Sunnah-Sunnah Dalam Shalat

Sunnah-Sunnah Dalam Shalat

1. Mengangkat Kedua Tangan

Mengangkat Kedua Tangan Saat Takbiratul Ihram

Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram adalah sunnah. ([1]) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau sejajar dengan kedua bahu beliau ketika memulai shalat, dan jika bertakbir untuk ruku’. Dan ketika bangkit dari ruku’, beliau mengangkat keduanya pula seraya mengucapkan: ‘sami’allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamdu’. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan itu saat dujud. ([2])

Mengangkat Kedua Tangan Saat Ruku’ dan Bangkit darinya

Mengangkat kedua tangan saat hendak ruku’ dan bangkit dari ruku’ adalah sunnah. ([3]) Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang telah dijelaskan sebelumnya, dan hadits Abu Humaid As-Sa’idiy radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالُوا: فَلِمَ؟ فَوَاللَّهِ مَا كُنْتَ بِأَكْثَرِنَا لَهُ تَبَعًا وَلَا أَقْدَمِنَا لَهُ صُحْبَةً، قَالَ: بَلَى، قَالُوا: فَاعْرِضْ، قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يَقِرَّ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا، ثُمَّ يَقْرَأُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ فَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ يَرْكَعُ وَيَضَعُ رَاحَتَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ فَلَا يَصُبُّ رَأْسَهُ وَلَا يُقْنِعُ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، فَيَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، ثُمَّ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ مُعْتَدِلًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَهْوِي إِلَى الْأَرْضِ فَيُجَافِي يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا، وَيَفْتَحُ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ إِذَا سَجَدَ، وَيَسْجُدُ ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ إِلَى مَوْضِعِهِ، ثُمَّ يَصْنَعُ فِي الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ كَمَا كَبَّرَ عِنْدَ افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ، ثُمَّ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي بَقِيَّةِ صَلَاتِهِ حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ قَالُوا: صَدَقْتَ هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku adalah orang yang paling mengerti shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka para sahabat bertanya: karena apa? Demi Allah, kamu bukanlah orang yang paling sering mengikuti Rasulullah seperti kami, bukan juga orang yang paling dahulu bersahabat dengan beliau. Dia berkata: Benar. Mereka berkata: Jelaskanlah.! Maka dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mendirikan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya. Kemudian bertakbir hingga kembali sendi-sendi tulangnya pada tempatnya dengan tegak. Kemudian beliau membaca, kemudian bertakbir seraya mengangkat kedua tangannya hingga sejajar hingga kedua bahunya, kemudian ruku’dan meletakkan kedua tangannya di atas lututnya dengan tegak dan lurus, tidak mendongakkan kepalanya ataupun menunduk. Kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah’, kemudian mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya dengan menegakkan badannya. Kemudian mengucapkan ‘Allahu Akbar’ dan menurunkan tubuhnya ke tanah, lalu membentangkan kedua tangannya ke dua sisi. Kemudian mengangkat kepalanya dan melipat kaki kirinya dan duduk di atasnya. Dan membuka jari jemari kedua kakinya ketika sujud dan beliau sujud. Kemudian mengucapkan: ‘Allahu Akbar’, mengangkat kepalanya, melipat kaki kirinya dan duduk di atasnya hingga kembali tiap-tiap sendi tulangnya pada tempatnya. Kemudian beliau melakukan hal yang serupa pada rakaat berikutnya. Kemudian ketika bangkit dari rakaat kedua beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya sebagaimana bertakbir ketika memulai shalat. Kemudian beliau melakukan itu di sisa shalatnya hingga pada saat sujud yang terakhir beliau mengundurkan kaki kirinya dan duduk tawarruk di atas sisi kirinya. Maka para sahabat berkata: kamu benar, begitulah cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ([4])

Mengangkat Kedua Tangan Saat Bangkit dari Tasyahhud Awal

Dianjurkan pula mengangkat tangan ketika bangkit dari tasyahhud awal. ([5]) Berdasarkan hadits Abu Humaid As-Sa’idiy radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا قَامَ مِنَ السَّجْدَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، كَمَا صَنَعَ حِينَ افْتَتَحَ الصَّلَاةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangkit dari dua sujud beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, sebagaimana yng telah dilakukannya ketika memulai shalat. ([6])

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’.

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَفَعَ يَدَيْهِ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ

Sesungguhnya Ibnu Umar jika memulai shalat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, ketika ruku’ beliau mengangkat tangannya, ketika mengucapkan sami’allahu liman hamidah beliau mengangkat tangannya dan ketika bangkit dari dua rakaat, beliau mengangkat tangannya. ([7])

Mengangkat Kedua Tangan Sebatas Pundak atau telinga

Termasuk hal yang dianjurkan dalam gerakan mengangkat tangan ketika shalat adalah mengangkat kedua tangan hingga batas kedua Pundak atau kedua telinga. ([8]) Berdasarkan hadits Malik bin Al-Huwairits:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ

Sesungguhnya Rasulullah apabila bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya, apabila ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya, apabila bangkit dari ruku’ dan mengucapkan sami’allahu liman hamidah, beliau melakukan hal yang serupa. ([9])

Dan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Humaid As-Sa’idiy berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يَقِرَّ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا، ثُمَّ يَقْرَأُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ فَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، ثُمَّ يَرْكَعُ وَيَضَعُ رَاحَتَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ فَلَا يَصُبُّ رَأْسَهُ وَلَا يُقْنِعُ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، فَيَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، ثُمَّ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ مُعْتَدِلًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mendirikan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya. Kemudian bertakbir hingga kembali sendi-sendi tulangnya pada tempatnya dengan tegak. Kemudian beliau membaca, kemudian bertakbir seraya mengangkat kedua tangannya hingga sejajar hingga kedua bahunya, kemudian ruku’dan meletakkan kedua tangannya di atas lututnya dengan tegak dan lurus, tidak mendongakkan kepalanya ataupun menunduk. Kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah’, kemudian mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya dengan menegakkan badannya. ([10])

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا

Sesungguhnya Rasulullah mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika bertakbir memulai shalat, ketika hendak ruku’ dan ketika bangkit dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya seperti itu juga. ([11])

Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa bagi orang yang shalat dibolehkan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahu atau sejajar dengan kedua telinga, artinya hendaknya ujung jari-jemarinya sampai dengan batas kedua bahu atau kedua telinga. Keduanya diriwayatkan dari Rasulullah.

Dan beliau lebih condong kepada mengangkat kedua tangan hingga kedua bahu, sebagaimana hadits Ibnu Umar. Apabila seseorang condong kepada mengangkat hingga batas kedua telinga, maka itu juga dibolehkan. Beliau lebih memilih hadits Ibnu Umar karena perawinya lebih banyak dan lebih dekat dengan Nabi. Dibolehkan mengamalkan yang lain karena riwayat haditsnya juga shahih. Dan hal ini menunjukkan dianjurkan untuk mengamalkan salah satu dari keduanya pada satu kesempatan dan mengamalkan yang lain pada kesempatan yang lain. ([12])

2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (sedekap)

Termasuk sunnah-sunnah dalam shalat adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada saat selesai dari takbiratul ihram. ([13])

Berdasarkan hadits Sahl bin Sa’d berkata:

كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ اليَدَ اليُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ اليُسْرَى فِي الصَّلاَةِ

Orang-orang diperintahkan agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya ketika shalat. ([14])

Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu.

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ، ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ، ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى

Sesungguhnya dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam megangkat kedua tangannya ketika masuk shalat seraya bertakbir. Kemudian menutupkankan kain bajunya dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. ([15])

ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ ([16]) وَالسَّاعِد

Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kirinya, pergelangan tangannya dan tulang lengan bawah. ([17])

3. Membaca Do’a Istiftah

Termasuk sunnah-sunnah shalat adalah membaca doa iftitah ketika selesai bertakbir takbiratul ihram. ([18]) Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ القِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً – قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ: هُنَيَّةً – فَقُلْتُ: بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ؟ قَالَ: ” أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَد

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam sejenak antara takbir dan membaca (surat Al-Fatihah). Maka aku berkata: Dengan Ayahku dan Ibuku sebagai tebusan wahai Rasulullah, apa yang engkau baca ketika diam sejenak antara takbir dan membaca surat Al-Fatihah? Beliau bersabda: Aku mengucapkan: ‘Allahumma baa’id bainiy wa baina khataayaaya kamaa baa’adta bainal maaasyriqi wal maghribi, Allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas, Allahumma ighsil khathaayaaya bil ma’i wa ats-tsalji wal barad’ (Ya Allah jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara ufuk timur dan ufuk barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, basuhlah hilangkanlah dosa-dosaku dengan air, salju nan dingin). ([19])

4. Membaca Do’a Isti’adzah

Disunnahkan pula membaca Al-Isti’adzah di dalam shalat. ([20]) Berdasarkan firman Allah azza wa jalla:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. ([21])

Sisi pendalilan dalam ayat ini menunjukkan bahwa perintah membaca isti’adzah setiap sebelum membaca Al-Qur’an, dan tidak dibedakan antara keadaan shalat ataupun dalam keadaan yang lain. ([22])

Disyariatkan membaca isti’adzah setiap sebelum membaca Al-Qur’an. ([23]) Karena sejatinya di dalam ayat tersimpan makna ‘iraadah’ yang berarti hendak. Maka ayat tersebut memiliki arti: Apabila kamu ‘hendak’ membaca Al Quran, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Begitu pula isti’adzah disyariatkan untuk mencegah was-was yang muncul dari syaithan. Untuk menghalangi was-was yang muncul, maka hendaknya diucapkan sebelum membaca Al-Qur’an. ([24])

5. Membaca Basmalah dengan lirih saat shalat jahr

Disunnahkan membaca basmalah yaitu (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ) dengan lirih di dalam shalat sebelum membaca surat Al-Fatihah dan surat-surat yang lain. ([25]) Hal itu berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

صَلَّيْتُ خَلَفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا يَذْكُرُونَ {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا

Aku shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Abu Bakar, Umar dan Utsman. Mereka membaca dengan mengawali ‘Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin’ dan tidak mengucapkan ‘Bismillahhirrahmanirrahim’ di awal surat maupun di akhir surat. ([26])

Al-Aswad berkata: Aku shalat di belakang Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu tujuh puluh kali shalat, namun tidak mengeraskan ‘Bismillahirrahmanirrahim’. ([27])

Tidak mungkin Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaan basmalah pada shalat lima waktu dalam sehari dan seterusnya, dalam keadaan muqim maupun berpergian, namun khulafa’ur rasyidin, para sahabat dan penduduk negeri tidak mengetahui hal itu. ([28])

6. Mengucapkan Aamiin

Disunnahkan mengucapkan ‘Aamiin’ ketika selesai dari membaca surat Al-Fatihah, baik bagi imam, makmum ataupun orang yang shalat sendiri. ([29]) Berdasarkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ، فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Jika Imam mengucapkan ‘Aamiin’, maka ucapkanlah ‘Aamiin’. Sesungguhnya barang siapa yang dapat menepati ucapan ‘Aamiin’nya menepati dengan ucapan ‘Aamiin’nya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ([30])

Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَالَ الإِمَامُ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Jika Imam membaca ‘Ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laaddhaalliin’ maka ucapkan ‘Aamiin’. Sesungguhnya barang siapa yang ucapan ‘Aamiin’nya menepati dengan ucapan ‘Aamiin’nya malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ([31])

Secara umum dari hadits di atas menunjukkan sunnahnya mengucapkan ‘Aamiin’ ketika selesai dari membaca surat Al-Fatihah. Dan hendaknya imam mengeraskan bacaan ‘Aamiin’. Seandainya imam tidak mengeraskan bacaannya maka sulit bagi makmum untuk mengucapkan ‘Aamiin’ bersamaan dengan imam. ([32])

 Diriwayatkan Ibnu Juraij berkata: Aku berkata kepada ‘Atha’: Apakah Ibnu Zubair mengucapkan ‘Aamiin’ setelah membaca Al-Fatihah? Maka beliau menjawab: benar, dan makmum yang berada di belakangnya ikut mengucapkan ‘Aamiin’, hingga masjid bergemuruh karenanya. ([33])

Waktu dan Tata caranya

Dapat dipahami bahwa waktu mengucapkan ‘Aamiin’ bagi imam, makmum dan orang yang shalat sendiri adalah ketika seorang imam selesai membaca ‘Wa laaddhaalliin’. Bagi makmum hendaknya mengiringi bacaan Aaminn’ dan tidak mendahuluinya. Hendaknya seorang yang shalat mengeraskan bacaan ‘Aamiin’ ketika shalat jahriyyah (shalat yang dikeraskan bacaannya), dan melirihkannya ketika shalat sirriyyah (shalat yang dilirihkan bacaannya). ([34])

Berdasarkan hadits Wa’il bin Hujr berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ {وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: «آمِينَ»، وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membaca ‘Walaaddhaalliin’, maka beliau mengucapkan: ‘Aamiin’, dan mengeraskan suaranya. ([35])

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan ‘Aamiin’ dengan mengeraskan bacaannya. Dan dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengucapkan ‘Aamiin’ bagi makmum ketika imam mengucapkannya. Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengeraskan bacaan amiin-nya, pasti perawi tidak menjelaskan dalam hadits tersebut bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaannya. Jadi, hukumnya mengucapkan ‘Aamiin’ mengikuti hukum membaca Al-Fatihah, ketika bacaan surat dikeraskan maka bacaan ‘Aamiin’ dikeraskan, jika lirih maka dilirihkan juga. ([36]) Wallahu a’lam. ([37])

7. Membaca ayat Al-Qur’an selain Al-Fatihah

Disunnahkan membaca suatu surat dari Al-Qur’an setelah selesai dari membaca surat Al-Fatihah. Yaitu pada dua rakaat shalat fajar dan dua rakaat yang pertama dari shalat dzuhur, ashar, maghrib dan ashar. ([38]) Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

فِي كُلِّ صَلَاةٍ قِرَاءَةٌ فَمَا أَسْمَعَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَسْمَعْنَاكُمْ، وَمَا أَخْفَى مِنَّا، أَخْفَيْنَاهُ مِنْكُمْ، وَمَنْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ، وَمَنْ زَادَ فَهُوَ أَفْضَلُ

Di setiap shalat ada bacaan. Apa saja yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perdengarkan kepada kami, kami perdengarkan kepada kalian juga. Dan apa yang tidak ditampakkan kepada kami, tidak kami tampakkan kepada kalian. Barang siapa yang membaca Al-Fatihah, maka telah sah shalatnya dan barang siapa yang menambah (bacaan), maka itu lebih baik. ([39])

Bacaan Surat selain Al-Fatihah Yang disunnahkan Dalam Shalat Lima Waktu

Bacaan yang disunnahkan dalam shalat Shubuh

Disunnahkan membaca surat-surat yang panjang pada saat shalat shubuh. ([40]) Berdasarkan hadits Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, berakata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى الْمِائَةِ آيَةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca antara enam puluh sampai seratus ayat dalam shalat fajar. ([41])

Demikian pula hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الصَّلَوَاتِ كَنَحْوٍ مِنْ صَلَاتِكُمُ الَّتِي تُصَلُّونَ الْيَوْمَ، وَلَكِنَّهُ كَانَ يُخَفِّفُ كَانَتْ صَلَاتُهُ أَخَفَّ مِنْ صَلَاتِكُمْ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ الْوَاقِعَةَ وَنَحْوَهَا مِنَ السُّوَرِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat di seluruh shalat sebagaimana shalat kalian hari ini. Akan tetapi beliau meringankan. Shalat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih ringan dari shalat kalian, beliau membaca di surat Al-Waqi’ah dan surat yang semisalnya pada saat shalat fajar. ([42])

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, berkata:

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ بِ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ وَكَانَ صَلَاتُهُ بَعْدُ تَخْفِيفًا

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Qaf dan yang semisalnya pada saat shalat fajar. Lalu shalat beliau setelahnya lebih ringan. ([43])

Salah satu hikmah disunnahkannya membaca surat yang panjang dalam shalat fajar adalah karena shalat fajar hanya dua rakaat, dan pada waktu itu kebanyakan manusia masih terlelap tidur, maka imam shalat dianjurkan memperpanjang bacaannya agar mereka mendapati shalat fajar meskipun terlambat. ([44])

Sebagaimana difirmankan oleh Allah azza wa jalla, bahwa bacaan Al-Qur’an dalam shalat fajar dipersaksikan. Memanjangkan bacaan surat dalam shalat fajar sejatinya menggantikan jumlah rakaat shalat, hingga dijadikannya dua rakaat. Disamping itu, shalat fajar dikerjakan setelah waktu tidurnya manusia. Dan mereka belum disibukkan dengan mencari pencaharian dan hal duniawi. Dimana waktu tersebut dikerjakan di waktu pendengaran, lisan dan hati merespon dengan optimal, karena tidak ada hal yang menyibukkannya, yang berakibat dapat membantu memahami Al-Qur’an dan mentadabburinya. ([45])

Bacaan yang disunnahkan dalam shalat Dzuhur

Bacaan yang disunnahkan di dalam shalat dzuhur

  • Al-Awasith Al-Mufasshal, ([46])([47]) Sebagaimana hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ‘Wassamaa i Wat Thaariq’ (At-Thariq) dan ‘Wassmaa i dzaatil buruuj’ (Al-Buruj). ([48])

Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، وَفِي الْعَصْرِ نَحْوَ ذَلِكَ. وَفِي الصُّبْحِ أَطْوَلَ مِنْ ذَلِكَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ‘Wal laili idza yaghsya’ (Al-Lail), pada waktu shalat dzuhur dan membaca surat yang semisalnya pada waktu shalat ashar. Dan pada waktu shalat shubuh lebih panjang dari itu. ([49])

  • At-Thiwaal Al-Mufasshal, ([50])([51]) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, berkata:

لَقَدْ كَانَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ تُقَامُ فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلَى الْبَقِيع ِ([52]) فَيَقْضِي حَاجَتَهُ. ثُمَّ يَتَوَضَّأُ. ثُمَّ يَأْتِي وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِمَّا يُطَوِّلُهَا

Sesungguhnya pernah didirikan shalat dzuhur, lalu ada seseorang yang pergi ke Baqi’ untuk menyelesaikan hajatnya. Kemudian dia berwudhu, kemudian kembali sedangkan Rasulullah masih berdiri pada rakaat pertama karena panjangnya surat yang beliau baca. ([53])

Dan dalam riwayat yang sama, Rasulullah bersabda:

كُنَّا نَحْزِرُ قِيَامَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ قَدْرَ قِرَاءَةِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ، وَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنَ الْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ قِيَامِهِ فِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ مِنَ الْعَصْرِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ: الم تَنْزِيلُ وَقَالَ: قَدْرَ ثَلَاثِينَ آيَةً

Kami mengira berdirinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat dzuhur dan ashar. Maka kami telah mengira berdirinya di dalam dua rakaat pertama selama bacaan Alif Lam Mim Tanzil (As-Sajdah). Kami juga telah mengira berdirinya pada dua rakaat terakhir selama setengah dari bacaan yang semisalnya. Kami telah mengira berdirinya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dua rakaat pertama dari shalat ashar selama setengah dari bacaan dua rakaat terakhir dari shalat dzuhur. Dan pada dua rakaat terakhir selama setengah bacaan dua rakaat pertama. Dan Abu Bakar tidak menyebutkan dalam riwayatnya bahwa Alif Lam Mim Tanzil. Namun mengatakan: selama tiga puluh ayat. ([54])

Bacaan yang disunnahkan dalam shalat Ashar

Bacaan yang disunnahkan dalam shalat ashar setelah membaca surat Al-Fatihah adalah setengah dari ukuran bacaan pada waktu shalat dzuhur. ([55]) Atau dengan membaca surat ‘Awasithul Mufasshal’, ini merupakan pendapat jumhur ulama’. ([56]) Berdasarkan hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، وَفِي الْعَصْرِ نَحْوَ ذَلِكَ. وَفِي الصُّبْحِ أَطْوَلَ مِنْ ذَلِكَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ‘Wal laili idza yaghsya’ (Al-Lail), pada waktu shalat dzuhur dan membaca surat yang semisalnya pada waktu shalat ashar. Dan pada waktu shalat shubuh lebih panjang dari itu. ([57])

Demikian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ‘Wassamaa i Wat Thaariq’ (At-Thariq) dan ‘Wassmaa i dzaatil buruuj’ (Al-Buruj). ([58])

Bacaan yang disunnahkan dalam shalat Maghrib

Disunnahkan di dalam shalat maghrib membaca surat-surat ‘Qisharul Mufasshal’ ([59]) setelah membaca surat Al-Fatihah. ([60]) Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَشْبَهَ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فُلَانٍ – قَالَ سُلَيْمَانُ – كَانَ يُطِيلُ الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ، وَيُخَفِّفُ الْأُخْرَيَيْنِ، وَيُخَفِّفُ الْعَصْرَ، وَيَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ، وَيَقْرَأُ فِي الْعِشَاءِ بِوَسَطِ الْمُفَصَّلِ، وَيَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ بِطِوَالِ الْمُفَصَّلِ

Aku tidak pernah shalat di belakang salah seorang sahabat sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih menyerupai shalat beliau daripada Fulam -Sulaiman berkata- : Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan dua rakaat yang pertama pada shalat dzuhur dan meringankan dua rakaat setelahnya, dan membaca ‘Qishar Al-Mufasshal’ pada shalat maghrib, dan membaca ‘Wasath Al-Mufasshal’ pada shalat isya’, dan membaca ‘Thiwal Al-Mufasshal’ pada shalat shubuh. ([61])

Dinukil dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Abdullah As-Shunabihiy.

أَنَّهُ صَلَّى وَرَاءَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ الْمَغْرِبَ فَقَرَأَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَسُورَتَيْنِ مِنْ قِصَارِ الْمُفَصَّلِ، ثُمَّ قَامَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ قَالَ: فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنَّ ثِيَابِي لَتَكَادُ أَنْ تَمَسَّ ثِيَابَهُ، فَسَمِعْتُهُ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ، وَبِهَذِهِ الْآيَةِ: {رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

Dia shalat di belakang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pada shalat maghrib, maka beliau membaca surat Al-Fatihah dan dua surat dari surat-surat ‘Qishar Al-Musfasshal’ pada dua rakaat yang pertama. Kemudian beliau berdiri pada rakaat yang ketiga -perawi berkata- : aku mendekatinya hingga bajuku hampir menempel bajunya, dan aku mendengarnya membaca surat Al-Fatihah dan ayat ini ‘Rabbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaitanaa (Ali Imran: 8). ([62])

As-Syirbiniy menyebutkan bahwa alasan lain disunnahkan membaca surat-surat pendek pada waktu shalat maghrib adalah karena maghrib memiliki waktu yang pendek, maka lebih baik memendekkan bacaan-bacaan dalam shalat tersebut. ([63])

Menurut Ibnu Al-Qoyyim bacaan shalat maghrib sebagaimana tuntunan Nabi yang banyak ditinggalkan oleh banyak orang adalah beliau dalam beberapa kesempatan di dalam shalat maghrib membaca surat yang panjang seperti surat Al-A’raf atau At-Thur atau Al-Mursalat. Abu Umar Ibnu Abdil Bar berkata:

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِ (المص)، وَأَنَّهُ قَرَأَ فِيهَا بِ (الصَّافَّاتِ)، وَأَنَّهُ قَرَأَ فِيهَا بِ (حم الدُّخَانِ)، وَأَنَّهُ قَرَأَ فِيهَا بِ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}، وَأَنَّهُ قَرَأَ فِيهَا بِ (وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ)، وَأَنَّهُ قَرَأَ فِيهَا بِ (الْمُعَوِّذَتَيْنِ)، وَأَنَّهُ قَرَأَ فِيهَا بِ (الْمُرْسَلَاتِ)، وَأَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ فِيهَا بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ. قَالَ: وَهِيَ كُلُّهَا آثَارٌ صِحَاحٌ مَشْهُورَة

Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau pada waktu shalat maghrib membaca surat Al-A’raf. Beliau membaca surat Ash-Shaffat, Al-A’la, At-Tiin, Al-Mu’awwidzatain, Al-Mursalat. Dan beliau terkadang membaca surat Qishar Al-Mufasshal. Dan semuanya merupakan riwayat shahih dari Nabi. ([64])

Bacaan yang disunnahkan dalam shalat Isya’

Yang disunnahkan pada waktu shalat isya’ adalah membaca surat-surat ‘Ausathul Mufasshal’ setelah membaca surat Al-Fatihah. ([65])  Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَشْبَهَ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ فُلَانٍ – قَالَ سُلَيْمَانُ – كَانَ يُطِيلُ الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ، وَيُخَفِّفُ الْأُخْرَيَيْنِ، وَيُخَفِّفُ الْعَصْرَ، وَيَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ، وَيَقْرَأُ فِي الْعِشَاءِ بِوَسَطِ الْمُفَصَّلِ، وَيَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ بِطِوَالِ الْمُفَصَّلِ

Aku tidak pernah shalat di belakang salah seorang sahabat sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih menyerupai shalat beliau daripada Fulan -Sulaiman berkata- : Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memanjangkan dua rakaat yang pertama pada shalat dzuhur dan meringankan dua rakaat setelahnya, dan membaca ‘Qishar Al-Mufasshal’ pada shalat maghrib, dan membaca ‘Wasath Al-Mufasshal’ pada shalat isya’, dan membaca ‘Thiwal Al-Mufasshal’ pada shalat shubuh. ([66])

Ibnul Qoyyim menambahkan bahwa pada waktu shalat isya’ Rasulullah membaca surat At-Tiin. Dan pada beberapa waktu beliau membaca surat As-Syams, Al-A’la dan Al-Lail dan sejenisnya. Dan beliau mengingkari jika pada waktu tersebut membaca surat Al-Baqarah. ([67])

أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ صَلَّى الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَى أَصْحَابِهِ، فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ: ” أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ، خَفِّفْ عَلَى النَّاسِ، وَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَلَا تَشُقَّ عَلَى النَّاسِ

Sesungguhnya Mu’adz bin Jabal shalat isya’ dengan para sahabat dan memanjangkan bacaannya. Lalu, hal itu disampaikan kepada Nabi. Akhirnya Nabi bersabda kepada Mu’adz: Apakah kamu membuat fitnah di tengah-tengah manusia wahai Mu’adz, ringankanlah bacaan waktu shalat ketika shalat dengan orang-orang. Bacalah surat As-Syams, Al-A’la dan sejenisnya. Jangan memberatkan manusia. ([68])

8. Membaca bacaan Tasbih ketika ruku’ dan sujud

Sebagian Ulama berpendapat mengenai hukum bacaan (tasbih) saat ruku’ dan sujud yaitu sunnah. ([69])

Hal ini berdasarkan keumuman hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang buruk shalatnya.

أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ المَسْجِدَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فِي نَاحِيَةِ المَسْجِدِ، فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» فَرَجَعَ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ، فَقَالَ: «وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ، فَارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» فَقَالَ فِي الثَّانِيَةِ، أَوْ فِي الَّتِي بَعْدَهَا: عَلِّمْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: «إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Ada seorang lelaki yang masuk masjid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di suatu sudut masjid, lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab: “Dan bagimu keselamatan, kembalilah lalu ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menjawab (sama seperti sebelumnya): “Dan bagimu keselamatan, kembalilah lalu ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lantas orang yang tersebut berkata pada kali kedua atau yang ketiga: “Ajarilah aku! Wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke qiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah dengan berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk (antara dua sujud) disertai thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk disertai thuma’ninah Kemudian lakukanlah seperti itu dalam setiap shalatmu.” ([70])

Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan shalat kepada seorang Arab badui, namun beliau tidak menjelaskan tentang tasbih di dalamnya. Maka ini menunjukan tasbih tidaklah wajib, karena kalau wajib tentu Nabi akan ajarkan kepada Arab badui tersebut. ([71])

9. Membaca Bacaan Tasmi’ dan Tahmid

Mengucapkan Tasmi’ dan Tahmid ketika bangkit dari ruku’ seperti Malikiyyah, Hanafiyyah dan Syafi’iyyah adalah sunnah. ([72]) Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، قَالَ: اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ يُكَبِّرُ، وَإِذَا قَامَ مِنَ السَّجْدَتَيْنِ، قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ

Nabi shallallahu ‘aaihi wasallam jika mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah’, maka beliau juga mengucapkan: ‘Allahumma rabbana lakal hamdu.’. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir jika ruku’ dan jika bangkit mengangkat kepalanya. Dan apabila bangkit dari dua sujud maka beliau mengucapkan: ‘Allahu Akbar’. ([73])

An-Nawawi mengatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan akan anjuran dan bukan kewajiban. Dan seandainya hal itu menjadi perkara yang diwajibkan maka tidak boleh ditinggalkan dan digantikan dengan sujud sahwi, sebagaimana jika meninggalkan rukun shalat. ([74])

Dzikir Tambahan Dalam Bacaan Tahmid

Dianjurkan bagi orang yang shalat untuk menyertakan tambahan dalam bacaan tahmid, yaitu dengan mengucapkan ‘Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiih’.

(رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْه)

Hal ini berdasarkan hadits Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhu, berkata:

كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ “، قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: مَنِ المُتَكَلِّمُ قَالَ: أَنَا، قَالَ: رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Suatu hari kami shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau bangkit dari ruku’, maka beliau mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah’, maka seseorang yang berada di belakang beliau mengucapkan: ‘Rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiih’. Setelah selesai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah tadi yang mengucapkan?” Dia berkata: “Aku”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat sekitar tiga puluh malaikat saling bergegas untuk menjadi yang pertama menulis (kebaikan) nya. ([75])

Dianjurkan pula untuk mengucapkan: ‘Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu, mil’as samaawati wa mil’al ardhi, wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du’.

Berdasarkan hadits Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu ‘anhu, berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengangkat tulang punggungnya (bangkit) dari ruku’, maka beliau mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah, Allahumma rabbana lakal hamdu, mil’us samaawati wa mil’ul ardhi wa mil’u maa syi’ta min syai’in ba’du’. ([76])

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَالَ: ” رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku’, beliau mengucapkan: ‘Rabbana lakal hamdu mil’us samawaati wal ardhi, wa mil’u maa syi’ta min syai’in ba’du, ahluts tsanaa’i wa majdi ahaqqu maa qaalal ‘abdu, wa kulluna laka ‘abdun. Allahumma laa maani’a limaa a’thaita, wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu’. (Rabb kami, Engkau yang memiliki pujian seluruh yang ada di langit dan bumi, dan seluruh apa yang Engkau kehendaki. Wahai Dzat yang memiliki segala pujian dan kemuliaan, Yang paling berhak apa yang dikatakan oleh seluruh hamba dan kita semua adalah hambaMu. Ya Allah tidak ada yang mampu menghalangi atas apa saja yang telah engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi atas apa saja yang telah engkau tahan. Tidaklah bermanfaat kemuliaan bagi siapa yang saja yang memiliki kemuliaan, karena dariMu lah kemuliaan itu). ([77])

10 Membaca Tasbih Lebih Dari Satu Kali Dalam Ruku’ dan Sujud

Disunnahkan membaca bacaan tasbih ketika ruku’ dan sujud lebih dari satu kali. ([78]) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا رَكَعَ أَحَدُكُمْ فَقَالَ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَدْ تَمَّ رُكُوعُهُ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ، وَإِذَا سَجَدَ فَقَالَ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَدْ تَمَّ سُجُودُهُ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ

Apabila salah seorang dari kalian ruku’, lalu mengucapkan: ‘Subhaana rabbiyal ‘adziimi’ tiga kali, maka telah sempurna ruku’nya, dan bacaan sekali telah mencukupi. Dan apabila sujud, lalu mengucapkan: ‘Subhaana rabbiyal a’la’ tiga kali, maka telah sempurna sujudnya, dan bacaan sekali telah mencukupi. ([79])

11. Do’a Pada Saat Tasyahhud Akhir

Disunnahkan bagi orang yang shalat untuk berdoa sekehandaknya setelah tasyahhud akhir. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

Jika salah seorang dari kalian duduk di dalam shalat maka ucapkanlah: ‘Attahiyyatu lillah was shalawaatu wat thayyibaat, Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullah wa barakaatuh, Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin’ (Segala kehormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan Allah senantiasa tercurahkan kepadamu wahai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga keselamatan terlimpahkan kepada kita dan ham-hamba Allah yang baik.). Jika dia telah mengucapkannya maka doa tersebut mengenai semua hamba Allah yang baik di langit dan bumi. ‘Asyahadu an laa ilaaha illa Allah, Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’ (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya). Kemudian hendaknya dia memilih untuk berdoa apa saja yang dia inginkan. ([80])

Adapun dalam riwayat Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَيَدْعُو

Kemudian hendaknya memilih doa yang dia harapkan, lalu berdoa. ([81])

Doa yang dianjurkan

Ada beberapa doa yang dianjurkan dan diutamakan untuk diucapkan ketika selesai dari tasyahhud akhir

عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلاَتِي، قَالَ: ” قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Ajarkanlah doa yang dapat aku panjatkan di dalam shalatku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Katakanlah ‘Allahumma inni dzalamtu nafsii dzulman katsiran, wa laa yaghfirudz dzunuuba illa ant, faghfir lii maghfiratan min ‘indika, warhamni innaka anta Al-Ghafuurur rahiim’ (Ya Allah, Sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku dengan banyak kedzaliman. Tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). ([82])

12. Mengucapkan salam yang kedua

Mengucapkan salam yang kedua adalah sunnah. ([83]) Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوْتَرَ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ لَمْ يَقْعُدْ إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ، فَيَحْمَدُ اللَّهَ وَيَذْكُرُهُ وَيَدْعُو، ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يُصَلِّي التَّاسِعَةَ، فَيَجْلِسُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَدْعُو، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً يُسْمِعُنَا، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، فَلَمَّا كَبِرَ وَضَعُفَ أَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ لَا يَقْعُدُ إِلَّا فِي السَّادِسَةِ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ، فَيُصَلِّي السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

Rasulullah jika mendirikan shalat witir dengan Sembilan rakaat, maka beliau tidak duduk (tasyahhud akhir) kecuali pada rakaat ke delapan. Setelah itu beliau memuji Allah, berdzikir dan berdoa. Kemudian bangkit dan tidak mengucapkan salam. Kemudian beliau melanjutkan shalat pada rakaat yang ke sembilan. Lalu, beliau duduk dan berdzikir kepada Allah dan berdoa. Kemudian beliau mengucapkan salam dengan satu salam. Kemudian beliau mendirikan shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Ketika usia beliau semakin tua dan lemah, beliau mendirikan shalat witr sebanyak tujuh rakaat, tidak duduk (tasyahhud akhir) kecuali pada rakaat ke enam. Kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau melanjutkan shalat pada rakaat yang ke tujuh, kemudian mengucapkan salam dengan satu salam, kemudian shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. ([84])

Dalam hadits lain hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Kunci shalat adalah bersuci. Pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah salam.” ([85])

Sisi Pendalilan:

Imam Qurthubi menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dalam hadits adalah cukup mengucapkan satu salam. Demikian halnya ijma’ ulama bahwa ketika masuk shalat diawali dengan satu takbir (takbiratul ihram), maka ketika keluar dari shalatpun hendaknya dengan satu salam. ([86])

Alasan lain yang menunjukkan bahwa salam yang kedua adalah sunnah, diriwayatkan bahwa para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar mengucapkan salam hanya sekali. Disebutkan hadits diriwayatkan dari ‘Ammar bin Abu ‘Ammar berkata:

كَانَ مَسْجِدُ المُهَاجِرينَ يُسلِّمونَ تَسْلِيْمَةً وَاحِدَةً، وَكَانَ مَسْجِدُ الأَنْصَارِ يُسَلِّمُونَ تَسْلِيْمَتَيْنِ

Masjid kaum Muhajirin, melaksanakan shalat dengan sekali salam. Dan masjid kaum Anshar, mereka melaksanakan shalat dengan dua kali salam. ([87])

Dan sejatinya salam yang diwajibkan dalam shalat adalah salam yang pertama. Dan itu menunjukkan bahwa seseorang telah keluar dari shalat dan tidak diwajibkan apapun setelah itu. Wallahu a’lam. ([88])

13. Sujud Tilawah

Tata cara

Takbir untuk sujud tilawah

Pertama: Di luar shalat

Terdapat perselisihan antara ulama:

  1. Tidak bertakbir, ini adalah pendapat Abu Hanifah, alasan mereka adalah karena tidak ada hadits shahih yang mendasarinya.
  2. Bertakbir ketika turun untuk sujud, ini adalah pendapat mayoritas fuqaha. ([89])

Berdasarkan hadits Ibnu Umar:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ، فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ، وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ

“Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam membacakan Al-Qur’an kepada kita, jika beliau melewati ayat sajdah maka beliau bertakbir, beliau sujud dan kami sujud bersama beliau”. ([90])

Dan terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud:

إِذَا قَرَأْتَ سَجْدَةً فَكَبِّرْ وَاسْجُدْ، وَإِذَا رَفَعْتَ رَأْسَكَ فَكَبِّرْ

“Jika engkau membaca ayat sajdah maka bertakbirlah kemudian sujud, dan jika engkau mengangkat kepala maka bertakbirlah”. ([91])

Kedua: Di dalam shalat

Bertakbir ketika turun dan bangkit, karena keumuman hadits shahih dalam sifat shalat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam, beliau bertakbir setiap gerakan.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُ فِي كُلِّ رَفْعٍ وَوَضْعٍ وَقِيَامٍ وَقُعُودٍ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

“Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bertakbir setiap gerakan bangkit, turun, berdiri dan duduk. Begitupula Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum”. ([92])

Imam Malik mengatakan: “Siapa yang membaca ayat sajdah dalam shalat, maka ia bertakbir untuk sujud dan bertakbir untuk mengangkat kepala”. ([93])

Ibnu Qudamah mengatakan: “Jika sujud tilawah maka ia harus bertakbir untuk sujud dan bangkit darinya”. ([94])

As-Syirazi mengatakan: “Jika dalam shalat maka sujud dengan bertakbir dan bangkit dengan bertakbir”. Imam Nawawi menjelaskan: “Ada pendapat Abu Ali bin Abu Hurairah yang telah disebutkan oleh Abu Hamid dan ulama kita yang lain dari beliau, bahwa tidak dianjurkan bertakbir untuk turun dan bangkit, ini adalah pendapat yang aneh dan lemah”. ([95])

Al-Kasani mengatakan: “Jika ia membacanya dalam shalat, yang paling utama adalah dikerjakan sesuai bentuk sujud juga, demikian yang diriwayatkan dari Abu Hanifah”. ([96])

Gerakan Tata Cara Sujud Tilawah

Karena turun hendak sujud maka tidak perlu mengangkat kedua tangan baik ketika turun menuju sujud maupun ketika bangkit dari sujud, dan tidak perlu juga duduk diantara dua sujud.

Permasalahan

Setelah sujud tilawah boleh langsung ruku?

Jika melakukan sujud tilawah dalam shalat, kemudian bangkit berdiri, boleh membaca lagi kemudian ruku’, boleh juga langsung ruku’ tanpa membaca ayat lagi, karena bacaan sudah ada sebelumnya. ([97])

Syaikh Utsaimin menjelaskan: “Sujud tilawah dalam shalat seperti sujud inti shalat tersebut, yaitu bertakbir ketika sujud dan ketika bangkit, tidak ada perbedaan apakah ayat sajdah tersebut adalah akhir ayat yang ia baca atau di pertengahan bacaan. Ia bertakbir ketika sujud, bertakbir ketika bangkit, kemudian ia bertakbir untuk ruku’, tidak mengapa dua takbir beruntun; karena penyebabnya berbeda”. ([98])

Bacaan Sujud Tilawah

Imam Nawawi mengatakan:

“Dianjurkan ketika sujud (tilawah) membaca:

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ ([99])

Sajada wajhi lilladzi kholaqohu wa showwarohu wa syaqqo sam áhu wa bashorohu bihaulihi wa quwwatihi

Atau membaca:

اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاقْبَلْهَا مِنِّي، كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكِ دَاوُدَ ([100])

Allahummak tub li bihaa índaka ajron, waj álhaa lii índaka dzukhron, wa dho’ ánnii bihaa wizron, waqbalhaa minnii kamaa qobiltahaa min ábdika Dawuda

Dan jika dia membaca bacaan yang biasa dalam sujud maka boleh”. ([101])

Abu Dāwud As-Sijistani menceritakan bahwa ia mendengar Imam Ahmad ditanya apa yang dibaca dalam Sujud Al-Qur’an, beliau menjawab: Adapun aku, maka aku membaca Subhana Rabiiyal A’la. ([102])

Makmum tidak ikut imam sujud tilawah

Jika imam melakukan sujud tilawah, tetapi makmum tidak tahu, sehingga makmum ruku’, karena menyangka imam bertakbir untuk ruku’. Maka ada dua kemungkinan:

Pertama: Ia segera tahu, sementara imam masih dalam sujud tilawah, maka ia segera menyusul sujud.

Kedua: Ia tidak tahu sampai imam bangkit berdiri, maka ia tetap mengikuti imam pada gerakan setelahnya sampai selesai shalat, ia tidak perlu melakukan sujud tilawah di tengah shalat sendiri karena sujud tilawah adalah sunnah, sementara ia diperintahkan mengikuti imam. ([103])

14. Shalat ke arah sutrah

Secara Bahasa sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Mukhtar As-Shihhaah:

مَا يُسْتَرُ بِهِ كَائِنًا مَا كَانَ

“Apapun yang menutupi” ([104])

Adapun secara istilah

مَا يُنْصَبُ أَمَامَ الْمُصَلِّي، مِنْ عَصًا أَوْ تَسْنِيمِ تُرَابٍ أَيْ تَكْوِيمِهِ وَنَحْوِهِ، لِمَنْعِ الْمُرُورِ أَمَامَهُ

“segala sesuatu yang ditegakkan di depan orang yang sedang shalat, berupa tongkat, atau tanah yang disusun, atau semacamnya untuk mencegah orang lewat di depannya.” ([105])

Dalil tentang pensyariatan mengambil sutrah ketika shalat berdasarkan riwayat Abu Sa’id al-Khudry:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا»

“Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” ([106])

Hukum menjadikan seuatu sebagai sutrah hukumnya mustahab, hal ini sebagaiamana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah:

وَلَا نَعْلَمُ فِي اسْتِحْبَابِ ذَلِكَ خِلَافًا

“Dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah mustahabnya hal tersebut (sutrah).” ([107])

Dan mengambil sutrah ini berlaku untuk imam atau orang yang shalat sendiri. Adapun makmum maka tidak perlu mencari sutrah, karena sutrah imam adalah sutrah baginya, berkata Ash-Showy al-Maliky:

(وَ) نُدِبَ (سُتْرَةٌ لِإِمَامٍ وَفَذٍّ)…، وَأَمَّا الْمَأْمُومُ فَالْإِمَامُ سُتْرَتُهُ

“dan disunnahkan sutrah bagi imam dan orang yang shalat senidiri…., dan adapun makmum maka imam adalah sutrahnya.” ([108])

Dan ini juga berdasarkan hadits Ibnu Abbas

«أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلاَمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ، وَأَرْسَلْتُ الأَتَانَ تَرْتَعُ، فَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ، فَلَمْ يُنْكَرْ ذَلِكَ عَلَيَّ»

“aku datang dengan menunggang keledai betina, dan pada saat itu aku hampir menginjak masa baligh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sedang shalat di Mina dengan tidak menghadap dinding. Maka aku lewat di depan sebagian shaf kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya. Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada orang yang menyalahkanku.” ([109])

Hikmah disyariatkannya sutrah

Hikmah dari sutrah ini adalah agar seseorang bisa khusyu’ dalam shalatnya sehingga terjaga pandangannya dari sesuatu yang melintas di hadapannya. Berkata an-Nawawi menjelaskan hikmah dari pensyariatan sutrah ini:

قَالَ الْعُلَمَاءُ وَالْحِكْمَةُ فِي السُّتْرَةِ كَفُّ الْبَصَرِ عَمَّا وَرَاءَهُ وَمَنْعُ مَنْ يُجْتَازُ بِقُرْبِهِ

“berkata para ulama: dam hikmah dalam pensyariatan sutrah adalah menjaga pandangan dari apa yang berada dibelakangnya dan menghalangi dari orang yang berada di dekatnya untuk melewatinya.” ([110])

Batasannya

Terdapat sebuah hadits dari ‘Aisyah, beliau berkata:

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سُتْرَةِ الْمُصَلِّي؟ فَقَالَ: «مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ditanya tentang sutrah orang yang shalat, beliaupun menjawab: seperti kayu yang diletakkan diatas punggung unta([111]).” ([112])

Berkata Ibnu Qudamah ketika menjelaskan tentang ukuran akhirotu ar-rohl:

وَقَدْرُ السُّتْرَةِ فِي طُولِهَا ذِرَاعٌ أَوْ نَحْوُهُ. قَالَ الْأَثْرَمُ: سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَنْ آخِرَةِ الرَّحْلِ كَمْ مِقْدَارُهَا؟ قَالَ: ذِرَاعٌ. كَذَا قَالَ عَطَاءٌ: ذِرَاعٌ. وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيُّ، وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ. وَرُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ، أَنَّهَا قَدْرُ عَظْمِ الذِّرَاعِ. وَهَذَا قَوْلُ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ.

“Dan Batasan sytrah dari sisi tingginya adalah satu hasta atau semisalnya, berkata al-Atsrom: Abu ‘Abdillah ditanya tentang akhirotu ar-rohl (kayu yang berada diatas bagian belakang unta) berapa batasannya? Beliau menjawab: satu hasta. Begitu juga Atho mengatakan satu hasta. Dan ini pendapat yang diambil oleh At-Tsaury, ashab ar-ro’yi, dan diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya dia sebatas tulang hasta dan ini adalah perkataan Malik dan Asy-Syafi’i.” ([113])

Namun Batasan yang disebutkan ini bukanlah Batasan yang pasti, karena ini hanya berupa perkiraan dari para Ulama dalam menentukan Batasan akhirotur rohl (kayu yang berada diatas bagian belakang unta), sehingga dijelaskan lagi oleh Ibnu Qudamah:

وَالظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا عَلَى سَبِيلِ التَّقْرِيبِ لَا التَّحْدِيدِ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَدَّرَهَا بِآخِرَةِ الرَّحْلِ، وَآخِرَةُ الرَّحْلِ تَخْتَلِفُ فِي الطُّولِ وَالْقِصَرِ، فَتَارَةً تَكُونُ ذِرَاعًا، وَتَارَةً تَكُونُ أَقَلَّ مِنْهُ، فَمَا قَارَبَ الذِّرَاعَ أَجْزَأَ الِاسْتِتَارُ بِهِ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.

“Dan yang tampak sesungguhnya ini dalam bentuk pendekatan bukan pembatasan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membatasinya dengan kayu yang berada diatas bagian belakang unta, dan kayu yang berada diats bagian belakang unta berbeda dari segi Panjang dan pendeknya, terkadang sebatas satu hasta, dan terkadang kurang darinya, dan apa yangdekati satu hasta maka ia boleh dijadikan sebagai sutrah.” ([114])

Adapun ukurannya dari segi ketebalannya maka tidak ada Batasan sama sekali, berkata Ibnu Qudamah:

فَأَمَّا قَدْرُهَا فِي الْغِلَظِ وَالدِّقَّةِ فَلَا حَدَّ لَهُ نَعْلَمُهُ، فَإِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ دَقِيقَةً كَالسَّهْمِ وَالْحَرْبَةِ، وَغَلِيظَةً كَالْحَائِطِ

“adapun ukurannya dari segi tebal dan tipis maka kami tidak mengetahui ada batasannya, karena sesungguhnya boleh sutrah itu berupa sesuatu yang tipid seperti anak panah atau alat perang, dan boleh juga berupa sesuatu yang tebal seperti dinding.” ([115])

Jarak sutrah

Berdasarkan hadits yang telah lalu dapat diketahui bahwa sunnahkan untuk mendekat kepada sutrah, yaitu berdasarkan riwayat Abu Sa’id al-Khudry:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا»

“Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” ([116])

Adapun jarak dekat ini maka ada beberapa hadits yang lebih memperincinya, yaitu hadits Sahl bin Sa’ad:

«كَانَ بَيْنَ مُصَلَّى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الجِدَارِ مَمَرُّ الشَّاةِ»

“Biasanya antara tempat shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan dinding ada jarak yang cukup untuk domba lewat.” ([117])

Dan an-Nawawi menjelaskan hadits ini:

يَعْنِي بِالْمُصَلَّى مَوْضِعُ السُّجُودِ

“dan yang dimaksud dengan “مُصَلَّى” (tempat shalatnya) adalah tempat sujudnya.” ([118])

Dan hadits Abdullah bin ‘Umar:

” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْكَعْبَةَ هُوَ وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَبِلَالٌ وَعُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ الْحَجَبِيُّ فَأَغْلَقَهَا عَلَيْهِ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: فَسَأَلْتُ بِلَالًا حِينَ خَرَجَ مَاذَا صَنَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: جَعَلَ عَمُودًا عَنْ يَسَارِهِ وَعَمُودَيْنِ عَنْ يَمِينِهِ وَثَلَاثَةَ أَعْمِدَةٍ وَرَاءَهُ، وَكَانَ الْبَيْتُ يَوْمَئِذٍ عَلَى سِتَّةِ أَعْمِدَةٍ، ثُمَّ صَلَّى وَجَعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِدَارِ نَحْوًا مِنْ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ ”

“bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke dalam Ka’bah bersama Usamah bin Zaid, Bilal, Utsman bin Thalhah Al Hajabi kemudian menutup pintunya. Lalu Abdullah bin Umar bertanya kepada Bilal ketika keluar: “apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Bilal menjawab: “Beliau memasang satu tiang di sebelah kirinya, dua tiang di sebelah kanannya, dan tiga tiang dibelakangnya. Sehingga Ka’bah saat itu memiliki enam tiang. Kemudian beliau shalat dan menjadikan jarak antara beliau dengan tembok sejauh tiga hasta.” ([119])

Dan dijelaskan dalam Al-Maushu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Quwaytiyyah bahwa jarak tiga hasta ini dihitung jaraknya dari kedua kakinya:

يُسَنُّ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ إِلَى سُتْرَةٍ أَنْ يَقْرَبَ مِنْهَا نَحْوَ ثَلاَثَةِ أَذْرُعٍ مِنْ قَدَمَيْهِ

“disunnahkan bagi orang yang ingin shalat menghadap sutrah untuk mendekatinya berjarak tiga hasta dari kedua kakinya. Maka dari sini sebagian Ulama menggabungkan kedua hadits tersebut dengan mengatakan bahwa jarak tiga hasta dihitung dari kedua kakinya dan jarak yang cukup untuk domba lewat dihitung dari tempat sujudnya, diantara yang mengatakan hal tersebut adalah syaikh Al-Albani, beliau berkata:

و” كان صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقف قريباً من السترة؛ فكان بينه وبين الجدار ثلاثة أذرع، وبين موضع سجوده والجدار ممرُّ شاة ”

“dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri mendekati sutrah dan jarak antara dirinya dengan dinding adalah tiga hasta, dan jarak antara tempat sujudnya dengan dinding adalah sebatas jarak bisa lewatnya domba.” ([120])

Bolehkah mencari sutrah di pertengahan shalat

Ini seperti makmum masbuk ketika imam mengucapkan salam mereka berdiri dan mencari sutrah, syaikh ‘Utsaimin pernah ditanya berkaitan hal ini, lalu beliau menjawab:

الذي يظهر لي: أنه لا يشرع، وأن الصحابة رضي الله عنهم إذا فاتهم شيء قضوا بدون أن يتخذوا سترة، ثم لو قلنا: بأنه يستحب أن يتخذ سترة، أو يجب على قول من يرى وجوب السترة، فإن الغالب أنه يحتاج إلى مشي وإلى حركة لا نستبيحها إلا بدليل بين، فالظاهر أن المأموم يقال له: سترة الإمام انتهت معك وأنت لا تتخذ سترة؛ لأنه لم يرد اتخاذ السترة في أثناء الصلاة، وإنما تتخذ السترة قبل البدء في الصلاة.

“yang tampak bagiku bahwasanya hal tersebut tidak disyari’atkan. Karena para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum jika sesuatu terluput dari mereka, maka mereka menyelesaikan sisa shalatnya tanpa mencari sutrah. kemudian seandainya kita berpendapat bahwa mengambil sutrah itu mustahab atau wajib menurut yang menilai hal tersebut sebagai kewajiban maka biasanya ia membutuhkan untuk berjalan dan juga membutuhkan untuk melakukan gerakan yang tidak kita perbolehkan melainkan berdasarkan dalil yang jelas. Maka yang jelas kita katakan kepada makmum masbuk: sutrah imam (sebagai sutrah bagi makmum) telah berakhir (dengan salamnya imam) dan tidak perlu engkau mencari sutrah, karena tidak terdapat dalil untuk mencari sutrah di tengah-tengah shalat. Dan bahwasanya mencari sutrah hanya sebelum mulai shalat”. ([121])

Hukum lewat di hadapan orang yang shalat

Dalam masalah ini perlu diperinci kepada dua keadaan:

Pertama: melewati orang yang menggunakan sutrah

Dan disini ada dua kemungkinan:

1- Melewati dibelakang sutrahnya: maka ini tidak mengapa. Hal ini berdasarkan yang diriwayatkan oleh Tholhah:

«إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، وَلَا يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ»

“jika salah satu di antara kalian meletakkan dihadapannya seperti mu’khirotur rohl (kayu yang berada diatas unta) maka shalatlah, dan tidak perlu memperdulikan orang yang lewat di belakangnya.” ([122])

2- Melewati diantara orang yang shalat dan sutrahnya, dan bagi orang yang shalat hendaknya ia menghalau orang yang lewat di hadapannya, hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ»

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di hadapannya, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras([123]), karena sesungguhnya ia adalah setan” ([124])

Dan tidak boleh bagi seseorang untuk melewati diantara sutrah orang yang shalat, hal ini dikarenakan terdapat ancaman yang sangat keras bagi orang yang lewat di depan orang yang shalat, sebagaimana yang diriwayatkan dari hadits Abu Juhaim, ketika Zaid bin Kholid mengirim Busrin bin Sa’id kepada Abu Juhaim untuk menanyakan apa yang ia dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang melewati di hadapan orang yang shalat? Lalu Abu Juhaim menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

«لَوْ يَعْلَمُ المَارُّ بَيْنَ يَدَيِ المُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ» قَالَ أَبُو النَّضْرِ: لاَ أَدْرِي، أَقَالَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، أَوْ شَهْرًا، أَوْ سَنَةً

“Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama empat puluh itu lebih baik baginya dari pada lewat, berkata Abu An-Nadhr: aku tidak mengetahui apakah beliau mengucapkan empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun?” ([125])

Dijelaskan oleh Ibnu Rajab bahwa hukumnya diharamkan untuk lewat dihadapan orang yang shalat, walaupun sebagian ulama mengatakan hukumnya makruh, namun dijelaskan oleh Ibnu Rajab bahwa penggunaan kata makruh menurut ulama terdahulu terkadang yang dimaksud adalah untuk pengharaman, beliau berkata:

وهذا كله يدل على تحريم المرور بين يدي المصلي، وهو الصحيح عند أصحابنا، والمحققين من أصحاب الشافعي.

وطائفة منهم ومن أصحابنا أطلقوا الكراهة. وكذلك أطلقها غيرهم من أهل العلم، منهم: ابن عبد البر وغيره. وحكاه الترمذي عن أهل العلم. وقد حمل إطلاق هؤلاء للكراهة على التحريم؛ فإن متقدمي العلماء كانوا يستعملون ذلك كثيرا.

“dan semua ini menunjukkan atas haramnya melewati di depan orang yang shalat, dan ini adalah yang shohih menurut ulama madzhab kami (hanabilah), dan menurut para ulama yang mentahqiq dari kalangan Syafi’I, dan menurut sebagian ulama mereka dan sebagian ulama kami memutlakan hukumnya dengan maksruh, begitu juga ulama selain mereka memutlakan hukumnya makruh, di antara mereka Ibnu Abdil Bar dan selainnya, begitu juga At-Tirmidzi menghikayatkan dari para ulama. Dan pemutlakan mereka terhadap makruh terkadang dibawa kepada hukum pengharaman, karena sesungguhnya ulama-ulama terdahulu banyak menggunakan ungkapan tersebut.” ([126])

Dan di katakan oleh Ibnu Baththol bahwa ancaman dalam hadits di atas diperuntukkan orang yang mengetahui tentang hukum dilarangnya melewati orang yang sedang shalat, beliau berkata:

يدل أن الإثم إنما يكون على من علم بالنهى وارتكبه مستخفًا به، ومتى لم يعلم بالنهى فلا إثم عليه

Menunjukkan bahwa dosa tersebut hanya berlaku untuk orang yang mengetahui tentang pelarangan tersebut namun ia tetap melakukannya karena meremehkannya, dan kapanpun seseorang tidak mengetahui tentang pelarangan tersebut maka tidak ada dosa baginya.” ([127])

Dan juga perlu diketahui bahwa ketika orang yang berlalu dihadapannya sudah melewati dirinya maka tidak boleh baginya untuk mengembalikannya kepada tempat sebelum ia melewatinya, berkata Ibnu Hajar:

وَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى أَنَّهُ إِذَا مَرَّ وَلَمْ يَدْفَعْهُ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَرُدَّهُ لِأَنَّ فِيهِ إِعَادَةً لِلْمُرُورِ

“Dan mayoritas ulama berpendapat bahwasanya jika ada orang yang melewatinya dan dia tidak mencegahnya maka tidak selayaknya untuk mengembalikannya, karena di dalamnya terdapat pengulangan melewatinya.” ([128])

Kedua: melewati di hadapan orang yang tidak menggunakan sutrah

Maka dalam masalah ini terdapat perbedaan di antara ulama masalah jarak yang dilarang untuk lewat dihadapannya.

Dan Ibnu Rajab menyebutkan perkataan-perkataan ulama mengenai batasan tersebut:

وفي قدر القرب الذي يمنع المرور فيه وجهان لأصحابنا

أحدهما: أنه محدود بثلاثة اذرع؛ لأنها منتهى المسنون في وضع السترة، على ما سبق.

والثاني: حده بما لو مشى إليه لدفع المار أو غيره، لم تبطل صلاته.

وجاء في حديث مرفوع من حديث ابن عباس: تقديره بقدر قذفة بحجر…. وحكي عن الحنفية، أنه لا يمنع من المرور إلا في محل سجود المصلي خاصة. وحكى أبو بكر ابن العربي، عن قوم أنهم قدروه بمثل طول الرمح، وعن آخرين أنهم قدروه برمية السهم،

“Dan dalam batasan dekat yang dilarang untuk dilewati maka ada dua sisi menurut ulama-ulama kami (hanabilah), salah satunya bahwasanya dibatasi dengan tiga hasta, karena ini batasan penghabisan yang disunnahkan dalam meletakan sutrah sebagaimana yang telah berlalu.

Kedua: batasannya adalah jika ada seseorang yang lewat maka ia mampu untuk mencegahnya shalatnya tidak batal.

Dan datang dalam hadits yang marfu’ dari hadits Ibnu Abbas: batasannya sejauh lemparan batu…. Dan dihikayatkan dari Abu Hanifah bahwasanya tidak terlarang melewati kecuali di tempat sujudnya saja. Dan Abu Bakar ibnul Araby menghikayatkan dari sebuaah kaum bahwasanya memperkirakan sepanjang tombak, dan dari kaum yang lain memperkirakan dengan sejauh lemparan panah.” ([129])

Dan Syaikh Utsaimin menyebutkan juga dalam kitab asy-syarhul mumti’ pendapat-pendapat ulama dalam masalah ini dan beliau menguatkan pendapat bahwasanya jarak yang dilarang adalah antara dirinya dengan tempat sujudnya, beliau berkata:

وقد اختُلف في المراد بما بين يديه، فقيل: إنه بمقدار ثلاثة أذرع مِن قدمي المصلِّي. وقيل: بمقدار رَمية حَجَر، يعني بالرَّمي المتوسط لا بالقويِّ جدًّا ولا بالضعيف. وقيل: ما للمصلِّي أن يتقدَّم إليه بدون بطلان صلاتِه. وقيل: إن مَرْجِعَ ذلك إلى العُرف،….وقيل: ما بين رجليه وموضع سجوده. وهذا أقرب الأقوال، وذلك لأن المصلِّي لا يستحقُّ أكثر مما يحتاج إليه في صلاته، فليس له الحقُّ أن يمنعَ النَّاس مما لا يحتاجه.

“dan diperselisihkan apa yang dimaksud dengan “yang di hadapannya”, dikatakan: sebatas tiga hasta dari kedua kaki orang yang shalat, dikatakan juga: sejauh lemparan batu, yaitu lemparan yang sedang, tidak terlalu kuat juga tidak lemah, dikatakan juga: yang dibolehkan bagi orang yang shalat untuk maju tanpa membatalkan shalatnya, dikatakan juga: dikembalikan kepada ‘urf (adat),…. Dan dikatakan juga: apa yang diantara kedua kakinya dan tempat sujudnya, dan ini perkata yang paling dekat kepada kebenaran, dan hal tersebut dikarenakan orang yang shalat tidak memiliki hak lebih banyak dari yang dibutuhkan dalam shalatnya, dan ia tidak memiliki hak untuk melarang orang-orang dari sesuatu yang ia tidak butuhkan.” ([130])

Dan berkata Ibnu Hajar:

وَنَقَلَ بن بَطَّالٍ وَغَيْرُهُ الِاتِّفَاقَ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ الْمَشْيُ مِنْ مَكَانِهِ لِيَدْفَعَهُ وَلَا الْعَمَلُ الْكَثِيرُ فِي مُدَافَعَتِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ أَشَدُّ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُرُورِ

“Dan Ibnu Baththol dan yang lainnya menukilkan  akan kesepakatan para ualama bahwa tidak boleh berjalan dari tempatnya untuk mencegah orang yang lewat dan tidak boleh bergerak banyak dalam menghalaunya karena hal tersebut lebih berbahaya untuk shalat dari sekedar lewat.” ([131])

Disini terdapat isyarat bahwa seseorang diperbolehkan untuk menghalau jika ia tidak harus maju, dan ini hanya bisa dipraktekkan hanya dari jarak kakinya hingga tempat sujudnya, selebihnya maka ia tidak bisa menghalau kecuali harus maju.

Bersutrah dengan garis

Terdapat sebuah hadits dari Abu Hurairah,

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ، فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ، فَلْيَخُطَّ خَطًّا، ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ»

“Jika salah seorang diantara kalian shalat, maka jadikanlah sesuatu berada di hadapannya. Jika tidak ada apa-apa maka tancapkanlah tongkat. Jika tidak ada tongkat maka buatlah garis. Setelah itu apa saja yang lewat di depan dia tidak akan membatalkannya” ([132])

Namun hadits ini diperselisishkan kekuatannya, dijelaskan dalam Musnad Imam Ahmad bahwasanya hadits ini lemah karena dua sebab:

Sebab pertama: karena terdapat idhtirab, dan ini terjadi kemungkinan pada Sufyan bin ‘Uyainah atau gurunya Isma’il bin Umayyah, karena dia mengatakan: dari Abu Muhammad bin Amr bin Harits, dan terkadang mengatakan: dari Abu Amr bin Muhammad bin Harits, dan juga terkadang mengatakan: Abu Amr bin Harits.

Sebab kedua: karena majhulnya perowi yang bernama Abu Muhammad bin Amr bin Harits. ([133])

Dan dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam kitab at-talkhish ak-habir 1/681 bahwa hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad dan Ibnul Madiny sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Abdil bar dalam kitabnya “al-istidzkar”, dan mengisyaratkan akan lemahnya hadits ini ulama yang lain seperti Sufyan bin ‘Uyainah, asy-syafi’i, al-baghowy, dan ulama lainnya. Dan berkata imam asy-syafi’i: orang yang shalat tidak boleh membuat garis kecuali terdapat sebuah hadits yang shohih untuk hal tersebut.

Perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini:

Ibnu Rusyd berkata:

وَاخْتَلَفُوا فِي الْخَطِّ إِذَا لَمْ يَجِدْ سُتْرَةً، فَقَالَ الْجُمْهُورُ: لَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ يَخُطَّ. وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: يَخُطُّ خَطًّا بَيْنَ يَدَيْهِ.

“Dan mereka (para ulama) berbeda pendapat dalam masalah sutrah dengan garis ketika tidak mendapatkan sutrah, mayoritas ulama mengatakan tidak perlu baginya untuk membuat garis, dan berkata Ahmad bin Hanbal: baginya untuk membuat sebuah garis di hadapannya.” ([134])

Sebab perbedaan pendapat ini dikarenakan perbedaan mereka dalam menanggapi hadits ini, dan jumhur ulama memandang hadits ini lemah sehingga berpendapat tidak bolehnya mengambil sutrah dengan garis. Berkata Abul Hasan Burhanuddin (ulama madzhab hanafiyyah):

ويعتبر الغرز دون الالقاء والخط ” لأن المقصود لا يحصل به

“Dan tanaman bisa dianggap sebagai sutrah, adapun melemparkan dan menggaris maka tidak dianggap, karena tujuan dari sutrah tidak bisa didapati dengan keduanya.” ([135])

Dan disebutkan perkataan imam Malik dalam al-mudawwanah:

وَقَالَ مَالِكٌ: الْخَطُّ بَاطِلٌ

“Berkata Malik: sutrah dengan garis adalah bathil.” ([136])

Berkata Nawawi:

قَالَ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ هُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ….قَالَ الْبَيْهَقِيُّ هَذَا الْحَدِيثُ أَخَذَ بِهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ وَسُنَنِ حَرْمَلَةَ وَقَالَ فِي الْبُوَيْطِيِّ وَلَا يَخُطُّ بَيْنَ يَدَيْهِ خطا إلا أن يكون في ذلك حَدِيثٌ ثَابِتٌ فَيُتَّبَعُ

“berkata al-Baghowy dan yang lainnya: dia (hadits Abu Hurairah) adalah hadits yang lemah…. Berkata al-Baihaqy: hadits ini diambil oleh Asy-Syafi’I dalam qoul qodim (pendapat yang lama) dan dalam sunan harmalah, dan berkata di al-buwaithy: dan seseorang tidak boleh membuat garis di hadapannya kecuali terdapat hadits yang shohih maka ikuti hadits yang shohih.” ([137])

Berkata Ibnu Qudamah:

فَإِنْ لَمْ يَجِدْ سُتْرَةً خَطَّ خَطًّا

“Jika seseorang tidak mendapati sutrah maka hendaknya ia membuat garis.” ([138])

Dan beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah di atas, ini merupakan isyarat bahwa beliau menshohihkan hadits tersebut.

Dan ini adalah perbedaan pendapat yang penulis dapat, dan dari penjelasan di atas penulis lebih condong akan tidak disyariatkan membuat garis jika seseorang tidak mendapati sutrah.

FOOTNOTE:

([1]) Menurut kesepakatan empat madzhab. Lihat : Hasyiyah As-Shawi ‘ala As-Syarh As-Shaghir 1/323, Raudhatut Thalibin Li An-Nawawi 1/231, Mughnil Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/152, Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/339, Tabyinul Haqaiq Li Az-Zaila’i 1/106, Badai’us Shanai’ Li Al-Kasaani 1/207, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/309 dan Syarhu An-Nawawi ‘ala Muslim 4/95.

([2]) H.R. Bukhari no.735 dan Muslim no.390

([3]) Lihat: Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/399, Radhatut Thalibin Li An-Nawawi 1/251, Kassyaful Qina’ Li Al-Bahutiy 1/346, Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/358 dan Majmu’ Al-Fatawa 22/562.

([4]) H.R. Abu Dawud no.730, Tirmidzi no.304, Ibnu Majah no.877. Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih dan dishahihkan oleh Al-Albani.

([5]) Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/447, Al-Inshaf Li Al-Mardawi 2/88.

([6]) H.R. Tirmidzi no.304, Nasa’i no.1181, Ibnu Huzaimah no.587 dan dishahihkan oleh Al-Albani.

([7]) H.R. Bukhari no.739. Ibnu Umar meriwayatkan hadits ini kepada Nabi. Diriwayatkan dari jalur Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Nafi’.

([8]) Menurut Syafi’iyyah, Hanabilah, Ibnu Abdil Barr dan sebagian ahli hadits. Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/305, Al-Mughniy Li Ibni Qudamah 1/339.

([9]) H.R. Muslim no.391.

([10]) H.R. Abu Dawud no.730, Tirmidzi no.304, Ibnu Majah no.877. Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih dan dishahihkan oleh Al-Albani.

([11]) H.R. Bukhari no.735.

([12]) Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/339.

([13]) Menurut jumhur ahli fiqih dari Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Berbeda dengan Malikiyyah bahwa yang disunnahkan adalah menjulurkan kedua tangan setelah takbiratul ihram dan makruh hukumnya jika meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri pada waktu shalat fardhu. Namun, disunnahkan dalam shalat sunnah. (Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/341, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/312, At-Tamhid Li Ibn Abdil Barr 20/74)

([14]) H.R. Bukhari no.740.

([15]) H.R. Muslim no.401.

([16]) (الرُّسْغِ) artinya adalah pergelangan tangan antara telapak tangan dan tulang lengan bagian bawah. (Fathul Bari Li Ibn Hajar 2/224)

([17]) H.R. Abu Dawud no.727 dan dishahihkan oleh Al-Albani, Ibnu Khuzaimah no.480 dan Ibnu Hibban no.1860.

([18]) Jumhur ulama Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa membaca doa istiftah adalah sunnah. (Al-Binayah Li Al-‘Ainiy 2/184, Fathul Qadir Li Al-Kamal bin Al-Humam 1/288, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/314 dan Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/341).

Berbeda dengan Malikiyyah yang berpendapat bahwa membacanya adalah makruh. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar membuka membuka shalatnya dengan ‘Alhamdulillahirabbil ‘alamin’. (H.R. Muslim no.399). Begitu pula hadits tentang orang yang buruk dalam shalatnya.

[19]) H.R. Bukhari no.744 dan Muslim no.598.

([20]) Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/325 dan Al-Mughniy Li Ibni Qudamah 1/343 dan Badai’ As-Shanai’ Li Al-Kasani 1/202.

([21]) Surat An-Nahl: 98.

([22]) Bada’i’ As-Shana’i’ Li Al-Kasaanii 1/202.

([23]) Inilah madzhab Jumhur Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah kecuali Malikiyyah berpendapat: Tidak membaca Isti’adzah. (Bada’i’ As-Shana’i’ Li Al-Kasaanii 1/202, Al-Muhith Al-Burhaniy Li Ibni Mazah 1/357, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/325, Mughnil Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/156, Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/343 dan Al-Mubdi’ Li Burhanuddin Ibnu Muflih 1/380)

([24]) Bada’i’ As-Shana’i’ Li Al-Kasaanii 1/202 dan Al-Muhith Al-Burhaniy Li Ibni Mazah 1/357.

([25]) Tabyiinul Haqaiq Li Az-Zaila’i 1/112, Ikhtilaf Al-Aimmah Al-Ulama’ Li Ibni Hubairah 1/109, Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/345 dan Majmu’ Al-Fatawa 22/371, 372. Adapun menurut Imam Syafi’i yang disunnahkan adalah mengeraskan bacaan basmalah (Al-Umm Li As-Syafi’i 1/130 dan Ikhtilaf Al-Aimmah Al-Ulama’ Li Ibni Hubairah 1/109)

([26]) H.R. Muslim no.399.

([27]) Al-Mushannaf Li Ibni Syaibah 1/411, Al-Ausath Li Ibni Al-Mundzir no.1361 dan Ibnu Rajab menilai baik sanadnya di dalam Fathul Bari (4/378).

([28]) Lihat: Zaadul Ma’ad Li Ibnil Qayyim 1/207.

([29]) Lihat: Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/368,371, Asnal Mathalib Li Zakariya Al-Anshariy 1/154, Kassyaful Qina’ Li Al-Bahutiy 1/339, Al-Mughniy Li Ibni Qudamah 1/352, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim 4/130 dan Al-Istidzkar Li Ibni Abdil Barr 1/474.

([30]) H.R. Bukhari no.780 dan Muslim no.410.

([31]) H.R. Bukhari no.782 dan Muslim no.410.

([32]) Lihat: Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/352, Fathul Bari Li Ibni Rajab 4/493 dan I’lamul Muwaqqi’in Li Ibni Al-Qayyim 2/369.

([33]) Imam Bukhari menyebutkan dalam ta’liqnya sebelum hadits no.780 secara ringkas, Al-Mushannaf Li Abdur Razzaq no.22640 dan Al-Muhalla Li Ibni Hazm 3/624.

([34]) Inilah yang disunnahkan dalam Syafi’iyyah dan Hanabilah. (Lihat: Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/368,371, Al-Mughniy Li Ibni Qudamah 1/352, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim 4/130).

Adapun menurut Malikiyyah dan Hanafiyyah disunnahkan untuk mengucapkannya dengan lirih dan tidak mengeraskannya, baik bagi imam, makmum maupun orang yang shalat sendirian. Karena itu merupakan doa, maka dianjurkan untuk melirihkannya sebagaimana tasyahhud. (Lihat: Hasyiyah Ibnu Abidin 1/320,331, Syarh Mukhtashar Al-Khalil Li Al-Kharsyi 1/282 dan Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/248).

([35]) H.R. Bukhari no.932.

([36]) Lihat: Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/353 dan Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/368.

([37]) Jika imam shalat lupa membaca ‘Aamiin, maka hendaknya makmum mengingatkannya dengan mengeraskan bacaan ‘Aamiin’nya agar terdengar oleh imam hingga membacanya. Karena ini merupakan sunnah qauliyyah (sunnah-sunnah dalam shalat yang berupa perkataan). Jika imam meninggalkan hal ini maka hendaknya makmum melengkapinya, sebagaimana Isti’adzah, jika imam melupakannya maka makmum mengeraskannya sebatas untuk mengingatkan imam. Namun, jika imam melupakan bacaan ‘Aamiin’ hingga terlewatkan dan membaca surat yang lain, maka tidak perlu mengucapkannya, karena sunnah tersebut sudah terlewatkan dari tempatnya. (Lihat: Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/353).

([38]) Menurut kesepakatan ulama Malikiyyah, Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. (Lihat: Fathul Bari Li Ibni Rajab 4/477, Hasyiyah Ibnu Abidin 1/362, Tabyiinul Haqaiq Li Az-Zaila’i 1/129, Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/242,247, Mughni Al-Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/161, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/382, Kassyaful Qina’ Li Al-Bahutiy 1/342, Mathalibu Ulin Nuha Li Musthafa bin Sa’d bin Abduh As-Suyuthi 1/435 dan Syarh Mukhtashar Al-Khalil Li Al-Kharsyi 1/282).

([39]) H.R. Muslim no.936.

([40]) Menurut kesepakatan imam madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 1/540, Fathul Qadir Li Al-Kamal bin Al-Humam 1/334, Hasyiyah Al-Adawiy ‘ala Kifayatut Thalib Ar-Rabbaniy 1/263, Tafsir Al-Qurthubiy 10/306, AL-Majmu’ Li An-Nawawi 3/385, Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/408 dan Hasyiyah Ibnu Al-Qayyim ‘ala Sunan Abu Dawud 3/110).

([41]) H.R. Muslim no.461.

([42]) H.R. Ahmad no.21033, Thabrani no.1914, Al-Baihaqi no.5284 dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar di dalam Nata’ijul Afkar1/430.

([43]) H.R. Muslim no.458

([44]) Lihat: Adz-Dzakhirah Li Al-Qarafiy 2/227.

[45]) Lihat: Zaadul Ma’ad Li Ibni Al-Qayyim 1/215-216.

([46]) Al-Awsaithul Mufasshal adalah:

  • Menurut Hanafiyyah: Bacaan surat Al-Buruj hingga surat Al-Bayyinah.
  • Menurut Malikiyyah: Bacaan surat ‘Abasa hingga surat Ad-Dhuha.
  • Menurut Hanabilah dan Syafi’iyyah: Bacaan surat An-Naba’ hingga surat Ad-Dhuha. (Hasyiyah Ibnu Abidin 1/362, Tabyinul Haqaiq Li Az-Zaila’i 1/129, Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/242,247, Mughnil Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/161, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/382 dan Kassyaful Qina’ Li Al-Bahutiy 1/342)

([47]) Menurut Hanabilah dan salah satu pendapat Hanafiyyah. (Lihat: Al-Inshaf Li Al-Mardawi 2/41 dan Kassyaful Qina’ Li Al-Bahutiy 1/343, Hasyiyah Ibnu Abidin 1/540 dan Al-Bahru Ar-Ra’iq Li Ibni Nujaim 1/361)

([48]) H.R. Abu Dawud no.805, Tirmidzi no.307, Nasa’i no.979. Tirmidzi berkata: Hadits hasan shahih dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar di dalam Nata’ijul Afkar 1/439.

([49]) H.R. Muslim no.459.

([50]) At-Thiwal Al-Mufasshal adalah:

  • Menurut Hanafiyyah: Bacaan surat Al-Hujurat hingga surat Al-Buruj.
  • Menurut Malikiyyah: Bacaan surat Al-Hujurat hingga surat An-Nazi’at.
  • Menurut Hanabilah: Bacaan surat Qaf hingga surat An-Naba’.
  • Menurut Syafi’iyyah: Bacaan surat Qaf hingga surat An-Naba’ (Hasyiyah Ibnu Abidin 1/362, Tabyinul Haqaiq Li Az-Zaila’i 1/129, Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/242,247, Mughnil Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/161, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/382 dan Kassyaful Qina’ Li Al-Bahutiy 1/342)

([51]) Menurut Jumhur Hanafiyyah. (Al-Binayah Li Al-‘Ainiy 2/307, Fathul Qadir Li Al-Kamal bin Al-Humam 1/335, Syarh Mukhtashar Al-Khalil Li Al-Kharsyi 1/281, Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/247, Zadul Ma’ad Li Ibni Al-Qayyim 1/203 dan Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/385)

([52]) Al-Baqi’ adalah tempat pemakaman penduduk Madinah (Fathul Bari Li Ibni Hajar 1/89).

([53]) H.R. Muslim no.454.

([54]) H.R. Muslim no.452.

([55]) Zadul Ma’ad Li Ibni Al-Qayyim 1/203.

([56]) Menurut pendapat jumhur ulama Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan hanabilah (Fathul Qadir Li Al-Kamal bin Al-Humam 1/335, Raudhatu At-Thalibin Li An-Nawawi 1/248 dan Al-Inshaf Li Al-Mardawi 2/55 dan Kassyaful Qina’ Li Al-Buhutiy 1/343).

([57]) H.R. Muslim no.459.

([58]) H.R. Abu Dawud no.805, Tirmidzi no.307, Nasa’i no.979. Tirmidzi berkata: Hadits hasan shahih dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar di dalam Nata’ijul Afkar 1/439.

([59]) Qishar Al-Mufasshal adalah:

  • Menurut Hanafiyyah: Bacaan surat Al-Bayyinah hingga surat An-Naas.
  • Menurut Malikiyyah: Bacaan surat Ad-Dhuha hingga surat An-Naas.
  • Menurut Hanabilah: Bacaan surat Ad-Dhuha hingga surat An-Naas.
  • Menurut Syafi’iyyah: Bacaan surat Ad-Dhuha hingga surat An-Naas. (Hasyiyah Ibnu Abidin 1/362, Tabyinul Haqaiq Li Az-Zaila’i 1/129, Hasyiyah Ad-Dasuqi 1/242,247, Mughnil Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/161, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/382 dan Kassyaful Qina’ Li Al-Buhutiy 1/342)

([60]) Menurut kesepakatan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. (Lihat: Al-Binayah Li Al-Ainiy 2/307, Fathul Qadir Li Al-Kamal bin Al-Humam 1/335, Syarh Mukhtashar Al-Khalil Li Al-Kharsyi 1/281, Adz-Dzakhirah Li Al-Qarafiy 2/227, Raudhatu At-Talibin Li An-Nawawi 1/248, Al-Inshaf Li Al-Mardawi 2/41 dan Kassyaful Qina’ Li Al-Buhutiy 1/343).

([61]) H.R. Ahmad no.7991, Nasa’i no.982 dan dishahihkan oleh Al-Albaniy.

([62]) H.R. ‘Abdur Razzaq no2698 dan Ma’rifatus Sunan wa Al-Atsar no.4824.

([63]) Mughnil Muhtaj Li As-Syirbiniy 1/163.

([64]) Zaadul Ma’ad Li Ibn Al-Qoyyim 1/204.

[65]) Menurut kesepakatan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. (Al-Binayah Li Al-Ainiy 2/307, Fathul Qadir Li Al-Kamal bin Al-Humam 1/335, Syarh Mukhtashar Al-Khalil Li Al-Kharsyi 1/281, Adz-Dzakhirah Li Al-Qarafiy 2/227, Raudhatu At-Talibin Li An-Nawawi 1/248 dan Kassyaful Qina’ Li Al-Buhutiy 1/343).

([66]) H.R. Ahmad no.7991, Nasa’i no.982 dan dishahihkan oleh Al-Albaniy.

([67]) Zaadul Ma’ad Li Ibn Al-Qayyim 1/205.

([68]) H.R. Al-Baihaqi no.5272. Disebutkan di dalamnya bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya, dengan riwayat dari Qutaibah, dari Al-Laits bin Sa’d. Dan terdapat tambahannya yaitu “membaca surat Al-‘Alaq, Al-Lail dan tidak mengucapkan janganlah memberatkan manusia.”

([69]) Diantara ulama yang berpandangan demikian adalah Jumhur ulama dari Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad (lihat: Tabyiinul Haqaia Li Az-Zaila’I 1/107, Fathul Qadir Li Al-Kamal ibnu Al-Humam 1/307, At-Taju wa Al-Iklil Li Al-Mawwaq 1/538, Al-Mughniy Li Ibni Qudamah dan Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim 4/197). Adapun riwayat lain dari Imam Ahmad mengatakan bahwa doa dalam ruku’ dan sujud bersifat wajib (Al-Mughniy Li Ibni Qudamah 1/362)

[70]) H.R. Bukhari no.6251, Muslim no.397

[71]) Syarah Shahih Al-Bukhari Li Ibni Batthal 2/414 dan Fathul Qadir Lil Al-Kamal bin Al-Hammad 1/307.

[72]) Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/414, Badai’us Shanai’ Li Al-Kasani 1/209 dan Adz-Dzakhirah Li Al-Qarafi 2/217.

[73]) H.R. Bukhari no.795.

[74]) Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/415). Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/362.

[75]) H.R. Bukhari no.799.

[76]) H.R. Muslim no.476.

([77]) H.R. Muslim no.477.

([78]) Membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud termasuk wajib dalam shalat menurut Hanabilah. Batas terendahnya adalah membaca satu kali dan batas sempurnanya adalah membacanya tiga kali, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits.

Dan menurut Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Malikiyyah membaca tasbih dalam ruku’ atau sujud merupakan sunnah di dalam shalat. Dan bacaan terendah yang disunnahan adalah sekali, maka dia telah mendapatkan pahala. Dan selebihnya lebih utama tidak berbatas dalam mengucapkannya, hendaknya membaca tiga kali, lima kali, tujuh kali, atau ke atas dengan bilangan ganjil lebih diutamakan. (Lihat: Ad-Durrul Mukhtar Ibnu Abidin 1/332, Hasyiyah Ath-Thahthawi hal.144,145, Mughnil Muhtaj Li As-Syirbini 1/164, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/411,412, Kassyaful Qina’ Li Al-Buhutiy 1/347 dan Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/501,503)

([79]) H.R. Tirmidzi no.261, Ibnu Majah no.890 dan Baihaqi no.2689.

([80]) H.R. Muslim no.402.

([81]) H.R. Bukhari no.835.

([82]) H.R. Bukhari no.834.

([83]) Menurut Malikiyyah, Syafi’iyyah, salah satu riwayat Imam Ahmad, Jumhur Sahabat dan Tabi’in dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm. (Al-Kafi Li Ibn Abdil Barr 1/205, Al-Majmu’ Li An-Nawawi 3/481, Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/396, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim 5/83 dan Al-Muhalla Li Ibn Hazm 3/45).

Adapun menurut Hanabilah dan salah satu pendapat Malikiyyah, ucapan salam yang kedua adalah wajib (Al-Inshaf Li Al-Mardawi 2/85 dan Al-Fawakih Ad-Dawani Li An-Nafrawi 1/487). Berdasarkan hadits Jabir bin Samurah berkata bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ

Sesungguhnya cukup bagi salah seorang diantara kalian agar meletakkan tangannya di atas pahanya kemudian mengucapkan salam kepada saudaranya yang berada di samping kanan dan kirinya. (H.R. Muslim no.431).

Sisi Pendalilan dari hadits tersebut adalah bahwa Rasulullah menjadikan keluar dari shalat cukup dengan salam ke kiri dan kanan. Maka hal itu menunjukkan bahwa tidak dibolehkan mencukupkan dengan yang lain dari itu (Al-Hawi Al-Kabir Li Al-Mawardi 2/144). Disamping itu, mereka mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan perbuatan dan kebiasaan Nabi. (Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/397)

Adapun Hanabilah menyatakan bahwa hadits tersebut tidaklah menunjukkan suatu kewajiban. Maka, salam yang pertama hukumnya adalah wajib dan yang kedua adalah sunnah. (Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/397)

([84]) HR. Nasa’i no. 1719 dan dishahihkan oleh Al-Albani dan Ibnu Hibban no.2442.

([85]) HR. Abu Dawud no.61, Tirmidzi no.4 dan dishahihkan oleh Al-Albani.

([86]) Tafsir Al-Qurthubiy 1/362, 363.

([87]) Syarh Shahih Al-Bukhari Li Ibn Batthal 2/456. Dan disebutkan pula oleh Ibnu Al-Mundzir di dalam Al-Ausath 3/297.

([88]) Al-Mughni Li Ibni Qudamah 1/397.

([89]) ‘Aunul Ma’bud 4/288

([90]) HR. Abu Dāwud 1413, Abdurrazaq mengatakan: At-Tsauri kagum dengan hadits ini. Abu Dāwud mengatakan: Ia kagum karena bertakbir.

Al-Baghawi mengatakan: “Yang sunnah adalah jika ingin sujud tilawah adalah bertakbir… ini adalah pendapat mayoritas ulama”. (Syarhu Sunnah 3/315)

Dalam sanadnya ada Abdullah bin Umar Al-Umari, dia adalah perawi yang diperbincangkan sejumlah ulama, sanadnya dilemahkan oleh Nawawi dan Al-Hafiz, disetujui oleh Al-Albani. (Al-Majmu’ 4/58, At-Talkhis Al-Habir 2/27, Bulughul Maram 104, Tamamul Minnah 267)

Asal hadits terdapat dalam Shahihain dari hadits Ibnu Umar dengan lafaz lain. (At-Talkhis Al-Habir 2/27)

Inti masalah sanad ini: Tambahan takbir hanya pada riwayat Abdullah bin Umar Al-Umari, masalahnya dia adalah perawi yang dilemahkan sejumlah ulama. Al-Hakim menyebutkan riwayat Al-Umari, tetapi dia adalah Ubaidullah bin Umar Al-Umari, jika Ubaidullah, maka ia tsiqah.

([91]) HR. Baihaqi 3773, Syaikh Al-Albani menyebutkan bahwa tidak ada yang menyandarkan kepada Ibnu Mas’ud, tetapi Al-Baihaqi meriwayatkannya mu’allaq kepada orang lain, di sanadnya juga ada Ar-Rabi’ bin Shubaih, Al-Hafiz mengatakan: Shaduq Sayyi’il Hifzi. Syaikh Al-Albani menjelaskan bahwa riwayat di atas ada asalnya dari perbuatan Ibnu Mas’ud, tetapi di sanadnya ada Atha’ bin Sa’ib, namun ia mukhtalath. (Lihat Tamamul Minnah 268)

([92]) HR. Tirmidzi 253 dan mengatakan Hadits Hasan Shahih, Nasa’i 1149, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ 330.

Kecuali ketika bangkit dari ruku’, karena membaca: sami’allahu liman hamidah.

Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Baz (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 11/389) dan Syaikh Utsaimin (As-Syarh Al-Mumti’ 4/100 dan Fatawa Nur ‘Ala Darb 19/85)

Syaikh Utsaimin menegaskan: “Adapun yang dilakukan sebagian orang ketika membaca ayat sajdah dalam shalat, lalu ia sujud, ia hanya bertakbir untuk turun tanpa bertakbir untuk bangkit, maka aku tidak tahu dasarnya. Adapun khilaf yang terdapat dalam takbir ketika bangkit dari sujud tilawah, maka itu adalah dalam sujud yang bukan dalam shalat, adapun sujud dalam shalat maka mendapatkan hukum sujud dalam shalat”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 14/315)

([93]) Al-Mudawwanah 1/277

([94]) Al-Mughni 1/686

([95]) Al-Majmu’ 4/63

([96]) Bada’i’ Shana’i’ 1/188

([97]) Kasysyaf Al-Qina’ ‘an Matn Iqna’ 1/447

([98]) Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 14/315

([99]) HR. Tirmidzi No. 580 dan mengatakan Hadits Hasan Shahih, Abu Dāwud No. 1414, Nasai No. 1129, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf No. 4372, dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam dalam Sujud Al-Qur’an pada malam hari membaca doa di atas. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Nabi membacanya berulang-ulang.

([100]) HR. Tirmidzi No. 579, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

([101]) Raudhatu Thalibin 1/322.

([102]) Masail Imam Ahmad bi Riwayat Abu Dāwud As-Sijistani hlm. 93

([103]) Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Utsaimin 14/24 No. 655, lihat juga Majmu’ Fatawa wa Maqalat Syaikh Ibnu Baz 30/169.

Makmum tidak perlu sujud sahwi atau melakukan sujud tilawah lagi.

Hal ini dikuatkan dengan ucapan Imam Syafi’i: “Siapa yang lupa di belakang imamnya maka tidak perlu sujud baginya”. Al-Mawardi mengomentari: “Dan ini benar, lupanya gugur di belakang imamnya, karena sabda Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam: Imam adalah penjamin. Yaitu menjamin jika lupa, juga berdasarkan riwayat Muawiyah bin Hakam ketika mendoakan orang yang bersin di belakang Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam, selesai shalat beliau melarang tetapi tidak memerintahkan dia sujud sahwi”. (Al-Hawi Al-Kabir 2/228)

Bahkan Ibnu Qudamah menyatakan: “Jika terluput maka tidak perlu sujud, sebagaimana jika membaca ayat sajdah dalam shalat lalu tidak melakukan sujud, maka ia tidak perlu sujud setelahnya (shalat)”. (Al-Mughni 1/444)

([104]) Mukhtaaru Ash-Shihhaah 2/676

([105]) Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 3/176-1776

([106]) HR. Abu Daud 698, dishahihkan oleh Al Albani

([107]) Al-Mughni Libni Qudamah 2/174

Sebagian ulama mengatakan mengambil sutra hukumnya wajb. Berkata Asy-Syaukany berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudry diatas:

فِيهِ أَنَّ اتِّخَاذَ السُّتْرَةِ وَاجِبٌ

“terdapat di dalam hadits tersebut bahwa mengambil sutrah adalah wajib.” (Nailul Awthor 3/5)

Hal tersebut dikarenakan di dalam hadits tersebut terdapat perintah, dan perintah memberikan faidah akan wajibnya yang diperintahkan. Namun terdapat indikasi lain yang memalingkan dari wajibnya perintah tersebut, yaitu hadits Ibnu Abbas:

وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ

“dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sedang shalat di Mina dengan tidak menghadap dinding” (HR. Bukhori no 76)

Sisi pendalilannya: seandainya mengambil sutrah ketika shalat adalah wajib maka tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tidak akan meninggalkannya.

([108]) Hasyiyatu Ash-Showy ‘Alaa Asy-Syarhi Ash-Shoghir.” 1/334

([109]) HR. Bukhori no. 76

([110]) Syarhun Nawawi ‘Alaa Muslim 4/216

([111]) maksud dari mu’khirotur rohl dijelaskan oleh imam an-Nawawi:

الْعُودُ الَّذِي فِي آخِرِ الرَّحْلِ

“kayu yang berada di belakang unta.” Syarhun Nawawi ‘alaa muslim 4/216

([112]) HR. Muslim no. 500

([113]) Al-Mughni libni Qudamah 2/175

([114]) Al-Mughni libni Qudamah 2/175

([115]) Al-Mughni libni Qudamah 2/175

([116]) HR. Abu Daud 698, dishahihkan oleh Al Albani

([117]) HR. Al Bukhari no. 496 dan Muslim no. 262

([118]) Syarhun Nawawi ‘alaa muslim 4/225

([119]) HR. An-Nasai no. 749 dan dishohihkan oleh Al-Albany

([120]) Aslu Shifati Sholaatin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wa sallam 1/114

([121]) Liqaa Al-Baab Al-Maftuuh 155/16

([122]) HR. Muslim no. 499

([123]) dijelaskan oleh Ibu Batthol tentang maksud dari kata “”:

فإن أَبَى فليقاتله -، ولم يرد (صلى الله عليه وسلم) قطع الصلاة، واستباحة دَمِّه، وإنما أراد دفعه بالشدة والقوة.

“ (maka jika ia menolak maka tahanlah dengan keras) maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bermaksud dalam sabdanya ini agar orang yang shalat untuk memutus (membatalkan) shalatnya dan membolehkan dari menumpahkan darahnya, karena yang dimaksud hanya mencegahnya dengan keras dan kuat.” (Syarhu shohih al-Bukhori libni batthol 1/111)

([124]) HR. Al Bukhari 509, Muslim 505

([125]) HR. Al Bukhari 510, Muslim 507

([126]) Fathul Baary Libni Rajab 4/95

([127]) Syarhu Shohih Al-Bukhori Libni Baththol 2/138

([128]) Fathul Baary 1/584

([129]) Fathul Baary Libni Rajab 4/97

([130]) Asy-Syarhul Mumti’ 3/246

([131]) Fathul Baary 1/584

([132]) HR. Ahmad 7392, Ibnu Majah 943

([133]) Musnad Imam Ahmad 12/355

([134]) Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid 1/121

([135]) Al-Hidayah Fii Syarhi Bidayatil Mubtady 1/63

([136]) Al-Mudawwanah 1/202

([137]) Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 3/246

([138]) Al-Mughni Libni Qudamah 2/177