Tafsir Surat Al-An’am Ayat-88

88. ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā`u min ‘ibādih, walau asyrakụ laḥabiṭa ‘an-hum mā kānụ ya’malụn
88. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Tafsir :

Ayat ini kembali menguatkan bahwa hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah ﷻ. Bisa jadi seseorang yang sangat dekat dengan seorang yang saleh, namun ia tidak mendapatkan hidayah. Di antara contohnya adalah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Sebaliknya, bisa jadi seseorang yang sangat dekat dengan seorang yang paling kafir, akan tetapi ia justru mendapatkan hidayah, seperti istrinya Fir’aun.

Intinya, hidayah berada di tangan Allah ﷻ, dan Allah ﷻ akan memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Adapun para hamba, mereka hanya mampu menebarkan hidayah al-irsyad, berupa dakwah, seruan, serta penjelasan yang dapat disampaikan kepada manusia. Sedangkan hidayah at-taufiq, berupa kekuasaan untuk menggerakkan hati menuju hidayah, maka ia sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah ﷻ semata.

Pada akhir ayat, Allah ﷻ menegaskan akan bahaya kesyirikan. Tentunya para nabi mustahil melakukan kesyirikan. Namun Allah ﷻ hendak menegaskan betapa bahayanya dosa syirik, dengan menyatakan bahwa kesyirikan akan menggugurkan segala amal seseorang, terlepas dari level yang telah ia capai sebelumnya, bahkan meskipun ia adalah seorang nabi. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ﴾

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” QS. Ibrahim: 35

Demikianlah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, bapaknya orang-orang yang bertauhid. Bukankah kita lebih pantas untuk selalu meminta demikian kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati?!