Tafsir Surat Thaha Ayat-130

130. فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ ءَانَآئِ ٱلَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ ٱلنَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ

faṣbir ‘alā mā yaqụlụna wa sabbiḥ biḥamdi rabbika qabla ṭulụ’isy-syamsi wa qabla gurụbihā, wa min ānā`il-laili fa sabbiḥ wa aṭrāfan-nahāri la’allaka tarḍā
130. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang

Tafsir:

Perlu diketahui bahwa segala celaan, gangguan, dan hardikan, hanyalah mulai diterima Muhammad ﷺ setelah ia diangkat menjadi nabi dan rasul, setelah beliau ﷺ mulai mendakwahi kaumnya. Saudaraku, ketahuilah bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang sangat terhormat di tengah kaumnya. Secara nasab, beliau ﷺ adalah cucu dari Abdul Mutthalib, seorang pembesar utama Bani Hasyim, suku terbaik dari Quraisy. Secara perilaku dan akhlak, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah melakukan hal-hal sia-sia dan tak berfaedah layaknya keumuman pemuda Quraisy, apalagi berbuat dosa, seperti berdusta, berzina, menyembah berhala, mengganggu orang, ataupun menyakitinya. Orang-orang Quraisy menggelari beliau ﷺ sebagai Al-Amin, yakni seorang yang sangat mulia nan terpercaya.

Mengapa Allah ﷻ selalu menyebutkan gangguan lisan pada ayat di atas dan juga ayat-ayat lain yang semisalnya? Mungkin salah satu hikmahnya, adalah seperti yang disebutkan dalam sya’ir Arab,

جِرَاحَاتُ السِّنَانِ لَهَا الْتِئَامٌ      وَلاَ يَلْتَئِمُ مَا جَرَحَ اللِّسَانُ

“Luka sayatan pedang masih bisa disembuhkan, namun sangat sulit untuk sembuh luka akibat sayatan lisan.”([1])

Di antaranya tuduhan mereka kepada Nabi Muhammad ﷺ, adalah dengan mengata-ngatai beliau ﷺ sebagai dukun, pendusta, penyihir, orang yang tersihir, penyair, gila, orang yang keluar dari adat istiadat, dan sebagainya([2]). Padahal, seperti yang sudah kita jelaskan sebelumnya, sebelum turunnya risalah kenabian dan kerasulan, beliau ﷺ adalah orang yang paling mulia nan terhormat di antara mereka.

Seorang pencuri yang tertangkap basah, dan seorang yang memang sering berdusta, pasti akan tetap sakit hatinya jika mendengar orang lain mengata-ngatainya sebagai pencuri atau pendusta. Dari sini  kita bisa membayangkan beban hati dan kesedihan yang ditanggung oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika mendengar tuduhan-tuduhan para musyrikin Quraisy. Beliau ﷺ adalah seorang manusia yang suci, mulia, nan terhormat, baik lahir maupun batin. Bayangkan bagaimana perasaan beliau ﷺ tatkalah mendengar berbagai tuduhan dan celaan dusta tersebut! terlebih lagi, celaan demi celaan tersebut bukan muncul dari orang asing, melainkan dari para kerabat beliau ﷺ sendiri, dari kaum beliau ﷺ sendiri, dan dari mereka yang tadinya jelas-jelas memuliakan dan menghormati beliau ﷺ. Beliau ﷺ dipermalukan dengan berbagai celaan tersebut di hadapan khalayak, di pasar, di sekitar Ka’bah, di musim-musim haji, dan seterusnya.

Demikianlah, pada ayat ini Allah ﷻ memberikan solusi kepada Nabi ﷺ untuk meringankan segala beban yang beliau ﷺ tanggung dalam menyampaikan risalah ini, yaitu dengan mendirikan shalat. Mayoritas ulama menafsirkan tasbih pada ayat di atas dengan shalat, karena di shalat mengandung berbagai ucapan tasbih dan tahmid. Ayat lainnya yang semakna dengan ayat ini, adalah firman-Nya dalam surah Al-Hijr,([3])

﴿وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِما يَقُولُونَ . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ﴾

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).” (QS. Al-Hijr: 97-98)

Pada ayat ini, Allah ﷻ memerintahkan Nabi ﷺ untuk menunaikan shalat lima waktu:

  • قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ ‘sebelum terbit matahari’, yakni shalat subuh
  • وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ‘sebelum terbenam matahari’, yakni shalat asar.
  • وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ ‘sebagian malam’, yakni shalat isya’
  • وَأَطْرَافَ النَّهَارِ ‘ujung-ujung waktu siang’. Para ulama menjelaskan bahwa siang terbagi menjadi dua waktu yang dipisahkan oleh waktu zawal, yaitu  waktu tergelincirnya matahari hingga ia berada di tengah-tengah langit (sekitar 10 menit menjelang waktu zhuhur). Jadi siang yang pertama, adalah dari terbitnya matahari hingga waktu zawal, dan ujungnya adalah waktu shalat zhuhur. Dan siang kedua adalah dari zawal hingga terbenam matahari, dan ujungnya adalah waktu shalat maghrib.([4])

Kemudian di akhir ayat, Allah ﷻ menyatakan bahwa Nabi Muhammad AS akan mendapatkan keridaan dan pahala yang besar, yang akan membahagiakan beliau ﷺ([5]), sebagai balasan dari Allah ﷻ atas kesabaran dan shalat lima waktu yang beliau ﷺ laksanakan.

______
Footnote:

([1]) Lihat: Fashl Al-Maqal karya Abu ‘Ubaid ‘Abdullah Al-Andalusiy hal. 24

([2]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/260

([3]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/261 dan At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 16/337

([4]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/261

([5]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/261