Tafsir Surat Al-An’am Ayat-94

94. وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقْنَٰكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَٰكُمْ وَرَآءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ ۚ لَقَد تَّقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمْ تَزْعُمُونَ

wa laqad ji`tumụnā furādā kamā khalaqnākum awwala marratiw wa taraktum mā khawwalnākum warā`a ẓuhụrikum, wa mā narā ma’akum syufa’ā`akumullażīna za’amtum annahum fīkum syurakā`, laqat taqaṭṭa’a bainakum wa ḍalla ‘angkum mā kuntum taz’umụn
94. Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).

Tafsir :

Ayat ini sejatinya merupakan sebuah sindiran dan kehinaan bagi kaum kafir pada Hari Kiamat kelak. Telah disinggung sebelumnya, bahwa bentuk siksaan bagi kaum kafir tidak hanya siksaan fisik, melainkan juga siksaan mental. Al-Qur’an seringkali menyebutkan berbagai ejekan dan sindiran yang kelak akan ditujukan kepada mereka di Hari Kiamat, agar mereka dapat tersadar dan kembali beriman kepada Allah ﷻ selagi di dunia.

PERHATIAN 

Yang dimaksud dengan “Kami” pada dan sungguh kalian telah mendatangi Kami…”, adalah Allah ﷻ, bukan malaikat. Lihatlah bahwa setelahnya Allah ﷻ mengatakan “sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya”,  sementara malaikat tidaklah menciptakan. ([1])  Allah ﷻ menyebut diri-Nya dengan “Kami” pada ayat ini, dan juga dalam banyak ayat lainnya, sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap diri-Nya.

Hal ini penting untuk diketahui, karena terkadang yang dimaksud dengan kata ganti kami” di dalam Al-Qur’an adalah malaikat. Perhatikan bahwa. Contohnya adalah pada firman Allah ﷻ,

﴿فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ﴾

“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah: 18)

Yang membacakan ayat di sini adalah Malaikat Jibril ‘Alaihissalam.([2]) Allah ﷻ menggunakan kata “Kami”, karena malaikat Jibril ‘Alaihissalam melakukan itu atas perintah dari Allah ﷻ.

Begitu juga dalam firman Allah ﷻ,

﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ  ١٦ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ  ١٧ ﴾

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaf: 16)

Yang dimaksud dengan “kami” dalam ayat ini adalah malaikat pencabut nyawa, bukan Allah ﷻ. ([3])

Begitu juga firman Allah ﷻ,

﴿وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ  ٨٤ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ  ٨٥ فَلَوْلَا إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ ٨٦ ﴾

“Padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?” (QS. Al-Waqi’ah: 84-86)

“Kami” dalam ayat ini adalah malaikat, bukan Allah ﷻ.([4])

Intinya, terkadang yang dimaksud dengan “Kami” adalah Allah ﷻ, dan terkadang yang dimaksud adalah malaikat. Dan bahwa penggunaan kata “Kami” untuk Allah ﷻ bukan berarti Allah ﷻ berbilang, akan tetapi untuk menegaskan kemuliaan dan keagungan Allah ﷻ, sebagaimana gaya bahasa semacam ini memang populer di kalangan bangsa Arab.

Sebagian orang jahil terkadang menjadikan kata ganti “Kami” yang Allah ﷻ tujukan untuk diri-Nya dalam Al-Qur’an, sebagai argumentasi bahwa Allah ﷻ itu berbilang. Maka bantahannya adalah sebagaimana di atas, bahwa terkadang yang dimaksud dengan kata gantu “Kami” adalah Allah ﷻ, dan terkadang yang dimaksud adalah malaikat. Dan juga, bahwa penggunaan kata “Kami” untuk Allah ﷻ bukan berarti Allah ﷻ berbilang, akan tetapi untuk menegaskan kemuliaan dan keagungan Allah ﷻ, sebagaimana gaya bahasa semacam ini memang populer di kalangan bangsa Arab.

Andai memang penggunaan kata ganti “Kami” menunjukkan keberbilangan Allah ﷻ, pastilah para ahli dan pakar Bahasa Arab di zaman Nabi Muhammad ﷺ, seperti Abu Jahal, Al-Walid bin Al-Mughirah, dan yang semisal keduanya, akan mengkritik Al-Qur’an dan membantah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dari sisi ini.

Alangkah naifnya ketika kita dapati sebagian kalangan Nasrani menggunakan syubhat ini, untuk mengklaim bahwa keberbilangan Tuhan juga ada dalam Islam. Selain mereka tidaklah dapat memudaratkan Islam sedikit pun, karena hujah dan argumentasi mereka sangatlah lemah nan tak ilmiah, di sisi lain juga mereka sedang mengakui bahwa agama Nasrani memang menganut keberbilangan Tuhan.

Sungguh keyakinan yang benar mutlak tentang Tuhan, adalah apa yang Allah ﷻ firmankan dalam Al-Qur’an,

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  ١ اللَّهُ الصَّمَدُ  ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ  ٣ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ  ٤ ﴾

“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia’.” (QS. Al-Ikhlas: 4)

Perhatikan bahwa dalam ayat ini Allah ﷻ menggunakan kata kerja masa lampau, yakni pada firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu telah datang kepada Kami”, padahal peristiwa yang dikisahkan dalam ayat ini belum lagi terjadi. Gaya bahasa semacam ini dapat kita temukan beberapa kali di dalam Al-Qur’an.

Ada dua penjelasan para ulama terkait makna ayat ini:

Pertama: Allah ﷻ menggunakan kata kerja masa lampau untuk mengungkapkan  masa depan, demi menegaskan bahwa peristiwa tersebut pasti akan terjadi, atau yang biasa dikenal dengan tahqiiq. Seperti lafal yang diucapkan saat iqamat,

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاة

“Sungguh salat telah ditegakkan!”

Padahal, ketika ia diucapkan, salat belumlah ditegakkan. Hanya saja, lafal tersebut dalam rangka menegaskan bahwa shalat benar-benar pasti akan ditegakkan.

Jadi menurut penafsiran pertama ini, Allah ﷻ menggunakan kata kerja lampau untuk membantah kaum pengingkar Hari Kebangkitan, dengan menegaskan bahwa hari tersebut benar-benar akan tiba, dan bahwa ketika itu mereka akan mendatangi Allah ﷻ secara sendiri-sendiri.

Kedua: Ayat ini merupakan hikayat tentang masa depan, tentang apa yang kelak akan Allah ﷻ ucapkan kepada mereka pada Hari Kiamat([5]). Jadi, makna ayat ini menurut penafsiran kedua, adalah bahwa kelak Allah ﷻ akan mengucapkan kepada mereka,

﴿وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ﴾

“Dan sesungguhnya kamu telah datang kepada Kami sendiri-sendiri.”

Makna yang ditunjukkan oleh kedua penafsiran ini benar dan dapat diterima.

Yang dimaksud dengan kedatang mereka secara sendiri-sendiri, adalah bahwa mereka datang tanpa membawa harta, jabatan, keturunan, penolong, atau pun syafaat dari sembahan yang mereka sembah selain Allah ﷻ. Mereka akan datang sendiri, sebagaimana pertama kali mereka diciptakan, yaitu ketika mereka dilahirkan.([6])

Firman-Nya,

﴿وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ﴾

“dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.”

Maksudnya mereka meninggalkan seluruh karunia yang telah Allah ﷻ berikan di dunia([7]). Karunia tersebut sangat banyak macamnya seperti harta, jabatan, kekayaan, dan lainnya. Kata di belakang mereka, menunjukkan bahwa semua itu tertinggal sangat jauh dari mereka, dan mustahil untuk mereka dapatkan lagi.([8]) Mereka benar-benar datang tanpa membawa apa pun yang pernah mereka miliki di dunia, termasuk sembahan yang mereka klaim sebagai pemberi syafaat di sisi Allah ﷻ.

Jangankan di Hari Kiamat, bahkan ketika masuk ke liang lahad, semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Begitu juga ketika dibangkitkan, kita tidak akan membawa apa pun. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – أَوْ قَالَ: الْعِبَادُ – عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا

 “Manusia -atau para hamba- akan dikumpulkan pada Hari Kiamat, dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan buhman.

Para sahabat pun lantas bertanya, “Apakah makna buhman itu, wahai Rasulullah?”

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ

Yakni, mereka tidak membawa apa pun.([9])

Jika seseorang ingin mendapatkan manfaat dari hartanya pada Hari Kiamat, maka hendaknya ia mempergunakannya selama di dunia untuk meraih keridaan Allah ﷻ, di jalan-jalan yang Allah ﷻ cintai dan ridai. Sadarilah investasi yang hakiki ini dan manfaatkanlah ia, sebelum segala sesuatunya sudah terlambat.

Firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ﴾

“dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu.”

Di sinilah letak ejekan Allah ﷻ terhadap mereka. Di dunia mereka mengaku menyembah sembahan-sembahan yang kelak akan memberikan syafaat kepada mereka di sisi Allah ﷻ, sebagaimana Allah ﷻ hikayatkan perkataan mereka,

﴿وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِۚ﴾

“dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18)

Dalam ayat lain Allah ﷻ menyebutkan ucapan mereka,

﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ﴾

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (QS. AzZumar: 3)

Ketika Allah ﷻ mengatakan bahwa Allah ﷻ tidak melihat sembahan-sembahan mereka yang dahulu mereka anggap sebagai pembawa syafaat, maka mereka pun mulai mencari-cari sembahan mereka. Dalam keadaan demikian, Allah ﷻ pun kembali mengatakan,

﴿لَقَد تَّقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنكُم مَّا كُنتُمْ تَزْعُمُونَ﴾

“Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).”

Maka saat itulah terputus harapan mereka dari mendapatkan syafaat dan juga mereka tidak dapat menemukan sembahan-sembahan mereka di dunia, yang selama ini mereka percayai sebagai juru selamat mereka.([10])

Duhai alangkah merugi dan menyedihkannya nasib mereka yang berbuat kesyirikan di Akhirat kelak. Ketika kegagalan terungkap di dunia, maka masih ada kesempatan untuk merubah diri dan meraih kesuksesan kembali. Namun jika kegagalan baru disadari di Akhirat, maka ia adalah kegagalan dan kerugian hakiki, karena tiada lagi tersisa kesempatan untuk merubahnya.

______________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (7/382).

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (5/319).

([3]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (7/398).

([4]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (7/548).

([5]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (7/381).

([6]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/42-43).

([7]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/43).

([8]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (7/383).

([9]) HR. Ahmad No. 16042. Dinyatakan oleh sanadnya hasan oleh al-Arnauth.

([10]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (7/383-384).