Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat-41

41. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikrang kaṡīrā
41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

Tafsir :

Setelah Allah ﷻ menyebutkan tentang pernikahan antara Nabi Muhammad ﷺ dengan Zainab binti Jahsyi radhiyallahu ‘anha. Akhirnya, orang-orang kafir dan munafik mencela Nabi Muhammad ﷺ. Setelah itu, Allah ﷻ menyuruh orang-orang beriman untuk tidak mempedulikan mereka dan fokus kepada mengingat Allah ﷻ

Allah ﷻ berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ memerintahkan orang-orang beriman untuk banyak berzikir kepada Allah ﷻ. Zikir adalah ibadah yang sangat mudah. Allah ﷻ menyebutnya dengan ذِكْرًا كَثِيرًا ‘zikir sebanyak-banyaknya’ bermakna bahwa ibadah ini bisa dikerjakan di mana saja, baik di laut, darat, rumah ataupun di kendaraan dan dalam kondisi apa pun, baik duduk, berdiri, berbaring maupun berjalan atau dalam kondisi suci, berhadas maupun junub. Adapun bagi orang yang junub tidak diperbolehkan baginya untuk membaca Al-Quran menurut pendapat mayoritas ulama.

Zikir ini bersifat umum, seperti tahlil, tahmid, hauqalah, takbir dan yang semisalnya. ذِكْرًا كَثِيرًا disebutkan dengan bentuk mutlak, artinya hendaknya seseorang berzikir sebanyak-banyaknya tanpa harus dibatasi dengan jumlah tertentu, misalnya 100 kali atau 1000 kali.

Ada zikir-zikir yang muqayad dan terikat dengan jumlah tertentu,seperti zikir yang diucapkan pada waktu setelah salat berupa tasbih sebanyak 33 kali, tahmid sebanyak 33 kali dan takbir sebanyak 33 kali. Inilah di antara zikir-zikir muqayad/terikat dengan jumlah-jumlah tertentu. Namun, kebanyakan zikir tidak terikat. ([1])

Seseorang bisa berzikir dengan mengucapkan salawat, bertahlil, bertasbih, bertakbir atau bertahmid dan zikir-zikir yang lain sebanyak-banyaknya tanpa ada batas dan tidak terikat dengan jumlah tertentu, selagi dia mampu dan bisa mengamalkannya dengan terus-menerus.

Inilah -sebagaimana Syaikh al-‘Utsaimin- di antara ibadah yang ringan, mudah dikerjakan dalam berbagai macam kondisi, memiliki pahala yang besar([2]). Namun, banyak ditinggalkan oleh banyak orang-orang beriman, kecuali orang yang diberikan taufik oleh Allah ﷻ.

Firman Allah ﷻ,

وَسَبِّحُوهُ

“Dan bertasbihlah kepada-Nya.”

Makna Tasbih

Para ulama menafsirkan tasbih dengan 2 makna, yaitu:

Pertama : Tasbih maksudnya adalah mengucapkan سُبْحَانَ اللَّه ‘Maha suci Allah’.

Zikir ini memiliki arti mensucikan Allah ﷻ dari segala kekurangan. Mayoritas ulama membawakannya kepada makna ini.([3])   Ayat ini menunjukan keutamaan berdzikir dengan bertasbih karena Allah memerintahkan untuk bertasbih secara khusus setelah memerintahkan untuk berdzikir secara umum. Allah berfirman :

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu) (QS Yunus : 18, demikian juga An-Nahl :1, Ar-Ruum : 40, dan Az-Zumar : 67).

Ayat-ayat seperti ini banyak dalam al-Qurán, Allah mensucikan dirinya dengan tasbih karena membantah kesyirikan atau kekurangan yang disandarkan kepadaNya([4]).

Kedua : Tasbih maksudnya adalah Salat sunah.

Sebagaimana disebutkan di dalam hadis Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

وَلاَ يُسَبِّحُ بَيْنَهُمَا بِرَكْعَةٍ

“Beliau tidak salat di antara keduanya (maghrib-isya).”([5])

Maksudnya Rasulullah ﷺ tidak menunaikan salat sunah ketika menjamak salat.

Firman Allah ﷻ,

بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Pada waktu pagi dan petang.”

Maksudnya adalah berkesinambungan dan terus menerus mengingat Allah. Allah ﷻ menyebutkan hal ini sebagai perwakilan dari semua waktu, artinya Allah ﷻ memerintahkan untuk bertasbih setiap waktu. Sebagaimana ketika seseorang berkata, ‘Saya selalu bekerja pagi dan petang’, artinya dia bekerja terus menerus tanpa henti.([6])

Sebagian ulama -di antaranya Syaikh As-Sa’di rahimahullah- berpendapat bahwa maksudnya adalah berzikir di waktu pagi dan petang hari. Dua waktu itu adalah waktu yang spesial, karena setiap orang pada pagi hari mengawali aktifitas kerjanya. Begitu juga pada saat petang hari, di mana saat itu banyak orang telah melepaskan segala pekerjaan duniawinya, sehingga pikirannya bisa terpusat kepada Allah ﷻ dan menjadi saat yang tepat untuk mengingat Allah ﷻ dan berzikir kepada-Nya.([7])

Minimal jika seseorang tidak mampu mengingat Allah ﷻ sebanyak-banyaknya, maka hendaknya dia melakukan zikir yang bersifat rutinitas, seperti zikir pagi-petang, zikir setalah salat atau doa-doa yang sering dia panjatkan kepada Allah ﷻ.

Ibadah zikir kurang hidup di tanah air kita. Seakan-akan namanya berzikir harus ke masjid atau tempat pengajian. Padahal di manapun tempatnya atau kapanpun waktunya dan apapun aktifitasnya, seseorang bisa berzikir kepada Allah ﷻ. Sebagaimana di Arab Saudi, banyak orang yang berzikir sambil berjalan ataupun ketika naik kendaraan. Pemandangan ini sudah menjadi hal yang biasa.

Banyak cara untuk berzikir kepada Allah ﷻ, baik dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid atau membaca Al-Quran. Adapun waktu yang spesial adalah pada saat pagi dan petang hari, karena pada saat itu pikiran seseorang belum banyak tersibukkan dengan perkara duniawi.

Firman Allah ﷻ,

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu.”

Sebagian ulama -seperti Thahir bin ‘Asyur rahimahullah dan juga diisyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam Tafsirnya- bahwa ini merupakan sebab kenapa Allah ﷻ memerintahkan kepada hamba-Nya untuk banyak berzikir. Barang siapa senantiasa mengingat Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan bersalawat kepadanya. Maksud Allah ﷻ bersalawat kepada hambanya adalah Allah ﷻ memujinya.([8])

Sejatinya zikir tersebut untuk kepentingan kita sendiri. Allah ﷻ berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

 “Ingatlah Aku, niscaya aku akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Oleh karenanya, jika kita ingin diperhatikan oleh Allah ﷻ, maka hendaknya kita senantiasa mengingat Allah ﷻ, baik dengan membaca Al-Quran, berzikir, membaca buku agama, menghadiri majelis ilmu dan lain sebagainya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, dari Nabi r, Allah I berfirman,

مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَطْيَبَ

“Barang siapa yang mengingatku di dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya dalam jiwaku. Barang siapa yang mengingatku di depan banyak orang, maka aku akan menyebutnya di hadapan makhluk yang lebih banyak dan lebih baik dari mereka.”([9]) (yakni: para malaikat)

Jadi, di antara sebab kita diperintahkan untuk berzikir adalah agar kita selalu diingat oleh Allah ﷻ. Jika kita sering diingat oleh Allah ﷻ secara khusus, maka kita akan mendapatkan perhatian khusus dari Allah ﷻ.

Bukan hanya Allah ﷻ yang bersalawat kepada orang-orang berzikir, tetapi malaikat juga bersalawat kepada mereka. salawat malaikat bermakna doa dan istighfar. Berdasarkan firman Allah ﷻ,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha perkasa, Maha bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (bencana) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (bencana) kejahatan pada hari itu, maka sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Gafir: 7-9)

Orang yang sering mengingat Allah ﷻ, sejatinya keuntungannya kembali kepada dirinya. Dia menjadi terkenal di langit, Allah ﷻ selalu menyebut-nyebut namanya di hadapan para malaikat dan memujinya.

Firman Allah ﷻ,

لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”

الظُّلُمَاتِ ‘kegelapan’. Para ulama menafsirkannya dengan الْكُفر وَالْجَهلُ ‘kekufuran dan kejahilan’. Adapun النُّورِ ‘cahaya’, maksudnya adalah الإِيْمَانُ وَالعِلمُ ‘iman dan ilmu’. ([10])

Ketika seseorang banyak mengingat Allah ﷻ, kemudian Allah ﷻ telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, maka, akan timbul pertanyaan, ‘Bukankah ketika kita berzikir kepada Allah ﷻ menunjukkan bahwa kita telah beriman dan tidak lagi berada di atas kegelapan? Untuk apa kita dikeluarkan dari kegelapan, padahal kita sekarang telah berada di atas cahaya Islam?

Para ulama menafsirkan bahwa maksudnya adalah agar orang-orang beriman istiqamah berada di atas kebenaran tersebut. Meskipun sekarang mereka telah berada di atas cahaya Islam, tetapi sejatinya mereka tetap membutuhkan penjagaan dari Allah ﷻ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah agar ditambah lagi cahaya. ([11]) Hal ini mirip seperti ketika seseorang berdoa dalam setiap salatnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Artinya adalah kita sudah berada di atas kebenaran agama Islam, maka Allah ﷻ senantiasa memberikan keistiqamahan dan selalu berada di atas jalan tersebut atau ditambahkan hidayah kepada mereka.

Firman Allah ﷻ,

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”

Di dalam bahasa Arab كَانَ adalah kata untuk menunjukkan sesuatu yang telah lalu. Namun, pada ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ ‘senantiasa demikian sifatnya’, yaitu selalu sayang kepada kaum mukminin. Sehingga rahmat Allah ﷻ lebih luas dari apa yang disebutkan pada sebelumnya.

Rahmat Allah ﷻ tidak hanya terbatas pada perintah kepada hamba-hamba-Nya untuk berzikir agar mereka mendapat pujian dari Allah ﷻ, doa malaikat atau dikeluarkan dari kekufuran menuju keimanan atau kajahilan menuju ilmu. Akan tetapi, itu semua hanya sebagian dari rahmat Allah ﷻ. ([12])

___________________

Footnote :

([1]) Tafsir al-‘Utsaimin, surah Al-Ahzab, (hlm. 324).

([2]) Tafsir al-‘Utsaimin, surah Al-Ahzab, hlm. 326.

([3]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, (22/48).

([4]) Diantara sisi-sisi pensucian Allah adalah :

Pertama : Allah mensucikan diriNya dari memiliki anak. Allah berfirman :

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya (QS Al-Baqoroh : 116)

مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia  (QS Maryam : 65)

لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan (QS Az-Zumar : 4)

Kedua : Allah mensucikan dirinya dari tuhan yang berbilang. Allah berfirman :

وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak (QS An-Nisa : 171)

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ´Arsy”

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya (QS Al-Isro’ : 42-43)

Ketiga : Allah mensucikan diriNya dari menjadikan pendeta-pendeta dan nabi Isa sebagai tuhan selain Allah. Allah berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (QS At-Taubah : 31)

Keempat : Allah mensucikan diriNya dari para pemberi syafaát yang diyakini oleh kaum musyrikin. Allah berfirman :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa´at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus : 18)

Kelima : Allah mensucikan diriNya dari memiliki anak perempuan (karena para malaikat dianggap oleh kaum musyrikin sebagai putri-putri Allah). Allah berfirman :

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. (QS Al-Anbiya’ : 26)

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki) (QS An-Nahl :57)

Keenam : Allah mensucikan diriNya dari sekutu yang bisa mengatur alam semesta. Allah berfirman :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (QS Ar-Ruum : 40)

Ketujuh : Allah mensucikan diriNya dari dijadikannya tuhan sesuatu yang tidak memiliki kemampuan untuk menggenggam alam semesta. Allah berfirman :

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS Az-Zumar : 67)

([5]) HR. Bukhari No. 1109.

([6]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi, (14/197).

([7]) Tafsir as-Sa’di, (1/667).

([8]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/49) dan Tafsir al-‘Utsaimin, surah Al-Ahzab, (hlm. 330).

([9]) HR. Ahmad no. 8650, hadis sahih.

([10]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/50).

([11]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/50).

([12]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir, (22/50).