Tafsir Surat Maryam Ayat-19

19. قَالَ إِنَّمَآ أَنَا۠ رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَٰمًا زَكِيًّا

qāla innamā ana rasụlu rabbiki li`ahaba laki gulāman zakiyyā
19. Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Tafsir:

Jibril AS pun memberitahu Maryam bahwasanya dia hanyalah utusan Allah ﷻ kepadanya, untuk memberinya kabar gembira perihal seorang anak yang suci yang akan Allah ﷻ anugerahkan kepadanya.

Berikut beberapa faedah dari penggalan kisah ini:

Pertama: Ucapan Maryam di atas, yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu dan bertakwalah kamu kepada Allah !”, adalah yang seharusnya diucapkan setiap mukmin ketika mendapati godaan semacam ini.

Misalkan ada lawan jenis yang mengirimkan fotonya kepada anda, maka segeralah berlindung kepada Allah ﷻ dan ingatkanlah dia untuk bertakwa kepada Allah ﷻ. Jangan menunda-nunda untuk menghapus dan memblokir percakapan anda dengannya, karena godaan bisa jadi semakin membesar sementara iman kita sedang turun.

Hal ini sangat penting untuk digarisbawahi dan diamalkan, karena godaan dari lawan jenis bukanlah hal yang sepele. Oleh karenanya Allah ﷻ menjanjikan pahala yang luar biasa bagi mereka yang berhasil mengendalikan hawa nafsunya dalam menghadapinya. Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu di antara 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah ﷻ pada Hari Kiamat adalah:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

“… dan seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang terhormat nan cantik jelita, namun ternyata ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allah .’..”([1])

Demikian juga pada kisah 3 orang yang terperangkap di dalam gua, lalu mereka pun bertawasul kepada Allah ﷻ agar Ia menyelamatkan mereka dari gua tersebut, dengan menyebut amal salih yang pernah mereka lakukan dengan penuh keikhlasan. Di antara amal tersebut adalah sebagaimana tersebut dalam doa salah satu dari mereka,

اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ

“Ya Allah , dahulu aku memiliki seorang sepupu yang sangat aku cintai. Aku ingin menjadikannya sebagai milikku, namun ia selalu menolak cintaku. Hingga suatu ketika ia melalui sebuah momen yang sangat sulit, ia pun meminta bantuan dariku. Aku pun memberinya 120 dinar dengan syarat ia mau menyerahkan dirinya kepadaku. Ia pun menerimanya.

Hingga tiba saatnya aku akan menyetubuhinya, ia pun berkata: ‘Janganlah kamu mengambil kehormatanku kecuali dengan cara yang halal!’

Mendengar itu, aku pun merasa sangat bersalah dan tidak jadi menyetubuhinya. Aku pun pergi meninggalkan wanita yang sangat kucintai itu begitu saja, dan aku sama sekali tidak meminta kembali dinar yang telah kuberikan untuknya.

Ya Allah , andai memang benar bahwa semua itu kulakukan hanya karena mengharapkan wajah-Mu, maka selamatkanlah kami dari kesulitan yang sedang kami hadapi.”

Allah ﷻ pun mengabulkan doanya, dan menggeser sedikit batu besar yang menutupi gua mereka….([2])

Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12)

Godaan terkait lawan jenis, terutama di zaman fitnah ini, sangatlah membahayakan dan menggelincirkan, tidak peduli siapa anda, apa kedudukan anda,  seberapa ilmu anda, baik anda sudah menikah atau belum. Karenanya, hendaknya seseorang senantiasa bertakwa kepada Allah ﷻ dan mengambil ibrah dari kisah orang-orang saleh yang pernah menghadapi godaan tersebut, dan akhirnya diselamatkan oleh Allah ﷻ, seperti Nabi Yusuf AS dan Maryam alaihassalaam.

Kedua: Maryam adalah sosok wanita suci yang amat jauh dari dosa kecil, apalagi dosa besar semacam perzinahan.

Ini merupakan bantahan kepada orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah hasil perzinahan antara Maryam dengan kerabatnya yang bernama Yusuf An-Najjar([3]). Perlu diketahui bahwa salah satu aib dan cacat yang nyata dalam Injil adalah menyebutkan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah Isa bin Yusuf An-Najjar, dan seterusnya hingga silsilah tersebut sampai kepada Nabi Daud AS. Sedangkan bagi umat Islam, maka Nabi Isa ‘alaihissalam adalah Isa bin Maryam, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beliau AS tidak memiliki ayah. Kalau memang Injil mengakui bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam tidak memiliki bapak, lalu untuk apa nasabnya dinisbatkan kepada Yusuf An-Najjar?! Bukankah menyebutkan nasab tersebut sama saja dengan mengamini tuduhan orang orang Yahudi bahwasanya Nabi Isa adalah anak hasil perzinahan antara Maryam dengan Yusuf An-Najjar?!

Kemudian firman Allah ﷻ,

﴿قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا﴾

“Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.” (QS. Maryam: 19)

Ayat ini bukanlah menyatakan bahwa Jibril AS lah yang menciptakan ruh Nabi Isa ‘alaihissalam, sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang Nasrani. Pemahaman yang benar terhadap ayat ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, dengan mengkompromikannya dengan dalil-dalil lain. Berikut poin-poin penjelasannya,

Pertama: Dalam qiraah lain, lafal (لِأَهَبَ لَكِ) pada ayat tersebut dibaca dengan lafal (لِيَهَبَ لَكِ), dengan menggunakan kata ganti ketiga. Sehingga jelaslah bahwa yang memberikan dan menciptakan ruh tersebut adalah Allah ﷻ. ([4])

Kedua: Jibril AS menisbatkan pemberian kepada dirinya, karena memang ialah yang secara langsung meniupkan ruh ke dalam tubuh Maryam atas perintah Allah ﷻ. Jibril AS tidaklah bermaksud bahwa dialah yang menciptakan dan memberikan ruh tersebut.

Ketiga: Pada ayat di atas, Jibril AS jelas-jelas mengatakan,

﴿إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ﴾

 “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu”

Keempat: Jibril hanyalah menyampaikan ucapan tersebut sebagai penghikayatan dari ucapan Allah ﷻ. Sehingga yang dimaksud dengan aku, adalah Allah ﷻ.([5])

Ini juga bantahan kepada orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa tuhan ada 3 yaitu tuhan bapak (Allah ﷻ), tuhan anak (Nabi Isa ‘alaihissalam), dan tuhan ruhul qudus (Jibril AS). Mereka menyebutnya dengan trinitas.

Jibril bukanlah tuhan! Jibril AS hanyalah hamba dan utusan Allah ﷻ, yang melaksanakan tugas-tugas khusus nan mulia yang Ia ﷻ berikan kepadanya.

_______
Footnote:

([1]) HR. Bukhori no. 1423 dan Muslim no. 1031

([2]) HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743

([3]) Lihat: Tafsir At-Thobari 18/169

([4]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/91

([5]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/91