Tafsir Surat Maryam Ayat-22

22. ۞ فَحَمَلَتْهُ فَٱنتَبَذَتْ بِهِۦ مَكَانًا قَصِيًّا

fa ḥamalat-hu fantabażat bihī makānang qaṣiyyā
22. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

Tafsir:

Jika sebelumnya Maryam hanya menyingkir ke arah timur yang masih dekat dengan Baitul Maqdis, maka setelah mulai hamil Maryam semakin menjauh dan mengasingkan diri. Awalnya, ketika tidak haid Maryam beribadah di al-mihrab, dan jika sedang haid ia beribadah di rumah Nabi Zakariyya ‘Alaihissalam. Namun ketika ia mulai mengandung, ia semakin menjauh, karena khawatir dilihat oleh orang lain yang kemudian akan menuduh dan mencacinya([1]).

Mari kita renungkan betapa beratnya ujian yang dihadapi oleh Maryam alaihassalaam. Selama ini ia sudah mengabdikan dirinya untuk beribadah, hingga semua Bani Israil mengakui kesalehannya, ketakwaannya, dan bahwa tidak seorang pun yang mampu beribadah seperti Maryam. Terlebih lagi ia berasal dari garis keturunan yang suci nan terhormat, ayahnya (Imran) adalah seorang tokoh agama utama Bani Israil yang sangat mereka hormati, serta walinya adalah seorang nabi, yaitu Nabi Zakariyya ‘Alaihissalam. Sederet kebaikan, kesalehan, dan kehormatan yang disandang oleh Maryam, namun tiba-tiba Allah ﷻ mengujinya dengan kehamilan mukjizat, tanpa adanya ayah. Ia harus berhadapan dengan kaumnya membawa skandal yang amat bertentangan dengan citra dirinya yang dikenal oleh Bani Israil selama ini. Mengandung adalah ujian tersendiri bagi setiap wanita, terlebih lagi jika dialami dalam kesendirian dan tekanan batin yang luar biasa.

Demikianlah saudaraku, seberapa berat pun ujian yang anda alami, ia pasti akan fana, layaknya kefanaan dunia ini. Jika anda bersabar menghadapinya, dengan penuh husnuzhan kepada Allah ﷻ, maka yakinlah bahwa buah dari ujian tersebut akan sangat manis dan bermanfaat bagi anda, baik di dunia maupun di Akhirat. Ujian yang dihadapi oleh Maryam mungkin sulit terbayangkan oleh kita, namun ternyata dengan kesabaran dan keimanannya kepada Allah ﷻ, akhirnya semua itu berbuah sangat manis bagi Maryam, semoga salam Allah ﷻ atasnya.

Sebagian ulama menyatakan bahwa Maryam mengandung selama 8 bulan, ada pula yang mengatakan 6 bulan, dan ada juga yang mengatakan bahwa Maryam mengandung hanya sebentar saja. Namun –wallahu a’lam– yang lebih kuat adalah bahwa kandungan Maryam layaknya wanita lainnya, yaitu selama 9 bulan.([2])

_______
Footnote:

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/92

([2]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/93