Tafsir Surat Al-An’am Ayat-72

72. وَأَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّقُوهُ ۚ وَهُوَ ٱلَّذِىٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

wa an aqīmuṣ-ṣalāta wattaqụh, wa huwallażī ilaihi tuḥsyarụn
72. dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya”. Dan Dialah Tuhan yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.

Tafsir :

Allah berfirman,

﴿وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَاتَّقُوهُ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ. وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Dan agar melaksanakan salat serta bertakwa kepada-Nya.” Dan Dialah Tuhan yang kepada-Nya kamu semua akan dihimpun. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar), ketika Dia berkata, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana, Mahateliti. (QS. Al-An’am: 72-73)

Inilah Allah ﷻ yang berhak disembah, yang menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Kalian wahai orang-orang musyrikin, apakah batu yang kalian sembah dapat menciptakan?! Bagaimana mungkin ia dapat menciptakan, sementara ia adalah benda mati yang diciptakan?! Wahai Nasrani, Apakah Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang kalian sembah mampu menciptakan sesuatu?!

Sesungguhnya yang berhak disembah adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ﴾

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (QS. Sad: 27)

﴿وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ﴾

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan kebenaran. Dan sungguh, Kiamat pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. (QS. Al-Hijr: 85)

Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran dan tujuan yang agung, bukan sia-sia belaka atau main-main. Allah ﷻ juga berfirman,

﴿إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى﴾

Sungguh, Hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. (Taha: 15)

Ash-Shuur adalah sangkakala, dan bentuknya seperti tanduk. Pendapat inilah yang lebih benar tentang makna ash-shuur. ([1])

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa ash-shuur adalah bentuk jamak dari ash-shuurah, yang maknanya ‘bentuk/gambar’. Sehingga makna ayat ini adalah, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu ditiupkan ruh kepada jasad-jasad manusia, yakni di Hari Kebangkitan.

Ayat ini sejatinya adalah bantahan selanjutnya yang Allah ﷻ ajarkan kepada kaum muslimin, untuk menjawab godaan murtad dari kaum musyrikin. Seakan-akan ayat tersebut mengajarkan kepada seorang muslim untuk mengatakan, Sungguh yang berhak disembah hanyalah Dia Yang menciptakan alam semesta. Bagaimana mungkin kalian mengajak kami untuk menyembah makhluk, seperti nabi, bukan wali, jin, pohon bebatuan, apalagi mayat yang tidak mampu berbuat apa-apa?! Sungguh jika Allah berkehendak untuk menghancurkan alam tersebut, Dia cukup mengatakan kun, maka hancur leburlah alam semesta ini, termasuk semua sembahan kalian selainNya!”

Bagaimana mungkin manusia yang masih merasakan lapar dan haus, malah disembah?! Bagaimana mungkin mayat yang terbujur kaku tak berdaya dalam kuburannya, malah disembah?! Bagaimana mungkin bebatuan yang kalian pahat dengan tangan kalian sendiri, malah kalian sembah?! Sungguh yang berhak disembah hanyalah Allah ﷻ, Dzat yang menciptakan alam semesta, Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang Maha Mengetahui segalanya, nan Maha Bijaksana segala keputusan-Nya.

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (7/20).