Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-52

52. وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا۟ شُرَكَآءِىَ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا۟ لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُم مَّوْبِقًا

wa yauma yaqụlu nādụ syurakā`iyallażīna za’amtum fa da’auhum fa lam yastajībụ lahum wa ja’alnā bainahum maubiqā
52. Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman: “Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu”. Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).

Tafsir :

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepada orang-orang musyrikin untuk memanggil sekutu yang dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah subhanahu wa ta’ala ketika di dunia([1]). Karena orang-orang musyrikin ketika menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala mereka menganggap bahwa sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala adalah sekutu bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang bisa membantu mereka dan memberi syafaat kepada mereka. Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan kepada mereka pada hari kiamat agar memanggil sekutu-sekutu yang dahulu mereka sembah ketika di dunia. Sekutu-sekutu tersebut mereka anggap sebagai sekutu-sekutu Allah subhanahu wa ta’ala, padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak memiliki sekutu. Tentunya pada hari itu mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa, juga mereka saat itu tahu bahwa sekutu-sekutu tersebut bukan sekutu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah juga mengejek mereka dengan firman-Nya “Serulah oleh kalian sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kalian sangkakan itu” dan perkataan “yang kalian sangkakan” menunjukkan bahwa itu adalah salah. Akan tetapi walaupun mereka tahu itu salah mereka tetap langsung segera memanggil sekutu-sekutu tersebut dan sekutu-sekutu tersebut sama sekali tidak memenuhi panggilan tersebut. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kebinasaan di antara mereka. Para ulama mengatakan ini adalah di antara siksaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala mengejek mereka. Contohnya, seperti mereka yang menyembah wali-wali atau orang-orang saleh (yang mereka anggap itu adalah sekutu Allah subhanahu wa ta’ala) yang dapat memberikan syafaat bagi mereka, namun pada hari kiamat Allah subhanahu wa ta’ala mempersilahkan untuk memanggil siapa saja yang mereka sangka sebagai sekutu. Ini sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka salah, karena Allah subhanahu wa ta’ala menggunakan kalimat زَعَمْتُمْ “sangkakan”. Meskipun sudah tahu salah tetapi mereka tetap memanggil sekutu-sekutu mereka, maka Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kebinasaan di antara mereka dan sekutu-sekutu yang mereka panggil.

Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang firman Allah وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَوْبِقًا (Kami adakan diantara mereka tempat kebinasaan) :

Pertama: Mereka dan sesembahan mereka sama-sama mendapatkan bagian azab. Yaitu sekutu-sekutu yang berupa syaithan dan jin yang mereka sembah (yang mereka semua adalah makhluk yang jahat). Maka kedua pihak akan mendapatkan azab. Azab dari Allah bagi mereka yang menyembah dan azab bagi yang disembah.

Kedua: مَوْبِقًا artinya ada penghalang antara mereka dengan sekutu-sekutu mereka. Hal ini karena di antara sekutu-sekutu yang mereka sembah adalah orang-orang saleh (seperti Nabi Isa ‘alaihissalam, Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr yang mereka semua adalah orang-orang saleh di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam). Sesembahan yang mereka sangka bisa menolong mereka pada hari kiamat, kemudian mereka memanggilnya, namun orang saleh yang mereka sembah tidak menjawab seruan tersebut, lalu Allah subhanahu wa ta’ala jadikan penghalang antara mereka dengan wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala yang mereka sembah selama ini. Bahkan wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala yang dijadikan sekutu tersebut sama sekali tidak menoleh dan tidak menjawab. Ini adalah kondisi yang sangat menghinakan, karena sesembahan mereka berlepas diri saat kondisi genting dimana mereka sangat butuh pertolongan.([2])

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 3/523

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 3/523-524