Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-58

58. وَرَبُّكَ ٱلْغَفُورُ ذُو ٱلرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُم بِمَا كَسَبُوا۟ لَعَجَّلَ لَهُمُ ٱلْعَذَابَ ۚ بَل لَّهُم مَّوْعِدٌ لَّن يَجِدُوا۟ مِن دُونِهِۦ مَوْئِلًا

wa rabbukal-gafụru żur-raḥmah, lau yu`ākhiżuhum bimā kasabụ la’ajjala lahumul-‘ażāb, bal lahum mau’idul lay yajidụ min dụnihī mau`ilā
58. Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya.

Tafsir :

Al-Ghafur adalah Maha Pengampun dan Menutupi aib-aib yang ada. Sering penulis sampaikan bahwa sifat ghufran itu menggabungkan 2 hal pada sifat Allah subhanahu wa ta’ala; yaitu menutupi dan menghalangi. Karena Al-Ghufran diambil dari kata al-mighfar yaitu penutup kepala yang dipakai oleh seorang prajurit perang yang fungsinya untuk menutupi kepala dan menghalanginya dari hantaman pedang musuh([1]). Jadi sifat Allah subhanahu wa ta’ala berupa ghafur artinya adalah Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menutup aib-aib hamba-Nya. Kita semua tahu betapa sering kita bermaksiat, akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala tutup aib-aib kita. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala membongkar aib seseorang kecuali dikarenakan ia terlalu sering melakukan dosa. Jika seorang hamba memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan akhirat, Allah subhanahu wa ta’ala juga akan mencegah dirinya (baik di dunia maupun di akhirat) agar tidak terkena dampak dari maksiat yang dia lakukan. Karena tidak mungkin ada dosa yang tidak memiliki dampak buruk, sehingga seseorang yang tidak ingin terkena dampak buruk dari dosanya maka hendaknya ia memperbanyak beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan orang-orang musyrikin bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Maha Pengampun. Sebanyak apapun dosa yang mereka lakukan, jika mereka memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni mereka. Juga dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa Dia Maha Pemilik kasih sayang. Di antara dampak dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala adalah Allah subhanahu wa ta’ala menunda azab kepada sebagian orang-orang kafir, dengan harapan siapa tahu mereka bertaubat di kemudian hari. Seandainya Allah mengazab setiap perbuatan buruk mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka, sehingga tidak ada kesempatan sedikitpun bagi mereka untuk bertobat. Namun kenyataannya Allah subhanahu wa ta’ala menangguhkan hal itu, dan ternyata memang benar bahwa akhirnya di antara mereka ada yang bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Contohnya dalam Perang Badar dan Perang Uhud, sebagian orang-orang musyrikin yang berperang melawan umat Islam akhirnya bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan sebagian lagi tidak bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan tidak sedikit orang yang bertobat tersebut menjadi pahlawan-pahlawan Islam di kemudian hari. Jika mereka tidak mau bertobat, maka mereka akan menjumpai masa yang tidak akan ditemukan lagi tempat berlindung saat itu, yaitu ketika azab datang kepada mereka. Jika tidak datang di dunia maka akan datang di akhirat. Jadi Allah subhanahu wa ta’ala menawarkan ampunan bagi mereka jika mereka masih ingin bertobat. Dan juga di antara sifat Allah subhanahu wa ta’ala adalah Al-Halim yaitu menunda hukuman, padahal Allah subhanahu wa ta’ala mampu menyegerakannya, dengan harapan agar dia sadar di kemudian hari.([2])

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Ath-Thobari 2/109

([2]) Lihat: Nuniyah Ibnul Qoyyim 1/207