Tafsir Surat Al-An’am Ayat-50

50. قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

qul lā aqụlu lakum ‘indī khazā`inullāhi wa lā a’lamul-gaiba wa lā aqụlu lakum innī malak, in attabi’u illā mā yụḥā ilayy, qul hal yastawil-a’mā wal-baṣīr, a fa lā tatafakkarụn
50. Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”

Tafsir :

Di dalam ayat ini, Allah ﷻ kembali memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menjawab orang-orang kafir Quraisy yang selalu meminta agar diturunkan mukjizat-mukjizat yang ajaib. Telah disebutkan sebelumnya salah satu dari sekian tuntutan kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَقَالُوا لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنبُوعًا ٩٠ أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا ٩١ ﴾

“Dan mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya’.” (QS. Al-Isra’: 90)

Bantahan pertama telah dijelaskan pada ayat sebelumnya, bahwa tugas utama seorang rasul adalah membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Kemudian dalam ayat ini, Allah ﷻ kembali menyebutkan beberapa bantahan lainnya:

Jawaban pertama: Nabi Muhammad ﷺ tidak memiliki perbendaharaan kekayaan Allah ﷻ. Beliau ﷺ hanyalah manusia dan tidak memiliki hak rububiyyah. Rububiyyah hanyalah milik Allah ﷻ.

Oleh karenanya, sebagian ulama mengatakan bahwa barang siapa yang meminta rezeki langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ, maka dia telah melakukan syirik. Hal ini dikarenakan beliau ﷺ tidak memiliki perbendaharaan Allah ﷻ.([1])

Jawaban kedua: Nabi Muhammad ﷺ tidak mengetahui perkara gaib. Maksudnya beliau tidak mengetahui ilmu gaib secara langsung dan juga tidak bisa mengetahuinya secara berkesinambungan. Kadar pengetahuan beliau ﷺ terhadap ilmu gaib, hanyalah sekadar apa yang Allah ﷻ beritahukan kepada beliau ﷺ. Allah ﷻ berfirman:

﴿عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا ٢٧ ﴾

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn: 27)

Jadi, ilmu gaib hanyalah diketahui oleh Allah ﷻ semata, walau terkadang Ia ﷻ memberitahukan beberapa darinya kepada siapa yang Ia ﷻ kehendaki dari kalangan para nabi atau para malaikat. Adapun selain para nabi dana malaikat, maka tidak satu pun dari mereka yang mengetahui perkara gaib, termasuk jin yang dianggap sakti dan tahu segalanya oleh sebagian orang. Bukankah Allah ﷻ telah mengisahkan kepada kita bagaimana hinanya kaum jin yang masih terus bekerja di hadapan Nabi Sulaiman ‘Alahissalam yang sudah meninggal, karena mereka mengira beliau ‘Alahissalam masih hidup, dan lantaran mereka amat tunduk dan takut kepada beliau ‘Alahissalam?! Allah ﷻ berfirman,

﴿فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَن لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ﴾

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (kaum jin) kematiannya itu, kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’: 14)

Mahasuci Allah ﷻ yang menundukkan sebagian makhluk-Nya kepada sebagian makhluk-Nya yang lain. Mahasuci Allah ﷻ yang segala sesuatu tunduk dan patuh kepadaNya. Nabi Sulaiman ‘Alahissalam ketika itu salat dengan bertelekan pada tongkatnya, dan Allah ﷻ mentakdirkan bahwa beliau ‘Alahissalam meninggal dalam posisi tersebut. Melihat Nabi Sulaiman ‘Alahissalam yang masih tegak berdiri, para jin meneruskan pekerjaan yang Nabi Sulaiman ‘Alahissalam bebankan kepada mereka, karena mereka menyangka bahwa Nabi Sulaiman ‘Alahissalam masih hidup. Setelah berlalu waktu yang lama, tongkat  Nabi Sulaiman ‘Alahissalam pun akhirnya hancur karena dimakan rayap, dan tersungkurlah Nabi Sulaiman ‘Alahissalam ke tanah. Para jin pun terkejut ketika menyadari bahwa ternyata Nabi Sulaiman ‘Alahissalam sudah meninggal sejak lama. Seandainya mereka mengetahui hal yang gaib, tentulah sudah sejak lama mereka kabur dan meninggalkan pekerjaan mereka.([2])

Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ, yang merupakan makhluk yang paling Allah ﷻ cintai, pun tidak mengetahui perkara yang gaib, dan terlalu banyak dalil yang menegaskan hal ini.

Mari kita renungkan kisah peristiwa al-ifk, ketika Aisyah (RAH) dituduh berzina. Hingga satu bulan lamanya, Nabi Muhammad ﷺ tidak bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya, sampai-sampai ia bertanya kepada para sahabat dan budaknya tentang Aisyah (RAH). Setelah berlalu sebulan, barulah Allah ﷻ menurunkan ayat yang menepis segala tuduhan dari Aisyah (RAH). Baru ketika itulah Nabi Muhammad ﷺ mengetahui perkara yang sebenarnya.

Begitu juga ketika datang seorang tamu kepada beliau ﷺ, beliau ﷺ tidak mengetahui tentang ketersediaan makanan di rumah beliau, sehingga beliau ﷺ pun memerintahkan salah seorang sahabat untuk menanyakan hal tersebut kepada istri-istri beliau. Para istri beliau pun menjawab,

وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا عِنْدِي إِلَّا مَاءٌ

“Demi Dzat  yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh tidak ada yang tersisa di rumah kita kecuali air.” ([3])

Ketika kalung Aisyah (RAH) hilang, beliau ﷺ bersama para sahabat pun berpencar untuk mencarinya, dan bahkan akhirnya kalung tersebut tetap tidak berhasil beliau ﷺ temukan.([4])

Semua kisah ini berkaitan dengan masa lalu dan yang apa yang sedang terjadi, pun demikian Nabi Muhammad ﷺ tidaklah mengetahuinya. Lalu, bagaimana lagi dengan perkara yang berkaitan dengan masa depan?! Oleh karenanya ketika ada seorang budak wanita bersenandung,

وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ

“Di antara kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi pada esok hari.”

Maka beliau menjawab,

لاَ تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ

“Janganlah kamu berkata seperti itu! Cukup ucapkan apa yang biasa kamu ucapkan![5]” ([6])

Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari kecuali Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ﴾

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

Malaikat juga tidak mengetahui hal yang gaib. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ﴾

“Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS. Al-Baqarah: 33)

Jadi para nabi dan malaikat tidak mengetahui hal gaib kecuali setelah Allah ﷻ beritahu.

Orang saleh terkadang menjadikan mimpinya sebagai petunjuk untuk memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa depan. Hal ini tidaklah mengapa, dikarenakan memang mimpi orang saleh adalah satu bagian dari kenabian. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Mimpi yang benar merupakan salah satu dari 46 bagian kenabian.” ([7])

Namun tetap saja, yang dia ketahui melalui mimpi tidaklah sejelas apa yang Allah ﷻ beritahukan kepada nabi dan malaikat.

Dari sini kita ketahui betapa buruknya orang yang mempercayai dukun dan meyakini bahwa dukun mengetahui tentang masa depan. Ini adalah sebuah kekufuran, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barang siapa mendatangi dukun lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah mengingkari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” ([8])

Juga seandainya para dukun mengetahui masa depan tentunya mereka akan menjadi orang terkaya di dunia. Karena jika mereka mengikuti perjudian tentunya mereka bisa memenangkannya. Namun, ternyata mereka tetap miskin sehingga mereka terus buka praktik perdukunan. Hal ini dikarenakan mereka hakikatnya tidak mengetahui perkara masa depan.

Jawaban ketiga: Nabi Muhammad ﷺ memang merupakan manusia biasa seperti kalian, bukanlah malaikat. Malaikat tidak membutuhkan makan dan minum, memiliki berbagai kemampuan dan kekuatan yang luar biasa, telah menyaksikan langsung kehebatan Allah ﷻ dalam menciptakan beberapa hal, dan berbagai keistimewaan lainnya. Ini juga merupakan bantahan atas ledekan kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang Allah ﷻ sebutkan dalam firman-Nya,

﴿وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا﴾

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?’” (QS. Al-Furqan: 7)

Untuk membantah mereka, Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatakan,

﴿قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنتُ إِلَّا بَشَرًا رَّسُولًا﴾

“Katakanlah, ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?’” (QS. Al-Isra’: 93)

Tiga jawaban di atas disebutkan untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ hanya hamba Allah ﷻ yang tidak memiliki sifat rububiyyah sedikit pun. Beliau ﷺ tidak pernah mengaku-ngaku mengetahui ilmu gaib, lalu mengapa orang-orang kafir memintanya untuk membuktikannya?! Kecuali jika beliau pernah mengaku-ngaku memiliki ilmu gaib maka tidak mengapa bagi mereka untuk menuntut buktinya. Sungguh sebuah kezaliman ketika mereka menuntut Nabi Muhammad ﷺ untuk membuktikan berbagai hal, sedangkan beliau ﷺ hanyalah seorang manusia, dan beliau ﷺ sama sekali tidak pernah mengklaim kemampuan untuk melakukannya!

Beliau juga menekankan kembali bahwa beliau hanya mengikuti apa yang Allah ﷻ wahyukan kepadanya. Dalil-dalil sudah sangat jelas, dan orang yang memang berniat baik pasti akan mengetahui kebenaran Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman,

﴿أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-‘Ankabut: 51)

Sebenarnya Al-Qur’an sudah cukup menjadi mukjizat atas mereka, namun sayangnya merekalah yang memang enggan untuk beriman. Nas’alullaah as-salaamah wal ‘aafiyah.

______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Utsaimin surah Al-An’am hlm. 250.

([2]) Lihat: Tafsir Ibnu Athiyah (4/411).

([3]) HR. Muslim No. 2054.

([4]) HR. Nasai No. 310. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitabnya Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasai No. 310.

[5] Yakni, tidak mengapa memuji dengan apa yang sesuai dengan kenyataan, tanpa berlebih-lebihan atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Silahkan lihat penjelasan terkait hadits ini pada Fath al-Baari.

([6]) HR. Bukhari No. 4001.

([7]) HR. Bukhari No. 6989.

([8]) HR. Ahmad no. 9536. Hadits ini dinyatakan berstatus hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth (RH).