Tafsir Surat Al-An’am Ayat-71

71. قُلْ أَنَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ كَٱلَّذِى ٱسْتَهْوَتْهُ ٱلشَّيَٰطِينُ فِى ٱلْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُۥٓ أَصْحَٰبٌ يَدْعُونَهُۥٓ إِلَى ٱلْهُدَى ٱئْتِنَا ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

qul a nad’ụ min dụnillāhi mā lā yanfa’unā wa lā yaḍurrunā wa nuraddu ‘alā a’qābinā ba’da iż hadānallāhu kallażistahwat-husy-syayāṭīnu fil-arḍi ḥairāna lahū aṣ-ḥābuy yad’ụnahū ilal-huda`tinā, qul inna hudallāhi huwal-hudā, wa umirnā linuslima lirabbil-‘ālamīn
71. Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami”. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.

Tafsir :

Ayat ini menjelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad ﷺ berdakwah, ada beberapa manuver dari kaum musyrikin Quraisy untuk mengajak kaum muslimin agar kembali murtad, dengan berbagai macam godaan, tipu muslihat, dan rayuan ala mereka. Ada anak yang mengajak kedua orang tuanya kembali murtad, dan sebaliknya. Ada pula saudara yang mengajak saudaranya untuk kembali murtad. Ada pula suami yang mengajak istrinya untuk kembali murtad, dan sebaliknya. Dan seterusnya.([1])

Salah satunya adalah kisah Sa’ad bin Abi Waqqash (RA) yang dirayu oleh ibunya untuk kembali murtad. Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash (RA) pernah berkisah,

“Aku adalah anak yang sangat berbakti kepada ibuku.

Ketika aku memeluk agama Islam, ibuku pun berkata, ‘Wahai Sa’ad, agama baru apa ini?! Pilihlah, kau meninggalkan agama barumu ini, atau aku akan mogok makan dan minum sampai aku mati, sehingga kau akan dicela oleh orang-orang sebagai pembunuh ibunya sendiri!’

Aku pun berkata kepada beliau, ‘Wahai ibuku, sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku ini (agama Nabi ini).’

Ternyata ibuku benar-benar melakukan apa yang ia ancamkan. Beliau mogok makan dan minum selama sehari semalam, hingga di pagi harinya beliau terlihat begitu kepayahan. Meskipun demikian, beliau tetap melanjutkan mogok makan dan minumnya selama sehari semalam berikutnya, hingga pada pagi harinya beliau terlihat sangat kepayahan.

Melihat hal itu, aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai ibuku, demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus nyawa, lalu satu persatu nyawamu tercabut demi mengancamku untuk meninggalkan agama ini, maka sungguh aku tidak akan meninggalkannya. Jika engkau mau makan, maka silahkan makan. Dan jika engkau memang tidak ingin makan, maka silahkan teruskan mogok makan dan minummu.

Ketika ibuku melihat kesungguhanku dalam hal ini, beliau pun menghentikan aksi mogok makannya.”([2])

Ayat ini, adalah jawaban yang seharusnya diucapkan seorang muslim saat menghadapi manuver-manuver pemurtadan dari kaum musyrikin. Allah ﷻ memerintahkan kaum muslimin untuk menjawab godaan mereka dengan mengatakan,

 “Apakah kami akan beribadah kepada sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kami?! Apakah kami akan dikembalikan ke belakang, setelah Allah memberi petunjuk kepada kami, layaknya seorang yang telah disesatkan oleh setan di bumi dalam keadaan kebingungan, sementara kawan-kawannya mengajaknya ke jalan yang lurus?! Sungguh petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya, dan kami diperintahkan untuk berserah diri kepada Tuhan seluruh alam!”

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (7/299).

([2]) Tartib al-Amaliy, No. 2002 (2/168).