Tafsir Surat Maryam Ayat-55

55. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرْضِيًّا

wa kāna ya`muru ahlahụ biṣ-ṣalāti waz-zakāti wa kāna ‘inda rabbihī marḍiyyā
55. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.

Tafsir:

Ada dua penafsiran([1]) terkait makna ahl yang dimaksud dalam ayat ini. Ada yang menafsirkannya sebagai keluarga beliau AS, dan ada juga yang menafsirkannya sebagai seluruh umat yang beliau AS diutus kepada mereka, karena seorang nabi bagaikan bapak bagi umatnya.

Demikianlah, seorang mukmin seharusnya menjadikan kualitas agama keluarganya sebagai prioritas. Prioritas utamanya dalam beramar makruf nahi mungkar seharusnya adalah keluarga terdekatnya, barulah berikutnya umat secara umum. Allah ﷻ berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Secara skala prioritas hendaknya seseorang berusaha untuk mendakwahi keluarganya. Jika keluarganya tidak menerimanya maka tidak mengapa sambil dia berdakwah kepada orang lain. Seperti Nabi Nuh ‘Alaihissalam yang berdakwah kepada keluarganya namun istri dan salah satu anaknya tidak mau beriman. Akan tetapi dia tidak berhenti dari berdakwah, ia tetap berdakwah kepada orang lain namun keluarganya tetap menjadi prioritasnya.

Sebagian ulama([2]) menafsirkan bahwa maksud dari ayat ini bahwa Nabi Ismail AS memerintahkan keluarganya untuk shalat malam di malam hari, dan memerintahkan mereka untuk bersedekah di siang hari. Ini juga menunjukkan bahwa syariat shalat dan sedekah atau zakat sudah ada sejak zaman para nabi terdahulu.

________
Footnote:

([1]) Lihat: Tafsir Al-Baidhowi 4/13

([2]) Lihat: At-Tafsir Al-Kabir