Tafsir Surat Al-Maidah Ayat-77

77. قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓا۟ أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ

qul yā ahlal-kitābi lā taglụ fī dīnikum gairal-ḥaqqi wa lā tattabi’ū ahwā`a qauming qad ḍallụ ming qablu wa aḍallụ kaṡīraw wa ḍallụ ‘an sawā`is-sabīl
77. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.

Tafsir :

Firman Allah ﷻ,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ

“Katakanlah: Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian.’”

Dalam ayat ini, Allah ﷻ melarang Ahli Kitab dari melampaui batas. Menurut Ibnul-Qayyim rahimahullah, Ahli Kitab dalam ayat tersebut adalah karangan Nasrani di zaman Rasulullah ﷺ.([1]) Karena ayat-ayat sebelumnya tentang orang-orang Nasrani. Dalam ayat sebelumnya ditegaskan:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah salah satu dari yang tiga.(QS Al-Maidah: 73)

Adapun mayoritas ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini mencakup Ahli Kitab secara umum, baik yang di zaman Rasulullah ﷺ  maupun setelahnya.([2])

Kalangan Yahudi melampaui batas dengan mengatakan ‘Uzair adalah putra Allah ﷻ. Mereka memuji ‘Uzair secara berlebihan. Mereka mengklaim bahwasanya ‘Uzair bisa mendiktekan kembali Taurat yang hilang kepada mereka. Inilah yang menyebabkan mereka berlebihan dalam menyanjung ‘Uzair.([3]) Di antara bentuk melampaui batas lainnya adalah mereka bersikap kasar mereka terhadap Nabi Isa ‘alaihissalam. Mereka menuduh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam adalah anak zina, yaitu anak yang lahir tanpa pernikahan yang sah.([4]) Cukup banyak sanggahan terhadap pernyataan mereka dalam Quran, di antaranya dengan menyebutkan bahwa Maryam adalah wanita yang menjaga kemaluannya,

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا

“Dan Maryam yang telah memelihara kemaluannya.” (QS Al-Anbiya`: 91)

Sedangkan kalangan Nasrani, mereka melampaui batas antara lain dengan mengangkat Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai Tuhan atau sebagai putra Allah ﷻ. Begitu juga dengan penyikapan mereka terhadap malaikat Jibril sebagai Roh Kudus, serta terhadap Maryam (Maria) sebagai sesembahan. Mereka juga berlebihan dalam peribadatan. Pendeta-pendeta mereka melakukan praktik rahbaniyyah (tidak mau menikah), dalam rangka beribadah kepada Allah ﷻ. Padahal, hal ini tidak pernah disyariatkan oleh Allah ﷻ.

Termasuk sikap berlebihan Ahli Kitab adalah mereka mengubah hukum-hukum yang ada pada kitab suci mereka.

Firman Allah ﷻ,

وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.’”

Allah ﷻ melarang untuk mengikuti jejak langkah orang-orang yang telah sesat. Termasuk kalangan Ahli Kitab. Terlebih pemuka agama mereka menghalalkan apa yang Allah ﷻ haramkan dan mengharamkan apa yang Allah ﷻ halalkan.

Seorang Sahabat, ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, sebelumnya adalah Nasrani. Ketika ia mendengar firman Allah ﷻ,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Isa bin Maryam adalah putra Allah.” (QS At-Taubah: 31)

Maka ia berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, kami dahulu tidak menyembah para pendeta dan rahib.” Rasulullah ﷺ lalu bertanya, “Bukankah para pendeta itu jika mengharamkan apa yang Allah halalkan, maka kalian juga ikut mengharamkan? Bukankah para pendeta tersebut jika menghalalkan apa yang Allah haramkan, maka kalian juga ikut menghalalkan?” ‘Adi bin Hatim membenarkan. Maka Rasulullah ﷺ  bersabda, “Itulah bentuk peribadatan kepada mereka.”([5])

Oleh karenanya Allah ﷻ berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ

“Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya.

Ahli Kitab sebelumnya telah sesat dalam banyak hal, baik dalam masalah ketuhanan, penghalalan maupun pengharaman. Banyak hukum-hukum syariat yang mereka tinggalkan. Terlebih di kalangan Nasrani. Kebanyakan mereka tidak puasa, serta meninggalkan syariat memakai jilbab kecuali suster-suster mereka. Mereka juga menghalalkan babi yang hukum asalnya adalah haram. Sedangkan sebagian orang Yahudi masih berpegang teguh dengan syariat sebagian Taurat.

Selain sesat, mereka juga menyesatkan banyak orang. Dahulu orang-orang Nasrani melakukan muktamar-muktamar dalam rangka membicarakan ketuhanan. Di awali dengan Konsili Nicea I pada tanggal 20 Mei – 19 Juni, 325 M. Pada muktamar ini mereka membantah pemikiran Arianisme, sebutan bagi teologi anti-Tritunggal, yang menganggap ‘Isa (Yesus) sebagai makhluk yang diperanakkan. Konsili Nicea ini mendeklarasikan antara lain ‘Isa (Yesus) sehakikat dengan Allah (Homoousios). Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.

Selanjutnya pada tahun 381 M terjadi Konsili Konstantinopel I, yang disebut juga Konsili (sinode) Ekumenis II. Konsili ini masih membahas tentang Arianisme yang masih berkembang pasca Konsili Nicea, dan membantah pengikut Macedonius, Uskup Konstantinopel, yang menisbikan kodrat keilahian dari Roh Kudus dan menyatakan Roh Kudus adalah zat tengah yang dijadikan Allah dengan kedudukan antara Allah dan alam ciptaan ini. Ajaran Arianisme dan Macedonius ini ditentang oleh mereka. Mereka mengatakan bahwa yang benar Roh Kudus adalah bagian dari Tuhan. Mereka juga membantah pemikiran Apollinarianisme. Apollinaris, Uskup dan Teolog dari Laodikea, meyakini bahwa Yesus yang dilahirkan oleh Maria dan kemudian disalib hanyalah seorang manusia dan bukan Allah. Oleh sebab itu, ia menekankan pribadi Yesus Kristus sebagai pribadi yang mengingkarnasikan kodrat Ilahi dari Logos Ilahi dan sekaligus menyangkal jiwa insani yang terdapat dalam diri-Nya. Ia mengembangkan konsep Logos-Sarx (Sabda-Daging; Allah yang mengenakan daging). Apollinaris menyatakan bahwa Yesus tidak memiliki daya intelektual insani dan jiwa rasional manusia. Kemudian pada tahun 431 M mereka membahas tentang ketuhanan Bunda Maria.([6]) Intinya banyak pertentangan dan perubahan dalam masalah ketuhanan di kalangan mereka. Ini adalah di antara kesesatan-kesesatan kalangan Nasrani, yang memiliki banyak sekte yang saling berselisih tentang masalah ketuhanan.

Orang-orang Nasrani sebelum datangnya Nabi Muhammad ﷺ telah sesat dan menyesatkan. Setelah datangnya Rasulullah ﷺ mereka juga tersesat dari jalan yang lurus. Sehingga mereka mengumpulkan dua sifat, yaitu sesat dan menyesatkan.

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Badai’ Al-Fawaid, vol. II, hlm. 30.

([2]) Lihat: Tafsir Al-Baghawi, vol. II, hlm. 72.

([3]) Lihat: Tafsir ath-Thabari, vol. XIV, hlm. 202.

([4]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, vol. VI, hlm. 252.

([5]) HR Al-Thabrani no. 218.

([6]) Lihat: Dirasat FilAdyan Al-Yahudiyyah wan-Nashraniyyah, karya Syaikh Su’ud bin Al-Khalaf, hlm. 179-185.