Tafsir Surat Al-Maidah Ayat-110

110. إِذْ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ٱذْكُرْ نِعْمَتِى عَلَيْكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلْقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِى ٱلْمَهْدِ وَكَهْلًا ۖ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَٱلتَّوْرَىٰةَ وَٱلْإِنجِيلَ ۖ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيْـَٔةِ ٱلطَّيْرِ بِإِذْنِى فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًۢا بِإِذْنِى ۖ وَتُبْرِئُ ٱلْأَكْمَهَ وَٱلْأَبْرَصَ بِإِذْنِى ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ ٱلْمَوْتَىٰ بِإِذْنِى ۖ وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَنكَ إِذْ جِئْتَهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ إِنْ هَٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

iż qālallāhu yā ‘īsabna maryamażkur ni’matī ‘alaika wa ‘alā wālidatik, iż ayyattuka birụḥil-qudus, tukallimun-nāsa fil-mahdi wa kahlā, wa iż ‘allamtukal-kitāba wal-ḥikmata wat-taurāta wal-injīl, wa iż takhluqu minaṭ-ṭīni kahai`atiṭ-ṭairi bi`iżnī fa tanfukhu fīhā fa takụnu ṭairam bi`iżnī wa tubri`ul-akmaha wal-abraṣa bi`iżnī, wa iż tukhrijul-mautā bi`iżnī, wa iż kafaftu banī isrā`īla ‘angka iż ji`tahum bil-bayyināti fa qālallażīna kafarụ min-hum in hāżā illā siḥrum mubīn
110. (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.

Tafsir :

Pada ayat ini Allah ﷻ menyebutkan nikmat-nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Allah ﷻ berfirman,

﴿ إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ ﴾

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu.

Nikmat tersebut sangat banyak, dan Allah ﷻ menyebutkan di antara rinciannya dalam ayat ini. Begitu juga Allah ﷻ memberi nikmat kepada ibunya (Maryam). Allah ﷻ memuliakan Maryam dan menjadikannya wanita yang salihah. Allah ﷻ juga membelanya dengan mengatakan bahwa ia adalah wanita yang menjaga kemaluannya, setelah sebelumnya beliau dituduh pezina oleh orang-orang Yahudi.

Allah ﷻ memberikan Maryam beberapa keajaiban diantaranya makanan terhidangkan dengan sendirinya untuknya. Demikian juga ketika mengandung Nabi Isa ‘alaihissalam Allah ﷻ memerintahkannya untuk menggerakkan pohon kurma lalu jatuhlah rutab untuk dimakan. Ketika Maryam kehausan maka Allah ﷻ mengalirkan sungai di bawahnya, sehingga dia dapat minum dari sungai tersebut, dan yang paling ajaib adalah melahirkan seorang anak tanpa berhubungan dengan seorang lelakipun. Keajaiban-kejaiban ini semuanya sebagaimana yang disebutkan dalam surah Ali ‘Imron dan surah Maryam.

Demikian pula nikmat-nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam juga merupakan kenikmatan untuk Maryam. Karena semua keistimewaan pada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam juga kembali kepada ibunya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang Fathimah,

إِنَّمَا فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا

“Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku. Aku akan merasakan sakit dengan derita yang ia rasakan.” ([1])

Berdasarkan hadis ini maka bisa dikatakan bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihissalam adalah bagian dari ibunya. Karena nikmat terbesar yang Allah ﷻ berikan kepada Maryam adalah dengan adanya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Allah ﷻ menyebutkan rincian sebagian nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam:

Pertama: firman-Nya,

﴿ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ ﴾

Di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruh Kudus.

Maksudnya, sebagaimana dijelaskan oleh ahli tafsir, Allah ﷻ menguatkan Nabi ‘Isa dengan malaikat Jibril([2]) yang senantiasa menemani dan membimbingnya. Hingga ketika Nabi ‘Isa akan dibunuh, maka malaikat Jibril membawa Nabi ‘Isa ke langit.

Di antara nama malaikat Jibril adalah Al-Ruh. Hal ini banyak disebutkan di dalam Quran. Disebut demikian karena dia bertugas menurunkan kitab-kitab suci yang memberi kehidupan bagi manusia.([3])

Kedua: firman Allah ﷻ,

﴿ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا ﴾

“Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa.

Makna كَهْلًا adalah usia dari 33 atau 40 hingga 50 tahun.([4]) Nabi ‘Isa diangkat pada usia 30 tahun sekian. Seolah-olah Allah ﷻ mengatakan, “Perkataanmu ketika masih dalam buaian dan ketika sudah dewasa tidak ada bedanya.” Artinya, ketika Nabi ‘Isa berbicara dalam buaian sebagaimana halnya orang dewasa. Mukjizat ini tidak diakui oleh orang-orang Nasrani. Mukjizat ini hanya disebutkan dalam Quran dan tidak disebutkan dalam keempat Injil yang sekarang diakui. Memang itu ada penyebutannya dalam sebagian Injil, yaitu Injil Tufuliyah (Arabic Gospel of Infancy) yang menyebutkan tentang kisah Nabi ‘Isa ketika masih kecil. Namun Injil tersebut dimasukkan ke dalam Injil Apokrif (dianggap tidak kanonik dan ditolak).

Disebutkan dalam kitab Imamat 21:9, tentang hukuman zina terhadap putri seorang imam: “Apabila anak perempuan seorang imam membiarkan kehormatannya dilanggar dengan bersundal, maka ia melanggar kekudusan ayahnya, dan ia harus dibakar dengan api.”

Maryam adalah putri dari seorang imam. Maryam tidak diketahui memiliki suami dan tiba-tiba dia mengandung anak. Para ulama menjelaskan tentang bagaimana Maryam bisa selamat dari hukuman bakar tersebut. Itu tidak lain karena mukjizat Nabi ‘Isa yang berbicara ketika masih bayi, sehingga Maryam tidak dibakar. Sekiranya Nabi ‘Isa tidak berbicara saat itu untuk menjelaskan dan membela bahwa ibunya tidak berzina maka Maryam seharusnya akan dibakar. Hal ini Allah ﷻ abadikan dalam surah Maryam. Allah ﷻ berfirman,

﴿ فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا . يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا . فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا . قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا . وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا . وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا . وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا  .ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ . مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ . وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ﴾

“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina,’ maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?Berkata ‘Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’ Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: Jadilah, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” (QS Maryam: 27-36).

Orang-orang Nasrani mengingkari pembicaraan Nabi ‘Isa ketika masih bayi karena topiknya adalah tentang dirinya sebagai nabi dan Allah ﷻ adalah Tuhannya. Juga tentang perintah Allah ﷻ kepada Nabi Isa untuk menyembah-Nya. Mereka menganggap bicaranya Nabi ‘Isa ketika masih bayi termasuk perkara mustahil. Maka kita katakan, bahwa lebih mustahil kondisi Maryam yang melahirkan tanpa pria. Jika kalangan Nasrani mengakui Nabi ‘Isa bisa terlahir tanpa ayah, maka pembicaraannya ketika masih bayi seharusnya lebih diakui. Intinya, hal ini adalah salah satu mukjizat yang tidak ada pada 4 Injil (injil Matius, Injil Lukas, Injil Yohannes, dan Injil Markus). Dalam hal ini Islam lebih memuliakan Nabi ‘Isa dibandingkan mereka.

Terdapat perselisihan di kalangan ulama, apakah Nabi ‘Isa terus berbicara mulai bayi hingga dewasa, ataukah dia berbicara hanya ketika itu saja? Allahu a’lam. Tampaknya pendapat yang lebih kuat adalah Nabi ‘Isa berbicara ketika itu saja dalam rangka membela ibunya, sehingga ibunya bisa selamat dari hukuman. Di samping itu, jika Nabi ‘Isa ‘alaihissalam terus berbicara, maka itu akan menjadi perkara menghebohkan sehingga memperkecil kemungkinan orang-orang Yahudi menuduh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam sebagai anak zina.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ  bersabda,

لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ، وَكَانَ جُرَيْجٌ رَجُلًا عَابِدًا، فَاتَّخَذَ صَوْمَعَةً، فَكَانَ فِيهَا، فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ فَقَالَ: يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي، فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ، فَانْصَرَفَتْ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ فَقَالَ: يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي، فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ، فَانْصَرَفَتْ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي، فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ، فَقَالَتْ: اللهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَى وُجُوهِ الْمُومِسَاتِ، فَتَذَاكَرَ بَنُو إِسْرَائِيلَ جُرَيْجًا وَعِبَادَتَهُ وَكَانَتِ امْرَأَةٌ بَغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بِحُسْنِهَا، فَقَالَتْ: إِنْ شِئْتُمْ لَأَفْتِنَنَّهُ لَكُمْ، قَالَ: فَتَعَرَّضَتْ لَهُ، فَلَمْ يَلْتَفِتْ إِلَيْهَا، فَأَتَتْ رَاعِيًا كَانَ يَأْوِي إِلَى صَوْمَعَتِهِ، فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا، فَوَقَعَ عَلَيْهَا فَحَمَلَتْ، فَلَمَّا وَلَدَتْ قَالَتْ: هُوَ مِنْ جُرَيْجٍ، فَأَتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وَهَدَمُوا صَوْمَعَتَهُ وَجَعَلُوا يَضْرِبُونَهُ فَقَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالُوا: زَنَيْتَ بِهَذِهِ الْبَغِيِّ، فَوَلَدَتْ مِنْكَ، فَقَالَ: أَيْنَ الصَّبِيُّ؟ فَجَاءُوا بِهِ، فَقَالَ: دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ، فَصَلَّى، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَتَى الصَّبِيَّ فَطَعَنَ فِي بَطْنِهِ، وَقَالَ: يَا غُلَامُ مَنْ أَبُوكَ؟ قَالَ: فُلَانٌ الرَّاعِي، قَالَ: فَأَقْبَلُوا عَلَى جُرَيْجٍ يُقَبِّلُونَهُ وَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ، وَقَالُوا: نَبْنِي لَكَ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ، قَالَ: لَا، أَعِيدُوهَا مِنْ طِينٍ كَمَا كَانَتْ، فَفَعَلُوا. وَبَيْنَا صَبِيٌّ يَرْضَعُ مِنْ أُمِّهِ، فَمَرَّ رَجُلٌ رَاكِبٌ عَلَى دَابَّةٍ فَارِهَةٍ، وَشَارَةٍ حَسَنَةٍ، فَقَالَتْ أُمُّهُ: اللهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَ هَذَا، فَتَرَكَ الثَّدْيَ وَأَقْبَلَ إِلَيْهِ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: اللهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدْيِهِ فَجَعَلَ يَرْتَضِعُ “. قَالَ: فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَحْكِي ارْتِضَاعَهُ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ فِي فَمِهِ، فَجَعَلَ يَمُصُّهَا، قَالَ: ” وَمَرُّوا بِجَارِيَةٍ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ: زَنَيْتِ، سَرَقْتِ، وَهِيَ تَقُولُ: حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، فَقَالَتْ أُمُّهُ: اللهُمَّ لَا تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا، فَتَرَكَ الرَّضَاعَ وَنَظَرَ إِلَيْهَا، فَقَالَ: اللهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا، فَهُنَاكَ تَرَاجَعَا الْحَدِيثَ، فَقَالَتْ: حَلْقَى مَرَّ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ فَقُلْتُ: اللهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهُ، فَقُلْتَ: اللهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ، وَمَرُّوا بِهَذِهِ الْأَمَةِ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ، سَرَقْتِ، فَقُلْتُ: اللهُمَّ لَا تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا فَقُلْتَ: اللهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا، قَالَ: إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ كَانَ جَبَّارًا، فَقُلْتُ: اللهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ، وَإِنَّ هَذِهِ يَقُولُونَ لَهَا زَنَيْتِ وَلَمْ تَزْنِ، وَسَرَقْتِ وَلَمْ تَسْرِقْ فَقُلْتُ: اللهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا “

“Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian kecuali tiga bayi: (1) bayi Isa bin Maryam, (2) dan bayi dalam kasus Juraij. Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah. Ia membangun tempat peribadatan dan senantiasa beribadah di tempat itu. Ketika sedang melaksanakan salat sunah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya; ‘Hai Juraij!’ Juraij bertanya dalam hati, ‘Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan salatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?’ Akhirnya ia pun meneruskan salatnya. Ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Keesokan harinya ibunya datang lagi sementara Juraij pun sedang melakukan salat sunah. Kemudian ibunya memanggilnya, ‘Hai Juraij! ‘ Kata Juraij dalam hati, ‘Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku ataukah salatku?’ Lalu Juraij tetap meneruskan salatnya, hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Hari berikutnya, ibunya datang lagi sementara Juraij pun sedang melaksanakan salat sunah. Seperti biasa ibunya memanggil, ‘Hai Juraij!’ Kata Juraij dalam hati, ‘Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan salatku ataukah memenuhi seruan ibuku?’ Namun Juraij tetap meneruskan salatnya dan mengabaikan seruan ibunya. Tentunya hal ini membuat kecewa hati ibunya. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah dari perempuan pelacur!’ Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraij dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur cantik berkata; ‘Jika kalian mau, aku dapat memfitnahnya untuk kalian.’ Maka mulailah pelacur itu menawarkan dirinya kepada Juraij, tetapi Juraij tidak menoleh sama sekali. Kemudian pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala yang sering berteduh di tempat peribadatan Juraij. Wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki-laki penggembala itu melakukan perzinaan dengannya sampai wanita itu hamil. Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya, ‘Bayi ini adalah hasil dari Juraij.’ Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun marah kepada Juraij. Mereka mendatangi Juraij, mengeluarkannya, menghancurkan rumah peribadatannya, dan bertindak main hakim sendiri kepadanya. Juraij pun bertanya kepada mereka; Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga ia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu.’ Juraij menjawab, ‘Di manakah bayi itu?’ Kemudian mereka menghadirkan bayi itu. Juraij berkata, ‘Berikan aku kesempatan untuk salat.’ Seusai salat, Juraij mendatangi bayi tersebut dan menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya, ‘Hai bayi, siapakah sebenarnya ayahmu itu?’ Sang bayi langsung menjawab, ‘Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.’ Maka mereka pun berpihak kepada Juraij, mencium keningnya, mengusapnya, dan berkata kepadanya, ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.’ Namun Juraij menolak dan berkata, ‘Tidak usah. Kembalikan saja rumah ibadah itu seperti semula yang terbuat dari tanah liat.’ Mereka pun membangun rumah ibadah itu seperti semula. Dan (3) seorang bayi  ketika sedang menyusu kepada ibunya, tiba-tiba lewat seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian bagus. Lalu ibu bayi tersebut berkata, ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah anakku ini seperti laki-laki yang sedang mengendarai hewan tunggangan itu!’ Bayi itu berhenti dari susuannya, lalu menghadap dan memandang kepada laki-laki tersebut sambil berkata, ‘Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu!’ Setelah itu, bayi tersebut kembali menyusu kepada ibunya.” Abu Hurairah berkata, “Sepertinya saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan susuan bayi itu sambil memperagakan dengan jari telunjuk beliau yang dihisap dengan mulut beliau.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneruskan sabdanya: “Kemudian pada suatu ketika, ada beberapa orang menyeret dan memukuli seorang budak wanita seraya berkata, ‘Kamu tidak tahu diuntung. Kamu telah berzina dan mencuri.’ Tetapi budak wanita itu tetap tegar dan berkata, ‘Hanya Allahlah penolongku. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik penolongku.’ Kemudian ibu bayi itu berkata; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti budak wanita itu!’ Namun tiba-tiba bayi itu berhenti dari susuan ibunya, lalu memandang budak wanita tersebut seraya berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku sepertinya!’ Pria tadi adalah seorang yang zalim, maka bayi itu mengatakan tidak ingin sepertinya. Sementara budak wanita tadi dituduh berzina dan mencuri, padahal ia tidak melakukannya, maka bayi itu ingin sepertinya.([5])

Menurut penjelasan Al-Nawawi terhadap bagian akhir hadis di atas, bahwa maksudnya bayi itu ingin selamat dari maksiat, sebagaimana halnya budak wanita tersebut tidak melakukan atau selamat dari maksiat yang dituduhkan. Bukanlah maksudnya supaya ia juga ingin dituduh dengan tuduhan yang tidak benar.([6])

Jika kita perhatikan tiga bayi yang berbicara pada hadis tersebut, maka yang tampak adalah ketiganya hanya berbicara sesaat, dan bukan terus menerus. Ini menguatkan pendapat Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi ‘Isa hanya berbicara sesaat untuk membela ibunya yang dituduh berzina oleh Bani Israil.([7]) Di samping itu, dalam ayat dimaksud Allah ﷻ membedakan antara pembicaraannya ketika masih dalam buaian dan ketika dewasa. Ini menunjukkan adanya jeda pada pembicaraannya. Jadi, beliau berbicara ketika masih bayi hanya beberapa saat, kemudian kembali menjadi seperti bayi pada umumnya.

Ketiga: firman Allah ﷻ,

﴿ وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ ﴾

Dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu Al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil”

Maksud al-kitab pada ayat ini adalah menulis. Nabi ‘Isa terkenal sebagai muallim (guru). Karena itu di antara tafsiran ulama terkait firman-Nya,

﴿ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ ﴾

Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada (QS Maryam: 31),” adalah bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihissalam selalu menyampaikan nasihat di mana pun beliau berada. Maka beliau adalah seorang yang pandai menulis. Pemberian lainnya yang Allah ﷻ berikan kepada beliau adalah الْحِكْمَةَ. الْحِكْمَةَ adalah ketajaman pandangan, pikiran yang lurus, dan kecerdasan yang kuat.([8])

Allah ﷻ juga mengajarkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam Taurat dan Injil. Kitab Injil mengubah sebagian isi Taurat dan membatalkan sebagian hukumnya, Sebagaimana dikatakan oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam,

﴿ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ﴾

“Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang telah diharamkan untuk kalian.” (QS Ali Imran: 50)

Inilah di antara sebab Bani Israil tidak mau beriman kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka menganggap bahwa hukum Taurat tidak boleh dibatalkan, sedangkan Nabi ‘Isa membatalkan sebagian hukum Taurat.

Keempat: firman-Nya,

﴿ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ﴾

“Dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku.”

Para ulama menyebutkan alasan mukjizat Nabi ‘Isa itu berkaitan dengan burung, adalah karena burung merupakan hewan yang menakjubkan karena terbang di udara.([9]) Betapa menakjubkan mukjizat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam yang menciptakan hewan dari tanah (dari bumi) yang kemudian bisa terbang bebas di angkasa. Tentunya semua itu terjadi dengan izin Allah ﷻ.

Kelima: firman-Nya,

﴿ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ﴾

“Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku.”

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa mukjizat para nabi diberikan sesuai dengan sesuatu yang sedang tenar di zamannya.([10])

Di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam yang sedang tenar adalah masalah sihir. Maka Allah ﷻ memberikan kepadanya mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular besar, dan perubahan tersebut bukanlah sihir.

Nabi Muhammad ﷺ diberikan mukjizat berupa Quran karena saat itu yang sedang terkenal adalah syair-syair. Allah ﷻ menurunkan Quran yang bukan syair, namun sedemikian menakjubkan sehingga mereka tidak mampu mendatangkan semisal Quran. Bahkan, Allah ﷻ menantang mereka berulang kali untuk itu.

Nabi Yusuf hidup di zaman yang sarat dengan tafsiran mimpi. Ketika sang raja bermimpi, ternyata tidak ada yang bisa menafsirkannya kecuali Nabi Yusuf.

Demikianlah pula di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, yang saat itu sedang marak dan berkembang adalah ilmu pengobatan.  Namun tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakit buta dan sopak. Lalu Allah ﷻ berikan mukjizat kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam untuk bisa menyembuhkan kedua penyakit tersebut. Tidak hanya itu, beliau bahkan bisa menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي﴾

“Dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku.”

Nabi ‘Isa ‘alaihissalam pergi ke kuburan dan memerintahkan mayat yang ada di dalam kuburan untuk keluar. Lalu keluarlah mayat tersebut dalam keadaan hidup. Ini adalah perkara yang luar biasa menakjubkan.

Keenam: firman-Nya,

﴿ وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ﴾

“Dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata.”

Orang-orang Yahudi sangat benci kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan menuduhnya sebagai anak zina. Oleh karenanya Allah ﷻ sering memuji Maryam bahwa beliau adalah wanita yang menjaga kemaluannya. Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا ﴾

“Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kemaluannya.” (QS Al-Anbiya`: 91)

Bani Israil bekerjasama dengan orang-orang Romawi untuk membunuh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka menyangka telah berhasil menangkap dan membunuh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Padahal, yang mereka tangkap dan bunuh itu bukanlah Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Allah ﷻ berfirman,

﴿ وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا . بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ﴾

“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.’ Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.” (QS Al-Nisa`: 157-158)

Membunuh para nabi adalah kebiasaan orang-orang Yahudi, sehingga mereka juga mencoba membunuh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka bangga mengklaim telah membunuh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Padahal mereka tidaklah membunuhnya.

Sungguh kasihan orang-orang Nasrani yang terjebak dengan khurafat-khurafat tentang dosa warisan atau tentang Nabi ‘Isa yang menyerahkan dirinya untuk ditangkap, disalib dan dihinakan di dunia dalam rangka menebus dosa-dosa manusia. Mereka semua terjebak dalam khurafat dosa warisan yang harus ditebus oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.

Firman Allah ﷻ,

﴿ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ ﴾

Lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.

Orang-orang Yahudi tidak beriman dengan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam yang telah mendatangkan banyak bukti dan mukjizat. Mereka menuduh bahwa perbuatan Nabi ‘Isa yang dapat menyembuhkan orang sakit dan mengeluarkan orang mati itu adalah sihir belaka.

Demikianlah keadaan orang-orang kafir, ketika datang para rasul maka mereka menuduh dengan “penyihir” atau “orang gila”.

_________________

Footnote :

([1]) HR Al-Bukhari no. 5230 dan Muslim No. 2449.

([2]) Lihat: Tafsir Al-Baghawi, vol. II, hlm. 101.

([3]) Lihat: Hadaiq Al-Rauh War-Raihan, vol. II, hlm. 75.

([4]) Lihat: Tafsir Ibn Athiyyah, vol. II, hlm. 257.

([5]) HR Muslim no. 2550.

([6])  Lihat: Syarh Shahih Muslim, karya Al-Nawawi, vol. XVI, hlm. 108.

([7]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, vol. VI, hlm. 90.

([8]) Lihat: Tafsir Ibn Katsir, vol. III, hlm. 223.

([9]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, vol. IV, hlm. 94.

([10]) Lihat: Al-Bidayah wan-Nihayah, vol. II, hlm. 486.