Tafsir Surat Al-Maidah Ayat-98

98. ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

i’lamū annallāha syadīdul-‘iqābi wa annallāha gafụrur raḥīm
98. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir :

Ayat ini menegaskan pentingnya mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ. Ayat yang semisal ini bertebaran dalam Quran. Tujuannya agar kita semakin mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah, yang kita beribadah kepada-Nya. Di antara sifat-sifat tersebut adalah sebagaimana disebutkan dalam ayat ini yaitu أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ “Bahwa Allah sangat keras siksaannya”. Tiada siksa yang sebanding dengan siksaan-Nya.

Allah ﷻ berfirman,

فَيَوْمَئِذٍۢ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌۭ

“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil)” (QS Al-Fajr: 25)

Sehebat apapun seseorang menyiksa orang lain maka tetap tidak akan menyamai siksa Allah pada hari kiamat kelak.

Namun demikian وَأَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” maka seseorang yang bermaksiat, kufur dan ingkar kepada Allah hendaknya segera bertobat dan kembali kepada-Nya.

Allah ﷻ berfirman dalam ayat lain,

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُوْر ُالرَّحِيْمُ. وَأَنَّ عَذَابِى هُوَ ٱلْعَذَابُ ٱلْأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada para hamba-Ku, bahwa sungguh Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, dan bahwa sungguh azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS Al-Hijr: 49-50).

Dalam ayat ini Allah mengedepankan sifat penyayang dan mengakhirkan ancaman terhadap azab dan siksanya yang pedih. Ini berbeda dengan ayat ke-98 dalam surat Al-Maidah tersebut yang mengedepankan ancaman dan kemudian disebutkan sifat Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kenapa demikian? Karena pada ayat Al-Maidah itu sebelumnya Allah menyebutkan tentang aturan dan hukum. Maka Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan ancaman terlebih dahulu agar aturan-aturan tersebut tidak dilanggar.

Seorang hamba yang meyakini bahwa Rabb-Nya teramat pedih siksanya dan sekaligus Maha Pengampun terhadap segala dosa, maka akan hadir dalam dirinya rasa khauf (rasa takut) dan raja’ (rasa harap) dalam ibadahnya.