Tafsir Surat Al-Maidah Ayat-58

58. وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ ٱتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ

wa iżā nādaitum ilaṣ-ṣalātittakhażụhā huzuwaw wa la’ibā, żālika bi`annahum qaumul lā ya’qilụn
58. Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.

Tafsir :

Dalam ayat ini terdapat penyebutan pertama kali tentang azan, yaitu “seruan” untuk salat. Adapun penyebutan azan pada surah yang lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Al-Jumu’ah: 9)

Allah ﷻ menyeru mereka untuk salat, namun mereka tidak mau mengerjakannya. Bahkan, mereka menjadikan salat sebagai ejekan dan permainan. Al-Qurthubi menyebutkan bahwa ketika orang Yahudi melihat kaum muslimin azan, salat, dan hal yang berkaitan dengan itu, maka mereka pun mengejek.([1]) Itu karena mereka tidak menggunakan akalnya dengan baik. Mereka tidak tahu bahwa salat adalah ibadah agung yang menunjukkan ketundukan kepada Tuhan. Mereka tidak tahu bagaimana kelezatan yang dirasakan oleh orang yang salat. Mereka tidak tahu bahwa salat adalah penyejuk hati bagi orang yang beriman. Sungguh, semua itu tidak diketahui oleh mereka.

Azan disyariatkan pertama kali di kota Madinah. Sebelum adanya syariat azan, maka Rasulullah ﷺ  mengumpulkan orang-orang untuk salat gerhana dengan seruan الصَّلَاةُ جَامِعَة.([2]) Setelah itu Rasulullah ﷺ  dan para Sahabat memikirkan adanya seruan pada salat lima waktu. Ada yang menyarankan dengan api. Ada yang menyarankan dengan memukul semacam kentungan yang menghasilkan bunyi-bunyian. Ada pula yang menyarankan dengan meniup semacam trompet. Akhirnya ada seorang Sahabat yang bermimpi diajari tata cara azan, lalu ia menyampaikan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ  pun menyetujuinya. Setelah itu beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan, sebagaimana azan yang kita kenal hingga saat ini. Itulah asal-muasal azan.([3])

Oleh karena itu, termasuk kesalahan para imam adalah mereka mengucapkan الصَّلَاةُ جَامِعَة ketika akan mengimami salat fardu. Sebagian ulama menjelaskan bahwa kalimat الصَّلَاةُ جَامِعَة boleh diucapkan pada salat yang tidak ada azannya, seperti salat gerhana, salat id, dan selainnya.([4]) Adapun untuk salat lima waktu, maka tidak perlu lagi diucapkan الصَّلَاةُ جَامِعَة untuk kemudian dijawab oleh para makmum.

_____________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, vol. VI, hlm. 224.

([2]) HR Muslim no. 910.

([3]) HR Abu Dawud no. 499, dan dinilai valid oleh Al-Albani.

([4]) Lihat: Asnal-Mathalib, vol. I, hlm. 126.