Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat-8

8. وَإِنَّا لَجَٰعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

wa innā lajā’ilụna mā ‘alaihā ṣa’īdan juruzā
8. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.

Tafsir :

Ayat ini menunjukkan bahwasanya dunia yang engkau lihat begitu indah sekarang ini, yang dipenuhi dengan kemewahan dan perhiasan dunia, sebagaimana sabda Nabi

ﷺ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau” ([1]), manis untuk dirasakan dan hijau untuk dilihat, keindahan itu semua akan sirna.

Peringatan bahwa keindahan dunia akan sirna juga Allah sebutkan dalam firmanNya :

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur dengannya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS Al-Kahfi: 45)

Demikianlah kehidupan dunia, warnanya hijau dan enak dipandang bagaikan perhiasan namun suatu saat ia akan sirna, oleh karena itu Allah menamakan keindahan/kemewahan sebagai زَهْرَة الْحَيَاةِ الدُّنْيَا “Bunga (mawar) kehidupan dunia”, Allah berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami menguji mereka dengannya”.(QS Thaha:131)

Dalam ayat ini, Allah menamakan dunia dengan زَهْرَة, yaitu bunga yang indah ketika dipandang, harum ketika dicium. Demikianlah kehidupan dunia, akan tetapi dibalik itu ia sangat mudah layu. Jika kita petik bunga mawar, maka akan sangat cepat ia menjadi layu dan tidak lama kemudian ia akan rusak, maka semacam itulah kehidupan dunia. Sifat kehidupan dunia adalah tidak kekal, dunia itu karakternyaفَانِيَةٌ زَائِلَةٌ  sementara dan segera sirna. Demikianlah dunia, kalaulah bukan dunia yang sirna, maka kita (penghuninya) yang akan segera sirna. Oleh karena itu Allah mengingatkan: Wahai Muhammad, Kami ciptakan kehidupan dunia dan keindahan di atas muka dunia sebagai ujian, sehingga ada yang beriman dan ada yang tidak beriman, ada yang bagus amalannya dan ada yang tidak bagus amalannya, namun ingatlah seluruh keindahan dunia ini akan sirna dan akan hilang. ([2])

Maka pada ayat ini terdapat peringatan bahwa kita semua akan diuji dan janganlah kita terperdaya dengan dunia. Orang yang memandang dunia secara zhahirnya -yang حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ manis dirasa dan hijau dipandang- saja maka ia akan mudah terperdaya, maka ia akan memasukkan dunia ke dalam hatinya. Jika seseorang sangat mencintai dunia sedalam-dalamnya maka ia enggan dan berat untuk meninggalkan dunia tersebut. Karena di saat keindahan dunia telah merasuk hatinya, orang tersebut menjadi tidak ingin mati, alasannya bukan karena takut karena amalnya yang buruk di dunia, bukan pula karena takut akan hisab pada hari kiamat, tetapi karena ia sedih akan meninggalkan keindahan dunia ini yang telah merasuk di hatinya. Adapun orang beriman, jika meninggal ia khawatir dengan hisab pada hari kiamat kelak.

Lalu Allah mengingatkan bahwasanya tujuan diciptakan perhiasan dunia dan isi dunia ini adalah untuk ujian, sebagaimana yang telah Allah firmankan:

لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“…agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.

Dijelaskan dalam ayat ini bahwa yang dijadikan patokan oleh Allah bukanlah banyaknya (kuantitas) amalan, akan tetapi الْجَوْدَة kualitas. Yaitu amal yang terbaik adalah amal yang berkualitas. Karenanya terlalu banyak dalil yang menjelaskan tentang amalan sedikit akan tetapi bernilai besar di sisi Allah Ta’ala. Di antaranya  sabda Nabi ﷺ tentang Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu :

اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَن لِمَوْتِ سَعْد بْنِ مُعَاذٍ

“Arsy Ar-Rahman (Allah) berguncang ketika kematian Sa’ad bin Mu’adz” ([3])

Allahu akbar, lihatlah Arsy berguncang karena wafatnya Sa’ad, padahal hidup beliau hanya sebentar setelah masuk Islam, yaitu sekitar 7 atau 8 tahun. Beliau masuk Islam sekitar 2 atau 3 tahun sebelum Nabi ﷺ hijrah, lalu wafat pada tahun 5 Hijriyah, maka beliau hanya hidup sekitar 7 atau 8 tahun dalam menjalani Islam, namun umur dalam Islam yang sedikit tersebut sudah cukup untuk membuat Arsy Allah bergetar. Oleh karenanya dalam kebaikan tidak ada kata terlambat, siapapun yang telah sampai pada usia tua -artinya meskipun umurnya tersisa sedikit- maka tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kualitas amalnya.

Diantara dalil yang menunjukan kualitas dalam amalan sangat penting adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ ألْفِ دِرْهَمٍ

“Satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham” ([4])

Bagaimana mungkin? Para ulama menjelaskan bahwa adakalanya orang yang berinfak satu dirham tersebut adalah orang yang sangat miskin, sehingga satu dirham tersebut sangat berharga baginya. Lalu ia infakkan dengan ikhlas karena Allah. Dalam kondisi tersebut bisa jadi ia mengalahkan infak seratus ribu dirham yang dikeluarkan oleh orang kaya namun ia kurang ikhlas. Karena yang Allah lihat adalah kualitas sedekahnya dan bukan sekedar kuantitas sedekah.

Lihatlah juga kisah wanita pezina yang Allah ampuni dosa-dosanya dengan sebab memberi minum seekor anjing. Nabi ﷺ bersabda :

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ

“Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati karena kehausan berputar-putar mengelilingi sebuah sumur yang berisi air, tiba-tiba anjing tersebut dilihat oleh seorang wanita pezina dari kaum bani Israil, maka wanita tersebut melepaskan khufnya (sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi air ke sepatu tersebut-pen) lalu memberi minum si anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena amalannya itu”([5])

Dalam hadits ini sangatlah nampak keikhlasan sang wanita pezina tatkala menolong anjing, hal ini (keikhlasan) nampak dari perkara-perkara berikut ini :

– Tidak ada seorangpun yang melihat sang wanita tatkala menolong sang anjing. Yang melihatnya hanyalah Dzat Yang Maha melihat, yaitu Allah.

– Amalan yang cukup berat yang dikerjakan oleh sang wanita ini, di mana ia turun ke sumur lalu mengisi air ke sepatunya, lalu memberikannya ke anjing tersebut. Bagi seorang wanita pekerjaan seperti ini cukup memberatkan. Akan tetapi menjadi terasa ringan jika dilakukan dengan ikhlash.

– Wanita ini sama sekali tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari hewan yang hina seperti anjing tersebut, apalagi mengharapkan balas jasa dari anjing tersebut. Ini menunjukkan ikhlashnya sang wanita pezina tersebut.

Ibnul Qoyyim berkata, “Sesuatu yang terdapat di hati wanita pezina yang melihat seekor anjing sangat kehausan hingga menjilat-jilat tanah, meskipun tidak ada alat, tidak ada penolong, dan tidak ada orang yang bisa ia perlihatkan amalannya, namun tegak di hatinya (tauhid dan keikhlasan-pen) yang mendorongnya untuk turun ke sumur dan mengisi air di sepatunya, dengan tanpa mempedulikan kondisi yang bisa jadi membuatnya celaka, lalu bawa air yang penuh dalam sepatu tersebut dengan mulutnya agar dirinya bisa memanjat sumur. Salain itu tawadhu’ (kerendahan hati) wanita pezina ini terhadap makhluk yang biasanya dipukul oleh manusia. Lalu iapun memegang sepatu tersebut dengan tangannya kemudian menyodorkannya ke mulut anjing tanpa ada rasa mengharap sedikitpun dari anjing, baik balasan jasa atau rasa terima kasih. Maka sinar tauhid yang ada di hatinya tersebut pun menjadi pembakar dosa-dosa zina yang pernah dilakukannya, maka Allah pun mengampuninya”([6])

Diantara dalil yang menunjukan pentingnya kualitas amal adalah Nabi ﷺ menyebutkan kisah seseorang di perang Uhud yang tiba-tiba masuk Islam lalu ia meninggal dunia dan dijamin masuk surga, walaupun tidak pernah sujud sekalipun([7]). Oleh karena itu yang terpenting adalah kualitas amalan, itulah yang dilihat oleh Allah. Namun jika seseorang bisa menggabungkan antara kualitas dengan kuantitas, maka itulah yang terbaik. Sebagaimana Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang menggabungkan antara kualitas dengan kuantitas amalan([8]). Akan tetapi jika seseorang tidak mampu menggabungkan keduanya, maka hendaklah memperhatikan kualitas, karena itulah yang lebih utama daripada kuantitas. Karenanya tidak ada kata terlambat dalam beramal shalih. Barangsiapa yang telah medapatkan hidayah, telah berhijrah, maka alangkah baiknya jika ia berusaha kuat agar terus beribadah dan meningkatkan kualitas yang terbaik, karena yang Allah lihat adalah kualitasnya. Janganlah kita terlalu terperdaya dengan kuantitas sesuatu namun tidak berkualitas.

Apa ukuran baiknya amalan?

Fudhail bin ‘Iyad ketika ditanya tentang amalan yang terbaik maka beliau jawab:

أَخْلَصُهُ وَأصْوَبُهُ

“Yang paling ikhlas dan yang paling tepat (dengan Sunnah Nabiﷺ)” ([9]), itulah makna dari ayat

لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“…agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.

Hendaknya seseorang dalam beramal memperhatikan; apakah amalnya sesuai dengan sunnah Nabi? dipraktikan Nabi dan para sahabatnya? Jika tidak, maka hendaknya ia berusaha memperbaiki amalnya agar sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga amalnya menjadi berkualitas. Betapa banyak orang melakukan banyak amalan, tetapi tidak berkualitas, karena tidak sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagian ulama menafsirkan “amalan yang terbaik” dengan “yang paling zuhud terhadap dunia”, karena dunia itu indah, terlihat begitu menyenangkan dan dirasakan begitu manis. Zuhud maknanya bukan berarti tidak memiliki uang akan tetapi zuhud adalah bagaimana sikap hati terhadap dunia. Terlalu banyak dalil yang memerintahkan kita untuk menginfakkan harta, ini menunjukkan bahwa seorang sepatutnya memiliki harta, karena tidak mungkin seorang menginfakkan hartanya sementara ia tidak memiliki harta sama sekali. Yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah dunia tersebut berada di hati kita atau tidak?”, “Apakah kita merasa berat saat mengeluarkan uang atau tidak?”. Adakalanya orang kaya raya, tetapi dunia tidak berada di hatinya, sehingga begitu mudah baginya untuk bersedekah. Sebaliknya adakalanya seseorang miskin akan tetapi dunia berada dalam hatinya sehingga ia sangat mencintai dunia. Oleh karena itu yang menjadi patokan zuhud adalah bagaimana sikap hatinya terhadap dunia.

_________________

Footnote :

([1]) HR Muslim: 2742.

([2]) Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 5/ 137.

([3]) HR Al-Bukhari  no. 3803 dan Muslim No. 2466.

([4]) HR An-Nasa`i no 2527.

([5]) HR Al-Bukhari no 3467 dan Muslim no 2245

([6]) Madaarijus Saalikiin 1/280-281

([7]) Yaitu kisah أُصَيْرِمُ Ushairim yang bernama, عَمْرُو بْنُ ثاَبِتِ بْنِ وُقَيْشٍ Ámr bin Tsabit bin Wuqoisy. Mahmud bin Labid radhiallahu ánhu berkata :

كَانَ يَأْبَى الْإِسْلَامَ عَلَى قَوْمِهِ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ وَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُحُدٍ بَدَا لَهُ الْإِسْلَامُ فَأَسْلَمَ، فَأَخَذَ سَيْفَهُ فَغَدَا حَتَّى أَتَى الْقَوْمَ فَدَخَلَ فِي عُرْضِ النَّاسِ، فَقَاتَلَ حَتَّى أَثْبَتَتْهُ الْجِرَاحَةُ، فَبَيْنَمَا رِجَالُ بَنِي عَبْدِ الْأَشْهَلِ يَلْتَمِسُونَ قَتْلَاهُمْ فِي الْمَعْرَكَةِ إِذَا هُمْ بِهِ، فَقَالُوا: وَاللهِ إِنَّ هَذَا لَلْأُصَيْرِمُ، وَمَا جَاءَ؟ لَقَدْ تَرَكْنَاهُ وَإِنَّهُ لَمُنْكِرٌ لِهَذَا الْحَدِيثَ، فَسَأَلُوهُ مَا جَاءَ بِهِ؟ قَالُوا: مَا جَاءَ بِكَ يَا عَمْرُو، أَحَدَبًا عَلَى قَوْمِكَ، أَوْ رَغْبَةً فِي الْإِسْلَامِ؟ قَالَ: بَلْ رَغْبَةً فِي الْإِسْلَامِ، آمَنْتُ بِاللهِ وَرَسُولِهِ، وَأَسْلَمْتُ، ثُمَّ أَخَذْتُ سَيْفِي فَغَدَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ فَقَاتَلْتُ حَتَّى أَصَابَنِي مَا أَصَابَنِي، قَالَ: ثُمَّ لَمْ يَلْبَثْ أَنْ مَاتَ فِي أَيْدِيهِمْ، فَذَكَرُوهُ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” إِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Tadinya Ámr bin Tsabit (dari bani ‘Abdil Asyhal) enggan untuk masuk Islam. Namun tatkala perang Uhud dan Rasulullah shallallahu álaihi wasallam menuju Uhud maka nampak baginya untuk masuk Islam lalu iapun masuk Islam. Iapun mengambil pedangnya lalu berangkat menuju para pasukan perang, lalu masuk di tengah medan pertempuran, ia berperang hingga akhirnya terluka dan tidak bisa melanjutkan perang. Maka ketika sekelompok orang dari bani ‘Abdil Asyhal sedang mencari-cari korban dari kalangan mereka yang meninggal di perang Uhud, tiba-tiba mereka bertemu dengan ‘Amr bin Tsabit (al-Ushoirim), merekapun berkata, “Demi Allah ini sungguh al-Ushoirim, apa yang membuatnya datang? Sungguh kita meninggalkan dia dalam kondisi ia mengingkari al-Qur’an”. Maka merekapun bertanya kepadanya; apa yang menyebabkan dirinya ikut dalam peperangan? Apakah karena simpati/membela kaumnya (bani ‘Abdil Asyhal)? Ataukah karena tertarik dengan Islam?. ‘Amr bin Tsabit pun berkata, “Karena tertarik dengan Islam, aku telah beriman kepada Allah dan RasulNya dan aku telah masuk Islam, lalu aku mengambil pedangku dan aku berangkat bersama Rasulullah, maka akupun berperang hingga aku mengalami apa yang menimpaku sekarang”. Tidak lama kemudian iapun wafat di hadapan mereka. Lalu mereka menceritakan perihalnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi berkata, “ Sesungguhnya dia benar-benar termasuk penghuni surga” (HR Ahmad no 23634, sanadnya dinilai hasan oleh Ibnu Hajar di Fathul Baari 6/25 dan para pentahqiq al-Musnad)

([8]) Abu Hurairah berkata :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: «فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: «فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، قَالَ: «فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟» قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ»

Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata : “Siapakah yang pagi hari ini dalam kondisi berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya”. Nabi berkata, “Siapa diantara kalian yang hari ini mengikuti jenazah?”. Abu Bakar berkata, “Saya”. Nabi berkata, “Siapakah diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Abu Bakar berkata, “Saya”. Nabi berkata, “Siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit?”. Abu Bakar berkata, “Saya”. Rasulullah shallallahu álaihi wasallam, “Tidaklah perkara-perkara ini terkumpul pada seseorang kecuali (dia akan) masuk surga” (HR Muslim no 1028)

Hadits ini menunjukan bahwa Abu Bakar radhiallahu ánhu adalah orang yang gemar beribadah, bahkan dalam sehari beliau mengumpulkan berbagai macam ibadah, baik ibadah yang berkaitan dengan Allah (seperti puasa) maupun ibadah yang berkaitan dengan bersosial sesama manusia (seperti memberi makan fakir miskin, menjenguk orang sakit, dan melayat janazah).

([9]) Lihat Tafsir Al-Baghawi: 5/ 124.