Adab Dzikir

Adab Dzikir

Berikut adab-adab berdzikir.

  1. Hendaknya berdzikir di tempat yang suci.
  2. Hendaknya mulutnya dalam keadaan bersih.

Berkata An-Nawawi:

وينبغي أن يكون الموضعُ الذي يذكرُ فيه خالياً نظيفاً، فإنه أعظمُ في احترام الذكر المذكور، ولهذا مُدح الذكرُ في المساجد والمواضع الشريفة….وينبغي أيضاً أن يكون فمه نظيفاً، فإن كان فيه تغيُّر أزاله بالسِّواك، وإن كان فيه نجاسة أزالها بالغسل بالماء، فلو ذكر ولم يغسلها فهو مكروهٌ ولا يَحرمُ

“Dan selayaknya tempat yang digunakan untuk berzikir adalah tempat yang kosong dan bersih, karena ini adalah sesuatu yang paling agung dalam memuliakan dzikir, oleh karenanya dipuji dzikir yang dilakukan di masjid-masjid dan tempat yang terpuji…. Dan hendaknya mulutnya dalam keadaan bersih, jika terdapat kotoran pada mulutnya hendaknya dihilangkan dengan siwak, jika terdapat nejis maka hendaknya dicuci dengan air. Dan seandainya seseorang tetap berdzikir dan dia tidak menghilangkannya maka ini makruh dan bukan sesuatu yang diharamkan.” ([1])

  1. Hendaknya dalam keadaan tertutup aurat
  2. Menghadirkan hati ketika berdzikir dan mentadabburinya.

Berkata An-Nawawi:

المرادُ من الذكر حضورُ القلب، فينبغي أن يكون هو مقصودُ الذاكر، فيحرص على تحصيله، ويتدبر ما يذكر، ويتعقل معناه؛ فالتدبُر في الذكر مطلوبٌ، كما هو مطلوبٌ في القراءة، لاشتراكهما في المعنى المقصود

“maksud dari berdzikir adalah kehadiran hati, dan hendaknya ini dijadikan tujuan bagi orang yang berdzikir sehingga dia bersemangat dalam mendapatkannya, mentadabburi apa yang diucapkan, dan memahami maknanya. Tadabbur ketika berdzikir adalah sesuatu yang diinginkan sebagaimana dia adalah sesuatu yang diinginkan dari membaca Al-Quran karena kesamaannya dalam makna yang dimaksud.” ([2])

  1. Tidak melakukannya dengan paduan suara (ramai-ramai satu suara).
  2. Tidak berteriak ketika berdzikir.

Syaikh Abdullah bin Baz berkata:

أما الاجتماع على الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بصوت جماعي أو بصوت مرتفع فهذا بدعة

“adapun berkumpul untuk bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan suara jama’ah atau dengan suara keras maka ini adalah bid’ah.” ([3])

_____________________________________________

Footnote:

([1]) Al-Adzkar lin-Nawawi hal: 12

([2]) Al-Adzkar lin-Nawawi hal: 12-13

([3]) Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb 13/296