Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-99

99. ۞ وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِى بَعْضٍ ۖ وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَجَمَعْنَٰهُمْ جَمْعًا

wa taraknā ba’ḍahum yauma`iżiy yamụju fī ba’ḍiw wa nufikha fiṣ-ṣụri fa jama’nāhum jam’ā
99. Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.

Tafsir :

يَمُوجُ artinya bergelombang seperti gelombang lautan yang ada di laut, yaitu berupa ombak yang besar. Maksudnya ketika tembok yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj hancur maka keluarlah mereka bergelombang begitu banyak. Terdapat beberapa penafsiran berkaitan dengan firman-Nya بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ “sebagian mereka (Ya’juj dan Ma’juj) berbaur antara satu dengan yang lain” sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’ani([1]) di antaranya:

  1. Ketika menjelang kiamat, para manusia ketakutan sehingga mereka bertumpuk-tumpukan, mungkin dikarenakan mereka bertabrakan ketika berlari, disebabkan dahsyatnya hari kiamat. Mereka bercampur baur seperti ombak yang saling menghantam di lautan.
  2. Para manusia ketakutan dan akhirnya menyebabkan saling bertumpuk ketika melihat Ya’juj dan Ma’juj muncul. Karena Ya’juj dan Ma’juj akan muncul di suatu daerah dan mereka bergerak dengan cepat ke seantero dunia dan menimbulkan rasa takut kepada setiap orang yang melihatnya. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan tentang Ya’juj dan Ma’juj,

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya’: 96)

Jumlah Ya’juj dan Ma’juj sangatlah banyak, sehingga setiap orang yang melihat mereka ketakutan dan menyebabkan mereka lari bertabrakan dan akhirnya bertumpuk-tumpuk.

  1. Yang dimaksud bertumpuk-tumpuk adalah Ya’juj dan Ma’juj. Karena saking banyaknya mereka, seakan-akan mereka seperti gelombang yang bertumpukan ketika mereka keluar. Ini menunjukkan sangat banyaknya jumlah mereka, oleh karenanya kita tidak mengetahui berapa jumlah mereka. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits,

” يَا آدَمُ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالخَيْرُ فِي يَدَيْكَ، فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ، قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟، قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ، فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ، وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا، وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى، وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَيُّنَا ذَلِكَ الوَاحِدُ؟ قَالَ : ” أَبْشِرُوا، فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا. ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ ” فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: «أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ» فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: «أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ» فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: «مَا أَنْتُمْ فِي النَّاسِ إِلَّا كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَبْيَضَ، أَوْ كَشَعَرَةٍ بَيْضَاءَ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَسْوَدَ»

“Wahai Adam, “. Nabi Adam ‘Alaihissalam menjawab: “Labbaika, kemuliaan milik-Mu dan segala kebaikan berada di tangan-Mu”. Kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah utusan neraka”. Adam bertanya; “Apa yang dimaksud dengan utusan neraka? (berapa jumlahnya?) “. Allah berfirman: “Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan dijebloskan neraka!, Ketika perintah ini diputuskan, maka anak-anak belia menjadi beruban, dan setiap wanita hamil kandungannya berguguran dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidaklah mabuk akan tetapi (mereka melihat) siksa Allah yang sangat keras”. (QS. Alhajj 2), Para shahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, adakah di antara kami seseorang yang selamat?”. Beliau bersabda: “Bergembiralah, karena setiap seribu yang dimasukkan neraka, dari kalian cuma satu, sedang sembilan ratus sembilan puluh sembilannya dari Ya’juj dan ma’juj”. Kemudian Beliau bersabda: “Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi di antara seperempat ahlu surga”. Maka kami bertakbir. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga ahlu surga”. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara setengah ahlu surga”. Maka kami bertakbir sekali lagi. Lalu Beliau bersabda: “Tidaklah keberadan kalian di hadapan manusia melainkan bagaikan bulu hitam pada kulit sapi jantan putih atau bagaikan bulu putih yang ada pada kulit sapi jantan hitam”. ([2])

Jadi di antara penghuni neraka jahanam, yang paling banyak adalah Ya’juj dan Ma’juj. Ini menunjukkan jumlah mereka yang sangat banyak. kita semua mengetahui bahwa penghuni neraka jahanam sangat banyak dan yang paling banyak dari Ya’juj dan Ma’juj.

Kemudian firman-Nya,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا

dan (apabila) sangkakala ditiup (lagi), akan Kami kumpulkan mereka semuanya.”

Yaitu maksudnya tiupan sangkakala yang kedua([3]). Yang pertama membuat semua orang meninggal dan yang kedua membangkitkan semua orang.

Yang meniup sangkakala adalah malaikat Israfil, hal ini berdasarkan ijma’ para ulama. Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga malaikat utama ketika membaca doa istiftah dalam shalat malamnya,

«اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ»

“Ya Allah, Tuhan Jibrail, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) apa yang mereka (orang-orang Kristen dan Yahudi) pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dariMu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki([4])

Dalam doa ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan “Ya Allah, Tuhan Jibrail, Mikail dan Israfil”. Dikhususkan penyebutan 3 malaikat ini dikarenakan mereka berkaitan dengan masalah kehidupan. Jibril ‘alaihissalam berkaitan dengan kehidupan hati, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala menamakannya juga dengan Ruh. Karena dengan turunnya malaikat Jibril membawa Al-Quran memberikan kehidupan pada hati-hati manusia. Tanpa Al-Quran, hati manusia akan mati walaupun jasad mereka hidup, karena penuh dengan kesengsaraan. Begitu juga malaikat Mikail yang berkaitan dengan kehidupan, karena tugasnya berkaitan dengan pengaturan hujan, yang dengan hujan tersebut bisa menumbuhkan tetumbuhan di atas muka bumi. Kemudian malaikat Israfil juga berkaitan dengan kehidupan manusia, yaitu dari kematian mereka maka kemudian mereka dibangkitkan kembali dengan tiupan sangkakalanya pada hari kiamat kelak. ([5])

Bahkan dalil-dalil menunjukan bahwa yang dibangkitkan bukan hanya manusia, bahkan hewan pun juga dibangkitkan,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am: 28)

Jadi burung-burung dan hewan-hewan  juga akan dibangkitkan bersama manusia, kemudian mereka dikumpulkan kepada Rabb mereka. Oleh karenanya dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ

“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)

Juga firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

“Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.”(QS. Al-Kahfi: 47)

Tidak ada satupun yang luput atau terlupakan, semuanya pasti dibangkitkan dan diminta pertanggung jawaban oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun cara dibangkitkannya manusia, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits,

«مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ» قَالَ: أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالَ: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالَ: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالَ: «ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ البَقْلُ، لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَيْءٌ إِلَّا يَبْلَى، إِلَّا عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الخَلْقُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Jarak antara dua tiupan (sangkakala) adalah empat puluh.” Ibnu Abbas bertanya, “Empat puluh hari?” beliau menjawab: “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Empat puluh bulan?” beliau menjwab: “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Empat puluh tahun?” Beliau menjawab: “Tidak.” Beliau kemudian bersabda: “Setelah itu, Allah menurunkan air dari langit, maka mereka pun hidup kembali sebagaimana tumbuhnya sayur-sayuran. Tidak ada tersisa seorang pun kecuali ia akan binasa, kecuali satu tulang yakni tulang ekor. Dari tulang itulah, manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat.” ([6])

Manusia ketika hancur maka ada satu bagian yang tidak akan penah sirna, yaitu di salah satu bagian tulang ekor. Tulang tersebut merupakan sumber pembentukan manusia ketika ditiupkan sangkakala yang kedua. Caranya adalah dengan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan hujan yang deras, lalu airnya masuk ke dalam kubur hingga mengenai tulang tersebut, kemudian tumbuhlah manusia tersebut. Oleh karenanya Rasulullah bersabda

وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الخَلْقُ يَوْمَ القِيَامَةِ

Dari tulang itulah, manusia dibangkitkan kembali pada hari kiamat”. Lalu seluruh manusia keluar dari kuburan mereka, dan Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan keadaan mereka ketika dibangkitkan,

خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ

“sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qomar: 7)

Ketika mereka bangkit dari kuburan, mereka kebingungan karena melihat kondisi yang dahsyat dan menakutkan, mereka bingung harus ke mana. Oleh karenanya Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan keadaan mereka bagaikan belalang-belalang yang berterbangan.

Ya’juj dan Ma’juj disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala terkurung di suatu tempat di atas muka bumi ini dan kita tidak tahu lokasinya di mana. Di tempat itu mereka beranak pinak, suatu saat mereka akan keluar dari tempat tersebut dengan jumlah yang sangat banyak, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat yang lain,

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya’: 96)

__________________

Footnote :

([1]) Kihat: Tafsir Al-Alusi 8/364

([2]) HR. Bukhori no. 3348 Muslim no. 222

([3]) Lihat: Fathul Qodir 3/372

([4]) HR. Muslim no. 770

([5]) Lihat: Al-Kaukabul Wahhaj 10/65

([6]) HR. Bukhori no. 4935