Tafsir Surat Thaha Ayat-105

105. وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّى نَسْفًا

wa yas`alụnaka ‘anil-jibāli fa qul yansifuhā rabbī nasfā
105. Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya.

Tafsir:

Yang bertanya di sini adalah kaum musyrikin dari Quraisy. Ayat-ayat yang diawali dengan “mereka bertanya kepadamu” sangatlah banyak, diantaranya:

﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Baqarah: 189)

Kemudian,

﴿يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ﴾

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Baqarah: 215)

Kemudian,

﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ﴾

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar;” (QS. Baqarah: 217)

Kemudian,

﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ﴾

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,” (QS. Baqarah: 219)

Kemudian,

﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ﴾

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik” (QS. Baqarah: 220)

Mengapa kaum musyrikin Arab menanyakan tentang gunung?

Benda yang merupakan simbol kebesaran dan kekokohan bagi bangsa Arab secara umum adalah gunung. Karenanya, mereka biasa mengumpamakan ketegaran dan kekokohan sifat seseorang dengan mengatakan, “Dia itu bagaikan gunung!”. Terlebih lagi, gunung-gunung di daerah Arab tidak seperti gunung-gunung yang ada di daerah kita. Gunung-gunung di Indonesia pasir dan tanahnya mudah diambili, sedangkan gunung-gunung di daerah Arab mayoritasnya berupa pegunungan batu. Jika kita perhatikan pula, salah satu ciri khas pegunungan adalah, ia merupakan sesuatu yang kokoh dan tak berubah dari generasi ke generasi, sehingga gunung yang dilihat oleh manusia 500 tahun yang lalu, adalah gunung yang dilihat oleh kita saat ini. Bangsa Arab ingin tahu, apa yang akan terjadi dengan simbol kekokohan di bumi ini ketika Hari Kiamat nanti? Maka Allah ﷻ pun menjawab, bahwa semua itu akan hancur, sehancur-hancurnya.

Kaum musyrikin tadinya ingin menanamkan keraguan akan Hari Kiamat, dengan menyatakan secara tidak langsung, Bagaimana mungkin gunung-gunung yang amat kokoh ini akan hancur?!” Namun Allah ﷻ memerintahkan Muhammad AS menjawab dengan tegas, “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya!”

Sebagian ahli tafsir menafsirkan {نَسْفًا}, bahwa artinya adalah gunung tersebut akan dicungkil dari tanah, kemudian diterbangkan di udara, lalu saling ditabrakkan satu sama lain, hingga semuanya hancur lebur dan menjadi debu-debu yang beterbangan([1]). Allah ﷻ berfirman,

﴿وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ﴾

“dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5)
______
Footnote:

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/245