Shalat Rawatib – Shalat Sunnah Harian

Shalat-Shalat Sunnah Rawatib

Definisi

Ar-rowatib adalah bentuk jamak dari rotibah, maknanya adalah:

السُّنَنُ التَّابِعَةُ لِلْفَرَائِضِ

“adalah shalat-shalat sunnah yang mengikuti shalat-shalat fardhu (sebelum atau setelahnya).” ([1])

Apa saja shalat rowatib?

  1. 2 raka’at sebelum Zhuhur dan dalam riwayat lain 4 raka’at sebelum Z
  2. 2 raka’at setelah Z
  3. 2 raka’at setelah M
  4. 2 raka’at setelah Isya’.
  5. 2 raka’at sebelum S

Dalil

  1. Hadits ‘Aisyah ketika menjelaskan tentang shalat sunnah rowatib yang berjumlah 12 raka’at:

أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الفَجْرِ

“empat raka’at sebelum zhuhur dan 2 rak’at setelahnya, 2 raka’at setelah maghrib, 2 raka’at setelah ‘isya, dan 2 raka’at sebelum subuh.” ([2])

  1. Riwayat dari Ummu Habibah yang serupa dengan hadits ‘Aisyah:

أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَثِنْتَيْنِ قَبْلَ الْعَصْرِ، وَثِنْتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَثِنْتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“empat raka’at sebelum zhuhur dan 2 rak’at setelahnya, 2 raka’at setelah maghrib, 2 raka’at setelah ‘isya, dan 2 raka’at sebelum fajar.” ([3])

  1. Riwayat dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa bahwasanya shalat rowatib berjumlah 10 raka’at, beliau berkata:

«حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ»

 “aku hafal 10 raka’at dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yaitu: 2 raka’at sebelum zhuhur, 2 raka’at setelahnya, 2 raka’at setelah maghrib di rumahnya, 2 raka’at setelah isya dirumahnya, dan 2 raka’at sebeum subuh.” ([4])

Antara 12 Rakaat dan 10 Rakaat

Para ulama menjelaskan penggabungan kedua hadits di atas: Bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- terkadang melakukan 12 raka’at dan terkadang melakukan 10 raka’at.

Maka kita bisa memilih antara dua bilangan tersebut tergantung dengan kondisi. Apabila kita dalam keadaan sehat dan kuat maka dianjurkan untuk mengerjakan 12 raka’at, akan tetapi apabila kita dalam keadaan sibuk maka bisa mengerjakan 10 raka’at. ([5])

Keutamaan

Di antara keutamaan melakukan shalat sunnah rowatib ini adalah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ

Barangsiapa rutin mengerjakan shalat sunnah 12 raka’at, maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga.

Juga disebutkan dalam hadits Ummu Habibah:

«مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga karenanya.

Para perawi hadits ini mengatakan bahwa mereka tidak pernah meninggalkan shalat sunnah rowatib semenjak mendengar hadits ini. ([6])

Dalam lafaz yang lain:

«مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا، غَيْرَ فَرِيضَةٍ، إِلَّا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، أَوْ إِلَّا بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

“tidaklah seorang hamba muslim yang melakukan shalat tathowwu’ bukan wajib sebanyak 12 raka’at karena Allah, melainkan Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga, atau akan dibangunkan baginya rumah di surga.” ([7])

Shalat yang terkait:

Shalat sunnah antara adzan dan iqomah

Terdapat juga syariat sunnah qobliyyah selain yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas, yang biasa dinamakan “sunnah rowatib ghoiru muakkadah” dan ada juga yang menamakannya dengan “sunnah muthlaqoh” yang dikerjakan antara adzan dan iqamah, hal ini berdasarkan dari hadits Abdullah Ibnu Mughoffal Al-Muzany:

«بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ»، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَنْ شَاءَ»

“Antara tiap dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat shalat. Antara tiap dua adzan itu terdapat shalat” (kemudian pada yang ketiga kalinya beliau bersabda): “Bagi yang menghendaki”. ([8])

Shalat 4 raka’at sebelum dan setelah zhuhur:

Dalam hadits Ummu Habibah disebutkan bahwa shalat sunnah setelah zhuhur dikerjakan 4 raka’at. Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعًا بَعْدَهَا لَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ

“Siapa yang shalat 4 raka’at sebelum dan sesudah zhuhur maka api neraka tidak akan menyentuhnya.” ([9])

Begitu pula riwayat dari ‘Anbasah bin Abu Sufyan, ia berkata:

سَمِعْتُ أُخْتِي أُمَّ حَبِيبَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ»

“Aku mendengar saudariku Ummu Habibah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang menjaga 4 raka’at sebelum Zhuhur dan 4 raka’at setelahnya, Allah akan mengharamkan baginya api neraka.” ([10])

Cara mengerjakan shalat 4 raka’at tersebut adalah dengan 2 kali salam, berdasarkan sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam:

صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat sunnah di malam dan di siang hari adalah 2 raka’at, 2 raka’at” ([11])

Shalat 4 raka’at sebelum ashar:

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

“Semoga Allah merahmati seseorang yang melakukan shalat 4 raka’at sebelum ashar.” ([12])

Shalat 6 raka’at setelah maghrib

Terdapat sebuah hadits dari Abu Huroiroh yang menyebutkan keutamaan shalat sunnah setelah maghrib sebanyak 6 raka’at:

«مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِتَّ رَكَعَاتٍ لَمْ يَتَكَلَّمْ فِيمَا بَيْنَهُنَّ بِسُوءٍ، عُدِلْنَ لَهُ بِعِبَادَةِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً».

“Siapa yang shalat 6 raka’at setelah maghrib dan tidak melakukan pembicaraan buruk di antara keduanya, maka 6 raka’at tersebut akan dibuat setara dengan ibadah 12 tahun untuknya.” ([13])

Akan tetapi hadits ini sangat lemah. ([14])

Shalat dua raka’at setelah asar

Riwayat tentang shalat ini adalah:

مَا تَرَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّجْدَتَيْنِ بَعْدَ العَصْرِ عِنْدِي قَطُّ

“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan dua sujud (dua raka’at) setelah Ashar sekalipun di sisiku.” ([15])

Dan dalam riwayat lain:

صَلَاتَانِ مَا تَرَكَهُمَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِي قَطُّ، سِرًّا وَلَا عَلَانِيَةً، رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Ada dua shalat yang tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggalkan di rumahnya, baik dengan bacaan sirr maupun jelas; yaitu dua raka’at sebelum subuh dan dua raka’at setelah ashar.” ([16])

Ibnu Hajar menjelaskan tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnah setelah ashar secara terus menerus, bahwa itu adalah kekhususan beliau. ([17])

Total raka’at qobliyyah dan ba’diyyah

Berdasarkan hadits-hadits di atas, total shalat sunnah qobliyyah dan ba’diyyah yang ada berdasarkan hadits yang shohih adalah 22 raka’at, yang muakkadah 12 rakaát, dan yang ghoiru muakkadah 10 rakaát.

Berikut perinciannya:

  Qobliyyah Ba’diyyah
Subuh 2 raka’at
Zuhur 4 raka’at 2 raka’at – 2 raka’at
Ashar 4 raka’at
Maghrib 2 raka’at 2 raka’at
Isya 2 raka’at 2 raka’at

 

Keterangan:

Yang berwarna hijau adalah shalat rawatib muakkadah, totalnya 12 rakaat.

Shalat sunnah Jum’at

Yang dimaksud disini adalah sholat yang dilakukan sebelum dan setelah sholat jum’at.

Sholat sunnah sebelum sholat jum’at

Para ulama berbeda pendapat tentang sholat sunnah yang dilakukan sebelum sholat jum’at, apakah shalat termasuk sunnah rawatib qobliyah (sebelum) Jum’at ataukah tidak? Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan tentang hal ini:

وَأَمَّا سُنَّةُ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا فَلَمْ يَثْبُتْ فِيْهَا شَيْءٌ

Adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.([18])

dan ini dikuatkan dengan dalil-dalil yang ada yang menunjukkan bahwa sholat sunnah sebelum sholat juma’at adalah sholat sunnah muthlak yang dilakukan sebelum imam naik keatas mimbar atau sebelum dikumandangkannya adzan sholat jum’at, dan adzan sholat jum’at di zaman Nabi hanya 1 kali, diantara dalil yang menunjukan bahwa yang dimaksud adalah sholat mutlaq:

عَنْ سَلْمَانَ الفَارِسِيِّ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى»

Dari Salmaan Al Faarisi, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, lalu ia bersuci semampu dia, lalu ia memakai minyak atau ia memakai wewangian di rumahnya lalu ia keluar, lantas ia tidak memisahkan di antara dua jama’ah (di masjid), kemudian ia melaksanakan shalat yang ditetapkan untuknya, lalu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa yang diperbuat antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang lainnya.([19])

Dan juga perbuatan para sahabat di zaman Umar ibn Al-Khottob -radhiyallahu ‘anhu-

أَنَّهُمْ كَانُوا فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، يُصَلُّونَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، حَتَّى يَخْرُجَ عُمَرُ

mereka di zaman ‘Umar bin Al Khottob melakukan shalat (sunnah) pada hari Jum’at hingga keluar ‘Umar (yang bertindak selaku imam) ([20])

Dan secara logika juga bagaimana bisa terbayangkan ada shalat qobliyah jumát. Karena shalat qobliyah waktu mengerjakannya adalah jika telah masuk waktu shalat. Sementara di zaman Nabi, Abu Bakar, dan Umar adzan Jumát tidak dikumandangkan kecuali hanya sekali, dan itu ketika khotib naik mimbar dan setelah adzan khothib langsung berkhutbah. Jika ada shalat qobliyah maka mestinya setelah adzan sang imam (khothib) shalat qobliyah terlebih dahulu baru naik mimbar. Atau setelah adzan para jamaáh shalat qobliyah dahulu sementara khothib sudah mulai khutbahnya. Karenanya di zaman Nabi shallallahu álaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar bin al-Khottoob tidak terbayangkan adanya shalat qobliyah Jumát. Yang benar adalah shalat muthlaq sebelum jumát hingga imam atau khothib naik mimbar. Wallahu a’lam.

Sholat sunnah setelah sholat jum’at

Adapun sholat sunnah setelah sholat jumat maka telah datang penjelasannya dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun jumlah rakaatnya adalah 2 atau 4 raka’at berdasarkan Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللهِ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ،

“dari Abdullah Ibn Umar, Jika Ibnu ‘Umar melaksanakan shalat Jum’at, setelahnya ia melaksanakan shalat dua raka’at di rumahnya. Lalu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan seperti itu.” ([21])

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا»

Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at, maka lakukanlah shalat setelahnya empat raka’at.” ([22])

Para ulama berselisih dalam mengkompromikan kedua hadits ini :

Pendapat pertama :  Shalat ba’diyah 2 rakát sebagaimana perbuatan Ibnu Umar radhiallahu ánhumaa.

Pendapat kedua : Disunnahkan shalat 4 rakát, dan ini diriwayatkan dari Ibnu Masúd (lihat Mushonnaf Ibni Abi Syaibah 2/40-41) dan ini adalah pendapat al-Hanafiyah (lihat Roddul Muhtaar 2/12-13) dan pilihan al-Imam Asy-Syafií (lihat al-Umm 1/164)

Pendapat Ketiga : Silahkan memilih, apakah 2 rakaat atau 4 rakaat. Ini adalah pendapat Imam Ahmad (lihat al-Mughni 2/269)

Pendapat Keempat : Dianjurkan shalat 6 raka;at, dan diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asyári, Áthoo’, Mujaahid, dan at-Tsauri (lihat Al-Mughni 2/269)

Pendapat Kelima : Dirinci, jika shalat di masjid maka shalatnya 4 rakaát, dan jika shalat di rumah maka 2 rakát saja. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim (lihat Zaadul Maáad 1/425)

Dari sini diketahui bahwa perkaranya lapang, bisa shalat 2 rakaat atau 4 rakaát. Wallahu álam.

Permasalahan

Waktu pelaksanaan

Batas waktu mengerjakan shalat sunnah qobliyyah adalah dimulai ketika sudah masuk waktu shalat fardhu nya sampai ditegakkan shalat fardhu tersebut. Adapun shalat sunnah ba’diyyah dimulai ketika selesai shalat fardhu tersebut sampai waktu shalat tersebut habis. ([23])

Qodhoshalat rowatib

Mengqodho shalat sunnah rowatib hukumnya boleh, ([24]) berdasarkan beberapa hadits berikut:

  1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

“Siapa yang belum shalat dua raka’at sebelum Shubuh, maka hendaklah ia mengerjakannya setelah terbitnya matahari.” ([25])

  1. Hadits Ummu Salamah

يَا بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ، سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ العَصْرِ، وَإِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ القَيْسِ، فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ فَهُمَا هَاتَانِ

“Wahai puteri Abu Umayah (maksudnya Ummu Salamah), engkau menanyakan tentang dua rakaat setelah shalat Ashar. Sesungguhnya orang-orang dari kabilah Abdil-Qais datang menemuiku, yang menyebabkan aku tidak sempat melaksanakan dua rakaat tersebut setelah Zuhur. Maka kedua rakaat tersebut adalah yang aku lakukan ini.” ([26])

  1. Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْر،ِ صَلاَّهُنَّ بَعْدَهُ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat rawatib 4 raka’at sebelum Zhuhur, maka beliau melakukannya setelah shalat Zhuhur.” ([27])

  1. Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَامَ عَنِ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَ وَإِذَا اسْتَيْقَظَ

“Siapa yang ketiduran sehingga terluput dari shalat witir atau lupa mengerjakannya, maka kerjakanlah shalat tersebut ketika ingat atau ketika bangun.” ([28])

Tempat pelaksanaan

Tempat paling utama untuk mengerjakan shalat sunnah adalah di rumah dan shalat rawatib termasuk shalat sunnah.

Dalilnya:

adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zaid Bin Tsabit bahwa Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda:

«قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ، فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ»

“Aku sudah tahu apa yang aku lihat dari perbuatan kalian, wahai manusia shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” ([29])

Dan juga riwayat lain dari Ibnu Umar:

«اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا»

“Jadikanlah shalat-shalat (sunnah) kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan menjadikan (rumah-rumah kalian) seperti kuburan.” ([30])

Dan juga terdapat riwayat dari Jabir:

«إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ، فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا»

“Jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di masjidnya, maka hendaklah ia memberi jatah shalat bagi rumahnya. Karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan dalam rumahnya melalui shalatnya.” ([31])

Hikmahnya:

Hikmah mengerjakan shalat sunnah di rumah adalah lebih mendekati keikhlasan. ([32])

Shalat rowatib ketika safar

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam ketika safar tidak pernah mengerjakan shalat sunnah kecuali shalat witir dan sunnah fajar. ([33])

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah:

«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ»

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjaga shalat sunnah yang lebih rutin dibandingkan dua raka’at sebelum subuh.” ([34])

Iqomat dikumandangkan saat mengerjakan shalat rowatib

Syaikh Bin Baz pernah ditanya tentang seseorang yang sudah memulai shalat sunnah kemudian dikumandangkan iqomat, beliaupun menjawab:

“Apabila shalat telah ditegakkan dan ada sebagian jama’ah sedang melaksanakan shalat tahiyatul masjid atau shalat rawatib, maka disyari’atkan baginya untuk memutus shalatnya dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat fardhu.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

«إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة»

“Apabila dikumandangkan iqomat maka tidak ada shalat kecuali shalat fardhu“…

Akan tetapi seandainya shalat telah ditegakkan dan seseorang sedang berada pada posisi rukuk di rakaat yang kedua, maka tidak mengapa untuk menyelesaikan shalatnya.

Karena shalatnya segera berakhir pada saat shalat fardhu baru terlaksana kurang dari satu rakaat” ([35])

Mengangkat tangan untuk berdoa setelah shalat rowatib

Berkata Syaikh Bin Baz rahimahullah:

“Jika dilakukan setelah mengerjakan shalat wajib maka kami tidak mengetahui dasarnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai dari shalat wajib tidak mengangkat kedua tangannya, demikian juga para sahabat.

Adapun pada shalat-shalat sunnah rowatib maka tidak mengapa, selama tidak dilakukan terus-menerus dan hanya dikerjakan sesekali, karena tidak diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya setelah shalat sunnah secara terus-menerus.” ([36])

Kapan Mengerjakan Shalat Rawatib Jika Shalat Fardhu Dijama’?

Jika seorang menjamak dua shalat, maka tidak boleh memisah antara keduanya dengan shalat rawatib. Jika ingin mengerjakan shalat rawatib maka dikerjakan sebelum menjamak atau setelahnya.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang cara mengerjakan shalat sunnah rawatib jika seorang mengerjakan shalat zhuhur dan ashar dengan jama’:

وَمَذْهَبُنَا اسْتِحْبَابُ السُّنَنِ الرَّاتِبَةِ لَكِنْ يَفْعَلُهَا بَعْدَهُمَا لَا بَيْنَهُمَا ويفعل سنة الظهر التي قبلها قبل الصَّلَاتَيْنِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Madzhab kami adalah mustahab mengerjakan shalat shalat sunnah rowatib, akan tetapi dikerjakan setelah kedua shalat fardhu dijama’ dan tidak dilakukan di antara keduanya. Dan shalat sunnah rawatib qobliyah dzuhur dikerjakan sebelum kedua shalat fardhu tersebut dijama’, wallahu a’lam.” ([37])

Beliau juga menjelaskan ketika seseorang menjamak shalat maghrib dan isya:

وَفِي جَمْعِ الْعِشَاءِ وَالْمَغْرِبِ يُصَلِّي الْفَرِيضَتَيْنِ ثُمَّ سُنَّةَ الْمَغْرِبِ ثُمَّ سُنَّةَ الْعِشَاءِ ثُمَّ الْوِتْرَ

“Dalam menjamak shlat isya dan maghrib, ia mengerjakan keduanya lalu sunnah ba’diyyah maghrib kemudian sunnah ba’diyyah isya, kemudian witir.” ([38])

FOOTNOTE:

([1]) At-Ta’riifaat Al-Fiqhiyyah, Muhammad ‘Amim Al-Ihsan 1/106

([2]) Hr. At-Tirmidzy No. 414

([3]) Hr. At-Tirmidzy No. 414

([4]) HR. Bukhori 2/58 no. 1180

([5]) Khilaf dalam jumlah bilangan shalat rowatib:

Terdapat dua hadits yang zhohirnya terlihat bertentangan, yaitu hadits ‘Aisyah ketika ia menjelaskan tentang shalat sunnah rowatib yang berjumlah 12 raka’at:

أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الفَجْرِ

“Empat raka’at sebelum zhuhur dan 2 rak’at setelahnya, 2 raka’at setelah maghrib, 2 raka’at setelah ‘isya, dan 2 raka’at sebelum fajar.” (HR. Tirmidzi No. 414, dan hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani)

Yang kedua hadits dari Ibnu Umar yang zhohirnya menjelaskan bahwasanya sholat rowatib berjumlah 10 raka’at, beliau berkata:

«حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

“Aku hafal 10 raka’at dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yaitu: 2 raka’at sebelum zhuhur, 2 raka’at setelahnya, 2 raka’at setelah maghrib di rumahnya, 2 raka’at setelah isya dirumahnya, dan 2 raka’at sebeum subuh.” (HR. Bukhori No. 1180)

Keduanya adalah hadits yang shohih.

Ibnu Hajar menyebutkan beberapa kemungkinan untuk menggabungkan kedua hadits ini:

Pertama: Hadits Ibnu Umar bahwa sebelum zhuhur 2 raka’at, dan dalam  hadits ‘Aisyah 4 raka’at, maka ini menunjukkan bahwa masing-masing dari mereka berdua mensifati apa yang dilihat.

Kedua: Ada kemungkinan bahwa Ibnu Umar lupa 2 raka’at dari 4 raka’at tersebut. Tetapi aku (Ibnu Hajar) katakan: ini adalah kemungkinan yang jauh.

Ketiga: Yang lebih utama adalah dibawa pada dua keadaan; terkadang beliau shalat 2 rakaat dan terkadang beliau shalat 4 raka’at.

Keempat: Kemungkinan bahwa beliau memperpendek dengan 2 raka’at jika di masjid dan 4 raka’at jika di rumah.

Kelima: Kemungkinan beliau apabila di rumah shalat 2 raka’at kemudian keluar menuju masjid lalu shlat 2 raka’at lagi, dan Ibnu Umar melihat apa yang dikerjakan di masjid tanpa melihat apa yang dikerjakan di rumah, sedangkan ‘Aisyah melihat keduanya.

Yang menguatkan kemungkinan pertama adalah riwayat Ahmad dan Abu Dawud dalam Hadits Aisyah bahwasanya beliau shalat di rumah sebelum zhuhur 4 raka’at, kemudian keluar.

Keenam: Berkata Abu Ja’far At-Thobari: 4 raka’at dikerjakan sering, adapun 2 raka’at dikerjakan jarang. (Lihat Fathul Bari 3/58-59)

([6]) HR. Muslim 1/502 No. 728, di antara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ummu Habibah, Anbasah Ibn Abi Sufyan, ‘Amr Ibn Aus, dan An-Nu’man Ibn Salim -radhiyallahu ‘anhum-

([7]) HR. Muslim 1/503 No. 728

([8]) HR. Bukhori 1/128 No. 627 dan Muslim 1/573 No. 838

([9]) HR. An-Nasai No. 1817, dishohihkan oleh al-Albani

([10]) HR. At-Tirmidzi No. 428, dishohihkan oleh al-Albani

([11]) HR. Abu Dawud 2044 dalam musnadnya, hadist ini shohih karena semua perowinya tsiqoh, akan tetapi sebagian para ulama mempermasalahkan lafaz tambahan “siang” bahkan dikatakan oleh an-Nasai bahwa perowinya salah pada tambahan ini. (Musnad Imam Ahmad 8/410)

Dan dikatakan oleh Al-Baihaqi bahwa imam Muslim berhujjah dengan riwayat Ali al-Azdi dan tambahan dari tsiqoh itu diterima. (Lihat al-khilafiyyaat bainal imamain Asy-Syafi’i wa Abi Hanifah wa ashaabihi 3/356).

([12]) HR. Abu Dawud No. 2048. Dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam musnadnya No. 5980, dan dikatakan bahwa sanad hadits ini hasan, syaikh Al-Albani juga mengatakan bahwa hadits ini hasan (lihat sunan Abu Dawud no 1271), At-Tirmidzi pun dalam sunannya 1/556 mengatakan: “ini adalah hadits ghorib hasan”, dan hadits ini dishohihkan oleh Ibnu Hibban, dan dalam catatan kakinya dikatakan sanadnya hasan, di dalamnya terdapat perowi bernama Muhammad bin Mahron dan dikatakan oleh ad-Daruquthni: tidak mengapa, dan berkata Abu Zur’ah: tsiqoh.

Lajnah daimah pun menetapkan bahwa 4 rakaat tersebut mustahab:

Tidak mengapa mengerjakan shalat 4 raka’at sebelum ashar bahkan hal ini adalah mustahab, karena telah datang hadits shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata: “Semoga Allah merahmati seseorang yang melakukan shalat 4 raka’at sebelum ashar”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan dihasankannya, dan mustahab untuk melakukan shalat tersebut melakukan salam di setiap 2 raka’at, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat sunnah di malam hari dan di siang hari dua raka’at dua raka’at”. Diriwayatkan oleh imam Ahmad dan imam sunan yang 4 dengan sanad yang shohih. (Fatawa Lajnah Daimah 6/123)

Syaikh Bin Baz juga pernah ditanya tentang 4 raka’at sebelum ashar, beliau menjawab:

وهذه ليست راتبة، ولكنها مشروعة؛ لأن الرسول ندب إليها عليه الصلاة والسلام، ودعا لصاحبها

Ini bukan termasuk shalat sunnah rowatib, akan tetapi ia disyariatkan karena Rasulullah mensunnahkan untuk melakukannya dan mendoakan orang yang mengamalkannya.” (Fatawa nuur ‘ala ad-darb 10/317)

([13]) HR. Ibnu Majah no. 1167, At-Tirmidzi no 435

([14]) HR. Ibnu Majah no. 1167, At-Tirmidzi no 435

Imam Al-Baghowi menukilkan beberapa perkataan ulama yang menjelaskan kedudukan hadits ini:

قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلا مِنْ حَدِيثِ زَيْدِ بْنِ حُبَابٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي خَثْعَمٍ

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ: عُمَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي خَثْعَمٍ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، وَضَعَّفَهُ جِدًّا

“Berkata Abu Isa: Ini adalah hadits yang ghorib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Zaid bin Hubab dari Umar Bin Abi Khots’am. Berkata Muhammad Bin Isma’il: Umar Bin Abdullah bin Abi Khots’am haditsnya mungkar dan dia (Muhammad Bin Isma’il) sangat melemahkannya.” (Syarhu As-Sunnah Karya Al-Baghowi 3/473)

Dan juga dari Muhammad Bin Ammar dari ayahnya dari kakeknya:

رَأَيْتُ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ، صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِتَّ رَكَعَاتٍ، فَقُلْتُ: يَا أَبَهْ، مَا هَذِهِ الصَّلَاةُ؟ قَالَ: رَأَيْتُ حَبِيبِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِتَّ رَكَعَاتٍ، وَقَالَ: «مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِتَّ رَكَعَاتٍ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ»

“Aku melihat ‘Ammar Bin Yasir shalat 6 raka’at setelah maghrib, maku akupun bertanya: wahai ayahku shalat apa ini? Ia pun menjawab: aku melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 6 rak’at setelah maghrib, lalu beliau bersabda: Barangsiapa shalat 6 raka’at setelah maghrib maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ath-Thobroni dalam Mu’jam Al-Awsath no. 7245)

Namun hadits ini lemah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Haitsami:

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الثَّلَاثَةِ وَقَالَ: تَفَرَّدَ بِهِ صَالِحُ بْنُ قَطَنٍ الْبُخَارِيُّ، قُلْتُ: وَلَمْ أَجِدْ مَنْ تَرْجَمَهُ

“Diriwayatkan oleh At-Thobroni dan ia berkata: Sholih Bin Quthn Al-Bukhori menyendiri dalam hadits ini. Akupun berkata: Aku belum mendapati ada yang mendeskripsikannya (memaparkan biografinya).” (Majma’ Az-Zawaid Wa Manba’ Al-Fawaid 2/230)

([15]) HR. Bukhori No. 591

([16]) HR. Muslim No. 835

([17]) Beliau mengatakan:

وَأَمَّا مُوَاظَبَتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ فَهُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ

“Adapun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerusnya melakukan hal tersebut maka itu termasuk dari kekhususan beliau.” (Fathul Bari 2/64)

([18]) Fathul Bari 2/426

([19]) HR. Bukhori  2/3 mo 883

([20]) al-muwattho 1/103

([21])  HR. Muslim 2/600 no, 882

([22]) HR. Muslim 2/600 no, 881

([23]) Ibnu Qudamah berkata:

” كل سنة قبل الصلاة فوقتها من دخول وقتها إلى فعل الصلاة، وكل سنةٍ بعدها فوقتها من فعل الصلاة إلى خروج وقتها ”

“Seluruh shalat sunnah qobliyyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu shalat hingga ditegakkannya shalat, dan seluruh shalat sunnah ba’diyyah makan waktunya dari selesai shalat hingga habis waktunya.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah 2/95)

([24]) Khilaf pada qodho rowatib

Pendapat pertama: Semua shalat sunnah rowatib bisa diqodho walaupun di waktu terlarang. Berdasarkan beberapa hadits secara umum maupun khusus yang menyebutkan adanya qodho shalat rowatib.

Secara umum ketika seseorang terlupa terhadap suatu shalat maka boleh baginya untuk mengqodho shalat tersebut, hal ini berdasarkan hadits Anas Bin Malik:

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا، لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ قَالَ قَتَادَةُ: وَ {أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي}

“Siapa yang lupa terhadap suatu shalat maka hendaknya ia kerjakan jika ia mengingatnya, dan tidak ada kaffaroh untuknya kecuali itu. Berkata Qotadah: {dan tegakkanlah shalat untuk mengingatku} QS. Thaha 14.” (HR. Muslim No. 684)

Sisi pendalilannya adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata shalat dengan bentuk nakiroh yang menunjukkan keumuman, sehingga shalat sunnah rowatib masuk ke dalam keumuman lafaz ini.

Adapun secara khusus, Hadits Ummu Salamah ketika Rasulullah shalat dua raka’at setelah ashar, beliaupun menjawab:

»يَا بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ، سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ العَصْرِ، وَإِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ القَيْسِ، فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ فَهُمَا هَاتَانِ«

“Wahai puteri Abu Umayah (maksudnya Ummu Salamah), engkau menanyakan tentang dua rakaat setelah shalat Ashar. Telah datang menemuiku orang-orang dari kabilah Abdil-Qais, sehingga aku tidak sempat melaksanakan kedua rakaat tersebut setelah Zuhur. Maka itulah kedua rakaat (yang aku lakukan setelah shalat Ashar).” (HR. Bukhāri No. 1233)

Dan dalil secara khusus juga, pernah terjadi pada zaman Rasulullah tertidur dari shalat subuh, diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

إِذْ كُنَّا قَدْ رَأَيْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا نَامَ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ صَلَّى حِينَ حَلَّتِ الصَّلَاةُ لَهُ بَعْدَ آذَانِ بِلَالٍ لَهَا رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ، ثُمَّ صَلَّى صَلَاةَ الْفَجْرِ

“Kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur dari shalat subuh hingga matahari terbit, kemudian beliau shalat dua raka’at sunnah subuh setelah adzan Bilal kemudian shalat subuh.” (Syarhu Musykilil Atsar no. 4132)

Dan juga hadits ‘Abdurrahman Bin Abu Layla:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَاتَتْهُ أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ، صَلَّاهَا بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika luput darinya shalat sunnah empat raka’at sebelum zhuhur, maka beliau kerjakan setelah zhuhur.” (Mushonnaf Ibnu Abu Syaibah no. 5973)

Sisi pendalilannya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang disebutkan di atas mengqodho shalat sunnah subuh dan shalat sunnah zhuhur, maka sunnah-sunnah rowatib yang lain pun bisa di qiyaskan.

Juga perbuatan sahabat Qois:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ»

Rasullullah keluar (dari rumah), lalu iqamat di kumandangkan, maka aku shalat shubuh bersama beliau, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak (setelah selesai shalat) dan mendapatiku melaksanakan shalat (lagi), lalu beliau menegurku: “Sebentar wahai Qais, apakah engkau melakukan dua kali shalat bersamaan? Lalu aku menjawab: “Wahai Rasulullah, aku belum melaksanakan shalat sunnah dua rakaat (sebelum) shubuh. “Nabi bersabda: “Kalau begitu tidak mengapa.” (HR. At-Tirmidzi no 422, dan hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani).

Berkata imam An-Nawawi: “Telah kami sebutkan bahwa yang shohih menurut madzhab kami adalah qodho nafilah rowatib mustahab, dan ini adalah pendapat Muhammad, Al-Muzani, dan salah satu riwayat Ahmad. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 4/43)

Al-Mirdawi menjelaskan tentang shalat-shalat sunnah rowatib: “Dan barang siapa terluput darinya shalat-shalat sunnah ini maka disunnahkan untuk mengqodhonya”. (Al-Inshof fii ma’rifati ar-roojih minal khilaf 2/177)

Dan ini pendapat yang dipilih oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana yang dijelaskan  ketika ada yang menanyakan kepada beliau: Apakah shalat-shalat sunnah rowatib diqodho?

Beliau menjawab: Adapun jika shalat rowatib telah luput, seperti rowatib zhuhur, maka apakah diqodho setelah ashar? Terdapat dua pendapat dan semuanya ada riwayat dari Imam Ahmad, salah satunya: tidak diqodho dan ini adalah madzhab Abu Hanifah dan Malik. Kedua: diqodho, ini adalah perkataan imam Asy-Syafi’i. Dan dia lebih kuat. Wallahu a’lam. (Majmu’ Al-fatawa 23/127)

Pendapat kedua: shalat sunnah rowatib tidak bisa diqodho. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, dan Abu Yusuf dalam riwayat yang paling masyhur dari keduanya.

([25]) HR. Tirmidzi no. 423. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini.

([26]) HR. Bukhāri no. 1233

([27]) HR. Tirmidzi no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

([28]) HR. Tirmidzi no. 465 dan Ibnu Majah no. 1188. Syaikh Al Albani menshahihkan.

([29]) HR. Bukhori no. 731

([30]) HR. Bukhori no. 423. Imam Bukhāri memasukkan hadits ini dalam bab “At-Tathawwu’ fil bait”.

([31]) HR. Muslim no. 778

([32]) Ibnu Qudamah menjelaskan alasan mengapa shalat di rumah lebih baik:

وَالتَّطَوُّعُ فِي الْبَيْتِ أَفْضَلُ…. وَلِأَنَّ الصَّلَاةَ فِي الْبَيْتِ أَقْرَبُ إلَى الْإِخْلَاصِ. وَأَبْعَدُ مِنْ الرِّيَاءِ، وَهُوَ مِنْ عَمَلِ السِّرِّ، وَفِعْلُهُ فِي الْمَسْجِدِ عَلَانِيَةٌ وَالسِّرُّ أَفْضَلُ

“dan shalat sunnah di rumah lebih utama, … karena shalat di rumah lebih mendekati keikhlasan, lebih jauh dari riya’, dan termasuk amalan tersembunyi karena mengerjakannya di masjid adalah perbuatan terang-terangan, dan amalan yang tersembunyi lebih utama (dari amalan terang-terangan).” (Al-Mughni libni Qudamah 2/104)

([33]) Berkata Ibnul Qoyyim:

وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرِهِ الِاقْتِصَارُ عَلَى الْفَرْضِ، وَلَمْ يُحْفَظْ عَنْهُ أَنَّهُ صَلَّى سُنَّةَ الصَّلَاةِ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا إِلَّا مَا كَانَ مِنَ الْوِتْرِ، وَسُنَّةِ الْفَجْرِ فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَدَعَهُمَا حَضَرًا وَلَا سَفَرًا

“dan termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safarnya adalah hanya mencukupkan dengan shalat yang wajib saja, dan tidak ada penukilan bahwasanya beliau melakukan shalat sunnah qobliyyah dan ba’diyyah kecuali shalat witir dan shalat sunnah fajar, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah meninggalkannya ketika mukim maupun safar.” (Zaadul Ma’aad 1/456)

([34]) HR. Muslim no. 724

([35]) Majmu’ Fatawa Bin Baz 11/392

([36]) Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb, Ibnu Baz No. 158

([37]) Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim 9/31

([38]) Roudhoh at-Tholibin wa Umdah Al-Muftin 1/402