Tafsir Surat Maryam Ayat-41

41. وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِبْرَٰهِيمَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا

ważkur fil-kitābi ibrāhīm, innahụ kāna ṣiddīqan nabiyyā
41. Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.

Tafsir:

Jika pada ayat sebelumnya, Allah ﷻ telah menyebutkan adanya penyembahan kepada manusia, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani dengan menyembah Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam, maka mulai dari ayat ini Allah ﷻ menyebutkan penyembahan kepada benda mati dan patung-patung, seperti yang dilakukan oleh kaum Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam([1]). Ayat ini mengisahkan dialog antara Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dengan ayahnya yang bernama Azar, ketika beliau AS sedang mendakwahinya.

Perhatikan bagaimana Allah ﷻ memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ untuk membacakan kisah ini, karena memang kisah-kisah para nabi sangat sarat akan pelajaran berharga yang dapat dijadikan pedoman hidup oleh siapa saja yang mendambakan keselamatan di dunia dan Akhirat([2]). Allah ﷻ berfirman,

﴿أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ﴾

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah bapaknya para nabi([3]) dan nenek moyang ketiga dari Bani Israil dan suku Quraisy. Sebagai tambahan maklumat, nenek moyang pertama seluruh manusia adalah Nabi Adam ‘Alaihissalam, dan nenek moyang kedua mereka adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Ketika terjadi banjir besar pada zaman Nabi Nuh ‘Alaihissalam, seluruh manusia binasa kecuali 80 orang yang berada di kapal nabi Nuh ‘Alaihissalam. Tidak ada di antara mereka yang kemudian memiliki keturunan, kecuali anak-anak Nabi Nuh ‘Alaihissalam, yaitu Sam, Ham dan Yafits. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa garis keturunan seluruh manusia sampai saat ini bermuara pada Nabi Nuh ‘Alaihissalam.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah ayah Nabi Ishaq ‘Alaihissalam dan Nabi Ismail AS. Nabi Ishaq ‘Alaihissalam adalah ayah dari Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam yang merupakan ayah seluruh Bani Israil. Sedangkan Nabi Isma’il AS adalah ayah dari suku Quraisy. Seluruh nabi setelah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berasal dari Bani Israil, kecuali Nabi Muhammad ﷺ yang berasal dari bangsa Arab, tepatnya suku Quraisy. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah ayah dari seluruh nabi setelah beliau AS.

Urgensi kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam terletak pada status beliau AS yang merupakan ayah dari Bani Israil dan Quraisy. Nasrani dan Yahudi yang mayoritasnya ketika itu merupakan keturunan Bani Israil, berbuat kesyirikan dengan menyembah manusia atau nabi, sedangkan musyrikin dari Quraisy menyembah berhala([4]). Namun demikian, keadaan agama ayah mereka, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, tidaklah seperti mereka. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah sebagaimana yang telah Allah ﷻ firmankan,

﴿مَا كانَ إِبْراهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرانِيًّا وَلكِنْ كانَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَما كانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran: 67)

Ayat ini merupakan bantahan kepada kaum musyrikin dari kalangan Bani Israil dan kaum Quraisy, karena sejatinya nenek moyang mereka memusuhi kesyirikan yang mereka lakukan.

Allah ﷻ menyifat Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai shiddiq, yang berasal dari kata ash-shidq, yang bermakna kejujuran atau ketulusan. Nabi ﷺ bersabda,

وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا

“Seseorang senantiasa berkata jujur dan berusaha untuk selalu jujur, hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai seorang shiddiq.” ([5])

Akar kata lainnya dari shiddiq adalah at-tashdiiq, yang bermakna membenarkan. Karenanya, Abu Bakr radhiallahu ‘anhu digelari sebagai Ash-Shiddiq lantaran sikapnya yang selalu membenarkan Nabi ﷺ secara mutlak, tanpa pernah ada keraguan sedikit pun. Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang sangat terkejut mendengarnya. Bahkan sekelompok orang yang sudah sempat masuk Islam sampai murtad. Mereka tidak mampu membenarkan pengakuan Nabi Muhammad ﷺ bahwa beliau ﷺ telah melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsha di Palestina, lalu naik ke langit ketujuh, lalu kembali ke Mekkah, hanya dalam satu malam. Mereka pun memberitakan kabar itu kepada Abu Bakr radhiallahu ‘anhu. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu pun bertanya kepada mereka,

أَوَ قَالَ ذَلِكَ؟

“Apakah benar Muhammad berkata demikian?”

Mereka pun menjawab, “Benar! Dialah yang mengakui hal itu.”

Mereka mengira bahwa Abu Bakr radhiallahu ‘anhu akan berbalik tidak mempercayai Nabi Muhammad ﷺ. Namun ternyata seketika itu pula Abu Bakr radhiallahu ‘anhu malah berkata dengan hati yang mantap,

لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ

Seandainya memang benar dia telah berkata demikian, maka sungguh aku mempercayainya!”

Mereka pun kaget dan bertanya, “Engkau serius hendak mempercayai seorang yang mengaku telah bepergian ke Baitul Maqdis dan kembali lagi ke Mekkah hanya dalam satu malam?!”

Abu Bakr radhiallahu ‘anhu pun berkata,

نَعَمْ، إِنِّي لَأَصُدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ

“Ya! Sungguh aku mempercayainya tentang hal yang lebih hebat dari pada itu. Aku percaya bahwa beliau dapat mendapatkan wahyu dari langit pada waktu pagi atau pun malam hari.”

Aisyah radhiallahu ‘anhu menutup kisah ini dengan mengatakan, “Karena itulah Abu Bakr digelari sebagai Ash-Shiddiq.” ([6])

Nabi ﷺ juga bersabda,

مَا أَحَدٌ عَرَضْتُ عَلَيْهِ الْإِسْلَامَ (أَوِ الْإِيمَانَ) أَوِ النُّبُوَّةَ؛ إِلَّا كَانَتْ لَهُ كَبْوَةٌ([7])؛ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ

Setiap orang yang menerima tawaran Islam dariku pastilah sempat merasakan sedikit kebimbangan dalam dirinya. Namun tidak demikian dengan Abu Bakr.”([8])

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah pribadi yang selalu jujur dan membenarkan seluruh berita dari Allah ﷻ([9]). Ketulusan iman beliau telah melewati berbagai macam ujian, seperti yang telah termaktub dalam firman Allah ﷻ,

﴿وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ﴾

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 124)

Beliau AS diuji dengan berdakwah seorang diri di tengah-tengah kaumnya sendiri yang seluruhnya mendustakan dan memusuhi beliau AS, hingga akhirnya beliau AS dibakar dengan api -namun Allah ﷻ menyelamatkan beliau AS-, kemudian mereka mengusir beliau dari negeri beliau sendiri. Beliau AS juga diuji dengan perintah untuk meninggalkan istrinya tercinta beserta putera yang dinanti kehadirannya selama puluhan tahun -yaitu Ismail- di sebuah lembah yang tandus nan tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya, yang saat ini kita kenal sebagai kota Mekkah. Setelah Ismail AS tumbuh dewasa, beliau AS kembali diuji dengan perintah untuk menyembelihnya. Semua ujian ini -dengan taufik dari Allah ﷻ- berhasil beliau lewati dengan sempurna([10]).

Allah ﷻ menyifati Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dengan shiddiq dan juga sebagai nabi. Perlu diketahui bahwa sifat shiddiq bisa saja tersemat pada seorang yang bukan nabi, seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq RA.

Perhatikan firman Allah ﷻ:

﴿أُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ﴾

“Mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh.” (QS. An-Nisa’: 69)

Terdapat empat tingkatan yang disebutkan dalam ayat ini, yang paling tinggi adalah para nabi, lalu para shiddiq, kemudian para syahid, dan terakhir orang-orang saleh.

Termasuk salah satu bentuk bakti kepada kedua orang tua dan silaturahmi kepada para kerabat dan saudara, adalah mendakwahi dan menyampaikan nasehat kepada mereka dengan baik. Jika kemudian mereka menerima hal itu, maka alhamdulillah. Namun jika ternyata mereka menolak dan tidak terima, padahal nasehat dan dakwah sudah disampaikan dengan cara terbaik, hingga akhirnya mereka memutuskan hubungan dengan anda, maka anda tidaklah dikatakan sebagai seorang yang memutuskan silaturahmi. Tetaplah menasehati dengan baik, dan doakan hidayah untuk orang-orang yang kita cintai, terutama orang tua dan karib-kerabat kita.

Hal inilah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, hingga sang ayah mengusir dan memutuskan hubungan kekerabatannya dengan beliau. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam tetap menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik kepada sang ayah, meskipun beliau tahu berbagai resiko dan konsekuensi buruk yang mungkin timbul sebagai imbas dari penolakan sang ayah. Perbuatan semacam ini sama sekali bukanlah bentuk kedurhakaan kepada orang tua, justru ia merupakan salah satu wujud bakti yang terbaik kepada keduanya.

Allah ﷻ juga memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk melakukan hal yang sama, seperti dalam firman-Nya,

﴿وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ﴾

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 214)

Jadi, hendaknya seseorang tetap berusaha untuk beramar makruf nahi munkar kepada kerabatnya dengan cara yang baik. Seandainya hal itu kemudian berujung kepada sebuah pertikaian, maka dia tidak dikatakan telah memutuskan silaturahmi.

________
Footnote:

([1]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 16/111

([2]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/110

([3]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 16/111

([4]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 5/234

([5]) HR. Muslim no. 2607

([6]) Al-Mustadrak Li Al-Hakim no. 4407 disahihkan oleh Adz-Dzahabi

([7]) Menimbang-nimbang suatu perkara dan memikirkannya.

([8]) Al-Mujalasah wa Jawahirul-‘Ilmi no. 1077 3/469

([9]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 16/112

([10]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 16/112