Tafsir Surat Luqman Ayat-8

8. إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمْ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ

innallażīna āmanu wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum jannātun na’īm
8. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan.

Tafsir :

Setelah Allah ﷻ menyebutkan orang-orang lalai dan juga balasan dari perbuatan mereka di akhirat kelak, maka Allah ﷻ sebutkan golongan sebaliknya yaitu orang-orang beriman. Ini adalah di antara metode Al-Qur’an dalam memberikan penjelasan. Setelah selesai menjelaskan suatu hal, maka selanjutnya menjelaskan lawan atau kebalikan dari hal tersebut.

Bagaimana sikap golongan orang-orang yang dimaksud? Maka Allah ﷺ sebutkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh. Mengapa Allah sebutkan amal saleh secara khusus padahal amal saleh adalah bagian dari keimanan? jawabannya adalah untuk menjelaskan bahwa bukti dari keimanan adalah melakukan amal saleh.

Firman Allah ﷻ,

لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

“Bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan.”

Al-Alusi ketika menjelaskan ayat ini mengatakan, mengapa Allah ﷻ tidak mengatakan لَهُمْ نَعِيْمُ الجَنَّاتِ “bagi mereka nikmat-nikmat surga” akan tetapi mengatakan لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ “bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan”? Beliau ﷺ menjelaskan, karena jika Allah ﷻ mengatakan لَهُمْ نَعِيْمُ الجَنَّاتِ “bagi mereka nikmat-nikmat surga” maka bisa disalah pahami seakan-akan surga bukan milik mereka karena mereka hanya mendapatkan kenikmatannya saja. Demikian juga bisa disalah pahami juga bahwa di surga ada hal lain selain nikmat, padahal kita tahu bahwa di surga semuanya adalah kenikmatan.([1]) Sebagaimana ungkapan-ungkapan Allah ﷻ yang luar biasa tentang surga, diantaranya adalah firman Allah ﷻ,

وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا

“Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS Al-Insan : 20)

_______________

Footnote :

([1]) Lihat Ruh Al-Ma’ani, 11/79.