mengadzabnya”. Maka Allah menjadikan kemuliaan seperti sarung sementara kebesaran/keagungan seperti selendang. Dan tentu telah diketahui bersama bahwasanya selendang lebih mulia.” ([1])

Beliau juga berkata

التَّكْبِيرُ يُرَادُ بِهِ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ الْعَبْدِ أَكْبَرَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

“Yang dimaksud dengan takbir adalah hendaknya Allah di sisi hamba adalah yang terbesar dari segala sesuatu” ([2])

Nabi bersabda :

مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلاَّ  كَدَرَاهِمَ سَبْعَةٍ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ

“Tidaklah langit yang tujuh di letakan di kursi kecuali seperti tujuh keping dirham yang diletakan di perisai” ([3])

مَا الْكُرْسِيُّ فِي الْعَرْشِ إِلاَّ  كَحَلْقَةٍ مِنْ حَدِيْدٍ أُلْقِيَتْ بَيْنَ ظَهْرَيِ فَلاَةٍ مِنَ الأَرْضِ

“Tidaklah kursi di ársy kecuali seperti sebuah cincin dari besi yang dilemparkan di tengah-tengah padang terbuka” ([4])

Sungguh akal tidak mampu untuk merenungkan akan besarnya makhluk-makhluk Allah tersebut, lantas bagaimana lagi akan kebesaran dan keagungan Pencitanya? ([5]). Allah telah mengabarkan bahwa pada hari kiamat bumi dalam genggamanNya dan langit dilipat dengan tangan kananNya.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (QS Az-Zumar : 67)

Keutamaan takbir

  1. Termasuk bentuk sedekah yang sangat mudah dilakukan oleh seorang muslim. ([6])
  2. Takbir, tasbih, dan tahmid lebih baik dari pembantu. ([7])
  3. Pohon di surga adalah tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. ([8])
  4. Membiasakan takbir sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam lebih baik dari membebaskan seratus budak . ([9])

Waktu-Waktu Bertakbir Yang Dianjurkan Untuk Bertakbir

Pada asalnya bertakbir boleh diucapkan kapan saja, namun dalam kondisi tertentu takbir disunnahkan bahkan wajib, di antaranya:

  1. Ketika dzikir pagi dan petang. ([10])
  2. Ketika adzan
  3. Ketika shalat
  4. Ketika hari raya
  5. Ketika dzikir setelah shalat
  6. Ketika berjalan menanjak ([11])
  7. Ketika menyembelih hewan qurban ([12])
  8. Ketika mendapatkan kabar yang menggembirakan ([13])
  9. Ketika thowaf ketika mendatangi hajar aswad ([14])

Bacaan Takbir

Secara umum di kebanyakan tempat lafal takbir menggunakan

اَللهُ أَكْبَرُ

Allahu akbar

“Allah Maha Besar”

Namun ketika hari raya, lafal-lafal takbir adalah:

Pertama: diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dari hari ‘arofah hingga akhir hari tasyriq dengan lafal, Ibnu Mas’ud dan sahabat lainnya

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahil hamd ([15])

Dan juga terdapat riwayat lain bahwa Abdullah bin Mas’ud menggunakan dengan takbir dua kali:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allaahu akbar, allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahil hamd ([16])

Kedua: dari Ibnu Abbas

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا

Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar, wa lillaahil hamd, allaahu akbar wa ajallu, allaahu akbar ‘alaa maa hadaanaa ([17])

Ketiga: takbir yang diajarkan oleh Salman,

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar kabiiron

Atau

تَكْبِيرًا اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَى وَأَجَلُّ مِنْ أَنْ تَكُونَ لَكَ صَاحِبَةٌ أَوْ يَكُونَ لَكَ وَلَدٌ أَوْ يَكُونَ لَكَ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ أَوْ يَكُونَ لَكَ وَلِيٍّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا، اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا

Takbiiron allaahumma anta a’laa wa ajallu min an takuuna laka shoohibatun aw yakuuna laka waladun, aw yakuuna laka syariikun fil mulki aw yakuuna laka waliyyun minadz dzulli wa kabbirhu takbiiron, allaahummaghfir lanaa, allaahummarhamnaa ([18])

Keempat: Al-Imam Asy-Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm dalam bab tata cara takbir ketika hari raya dia menyebutkan salah satu bentuk takbir:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدَّيْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Allaahu akbar kabiiro, wal hamdu lillaahi katsiiro, wa subhanallahi bukrotan wa ashiila, allaahu akbar, wa laa na’budu ilallahu mukhlishiina lahud diin, w alau karihal kaafiruun, laa ilaaha illallaahu wahdahu, shodaqo wa’dah, wa nashoro ‘abdah, wa hazamal ahzaaba wahdah, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar ([19])

Kelima: lafal takbir yang digunakan oleh sebagian ulama Malikiyyah, disebutkan bahwa lafal yang paling disukai oleh Ibnu Habib adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا هَدَانَا اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَك مِنْ الشَّاكِرِينَ

Allahu akbar, allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahil hamdu ‘alaa maa hadaanaa, allaahummaj’alnaa laka minasy syaakiriin

Dan beliau mengatakan akan lebih baik jika ditambah dengan lafal:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ

Allaahu akbar kabiiron wal hamdulillaahi katsiiron, wa subhanallahi bukrotan wa ashiilaa, wa laa haul awa laa quwwata ilaa billaah ([20])

____________________________________________________________________

Footnote:

([1]) Majmuu’ Al-Fataawaa  10/253

([2]) Majmuu’ Al-Fataawaa  5/239

([3]) Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di tafsirnya, dan pada sanadnya ada Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ia adalah perawi yang lemah, selain itu Zaid adalah seorang tabií, maka haditsnya mursal

([4])Diriwayatkan oleh Abu Nuáim di al-Hilyah (1/166), Abu As-Syaikh di al-Ádzomah (2/648-649), dan Al-Baihaqi di al-Asmaa wa as-Shifaat (2/300-301). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani di as-Shahihah (no 109) karena banyak jalannya.

([5]) Lihat penjelasan Asy-Syaikh Abdurrozza al-Badr di Fiqh Al-Adíyah wal Adzkaar 1/289

 

([6]) Berdasarkan riwayat Abu Dzar:

«يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى»

“Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” HR. Muslim no. 720

([7]) Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali:

أَنَّ فَاطِمَةَ، اشْتَكَتْ مَا تَلْقَى مِنَ الرَّحَى فِي يَدِهَا، وَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَانْطَلَقَتْ، فَلَمْ تَجِدْهُ وَلَقِيَتْ عَائِشَةَ، فَأَخْبَرَتْهَا فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ إِلَيْهَا، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا، وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَذَهَبْنَا نَقُومُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَى مَكَانِكُمَا» فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمِهِ عَلَى صَدْرِي، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا، إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ»،

Bahwasanya Fatimah merasakan tapak tangannya mengeras karena menumbuk tepung. Dan seorang pelayan mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Fatimah pergi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak mendapatinya, lalu ia bertemu dengan ‘Aisyah. Kemudian Fatimah berpesan kepada ‘Aisyah agar disampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba di rumah, ‘Aisyah pun memberitahu beliau shallallahu alaihi wasallam tentang kedatangan Fatimah. Lalu Rasulullah pergi ke rumah kami ketika kami sedang berbaring hendak tidur. Kamipun segera bangun, tetapi beliau shallallahu alaihi wasallam mencegahnya dan bersabda : ‘Tetaplah di tempat kamu! Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di antara kami sehingga aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau yang menyentuh dada-ku. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Inginkah kalian berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? Apabila kalian berbaring hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhanallah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kamu daripada seorang pembantu.” HR. Muslim no. 2727

([8]) Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ”

“Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata; wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada Umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan Surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat; SUBHAANALLAAHI WAL HAMDU LILLAAHI WA LAA ILAAHA ILLAAHU WALLAAHU AKBAR (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar). HR. At-Tirmidzi no. 3462, dan beliau berkata hadits ini hasan ghorib. Al-Albani juga mengatakan hadits ini hasan.

([9]) Hal ini berdasarkan hadits

وَمَنْ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا، كَانَ أَفْضَلَ مِنْ عِتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ

“dan barang siapa yang mengucapkan “allaahu akbar” sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam maka ini lebih utama dari membebaskan seratus budak.” HR. An-Nasai no. 10588 dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubro. Dan Al-Albani mengatakan hadits ini hasan. (lihat: Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 658)

([10]) HR. An-Nasai no. 10588 dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubro. Dan Al-Albani mengatakan hadits ini hasan. (lihat: Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 658)

([11]) Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah

«كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا»

“bahwasanya kami dahulu bertakbir jika berjalan menanjak dan kami bertasbih jika kami berjalan menurun.” HR. Bukhori no. 2993

([12]) Hal ini berdasarkan hadits Anas:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba jantan putih kehitaman lagi bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangannya, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir, dan beliau meletakkan kakinya di antara leher dan badan kedua hewan tersebut” HR. Bukhori no. 5565 dan Muslim no. 1966

([13]) Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ ” فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: «أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ» فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: «أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ» فَكَبَّرْنَا

“Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi seperempat penghuni surga”. Maka kami bertakbir. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga penghuni surga”. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara setengah penghuni surga”. Maka kami bertakbir sekali lagi.” HR. Bukhori no. 3348

([14]) Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Abbas,

طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَيْتِ عَلَى بَعِيرٍ، كُلَّمَا أَتَى الرُّكْنَ أَشَارَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ كَانَ عِنْدَهُ وَكَبَّرَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan thawaf di baitullah (ka’bah) di atas untanya. Setiap kali beliau melewati ar-rukun (hajar aswad), beliau berisyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada pada beliau, lalu bertakbir” HR. Bukhori 1613

([15]) HR. Ad-Daruquthny dalam sunannya no. 1737

([16]) HR. Al-Baghowi dalam Syarhu As-Sunnah 4/300

([17]) HR. Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubroo no. 6352

([18]) HR. Al-Baihaqy dalam kitabnya Fadhoil Al-Awqhoot no. 227

Dan dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar bahwa bacaan takbir ini adalah yang paling shohih. (lihat: Fathul Baari 2/462)

As-Shon’ani berkata dalam menjelaskan tentang banyaknya lafal-lafal takbir:

وَفِي الشَّرْحِ صِفَاتٌ كَثِيرَةٌ وَاسْتِحْسَانَاتٌ عَنْ عِدَّةٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ، وَهُوَ يَدُلُّ عَلَى التَّوْسِعَةِ فِي الْأَمْرِ، وَإِطْلَاقُ الْآيَةِ يَقْتَضِي ذَلِكَ

“dalam syarah terdapat banyak tata cara yang banyak dan istihsan dari banyak para ulama, dan ini menunjukkan akan lapangnya perkara ini, dan mutlaknya ayat menunjukkan hal itu.” (Subulus Salaam hal: 438)

([19]) Al-Umm 1/276

([20]) At-Taaj wal Ikliil li Mukhtashor Kholiil 2/577