Doa-doa Qunut

Doa-doa Qunut

Pertama:

«اللهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنَ عَافَيْتَ، وتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ؛ إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ»

“Allahummahdinaa fiiman hadait, wa’aafinaa fiiman ‘aafait, watawallanaa fiiman tawallait, wabaarik lanaa fiimaa a’thait, waqinaa syarra maa qadhait, innaka taqdhii walaa yuqdhoo ‘alaik, wa innahuu laa yadzillu man waalait, tabaarakta wa ta’aalait.

Artinya : Ya Allah, berilah kami petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah kami keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diri kami di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untuk kami apa yang telah Engkau berikan kepada kami, lindungilah kami dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak ada yang dapat merubah keputusan-Mu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Maha Suci Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi)” ([1])

Dan juga terdapat riwayat lain dengan kata ganti tunggal

«اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»

“Allahummahdinii fiiman hadait, wa’aafinii fiiman ‘aafait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiimaa a’thait, waqinii syarra maa qadhait, innaka taqdhii walaa yuqdhoo ‘alaik, wa innahuu laa yadzillu man waalait, tabaarakta robbanaa wa ta’aalait.

(Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak ada yang dapat merubah keputusan-Mu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Maha Suci Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi).” ([2])

Dan juga dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Jawwas dengan tambahan “وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ”:

«اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»

“Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak ada yang dapat merubah keputusan-Mu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau cintai. Dan tidak akan mulia orang memusuhi-Mu, Maha Suci Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi.” ([3])

Kedua:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ»

“Allahumma innii a’uudzu bi ridhooka min sakhotik, wa a’uudzu bi mu’aafaatika min ‘uquubatik, wa a’uudzu bika minka, laa uhshii tsanaa an ‘alaika, anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsika”

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan keridlaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji pada diri-Mu.” ([4])

Ketiga:

«اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْضَعُ لَكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَكْفُرُكَ، اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنُخَافُ عَذَابَكَ الْجَدَّ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ»

“Ya Allah, sesungguhnya kami meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Mu, dan kami beriman kepada-Mu dan tunduk kepada-Mu, dan kami berlepas diri dan meninggalkan orang yang mengkufuri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah, kepada-Mu semata kami melaksanakan shalat dan sujud, untuk-Mu semata kami bersegera dan beramal, kami mengharapkan kasih sayang-Mu dan takut kepada adzab-Mu yang keras, sesungguhnya adzab-Mu pasti menimpa orang-orang kafir.” ([5])

Dan terdapat doa yang semisalnya dengan doa yang lebih Panjang, yaitu:

«اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِي عَلَيْكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ، اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخَافُ عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَفَّارِينَ مُلْحَقٌ، اللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ، وَأَلْقِ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ، وَخَالِفْ بَيْنِ كَلِمَتِهِمْ، وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، اللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَالْحِكْمَةَ، وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ نَبِيِّكَ، وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوَفُّوا بِالْعَهْدِ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، إِلَهَ الْحَقِّ، وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ»

“Ya Allah, sesungguhnya kami meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Mu, kami memuji-Mu dan tidak mengkufuri-Mu, dan kami beriman kepada-Mu dan kami berlepas diri dan meninggalkan orang yang berbuat durhaka kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah, kepada-Mu semata kami melaksanakan shalat dan sujud, untuk-Mu semata kami bersegera dan beramal, kami mengharapkan kasih sayang-Mu dan takut kepada siksa-Mu yang keras, sesungguhnya siksa-Mu pasti menimpa orang-orang kafir. Ya Allah adzablah orang-orang kafir, dan timpakankanlah rasa takut di hati-hati mereka, dan timpakan perselisihan di antara mereka, dan turunkanlah kepada mereka siksa dan adzab-Mu. Ya Allah, adzablah kaum kafir Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustakan para rasul-Mu dan memerangi para wali-Mu. Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, perbaikilah hubungan di antara mereka, satukanlah hati-hati mereka, dan jadikanlah keimanan dan hikmah di hati-hati mereka, dan tetapkanlah mereka di atas agama Nabi-Mu, dan ilhamkanlah kepada mereka untuk menunaikan janji yang Engkau ambil dari mereka, dan menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Ilah yang haq, dan jadikanlah kami termasuk kedalam golongan mereka.” ([6])

Dan terdapat juga doa yang hampir sama dengan doa yang kedua dengan urutan yang berbeda, yaitu:

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ، اللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اللَّهُمَّ إِنَّا، نَسْتَعِينُكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِي عَلَيْكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ، وَنَخَافُ عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ»

“. Ya Allah, laknatlah kaum kafir Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mendustakan para rasul-Mu dan memerangi para wali-Mu. Ya Allah, timpakan perselisihan di antara mereka, goncangkanlah langkah kaki mereka, dan turunkanlah kepada mereka adzab-Mu yang tidak Engkau dari kaum yang durjana. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ya Allah, sesungguhnya kami meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Mu, kami memuji-Mu dan tidak mengkufuri-Mu, kami berlepas diri dan meninggalkan orang yang berbuat durhaka kepada-Mu. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah, kepada-Mu semata kami melaksanakan shalat dan sujud, untuk-Mu semata kami bekerja dan berusaha, kami mengharapkan kasih sayang-Mu dan takut kepada siksa-Mu yang keras, sesungguhnya siksa-Mu pasti menimpa orang-orang kafir.   ([7])

__________________________________________________________________________________

Footnote:

([1]) HR. Ath-Thobroni dalam al-mu’jam al-Kabir no. 2700

([2]) HR. Abdurrazzaq dalam mushonnafnya no. 4957

([3]) HR. Abu Dawud no. 1425, dan dishohihkan oleh Al-Albani

Kandungannya:

Di dalam doa ini terkandung makna yang sangat agung, karena di dalamnya tercakup beberapa permintaan yang kita butuhkan. Ada lima permintaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan kepada kita, yaitu:

  1. (اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ) “Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk”

Berkata kholil Ahmad As-Saharonfury:

ثبتني على الهداية، أو زدني من أسباب الهداية إلى الوصول بأعلى مراتب النهاية (فيمن هديت) أي جملة من هديتهم. وقيل: لفظ “في” فيه وفيما بعده بمعنى مع.

“tetapkanlah aku dalam hidayah, atau tambahkanlah aku sebab-sebab untuk sampai ke tingkatan tertinggi, “فِيمَنْ هَدَيْتَ” yaitu termasuk kedalam golongan yang engkau beri hidayah, dan dikatakan lafaz “فِي” dalam kalimat ini serta dalam kalimat setelahnya maknanya “مع” bersama.” (Badzlul Majhuud Fii Halli Sunani Abi Dawud 6/109)

Dalam doa ini diawali dengan meminta hidayah, yang mana hidayah adalah sesuatu yang sangat kita butuhkan untuk tetap istiqomah dalam beragama Islam, dan inilah yang senantiasa kita minta dalam shalat kita setiap kali membaca surat al-Fatihah yaitu meminta hidayah {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Bahkan Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya seorang hamba sangatlah membutuhkan hidayah di setiap perkara kehidupannya, beliau berkata:

وَالْعَبْد مفتقر إِلَى الْهِدَايَة فِي كل لَحْظَة وَنَفس فِي جَمِيع مَا يَأْتِيهِ ويذره فَإِنَّهُ بَين أُمُور لَا يَنْفَكّ عَنْهَا

“dan hamba membutuhkan hidayah disetiap saat dan di setiap nafasnya di semua yang datang kepadanya dan yang meninggalkannya, maka sesungguhnya ia berada diantara perkara-perkara yang tidak lepas dari hidayah.” (Lihat: Risaalah Ibnil Qoyyim ilaa Ahadi Ikhwaanih 1/8)

Bahkan beliau menyebutkan beberapa point alasan mengapa seorang hamba sangat butuh untuk meminta hidayah kepada Allah. Oleh karena itu hendaklah kita bersungguh-sungguh untuk meminta kepada Allah hidayah untuk bisa mengetahui jalan yang hak, meminta hidayah untuk bisa mengamalkannya, dan juga meminta hidayah untuk bisa istiqomah di atasnya.

  1. (وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ) “dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan”

Berkata kholil Ahmad As-Saharonfury:

(وعافني) أي من أسوء الأدواء والأخلاق والأهواء

“dan “عافني” yaitu selamatkan aku dari keburukan-keburukan penyakit, akhlak, dan hawa.” (Badzlul Majhuud Fii Halli Sunani Abi Dawud 6/109)

Dan meminta keselamatan ini bukan hanya keselamatan ketika hidup saja, namun juga mencakup meminta keselamatan ketika telah meninggal, bukankah ketika ada seorang muslim yang telah meninggal kita mendoakannya dengan:

اللَّهُمَّ إغفر لَهُ وارحمه وعافه واعف عَنهُ

“ya Allah ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia.” HR. Ahmad no. 23975 dengan sanad yang shohih.

Berkata At-Thiiby ketika menjelaskan makna “عافه”:

أَيْ: سَلِّمْهُ مِنَ الْعَذَابِ وَالْبَلَايَا

“yaitu selamatkan ia dari adzab dan ujian.” Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 3/1197

  1. (وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ) “dan uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus”

Berkata Ali bin Muhammad al-Qoori maksud dari kalimat ini adalah:

تَوَلَّ أَمْرِي وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي

“Uruslah perkaraku dan jangan membebani (pengurusan perkara) kepada diriku sendiri.” Mirqootul Mafaatiih Syarhul Misykaatul Mashoobiih 3/950

Ini termasuk salah satu jenis kesempunaan keimanan seorang hamba ketika menyerahkan semua perkaranya hanya kepada Allah, dan meminta pertolongan hanya kepada Allah, sehingga dengan doa ini ia menampakkan betapa lemahnya dirinya untuk bisa mengurus urusannya, sehingga hilang darinya sifat kesombongan karena ia sadar betapa lemahnya dirinya. Dan inilah yang sering Allah sebutkan tentang sifat-sifat orang yang beriman, yaitu ia hanya bertawakkal kepada Allah, Allah berfirman:

{وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ المُؤْمِنُونَ}

“dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman bertawakal.” QS. At-Taubah: 51

Dan juga firman-Nya:

{وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا، وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا، وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ}

“Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.” QS. Ibrohim: 12

  1. (وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ) “dan berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku”

Dan ini adalah sifat seorang muslim sejati ketika ia mencari sesuatu maka ia tidak mencari banyaknya materi, akan tetapi tapi yang ia cari adalah keberkahan dari yang ia dapat, sehingga ia senantiasa meminta kepada Allah keberkahan yang Allah berikan kepadanya, dan membuatnya selalu menghindari dari sesuatu yang haram. Dan salah satu untuk mendapatkan keberkahan adalah dengan keimanan dan ketaqwaan, sebagaimana yang Allah firmankan:

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

“seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” QS. Al-A’raf: 96

 

Dan juga perlu diketahui bahwasanya yang Allah berikan kepada kita bukan hanya sekedar harta dan materi saja, tapi mencakup hal-hal yang lebih umum, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Barzah bahwasanya seorang hamba tidak akan bergeser kedua kakinya hingga ditanya tentang apa yang ia perbuat dengan segala apa yang Allah berikan:

«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ»

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: umurnya di manakah ia habiskan, ilmunya di manakah ia amalkan, hartanya bagaimana ia peroleh dan di mana ia infakkan dan mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dan dishohihkan oleh Al-Albani.

Maka ia meminta kepada Allah untuk diberikan keberkahan pada setiap yang Allah berikan kepadanya pada umurnya, ilmunya, hartanya, dan tubuhnya.

  1. (وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ) “lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan”

Berkata Kholil Ahmad As-Saharonfury:

(وقني) أي احفظني (شر ما قضيت) أي ما قدرت لي من قضاء وقدر، فسلِّم لي العقل والدين

“dan “قني” yaitu lindungilah aku dari keburukan yang Engkau tetapkan untukku berupa qodho dan qodar, dan selamatkanlah akal dan agamaku.” (Badzlul Majhuud Fii Halli Sunani Abi Dawud 6/110)

Berkata Ali bin Muhammad al-Qori membawakan perkataan Ath-Thiiby:

وَهَذَا مِنْ قَبِيلِ: أَفِرُّ مِنْ قَضَاءِ اللَّهِ تَعَالَى بِقَدَرِهِ

“dan ini bentuk dari pernyataan: aku lari dari qodho Allah dengan qodarnya.” Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 3/950

Dan ini adalah lima perkara yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan kepada kita untuk memintanya kepada Allah, kemudian pada kalimat setelahnya dijelaskan alasan mengapa kita diperintahkan meminta kepada Allah:

  1. (إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ) “sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak ada yang dapat merubah keputusan-Mu”

Ini adalah alasan pertama: karena hanya Allah lah yang memutuskan segala perkara dan tidak ada satu makhlukpun yang bisa mengubah apa yang telah diputuskan. Berkata Kholil Ahmad As-Saharonfury:

أي تقدر أو تحكم بكل ما أردت (ولا يقضى عليك) فإنه لا معقب لحكمك

“yaitu: Engkaulah yang menetapkan atau yang memutuskan suatu hukum yang Engkau kehendaki, (makna) “ولا يقضى عليك” maka seseungguhnya tidak ada yang bisa mengubah ketetapanMu atau hukum-Mu.” (Badzlul Majhuud Fii Halli Sunani Abi Dawud 6/110)

Maka ketika hamba mengetahui bahwasanya hanya Allah yang menetapkan segala perkara maka hanya kepada-Nya pula lah satu-satunya tempat untuk meminta, meminta hidayah, keselamatan, diuruskan urusannya, dan diselamatkan dari hal-hal yang buruk.

  1. (وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ) “sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau cintai”

Berkata Kholil Ahmad As-Saharonfury:

الْمُوَالَاةُ ضِدُّ الْمُعَادَاةِ

“al-Muwaalaah (kecintaan) lawan dari mu’aadaah (permusuhan).” (Badzlul Majhuud Fii Halli Sunani Abi Dawud 6/110)

Dan ini alasan kedua: karena seseorang ketika dicintai oleh Allah maka tidak ada satupun yang akan membuatnya terhina, sehingga sudah selayaknya kita meminta kepada Dzat yang ketika kita dicintai-Nya maka kita tidak akan terhinakan.

Berkata Ali bin Muhammad Al-Qory menukilkan perkataan Ibnu Hajar:

أَيْ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ مِنْ عِبَادِكَ فِي الْآخِرَةِ أَوْ مُطْلَقًا وَإِنِ ابْتُلِيَ بِمَا ابْتُلِيَ بِهِ، وَسُلِّطَ عَلَيْهِ مَنْ أَهَانَهُ وَأَذَلَّهُ بِاعْتِبَارِ الظَّاهِرِ ; لِأَنَّ ذَلِكَ غَايَةُ الرِّفْعَةِ وَالْعِزَّةِ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ أَوْلِيَائِهِ، وَلَا عِبْرَةَ إِلَّا بِهِمْ، وَمِنْ ثَمَّ وَقَعَ لِلْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مِنَ الِامْتِحَانَاتِ الْعَجِيبَةِ مَا هُوَ مَشْهُورٌ، كَقَطْعِ زَكَرِيَّا بِالْمِنْشَارِ، وَذَبْحِ وَلَدِهِ يَحْيَى،

“yaitu tidak akan hina orang yang engkau cintai dari hamba-hamba-Mu di akhirat secara mutlak walaupun di uji dengan ujian-ujian, dan ia dikuasai oleh orang yang menghinakan dan merendahkannya secara zhohir, karena hal tersebut demi tujuan untuk mengangkat derajat dan kemuliannya di sisi Allah dan wali-wali-Nya, dan tidak ada apa-apanya terhadap apa yang mereka (orang yang menghinakan) lakukan, dan juga para Nabi shallallahu ‘alaihis sholaatu wa sallam diujia dengan ujian-ujian yang kita ketahui, seperti ujian Nabi Zakaria dipotong dengan gergaji dan disembelih anaknya Yahya.” Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 3/950

  1. (وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ) “tidak akan mulia orang yang memusuhimu”

Dan ini adalah alasan ketiga: bahwasanya kita tidak akan pernah mendapatkan kemuliaan yang hakiki walaupun di dunia bergelimangan harta kecuali kemulian yang berasal dari Allah.

Dijelaskan oleh Ali bin Muhammad al-Qori:

لَا يَعِزُّ فِي الْآخِرَةِ أَوْ مُطْلَقًا وَإِنْ أُعْطِيَ مِنْ نَعِيمِ الدُّنْيَا وَمُلْكِهَا مَا أُعْطِيَ، لِكَوْنِهِ لَمْ يَمْتَثِلْ أَوَامِرَكَ وَلَمْ يَجْتَنِبْ نَوَاهِيَكَ

“tidak akan mulia di akhirat secara mutlak, walaupun dia benar-benar diberikan kenikmatan dan kekuasaan dunia, (ia tetap tidak akan mulia) karena ia tidak melaksanakan perintah-perintah-Mu dan tidak menjauhi larangan-larangan-Mu.” Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 3/950

  1. (تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ) “Maha Suci Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi”

Yaitu karena Allah adalah dzat yang penuh akan keberkahan dan kebaikan, dan juga maha tingga dzat dan keagungannya, dan tidak ada satupun yang bisa menandinginya.

([4]) HR. Ibnu Majah no. 1179 dan dishohihkan oleh Al-Albani

Kandungannya:

  • (اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ) “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan keridlaan-Mu dari kemurkaan-Mu”
  • (وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ) “dan aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksaan-Mu”

Berkata Jalalud Diin As-Suyuuty membawakan perkataan al-Khotthoby menjelaskan dua kalimat di atas:

فِيهِ معنى لطيف وَذَلِكَ أَنه استعاذ بِاللَّه تَعَالَى وَسَأَلَهُ أَن يجيره بِرِضَاهُ من سخطه وبمعافاته من عُقُوبَته والرضى والسخط ضدان متقابلان وَكَذَلِكَ المعافاة والعقوبة فَلَمَّا صَار إِلَى ذكر مَا لَا ضد لَهُ وَهُوَ الله تَعَالَى استعاذ بِهِ مِنْهُ لَا غير

“didalamnya terkandung makna yang halus, hal tersebut dkarenakan seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah untuk menolongnya dengan ridho-Nya dari murka-Nya, dan dengan keselamatan-Nya dari adzab-Nya, ridho dan marah adalah dua yang berlawanan, begitu juga keselamatan dan adzab, ketika beralih kepada penyebutan yang tidak memiliki lawan yaitu Allah, maka ia pun meminta perlindungan kepada-Nya saja bukan yang laindari hal-hal yang disebutkan.” Ad-Diibaaj ‘Alaa Shohiih Muslim bin al-Hajjaaj 2/178

  • (وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ) “dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu”

Berkata Badrud Din Al-‘Ainy:

أي: أستعيذ بك من عذابك، أو ألتجئ إليك من سخطك.

“aku meminta perlindungan kepadamu dari adzab-Mu, atau aku berlindung kepada-Mu dari amarah-Mu.” Syarhu Abu Dawud 5/338

  • (لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ) “Engkau sebagaimana Engkau memuji pada diri-Mu”

Berkata al-‘Aini

أي: لا أقدر على إحْصاء الثناء عليك.

“yaitu: aku tidak mampu untuk menghitung pujian-Mu.” (Syarhu Abu Dawud 5/338)

Berkata As-Suyuthy membawakan perkataan imam Malik:

مَعْنَاهُ لَا أحصي نِعْمَتك وإحسانك وَالثنَاء بهَا عَلَيْك وَإِن اجتهدت فِي الثَّنَاء

“maknanya: aku tidak mampu untuk menghitung nikmatmu, kebaikanmu, dan pujian untukmu, walaupun aku berssungguh-sungguh dalam memuji.” (Ad-Diibaaj ‘Alaa Shohiih Muslim bin al-Hajjaaj 2/178)

  • (أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ) “Engkau sebagaimana Engkau memuji pada diri-Mu”

Berkata as-Suyuthy menjelaskan dalam kalimat ini alasan mengapa seorang hamba tidak mampu untuk menghitung pujian-pujian kepada Allah:

اعْتِرَاف بِالْعَجزِ عَن تَفْصِيل الثَّنَاء وَأَنه لَا يقدر على بُلُوغ حَقِيقَته ورد الثَّنَاء إِلَى الْجُمْلَة دون التَّفْصِيل والإحصاء فَوكل ذَلِك إِلَى الله سُبْحَانَهُ الْمُحِيط بِكُل شَيْء جملَة وتفصيلا وكما أَنه لَا نِهَايَة لصفاته لَا نِهَايَة للثناء عَلَيْهِ لِأَن الثَّنَاء تَابع للمثنى عَلَيْهِ وَكلما أثنى بِهِ عَلَيْهِ وَإِن كثر وَطَالَ وبولغ فِيهِ فَقدر الله أعظم مَعَ أَنه متعال عَن الْقدر وسلطانه أعز وَصِفَاته أكبر وَأكْثر وفضله وإحسانه أوسع وأسبغ

“ini merupakan bentuk pengakuan akan lemahnya untuk memperinci pujian untuk Allah, dan sesungguhnya ia tidak mampu untuk sampai kepada hakikatnya, pujian datang dalam bentuk umum bukan perinci kemudian diserahkanhal tersebut kepada Allah Subhanahu Yang Maha Meliputi segala sesuatu secara umum maupun terperinci, dan sebagaimana bahwasanya tidak ada Batasan untuk sifat-sifatNya maka begitu juga tidak ada Batasan untuk pujian keoada-Nya, karena pujian mengikuti yang dipuji, dan seberapapun seseorang memuji-Nya walapun banyak, lama, dan bersungguh-sungguh maka kekuasaan Allah lebih agung bersamaan dengan sifatnya yang Maha Tinggi, dan kerajaanNya lebih mulia, sifat-sifatNya  lebih besar dan banyak, dan keutamaan dan kebaikanNya lebih luas dan sempurna.” (Ad-Diibaaj ‘Alaa Shohiih Muslim bin al-Hajjaaj 2/178)

([5]) HR. Abu Dawud dalam kitab Maroosiilnya no. 89

([6]) HR. Abdurrazzaq dalam mushonnafnya no. 4968

([7]) HR. Abdurrazzaq dalam mushonnafnya no. 4969

Kandungannya:

  • (اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ) “ya Allah kami meminta pertolongan dan ampunan kepadaMu”

Berkata Ali bin Muhammad al-Qory menjelaskan makna doa ini:

يَا أَللَّهُ إِنَّا نَطْلُبُ مِنْكَ الْعَوْنَ عَلَى الطَّاعَةِ وَتَرْكِ الْمَعْصِيَةِ، وَنَطْلُبُ مِنْكَ الْمَغْفِرَةَ لِلذُّنُوبِ

“ya Allah, sesungguhnya kami meminta pertolngan dariMu dalam menjalani ketaatan dan meninggalkan maksiat, dan kami meminta dariMu ampunan dari dosa-dosa.” Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 3/953

  • (وَنُثْنِي عَلَيْكَ وَلَا نَكْفُرُكَ) “dan kami memujiMu dan tidak mengingkariMu”

Dalam doa ini menetapkan bahwasanya seorang hamba senantiasa memuji Allah dan menafikan dari sifat kufur, dan yang dimaksud kufur disini dijelaskan oleh Ali bin Muhammad Al-Qori:

وَالْكُفْرُ: نَقِيضُ الشُّكْرِ….وَالْأَصْلُ: كَفَرْتُ نِعْمَتَهُ

“dan kufur: lawan dari kata syukur….dan asalnya adalah kufur (mengingkari) nikmat Allah.” Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 3/953

  • (وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ) “dan kami beriman kepadaMu, serta menjauhi dan meninggalkan orang yang bermaksiat kepadaMu”

Dan ini adalah salah satu bentuk berlepas dirinya seorang muslim terhadap kemaksiatan juga pelakunya

  • (وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ) “dan hanya untukMu kami shalat dan sujud”

Disini mentauhidkan Allah dalam beribadah, dan ini adalah bentuk dari salah satu tujuan utama kita diciptakan, yaitu hanya menyembah Allah.

  • (وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ) “dan hanya kepadaMu kami bersegera dan beramal”

Artinya:

وَالسَّعْيُ: الْإِسْرَاعُ فِي الْمَشْيِ، وَنَحْفِدُ، أَيْ: نَعْمَلُ لَكَ بِطَاعَتِكَ مِنَ الْحَفْدِ وَهُوَ: الْإِسْرَاعُ فِي الْخِدْمَةِ

“dan “لسَّعْيُ”: bersegera dalam berjalan, dan “نَحْفِدُ” yaitu: kami mengamalkan ketaatan hanya untukMu, dan ini berasal dari kata “الْحَفْدِ”, yaitu bersegera dalam melayani.” Lihat: Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 3/953

  • (وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخَافُ عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَفَّارِينَ مُلْحَقٌ) “dan kami mengharapkan rahmatMu dan takut dari adzabMu, sesungguhnya adzabMu hanya mengikuti orang-orang kafir”
  • (وَأَلْقِ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ) “dan berikanlah rasa takut di hati-hati mereka”
  • (وَخَالِفْ بَيْنِ كَلِمَتِهِمْ) “dan timpakan perselisihan di antara mereka”
  • (وَأَنْزِلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ) “dan turunkanlah kepada mereka siksa dan adzab-Mu”
  • (اللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ أَهْلَ الْكِتَابِ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ) “ya Allah adzablah orang-orang kafir Ahli kitab yang menghalangi dari jalanMu”
  • (وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ) “dan mendustakan para rasul-Mu dan memerangi para wali-Mu”
  • (وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ) “goncangkanlah langkah kaki mereka”
  • (وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ) “dan turunkanlah kepada mereka adzab-Mu yang tidak Engkau dari kaum yang durjana”
  • (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ) “ya Allah ampunilah kaum mukminin dan mukminat, dan ampunilah kaum muslimin dan muslimat”
  • (وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ) “dan perbaikilah hubungan diantara mereka”
  • (وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ) “dan satukanlah hati-hati mereka”

Yaitu meminta kepada Allah disatukan hati-hati mereka yang sebelumnya terpecah belah, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ath-Thobari dalam firman Allah:

وألف بين قلوبهم

“dan Allah satukan hati-hati mereka.” QS. Al-Anfal: 63

Berkata Ath-Thobary:

وجمع بين قلوب المؤمنين من الأوس والخزرج، بعد التفرق والتشتت، على دينه الحق، فصيَّرهم به جميعًا بعد أن كانوا أشتاتًا، وإخوانًا بعد أن كانوا أعداء.

“dan mengumpulkan antara hati-hati orang-orang yang beriman dari Bani Aus dan Khozroj, setelah terpisah dan terpecah di atas agamah yang benar, dan mengubah mereka semua menjadi satu setelah terpecah belah, dan menjadikan mereka semua bersaudara setelah sebelumnya bermusuhan.” Lihat Tafsir Ath-Thobary 14/54

  • (وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَالْحِكْمَة) “dan jadikan keimanan dan hikmah di hati-hati mereka”

Dan dalam kalimat ini kita diajarkan untuk meminta dua perkara yang sangat besar, yaitu keimanan dan hikmah, dan yang dimaksud hikmah disini bisa diartikan al-Quran sebagaimana Allah berfirman:

(يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشاءُ. وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً)

“Dia memberikan hikmah kepada yang dikehendakinya, dan barang siapa yang diberikan hikmah maka sungguh ia telah diberikan kebaikan yang banyak.” QS. Al-Baqoroh: 269

Kemudian ditafsirkan bahwa hikmah adalah al-Quran, berkata Qotadah:

الْحِكْمَةُ: الْقُرْآنُ , وَالْفِقْهُ فِي الْقُرْآنِ ”

“Hikmah adalah Al-Qurán, dan faqih dalam al-quran.” Tafsir Abdurrozzaq 1/373

Berkata Abu Ja’far:

يعني بذلك جل ثناؤه: يؤتي الله الإصابة في القول والفعل من يشاء من عباده، ومن يؤت الإصابة في ذلك منهم، فقد أوتي خيرا كثيرا.

“yang dimaksud oleh Allah: Allah memberikan kebenaran dalam ucapan dan perbuatan kepada yang dikehendaki dari hambNya, dan barang siapa yang diberikan kebenaran dalam hal tersebut sungguh ia telah diberikan kebaikan yang banya.”  Tafsir Ath-Thobari 5/576

  • (وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ نَبِيِّكَ) “dan tetapkanlah mereka di atas agama NabiMu”
  • (وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوَفُّوا بِالْعَهْدِ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْه) “dan ilhamkanlah kepada mereka untuk menunaikan janji yang Engkau ambil janji mereka”
  • (وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، إِلَهَ الْحَقّ) “dan tolonglah mereka atas musuhMu dan Musuh mereka, wahai Ilah yang Haq”
  • (وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ) “dan jadikanlah kami termasuk ke dalam golongan mereka”