Tafsir Surat Al-An’am Ayat-162

162. قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn
162. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Tafsir :

Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengumumkan keikhlasannya dalam beribadah. Hal ini untuk menjelaskan bahwa agamanya adalah agama keikhlasan, bukan agama kesyirikan.

Terdapat dua pendapat berkaitan dengan makna نُسُكِي. Ada yang mengatakan maksudnya adalah sembelihan, dan ada yang mengatakan maksudnya adalah ibadah secara umum.([1])

Dari ayat ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa barang siapa yang mampu mengikhlaskan salat dan sembelihannya, maka akan lebih mudah baginya untuk ikhlas dalam ibadah lainnya. Dua ibadah tersebut adalah ibadah yang spesial, karena keduanya menunjukkan kecintaan seseorang yang luar biasa kepada Allah ﷻ.([2]) Orang yang melakukan salat dengan baik dan ikhlas, menunjukkan bahwa dia cinta kepada Allah ﷻ. Begitu juga orang yang menyembelih karena Allah ﷻ, maka menunjukkan dia cinta kepada Allah ﷻ karena dia rela berkorban untuk Allah ﷻ.

Firman-Nya,

﴿وَمَحْيَايَ﴾

“dan hidupku.”

Ini menunjukkan bahwa seluruh kegiatan duniawi bisa bernilai ibadah, apabila ia diniatkan hanya untuk meraih keridaan Allah ﷻ. Dengan menghadirkan hal ini, setiap kita -dengan izin-Nya- akan mampu merealisasikan firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini bukanlah memerintahkan manusia untuk menghabiskan seluruh usianya untuk shalat, puasa, atau ibadah murni lainnya. Melainkan ia adalah pengingat, agar setiap manusia menjadikan seluruh aktivitasnya lillaah, yakni demi meraih keridaan Allah ﷻ, sehingga seluruh kehidupannya akan bernilai ibadah.

Ini juga merupakan bantahan atas kalangan sekuler yang selalu mengampanyekan pemisahan antara agama dan dunia, serta menyerukan bahwa agama seharusnya berakhir di ambang pintu masjid saja. Kita bantah mereka dengan mengatakan, bahwa syariat Islam telah sempurna, dan mencakup seluruh lingkup kehidupan manusia. Islam telah membimbing kita untuk menjadikan seluruh hidup kita bernilai ibadah.

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/152).

([2]) Lihat: Tafsir as-Sa’di hlm. 935.