Dzikir Setelah Shalat Fardhu

Dzikir Setelah Shalat Fardhu

Pertama:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

Astagh-firullah 3x

Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

Artinya :

“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x).

“Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” ([1])

Kedua:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir, Allahumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

Artinya: “Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan” ([2])

Ketiga:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyaah. Lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaaul hasan.

Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

Artinya: “Tiada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada sesembahan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Hanya milik-Nya segal nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada sesembahan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.” ([3])

Keempat:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir .

“Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” ([4]) (dibaca 10 x setelah shalat subuh dan shalat maghrib)

Kelima:

سُبْحَانَ اللهِ (33 ×)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)

اَللهُ أَكْبَرُ (33 ×)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Subhanallah (33x)

Al hamdulillah (33x)

Allahu akbar (33 x)

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya: “Maha Suci Allah (33 x), segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” ([5])

Keenam:

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allahumma a-’inniy ’ala dzikrika wa syukrika wa husni ’ibaadatika.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.” ([6])

Ketujuh:

Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar.”  ([7])

Kedelapan:

Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (fardhu), sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat uqbah ibn ‘amir

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، أَنَّهُ قَالَ: ” أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ”

dari uqbah ibn ‘amir bahwasanya rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk membaca mu’awwidzaat (al ikhlas, al falaq, dan an nas) setiap selesai sholat. ([8])

Kesembilan:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik)” ([9]) (Dibaca setelah salam dari shalat Shubuh)

________________________________________________________________

Footnote:

([1]) HR. Ahmad Dalam Musnadnya 37/48 No. 22365.

Kandungannya:

Dalam doa ini terkandung di dalamnya istighfar dan memuji Allah dengan menyebut nama-namaNya yang indah yaitu “As-Salaam” sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Umar yusuf bin abdillah al-qurthuby bahwasanya As-Salam adalah termasuk nama Allah, maknanya: yang selamat dari segala aib dan kekurangan,

(wa minkas salaam) as-salaam disini artinya adalah keselamatan, maksudnya dariMu keselamatan, ketika seorang hamba tahu bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan keselamatan dari segala marabahaya kecuali Allah dan juga yakin bahwasanya keselamatan itu hanya berasal dari Allah membuatnya hanya berharap dan meminta keselamatan hanya kepada Allah bukan yang lain. Dan ini adalah salah satu nilai tauhid dalam doa ini.

(tabaarokta) diambil dari kata al-barokah yang artinya banyak dan luasnya kebaikanMu, dan sudah dibahas dalam bacaan istiftah.

(yaa dzal jalaali wal ikromwahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan”) maksudnya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qurthuby: dan maknanya “sesungguhnya Allah adalah yang dzat berhak untuk diagungkan dan dimuliakan dan tidak diingkari” ini disebabkan karena Allah lah satu-satunya dzat yang paling agung dan paling mulia yang tidak bisa diingkari akan keagungan dan kemuliannya. Ini jika kita bawakan al-Ikromo “pemuliaan” pada makna pemuliaan hamba kepada Allah. Dan bisa jadi al-Ikroom bisa maknanya pemuliaan Allah kepada hamba, yaitu Allah memuliakan para nabi-Nya, para wali-Nya, dan orang-orang shalih

([2]) HR. Bukhari 1/168 no. 844 dan Muslim 1/415 no. 593.

Kandungannya:

Dalam doa ini terkandung didalamnya pengesaan Allah dalam bentuk peribadatan dan mensucikannya dari penyekututan didalamnya, karena ibadah adalah hak Allah semata yang wajib hamba kerjakan. Dan juga didalamnya terdapat pujian kepada Allah atas segala nikmat yang Allah berikan sehingga ia mampu untuk bisa mengesakanNya dalam beribadah juga nikmat-nikmat lainnya yang tak terhitung.

)tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan( disini menunjukkan akan penetapan bahwasanya semua perbuatan hamba adalah ciptaan Allah, itu dikarenakan ketika kita mengucapkan “tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan” dan “tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan“ menunjukkan akan penafian secara umum tidak ada yang bisa memberikan juga tidak ada yang bisa menahan pemberian kecuali Allah, karena tidak ada yang bisa menahan atau melarang pemberian secara hakikat kecuali Allah, maka dari sini jelas bahwasanya memberikan dan juga menahan adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah yang kemudian dihasilkan oleh hamba (Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Batthol dalam Syarah Shohih Bukhori. 10/321)

Kemudian kandungan (Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan) dikatakan oleh Ibnu Batthol: “(aljaddu) artinya adalah bagian, jadi maksudnya bagian seseorang di dunia tidak akan bermanfaat disisi Allah pada hari kiamat”, dan at-Thobari juga berkata: bagian seseorang di dunia berupa harta dan anak tidak akan bermanfaat di akhirat kelak, karena yang bermanfaat disisi Allah di akhirat hanyalah amal, dan ini sesuai dengan apa yang Allah firmankan:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy Syu’aro’: 88-89)

(Lihat Syarh Shohih Al-Bukhori Libni Batthol 2/495 dan 10/321)

([3])  HR. Muslim 1/415 No. 139.

Kandungannya:

(Tiada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya) Dalam kalimat ini terkandung akan pengesaan Allah dalam beribadah, dan hanya Allah satu-satunya dzat yang berhak untuk disembah, juga di dalamnya pensucian dari segala bentuk penyekutuan dalam ibadah.

(Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu) dalam kalimat ini terdapat penetapan akan keagungan Allah yang sangat besar, juga penetapan untuknya pujian-pujian atas segala nikmat yang tak terhitung yang diberikan kepada seluruh hambanya, dan juga menunjukkan kekuasaan Allah bahwasanya Allah maha mampu untuk melakukan apa yang Dia kehendaki sebagaimana yang terjadi dalam kisah Maryam yang Allah memberikannya seorang anak padahal ia belum pernah disentuh oleh lelaki,

قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ ۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَه كُنْ فَيَكُوْنُ ﴿آل عمران : ۴۷﴾

“Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Ali Imron: 47)

(Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah) dalam kalimat ini terkandung akan kelemahan seorang hamba juga pengakuan terhadap kebutuhannya terhadap apa yang disisi Allah, karena ketika seseorang tidak memiliki kemampuan apapun maka dia akan membutuhkan terhadap dzat yang memberikannya pertolongan dan kekuatan, dan tidak ada yang mampu membrikan itu semua secara hakiki kecuali Allah.

(Tiada sesembahan (yang hak disembah kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Hanya milik-Nya segala nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada sesembahan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci).

Dalam doa ini terkandung pengesaan Allah dalam kalimat ini terulang akan pengesaan Allah, karena seorang hamba sangat membutuhkan untuk terus memperbaharu niatnya dalam masalah mengikhlaskan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, karena ikhlas bukanlah suatu perkara yang mudah, banyak sekali godaan dari syaithon yang berusaha menggelincirkan kita dari ini. Demikian juga seorang hamba mengakui pengesaan terhadap Allah dalam hal segala kenikmatan dan anugrah yang ia rasakan. Jika segala nikmat dan anugrah hanya dari Allah maka hanya Allah-lah yang semata-mata berhak untuk diibadahi.

Kemudian dijelaskan bahwa orang-orang kafir tidak suka ketika ummat muslim mentauhidkan Allah, dan mereka selalu berusaha untuk mengeluarkan kaum muslim dari agama islam dan mengikuti agama mereka,sebagaimana yang Allah firmankan,

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqoroh: 120)

([4]) HR. At-Tirmidzi Dalam Sunannya 5/392 No. 3474 Dan An Nasa-I Dalam Sunannya 9/215 No. 10339.

([5]) HR. Muslim 1/418 No. 597.

Kandungannya:

Dijelaskan dalam hadits Abu Huroiroh barang siapa yang mengucapkan dzikir ini setelah shalatnya maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih dilautan,

مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَقَالَ: تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang mengucapkan “subhaanallah” setiap selesai shalat 33 kali, “alhamdulillah” 33 kali dan “Allahu Akbar” 33 kali; yang demikian berjumlah 99 dan menggenapkannya menjadi seratus dengan “La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, la hul mulku walahul hamdu wa huwa ‘la kulli syai-in qadir” (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ), akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih lautan”.  (HR. Muslim 1/418 No. 597)

Dan ini menunjukkan akan rahmat Allah yang sangat luas dimana Allah memberikan hambanya suatu amalan yang sangat mudah untuk dilakukan oleh hambanya dan hal tersebut dapat mendatangkan ampunanNya.

([6]) HR. Ahmad Dalam Musnadnya 36/430 No. 22119.

Kandungannya:

Doa ini adalah wasiyat Rasulullah kepada Mu’adz bin Jabal agar jangan pernah meninggalkannya setiap selesai shalat, karena didalamnya terkandung penyandaran hati yang sempurna dari seorang hamba kepada penciptaNya dalam setiap perkaranya. Ketika seorang hamba meminta pertolongan kepada Allah dalam setiap perkaranya menunjukkan betapa lemahnya dirinya, bahkan untuk dapat senantiasa berdzikir atau mengingat penciptanya, bersyukur atas setiap nikmat yang telah diberikan kepadanya juga untuk beribadah dengan baik semuanya tidak lepas dari pertolongan Allah. Ketika seorang hamba sadar bahwa tiada daya dan upaya yang bisa memberikannya kekuatan untuk melakukan itu semua maka hilanglah dari dirinya sikap takjub dan ujub atas semua yang berhasil ia kerjakan, karena semua itu tidak lepas dari apa Allah berikan kepadanya. Dan ini adalalah salah satu kandungan ayat yang sering kita baca dalam shalat kita “إياك نستعين” (Hanya kepada Engkau lah kami meminta pertolongan) karena pertolongan yang hakiki hanya berasal dari Allah.

([7]) QS. Al Baqarah: 255

Kandungannya:

Ada beberapa keutamaan ketika seseorang membaca ayat kursi, diantaranya hadits dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ

Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.” (HR. An Nasai dalam As-Sunan al-Kubro 9/44 No 9848, dan dishahihkan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 972)

Dalam hadis riwayat Imam At-Thabrani dari Hasan bin Ali,   bahwa Nabi bersabda;

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ فِي ذِمَّةِ اللهِ إِلَى الصَّلاَةِ الأُخْرَى

“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah salat wajib, maka dia berada dalam perlindungan Allah hingga salat berikutnya.” (HR. Ath-Thobroni no. 674, dihasankan oleh al-Mundziri namun didhoífkan oleh al-Albani di ad-Dhoífah 11//229 no 5135)

([8]) HR. Ahmad Dalam Musnadnya 28/634 No. 1741.

([9]) HR Abu Dawud Dalam Musnadnya 3/179 No 1710, Ishaq dalam musnadnya 4/137 No 1909, Ahmad dalam musnadnya 44/221 No 26602.

Kandungannya:

Dalam doa ini kita diajarkan untuk meminta 3 perkara yang sangat kita butuhkan:

  1. Ilmu yang bermanfaat, karena segala sesuatu ketika ingin dikerjakan butuh terhadap ilmu, dan ketika suatu perbuatan yang dikerjakan tanpa ilmu makan ini hanya akan mendatangkan kerusakan. Bahkan dalam masalah beribadah pun kita butuh ilmu agar bisa mengamalkan ibadah sesuai dengan apa yang Allah inginkan dan semua itu tidak mungkin tercapai tanpa adanya ilmu. Dan jangan sampai kita seperti orang-orang Nashoro yang beramal tanpa adanya ilmu sebagaimana yang firmankan,

{غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}

“bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS Al-Fatihah: 7). Berdasarkan ayat ini Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya,

فَإِنَّ طَرِيقَةَ أَهْلِ الْإِيمَانِ مُشْتَمِلَةٌ عَلَى الْعِلْمِ بِالْحَقِّ وَالْعَمَلِ بِهِ، وَالْيَهُودُ فَقَدُوا الْعَمَلَ، وَالنَّصَارَى فَقَدُوا الْعِلْمَ؛ وَلِهَذَا كَانَ الْغَضَبُ لِلْيَهُودِ، وَالضَّلَالُ لِلنَّصَارَى، لِأَنَّ مَنْ عَلِمَ وَتَرَكَ اسْتَحَقَّ الْغَضَبَ، بِخِلَافِ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ. “maka sesungguhnya jalan orang-orang yang beriman mencakup terhadap ilmu yang haq dan mengamalkannya, dan orang-orang yahudi tidak mengalkan (ilmunya) sedangkan orang-orang nashoro tidak memiliki lmu, oleh karenanya orang yahudi mendapatkan murka sedangkan orang-orang nashoro mendapatkan kesesatan, karena orang yang mengetahui lalu meninggalkan (pengamalan berhak untuk mendapatkan kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak mengetahui” (Lihat: Tafsir Al-Quranil ‘Azhim 1/141)

  1. Meminta rezeki yang baik, maksudnya adalah rezeki yang halal juga baik, sebagaimana Allah firmankan

يا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلالاً طَيِّباً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُواتِ الشَّيْطانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqoroh: 168)

Dan ini adalah salah satu ciri sifat orang yang beriman bahwasanya mereka hanya mencari rezeki yang halal saja, tidak seperti orang-orang kafir yang mereka tidak perduli dengan apa yang mereka makan entah itu halal atau baik.

  1. Amalan yang diterima, tidak ada sesuatu yang lebih diharapkan dari seorang hamba melebihi dari diterimanya amalannya, dan agar diterimanya suatu amalan maka harus terpenuhi didalamnya 2 syarat: ikhlas dan ittiba’. Dan juga ketika amalan seseorang diterima menunjukkan bahwasanya ia adalah orang yang benar-benar bertaqwa ketika mengamalkan amalan tersebut, sebagaimana yang Allah firmankan

إِنَّما يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Maidah: 27)

Kesimpulannya amalan yang kita kerjakan ketika kita tidak bertakwa ketika mengamalkannya maka Allah tidak akan menerimanya, karena berdasarkan ayat di atas menunjukkan bahwa Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.

Doa meminta ilmu yang bermanfaat didahulukan sebelum meminta rizki yang halal dan amal yang diterima, karena dengan ilmu yang benarlah bisa diketahui mana rizki yang bermanfaat dan mana amal shalih yang memenuhi persyaratan agar diterima oleh Allah.

Demikian juga doa ini dibaca selepas shalat subuh, karena itu adalah pembuka hari, setelah itu seorang hamba akan dibimbing oleh untuk mencari rizki yang halal dan beramal yang diterima.