Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat-57

57. إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا

innallażīna yu`żụnallāha wa rasụlahụ la’anahumullāhu fid-dun-yā wal-ākhirati wa a’adda lahum ‘ażābam muhīnā
57. Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.

Tafsir :

Yang dimaksud dengan laknat adalah الطَردُ مِن رَحْمَةِ اللهِ yaitu dijauhkannya seseorang dari rahmat Allah ﷻ. Adapun yang dimaksud dengan mengganggu Allah ﷻ adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ  dalam hadisnya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ  bersabda, Allah ﷻ berfirman: Anak Adam telah menyakiti-Ku dia suka mencela masa. Padahal Aku pencipta masa. Akulah yang menggilir siang dan malam.”([1])

Menghina masa sama saja menghina Allah ﷻ yang mengatur masa. Sama halnya seseorang yang mencela hujan, angin dan cuaca maka hukumnya sama karena hal-hal tersebut di bawah kendali Allah ﷻ. Di antara bentuk mencela Allah ﷻ adalah dengan mengatakan bahwasanya Allah memiliki anak. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرَاهُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَشْتِمُنِي ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِي وَيُكَذِّبُنِي وَمَا يَنْبَغِي لَهُ أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ إِنَّ لِي وَلَدًا وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ لَيْسَ يُعِيدُنِي كَمَا بَدَأَنِي

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, Nabi ﷺ  bersabda, “Aku diperlihatkan ketika Allah berfirman: “Anak Adam mencaciku padahal tidak pantas dia mencaci-KU dan dia mendustakan-KU padahal tidak patut baginya. Caciannya kepadaKU yaitu ucapannya yang mengatakan bahwa Aku punya anak dan pendustaannya adalah ucapannya yang mengatakan bahwa tidak ada yang dapat mengemballikannya (setelah hancur dimakan tanah/mati) sebagaimana awal penciptaan-Ku”.([2])

Sama halnya dengan seseorang yang menyifati Allah ﷻdengan sifat-sifat yang tidak layak disematkan kepada-Nya, maka ini merupakan bentuk mengganggu Allah ﷻ.

Adapun mengganggu Rasulullah ﷺ  adalah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ  adalah pendusta, penyihir, orang gila, dukun, dan disebut sebagai shabi’ (yaitu orang yang keluar dari ajaran nenek moyangnya) dan lain sebagainya. Mereka juga pernah mengganggu Nabi Muhammad secara fisiknya di antaranya dengan meletakkan jeroan unta yang diletakkan di atas pundak beliau ketika sedang salat, bahkan bukan hanya beliau saja, putri beliau pun Fathimah radhiallahu anha juga mendapatkan gangguan, begitu juga istri beliau Aisyah radhiallahu anha yang pernah di tuduh berzina. Semua ini merupakan bentuk gangguan kepada Nabi Muhammad ﷻ .

________________

Footnote :

([1]) HR.  Bukhari No. 7491

([2]) HR.  Bukhari No. 3193