Tafsir Surat Al-An’am Ayat-2

2. هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰٓ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِندَهُۥ ۖ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ

huwallażī khalaqakum min ṭīnin ṡumma qaḍā ajalā, wa ajalum musamman ‘indahụ ṡumma antum tamtarụn
2. Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

Tafsir :

Firman Allah ﷻ,

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٍ﴾

“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah.”

طِينٍ adalah tanah yang bercampur dengan air agar mudah dibentuk. Maksudnya Allah ﷻ menceritakan tentang penciptaan Nabi Adam (AS) yang diciptakan dari طِينٍ. ([1])

Secara sederhana, Allah ﷻ menciptakan Nabi Adam (AS) melalui beberapa proses. Proses pertama, Allah ﷻ mengambil sampel-sampel tanah yang berbeda yang ada di bumi, oleh karenanya manusia ada yang berkulit coklat, putih, kemerah-merahan, sawo, kuning langsat, dan lainnya. Kemudian sampel tanah tersebut dicampur dengan air sehingga jadilah طِينٍ. Kemudian Allah membentuk طِينٍ tersebut dengan rupa manusia. Allah ﷻ berfirman,

﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ﴾

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (QS. Ar-Rahman: 14)

Baru setelahnya Allah ﷻ meniupkan  ruh ke dalamnya, sehingga jadilah Nabi Adam (AS). Lalu Allah ﷻ menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam, sebagaimana dalam firman-Nya,

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا﴾

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raf: 189)

Perlu diketahui bahwa dalam banyak ayat, Allah ﷻ menyebutkan penciptaan manusia dari air mani, sebagaimana pada firman-Nya,

﴿خُلِقَ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ﴾

“Dia diciptakan dari air yang dipancarkan.” (QS. At-Tariq: 6)

Juga pada firman-Nya,

﴿أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ﴾

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” (QS. Al-Mursalat: 20)

Lalu mengapa dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan penciptaan nenek moyang manusia, yaitu dari tanah yang bercampur air? Jawabannya, adalah untuk memperingatkan mereka akan hal tersebut, sehingga mereka kembali tersadar dan tidak lagi mengingkari hari kebangkitan. Allah (SWT) menyampaikan hal ini agar mereka tersadarkan dari ucapan mereka,

﴿ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ﴾

“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?.” (QS. Yasin: 78).

Allah ﷻ berfirman menjawab pertanyaan mereka di atas,

﴿قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ ﴾

“Katakanlah, ‘Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk’.” (QS. Yasin: 79)

Allah ﷻ hendak mengingatkan mereka, bahwa meskipun tulang mereka kelak hancur lebur menjadi tanah, maka sungguh sangat mudah bagiNya untuk menciptakannya kembali. Bukankah Dia telah menciptakan nenek moyang mereka dari tanah?

Firman Allah ﷻ,

﴿ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا﴾

“sesudah itu ditentukannya ajal.”

Yaitu kematian, dan setiap manusia telah ditentukan ajalnya.

Firman Allah ﷻ,

﴿وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِندَهُ﴾

dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya).”

Ajal yang kedua ini adalah waktu terjadinya Hari Kiamat.([2]) Berbeda dengan ajal kematian yang terkadang Allah ﷻ beritahukan kepada sebagian malaikat-Nya, ajal Hari Kiamat hanya diketahui oleh diriNya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ، وَرِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

“Kemudian Allah mengutus seorang malaikat dan diperintah untuk menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah) dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.” ([3])

Jadi, ada beberapa malaikat yang memang mengetahui tentang ajal manusia dengan izin Allah, akan tetapi tidak ada suatu makhluk pun yang mengetahui ajal Hari Kiamat. Oleh karenanya, ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah ﷺ  tentang waktu terjadinya Hari Kiamat, beliau ﷺ menjawab,

مَا المَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”([4])

Jika manusia terbaik (yaitu Nabi Muhammad ﷺ) dan malaikat terbaik (yaitu Jibril) tidak mengetahui tentang kapan terjadinya hari kiamat, lalu siapa lagi setelah mereka yang dapat mengetahuinya? Waktu terjadinya Hari Kiamat merupakan suatu yang sangat Allah ﷻ rahasiakan, meskipun telah Ia ﷻ tentukan waktunya. Maka setiap kali anda menemukan ramalan atau dugaan apa pun terkait waktu Hari Kiamat, yakinilah akan kedustaannya.

Firman Allah ﷻ,

﴿ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ﴾

“kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang Hari Kebangkitan itu).

Mereka meragukan segala sesuatu tentang Hari Kiamat, seperti Surga, Neraka, kebangkitan makhluk, pembalasan amal, dan seterusnya. Allah kembali menegaskan akan keanehan sikap mereka, yang masih saja meragukan semua itu, setelah sekian banyak tanda dariNya yang mereka ketahui. Mereka sudah mengetahui bahwa Allah ﷻ yang dengan mudah dan sempurnanya menciptakan langit, bumi, kegelapan, cahaya, serta nenek moyang mereka dari tanah, namun mereka masih saja menyekutukan Allah ﷻ dengan selainNya. Mereka tahu bahwa Allah ﷻ yang telah menciptakan mereka, namun mereka masih saja ragu bahwa Allah ﷻ Mahakuasa untuk membangkitkan mereka kembali setelah kematian mereka.([5])

________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Utsaimin surah Al-An’am hlm. 22.

([2]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (6/389).

([3]) HR. Bukhari No. 3208 dan Muslim No. 2643.

([4]) HR. Bukhori No. 50 dan Muslim No. 9.

([5]) Lihat: At-Tahrir wa at Tanwir (7/129).