Masjid Nabawi

Sejarah Masjid Nabawi

Bila kita menilik kepada sejarah kaum muslimin maka akan kita dapatkan bahwa masjid memiliki andil yang besar dalam peradaban islam dan penyebarannya. Hal ini terlihat jelas bila kita kembali pada era Rasulullah shallallahu álaihi wasallam, dimana akan didapati bahwa masjid pada era Beliau shallallahu álaihi wasallam merupakan pusat peradaban kaum muslimin, pusat penyebaran ilmu, pusat pemerintahan dan lain sebagainya. Sehingga kita dapati bahwa pembangunan masjid adalah salah satu perkara yang menyita perhatian Rasulullah shallallahu álaihi wasallam setibanya di Madinah.

Terlebih lagi Masjid Nabawi yang memiliki tempat yang sangat istimewa di hati kaum muslimin. Hal ini dikarenakan ia adalah masjid yang dibangun di atas dasar takwa sebagaimana firmanNya,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya””(QS At-Taubah : 109)

Abu Saíd al-Khudri radhiallahu ánhu berkata

دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِ بَعْضِ نِسَائِهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الْمَسْجِدَيْنِ الَّذِي أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى؟ قَالَ: فَأَخَذَ كَفًّا مِنْ حَصْبَاءَ، فَضَرَبَ بِهِ الْأَرْضَ، ثُمَّ قَالَ: «هُوَ مَسْجِدُكُمْ هَذَا» لِمَسْجِدِ الْمَدِينَةِ.

“Aku pernah menemui Rasulullah di rumah salah satu dari isterinya dan bertanya, “Ya Rasulallahu, masjid manakah diantara dua masjid (Masjid Nabawi atau Masjid Quba’) yang dibangun di atas dasar taqwa?” Beliaupun mengambil segenggam pasir lalu dibuangnya kembali ke tanah, dan kemudian beliau bersabda, “Masjid kamu ini” yaitu Masjid Nabawi (HR Muslim no 514)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ini merupakan nash (dalil yang tegas dan jelas) bahwa masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun atas dasar takwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga merupakan bantahan terhadap apa yang dikatakan oleh beberapa pakar tafsir bahwasanya masjid yang disebut dalam al-Qurán adalah Masjid Quba. Sedangkan tujuan Beliau shallallahu áliahi wasallam mengambil pasir dan menghempaskannya kembali ke tanah adalah untuk lebih mempertegas dan menjelaskan bahwa ia adalah Masjid Nabawi ini” (Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi 4/169)

Hal ini merupakan salah satu keistimewaan Masjid Nabawi. Bagaimana tidak, sedangkan Rasulullah shallallahu álaihi wasallam adalah pelopor untuk berdirinya masjid ini. Bahkan Beliau shallallahu álaihi wasallam ikut andil dalam pembangunannya dan ikut mengangkat batu-batu penyusun pondasinya. Para Shahabat pun turut serta dalam membantu Beliau shallallahu álaihi wasallam dalam pembangunannya. Bahkan Rasulullah e, mengabarkan kepada kita akan keutamaan mengerjakan sholat di dalamnya atas masjid lainnya.

Beranjak dari hal-hal di atas dan yang semisal dengannya, terlihat bahwa kaum muslimin amat butuh untuk memberikan perhatian mereka terhadap Masjid Nabawi. Telah banyak riwayat yang menjelaskan sejarah pembangunan Masjid Nabawi meskipun tidak membentuk sebuah alur yang behubungan. Lebih lanjut, pada tulisan ini pembaca yang budiman akan diajak melihat kembali bagaimana sejarah pembangunan Masjid Nabawi.

Pemilihan Lokasi

Asy Syiakh Shofiyur Rahman Al Mubarokfuri menyebutkan bahwa kedatangan Nabi e di madinah terjadi pada hari jumat, 12 Rabiul Awal yang berkenaan dengan tanggal 27 September 622 M([1]). Pada hari kedatangan Nabi e ini kegembiraan terpancar dari wajah-wajah kaum muslimin, dari pembesarnya hingga para budak yang ada, baik dari golongan Muhajirin maupun Anshor. Lihatlah Al-Bara’ bin Aazib, radhiallahu ‘anhuma, salah seorang shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau akan menceritakan kepada kita bagaimana keadaan serta situasi penduduk Madinah tatkala kedatangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

أَوَّلُ مَنْ قَدِمَ عَلَيْنَا مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ، وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَكَانَا يُقْرِئَانِ النَّاسَ … ثُمَّ ” قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَا رَأَيْتُ أَهْلَ المَدِينَةِ فَرِحُوا بِشَيْءٍ فَرَحَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ e، حَتَّى جَعَلَ الإِمَاءُ يَقُلْنَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ e”

Artinya : “Orang yang pertama datang kepada kami (dari kaum Muhajirin) adalah Mush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Keduanya membacakan Al Qur-an kepada orang-orang. … . Kemudian datang Nabi e setelahnya. Aku tidak pernah melihat penduduk madinah bergembira sebagaimana gembiranya mereka dengan kedatangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, hingga para budak wanitapun berseru, “Rasulullah e telah datang !!!”([2])

Sedangkan Anas bin Malik, radhiallahu ‘anhu, maka beliau menggambarkan keadaan yang beliau rasakan pada saat tersebut sebagaimana ucapannya,

لَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي دَخَلَ فِيهِ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ الْمَدِينَةَ أَضَاءَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَظْلَمَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ

Artinya : “Pada hari dimana Rasulullah memasuki kota madinah maka segala sesuatu bercahaya. Sedangkan pada hari diamana Beliau diwafatkan maka segala sesuatu terasa gelap.”([3])

Bahkan, oleh karena rasa gembira akan kedatangan Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam dan besarnya cinta kaum Anshar kepadanya menyebabkan setiap Beliau melewati rumah diantara rumah-rumah kaum Anshar maka pembesar kaumnya akan mengundang beliau untuk singgah atau menginap di tempat mereka, akan tetapi beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Biarkan dia (yaitu onta Nabi) berjalan, karena sesungguhnya dia telah mendapat perintah”. Maka iapun berjalan hingga onta yang beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tunggangi tersebut melewati kediaman Bani Malik bin An Najjar dan akhirnya menderum pada tempat pengeringan kurma yang kelak akan dibangun di situ Masjid Nabawi. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam -pun bertanya mengenai siapa pemilik tempat tersebut, maka Mu’adz bin Afra’ mengatakan kepada beliau bahwa ia milik Sahl dan Suhail dua anak yatim bersaudara dari bani An-Najjar.([4]) Berdasarkan riwayat ini maka terlihat bahwa pemilihan tempat bagi Masjid Nabawi tidak lain adalah pilihan Allah, subhanahu wata’ala.

Pembangunan Masjid Nabawi

Kemudian Nabi e meminta untuk bertemu dengan keduanya dan menawarkan kepada mereka untuk menjual tanah milik mereka ini kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibangun sebuah masjid. Hanya saja keduanya menolak untuk menjualnya kepada Nabi e dan lebih memilih untuk menjadikan tanah tersebut sebagai hibah. Akan tetapi beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menolak dan tetap meminta agar tanah tersebut dijual kepadanya, hingga akhirnya mereka menyetujui untuk menjualnya kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaupun mulai membangun.([5])

Anas bin malik berkata, “Bahwasanya tempat tersebut dahulunya (sebelum pembangunan masjid) banyak terdapat kuburan orang-orang musyrik, juga padanya terdapat banyak sisa-sisa reruntuhan rumah dan pohon kurma”. Maka Nabi memerintahkan untuk kuburan-kuburan tersebut dibongkar. Sedangkan reruntuhan rumah diratakan dan untuk pohonnya agar ditumbangkan, kemudian dipindahkan pada posisi depan di arah kiblat masjid yang tatkala itu masih menuju arah Baitul Maqdis.([6])

Ketika membangun masjid Nabiawi, Nabi berkata,

اُبْنُوْهُ عَرِيْشًا كَعَرِيْشِ مُوْسِى

“Bangunlah masjid (yaitu Masjid Nabawi) seperti tempat berteduh yaitu seperti tempat berteduhnya Nabi Musa’ álaihis salam”([7])

Sehingga diketahui bahwa bentuk awal dari Masjid Nabawi masih sangat sederhana seperti tempat berteduh milik Musa.

Dasar masjid dari tanah disusun batu sekitar 3 hasta lalu setelah itu dipasang bata. Pada pembangunan awal Masjid Nabawi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ikut serta dalam pembangunannya sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya. Ditengah pekerjaan tersebut beliau berkata,

هَذَا الحِمَالُ لاَ حِمَالَ خَيْبَرْ، هَذَا أَبَرُّ رَبَّنَا وَأَطْهَرْ

“Batu yang dipikul ini (untuk membangun masjid Nabawi) bukanlah pikulan (korma yang dibawa/dipikul) dari kota Khoibar. Ini adalah lebih baik, wahai Rabb kami dan lebih suci” ([8])

Selain itu beliau berkata pula,

اللَّهُمَّ إِنَّ الأَجْرَ أَجْرُ الآخِرَهْ، فَارْحَمِ الأَنْصَارَ، وَالمُهَاجِرَهْ

”Ya Allah, sesungguhnya hakikat pahala/ganjaran itu adalah pahala/ganjaran akhirat. Maka rahmatilah kaum Anshar dan Muhajirin”([9])

Masjid Nabawi pada awal pembangunan kiblatnya menghadap Baitul maqdis (yaitu kea rah utara) dan panjangnya (memanjang dari utara ke selatan) sekitar 100 hasta (sekitar 50 metar), adapun lebarnya lebih pendek sedikit, atu ada yang mengatakan sama juga 100 hasta (sehingga masjidnya berbentuk bujur sangkar). ([10])

Adapun langit-langit masjid maka berasal dari dedaunan pohon kurma dan tidak tinggi yaitu jika seseorang berdiri dang mengangkat tangannya ke atas maka akan menyentuh langit-langit masjid([11]). Dan hal ini bertahan hingga zaman Khalifah Utsman bin Affan, radhiallahu ‘anhu sebagaimana yang disampaikan oleh Ibn Umar, radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ المَسْجِدَ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَبْنِيًّا بِاللَّبِنِ، وَسَقْفُهُ الجَرِيدُ، وَعُمُدُهُ خَشَبُ النَّخْلِ، فَلَمْ يَزِدْ فِيهِ أَبُو بَكْرٍ شَيْئًا، وَزَادَ فِيهِ عُمَرُ: وَبَنَاهُ عَلَى بُنْيَانِهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّبِنِ وَالجَرِيدِ وَأَعَادَ عُمُدَهُ خَشَبًا، ثُمَّ غَيَّرَهُ عُثْمَانُ فَزَادَ فِيهِ زِيَادَةً كَثِيرَةً، وَبَنَى جِدَارَهُ بِحِجَارَةٍ مَنْقُوْشَةٍ وَالْقَصَّةِ وَجَعَلَ عُمُدَهُ حِجَارَةً مَنْقُوْشَةً، وَسَقْفَهَ بِالسَّاجِ

“Bahwasanya pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam masjid dibangun dengan menggunakan tanah liat yang dikeraskan (bata), atapnya dari dedaunan sedangkan tiang-tiangnya dari batang pohon kurma. Pada masa Abu Bakar maka dia tidak melakukan penambahan renovasi, sedangkan pada masa Umar maka ia memberi tambahan renovasi dengan batu bata dan dahan batang kurma sesuai dengan bentuk yang ada pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tiang utamanya diganti dengan kayu, kemudian pada masa Utsman maka dia menambahkan perenovasian yang banyak. Maka Útsman membangun tembok masjid dengan batu yang dipahat, dan  dengan kapur. Beliau membangun tiang-tiang masjid dengan batu-batu yang diukir, serta atapnya dari pohon saaj (pohon besar)” ([12])

Mesjid pada awal dibangunnya memiliki beberapa jumlah pintu yang mungkin dapat kita bagi menjadi dua jenis :

Pintu Umum dan Utama, yaitu pintu yang dibuka bagi setiap orang yang datang dari luar masjid dimana ia berhadapan dengan jalan.

Pintu Khusus, yaitu pintu yang terhubung dengan rumah-rumah para Shahabat yang tinggal bertetangga dengan Masjid Nabawi, dimana mayoritas pemilik rumah yang menempel dengan masjid membuat pintu yang langsung terhubung dengan masjid. Kemudian Nabi e memerintahkan untuk menutup seluruh pintu tersebut kecuali pintu Ali, radhiallahu ‘anhu, dimana rumah yang dia tempati tidak memiliki pintu selain daripada yang berhubungan langsung dengan masjid. Lebih lanjut, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan perintah ini pada masa sakit beliau pada hari akhirnya.

Adapun pintu utama maka ia terdapat tiga pintu utama :([13])

Pintu dari arah selatan. Disebut pula sebagai pintu Abu Bakar Ash Shiddiq.

Pintu dari arah timur. Disebut pula sebagai pintu Alu Utsman, yang dikemudian hari disebut sebagai pintu jibril, dan dari sinilah biasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid.

Pintu dari arah barat. Disebut sebagai pintu Atikah dan disebut pula sebagai pintu Ar Rahmah

Perluasan Masjid Nabawi

perluasan masjid nabawi dari waktu ke waktu

Keterangan gambar:

hijau tua : Masjid Nabawi di zaman Nabi di awal pendirian

hijau muda : perluasan yang dilakukan Nabi pada tahun 7 H

coklat muda : Perluasan oleh Umar bin al-Khottob tahun 17 H

orange : Perluasan oleh Utsman bin Áffan tahun 29 H

biru : Perluasan oleh al-Imam al-Mahdi al-Ábbasi antara tahun 161-165 H

ungu : Perluasan oleh Abdul Majid al-Awwal al-Útsmani antara tahun 1265-1277 H

ungu muda : Perluasan pertama Kerajaan Arab Saudi antara tahun 1372-1375 H

merah : Perluasan kedua Kerajaan Arab Saudi antara tahun 1406 – 1414 H

loreng-loreng : Hujroh (Rumah Aisyah) yang di dalamnya ada kuburan Nabi

==================

Footnote:

([1]) Al Mubarokfuri. Ar Rohiqul Makhtum. Hal. 217.

([2]) Shahih Al Bukhari, Kitab “Manaqib Al Anshar”, Bab “Kedatangan Nabi e di madinah”. (no. 3925).

([3]) At Tirmidzi. Syamail An Nabi. Bab “Wafatnya Rasulullah e”, hal 287. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani, Lihat : Mukhtashor syamail al muhammadiyah, hal. 196.

([4]) Lihat : Ibnu Hisyam. Sirah Nabawiyah, (I/ 496).

([5]) Lihat : Shahih bukhari. )no.3906) dari shahabat Urwah bin Az zubair, radhiallahu ‘anhu.

([6]) Muttafaq Alaih. dari shahabat anas bin malik, radhialllahu ‘anhu. Shahih Bukhari. Kitab Al Manaqib. No. 3932. Shahih Muslim. Kitab

([7]) Dihasankan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 616

([8]) Lihat penjelasan Ibnu Hajar di Fathul Baari 1/108

([9]) Shahih Al Bukhari. No. 3905, 3906.

([10]) Lihat At-Taudhiih, Ibnul Mulaqqin 5/475

([11]) Al-Hasan al-Bashri ditanya, وَمَا عَرِيشُ مُوسَى؟  “Apakah itu tempat berteduhnya Nabi Musa álaihis salam?”, beliau berkata, إِذَا رَفَعَ يَدَهُ بَلَغَ الْعَرِيشَ: يَعْنِي السَّقْفَ “Jika ia mengangkat tangannya maka akan mengenai atapnya” (Jaamiúl Úluum wal Hikam, Ibnu Rojab 1/143

([12]) Shahih Al Bukhari. No. 446.

([13]) Umdatul Qoori, al-Áini 4/178