Tafsir Surat Thaha Ayat-122

122. ثُمَّ ٱجْتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

ṡummajtabāhu rabbuhụ fa tāba ‘alaihi wa hadā
122. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Tafsir:

Setelah menyebutkan kesalahan Adam ‘Alaihissalam, Allah ﷻ pun langsung memuji Adam ‘Alaihissalam. Allah mengangkatnya menjadi seorang nabi, menerima taubatnya, dan memberinya petunjuk.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa setelah Adam ‘Alaihissalam bermaksiat, maka Adam ‘Alaihissalam pun langsung bertaubat dan berdoa,

﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

“Ya Tuhan kami, kami telah mendzolimi diri kami sendiri. Jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al-A’raf: 23)

Ada beberapa faedah terkait kisah Nabi Adam ‘Alaihissalam dalam surah Thaha ini, yaitu:

Pertama, Adam ‘Alaihissalam lah yang tergoda pertama kali oleh Iblis.

Ini berbeda dengan Injil atau Perjanjian Lama, yang menerangkan bahwasanya Hawa lah yang menjadi sumber masalah. Hawa yang memakan buah terlarang terlebih dahulu, kemudian baru menggoda Adam ‘Alaihissalam untuk memakannya. Dalam Islam, Adam ‘Alaihissalam lah yang menjadi pusat perhatian, Adam ‘Alaihissalam lah yang bersalah, dan Hawa hanya mengikuti suaminya.

Kedua, setelah Adam ‘Alaihissalam bermaksiat, beliau langsung bertaubat dan meminta ampun kepada Allah ﷻ, dan lihatlah apa yang beliau ‘Alaihissalam dapatkan dariNya! Allah ﷻ pun mengampuninya, memberi petunjuk kepadanya, serta mengangkatnya sebagai nabi dan rasul.

Ini adalah motivasi dan juga ibrah, bahwasanya seseorang yang bertaubat dari dosa masa lalunya, seringkali menjadi lebih baik, dan kedudukannya di sisi Allah ﷻ semakin meninggi.

Bagi saudaraku yang masih bergelimang dosa, sadarlah dan bertaubatlah! Allah ﷻ Maha Pengampun lagi menerima taubat.

Dan jangan sampai kita memandang remeh saudara-saudara kita yang masih bergelimang dosa. Jangan sampai rasa ujub merasuki kita, sehingga kita merendahkan mereka. Allah Mahaluas karunia-Nya, dan siapa tahu setelah ia bertaubat, Allah ﷻ akan membuatnya menjadi hamba yang jauh lebih mulia dari kita?!