Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-13

13. نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى

naḥnu naquṣṣu ‘alaika naba`ahum bil-ḥaqq, innahum fityatun āmanụ birabbihim wa zidnāhum hudā
13. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.

Tafsir :

Allah berfirman secara langsung bahwa Kamilah yang menceritakan hal ini langsung kepada engkau wahai Muhammad. Sehingga yang menceritakan kepada engkau bukanlah jin, bukan pula pendeta Yahudi, bukan pula malaikat dan bukan yang lainnya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ…

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar….”, cerita tersebut Allah ceritakan langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ ([1]) dan Allah pun menyebutkan:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“…. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula hidayah untuk mereka”.(QS Al-Kahfi: ayat 13)

Ayat ini menjelaskan bahwa mereka adalah sekelompok pemuda yang beriman. Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata bahwasanya demikianlah para pemuda, mereka mudah menerima dakwah karena tidak terikat dengan tradisi lama yang menyimpang yang dalam hal ini. Sungguh berbeda dengan orang-orang tua yang telah lama terkekang dalam suatu tradisi, meskipun tradisi tersebut sesuatu yang salah. Sehingga mengubah tradisi adalah hal sulit bagi mereka, karena melepaskan suatu tradisi lama amatlah sulit dan mereka tidak ingin melakukan suatu perubahan. Lain halnya dengan anak muda, mereka suka dengan sesuatu yang baru, sehingga ketika ada dakwah yang baru sebagaimana ajakan  Nabi ﷺ maka anak-anak muda mudah untuk menerimanya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir tatkala Nabi ﷺ  berdakwah di kota Mekkah maka rata-rata yang menerima dakwah beliau adalah anak-anak muda; seperti Utsman bin Affan, Zubair bin ‘Awam, Abdurrahman bin Auf, Arqam bin Abil-Arqam. Mereka semua adalah para pemuda. Adapun para orang tua seperti Abu Jahl dan Abu Lahab, maka sulit bagi mereka untuk berubah, karena ego mereka tinggi dan mereka tidak mau berubah dari tradisi mereka dan telah nyaman dengan tradisi-tradisi tersebut. Adapun anak-anak muda maka tidak demikian, tidak ada sesuatu yang mereka pegang dengan kuat. Adapun orang-orang tua, mereka memiliki banyak pertimbangan sehingga akhirnya mereka sulit untuk berubah dan mereka pun tidak beriman. ([2])

Demikian pula dalam kisah ini mereka adalah para pemuda yang beriman dan pemberani yang berani mengadakan perubahan dan berani untuk melawan arus selama mereka meyakini bahwa hal tersebut adalah suatu kebenaran.

Lain halnya tatkala Nabi ﷺ berdakwah di kota Madinah, maka di sana tidak ada orang yang tua kecuali Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abu ‘Aamir al-Fasiq, adapun sisanya (seperti Sa’ad bin Mu’adz, Sa’ad bin Ubadah dan para sahabat lainnya) maka mereka semua adalah anak-anak muda sehingga mereka mudah beriman kepada Rasulullah ﷺ. Demikian pula dalam kehidupan nyata dalam berdakwah, maka sedikit dari kalangan orang-orang tua yang menerima, dan kebanyakannya adalah dari golongan orang-orang muda, karena tidak mudah mengubah seseorang dari tradisi yang selama ini ia yakini, oleh karenanya Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“…. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula hidayah untuk mereka”.(QS Al-Kahfi: ayat 13)

Ayat ini juga dijadikan dalil oleh para ulama, di antaranya adalah Imam Al-Bukhari, bahwasanya Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, sebagaimana pada bagian:

وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“…dan Kami tambah pula hidayah untuk mereka”,

Di antara pokok Aqidah Ahlus-Sunnah adalah:

الْإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

“Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang”([3]), demikian keyakinan Ahlus-Sunnah. Keyakinan ini berbeda dengan keyakinan Murji’ah yang mengatakan bahwa iman itu tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang, menurut mereka iman senantiasa stabil, ini adalah pendapat yang batil, dan yang benar adalah iman bisa naik dan bisa turun. Bahkan tanpa banyak dalil pun kita bisa merasakan hal tersebut pada diri kita, adakalanya iman kita sedang naik dan terkadang iman kita sedang turun. Dan di antara dalilnya adalah ayat ini:

وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“…dan Kami tambah pula hidayah untuk mereka”

Hidayah adalah bagian dari iman, jika iman bisa bertambah, maka itu juga menunjukkan -secara kelaziman- bahwa iman tersebut bisa berkurang, oleh karena itu Aqidah Ahlus-Sunah ketika menjelaskan bab iman:

الْإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ، يَزِيْدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat”. ([4])

_______________

Footnote :

([1]) Lihat Tafsir At-Tahriir wa At-Tanwir: 15/ 271.

([2]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 5/ 140.

([3]) Lihat Usul As-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkata:

وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ كَمَا جَاءَ فِي الْخَبَرِ: (أكْمَلُ الْمُؤمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا)

“Dan Iman terdiri dari perkataan dan perbuatan, iman bisa bertambah dan bisa berkurang sebagaimana dalam hadits: “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya”

([4]) Lihat Al-Aqidah riwayat Imam Abu Bakar Al-Khallal yang menyebutkan tentang akidah Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkata:

كَانَ الإِمَامُ أحْمَدُ بْنُ حَنْبَل يَذْهَبُ إِلَى أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالأَرْكَانِ وَاعْتِقَادٌ بِالْقَلْبِ يَزِيْدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Aqidah Imam Ahmad bin Hanbal adalah bahwasanya Iman mencakup perkataan lisan, amal anggota badan dan keyakinan hati, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat”.( Al-Aqidah: 1/ 117)