Tafsir Surat As-Sajdah Ayat-10

10. وَقَالُوٓا۟ أَءِذَا ضَلَلْنَا فِى ٱلْأَرْضِ أَءِنَّا لَفِى خَلْقٍ جَدِيدٍۭ ۚ بَلْ هُم بِلِقَآءِ رَبِّهِمْ كَٰفِرُونَ

wa qālū a iżā ḍalalnā fil-arḍi a innā lafī khalqin jadīd, bal hum biliqā`i rabbihim kāfirụn
10. Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?” Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya.

Tafsir :

Pada ayat ini Allah ﷻ sebutkan di antara bentuk tidak bersyukur mereka kepada Allah ﷻ yaitu perkataan mereka pada ayat ini, yang makna intinya mereka menolak hari kebangkitan.([1])

Firman Allah ﷻ,

وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ

“Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?”

Perkataan mereka pada ayat ini sama seperti perkataan mereka ضَلَّ الْمَاءُ فِي اللَّبَنِ yang artinya adalah air telah lenyap di dalam susu, dan juga seperti perkataan mereka أَضَلَّ بَعِيْرَهُ artinya adalah dia telah kehilangan untanya.([2])  Jadi makna ضَلَّ pada ayat ini adalah lenyap (bukan maknanya “tersesat”), sehingga makna dari perkataan mereka adalah jika kami telah lenyap di dalam bumi, daging dan tulang-belulang kami telah menjadi pasir dan tanah, apakah kami akan dibangkitkan dalam penciptaan yang baru?([3])

Firman Allah ﷻ,

بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ

“Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya.”

Ini adalah syubhat yang sering mereka sampaikan untuk mengingkari hari kebangkitan, dan Allah ﷻ juga sebutkan dalam beberapa ayat yang maknanya sama seperti ini. Ayat-ayat tersebut di antaranya adalah firman Allah ﷻ,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata.” (QS. AN-Nahl: 4)

Selanjutnya juga firman Allah ﷻ,

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ. وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (QS. Yasin: 77-78)

Dua ayat di atas semakna dengan konteks ayat yang sedang kita bahas dalam surah ini dimana mereka orang-orang kafir menjadi penentang bagi Allah ﷻ. Padahal Allah ﷻ lah yang menciptakan mereka dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, Allah juga memberikan berbagai macam kenikmatan seperti penglihatan, pendengaran, hati dan lain-lain. Sama halnya pada dua ayat di atas, Allah sebutkan Allah ﷻ menciptakan mereka dari air mani, kemudian tiba-tiba mereka kufur dan kemudian menjadi penentang Allah ﷻ.

Sebagian ulama ketika menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa mereka orang-orang kafir sebenarnya sadar bahwa hari kebangkitan  sangat mungkin terjadi. Hal ini karena mereka mengakui bahwa mereka dulunya suatu yang tidak ada, kemudian Allah ﷻ ciptakan mereka menjadi ada. Kalau Allah ﷻ mampu menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, maka untuk mengulang penciptaan kembali sesuatu yang sudah ada itu lebih mudah bagi Allah ﷻ. Tetapi walau sadar, mereka tetap kufur terhadap hari kebangkitan karena ada syubhat di kepala mereka. Syubhat tersebut Allah ﷻ sebutkan di akhir ayat dengan firman-Nya بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ “mereka ingkar akan menemui Tuhannya “, maksudnya yaitu mereka tidak ingin dihisab oleh Allah ﷻ.

Faedah:

Ini memberikan faedah kepada kita bahwa syahwat bisa mempengaruhi akidah seseorang. Seseorang jika sudah senang terhadap suatu maksiat, maka syahwatnya pun berusaha untuk menghalalkan. Contohnya adalah firman Allah di atas, tatkala mereka ingin foya-foya di dunia, melakukan segala apa yang mereka inginkan dari berbagai maksiat, maka mereka pun kufur terhadap hari kebangkitan. Hal ini karena mereka sadar konsekuensi dari meyakini hari kebangkitan adalah adanya hisab Allah ﷻ, dan mereka tidak menginginkan hal tersebut karena mengganggu syahwat mereka. Oleh karena itu, untuk memuaskan nafsu syahwat, mereka rela korbankan akidah mereka dengan mengingkari hari kebangkitan.

Tidak terbatas pada masalah akidah saja, syahwat bisa juga mempengaruhi tarjih (penguatan) seseorang dalam suatu masalah fikih. Terkadang seseorang tidak jujur dalam menilai suatu dalil. Hanya karena ada kepentingan pribadi atau sesuai dengan keinginannya atau syahwatnya, maka dia berusaha memilih pendapat yang sesuai dengan hawa nafsunya, dan itu terjadi.

________________

Footnote :

([1]) Lihat Tafsir Al-Qurthubi 14/91

([2]) Lihat Tafsir Al-Qurthubi 14/91

([3]) Lihat Ruh Al-Ma’ani 11/123