Tafsir Surat Thaha Ayat-99

99. كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْرًا

każālika naquṣṣu ‘alaika min ambā`i mā qad sabaq, wa qad ātaināka mil ladunnā żikrā
99. Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran).

Tafsir:

Di balik berbagai kisah para nabi yang Allah ﷻ kisahkan dalam Al-Qur’an, tentulah terdapat sederet faedah dan hikmah bagi Nabi Muhammad ﷺ, karena kepada beliau ﷺ lah Al-Qur’an diturunkan, dan juga tentunya bagi seluruh umat beliau ﷺ secara umum. Di antara faedah dan hikmah tersebut adalah sebagai berikut,

Pertama:  Sebagai penegasan akan kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ.([1])

Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mendengar cerita apapun dari siapapun. Beliau ﷺ juga tidak bisa membaca dan menulis, sehingga tidak mungkin baginya untuk membaca kitab-kitab terdahulu, atau menyalinnya dari sumber tertentu. Ketika ternyata Nabi Muhammad ﷺ mampu menyampaikan kepada umatnya kisah para nabi terdahulu, serta bagaimana kehidupan mereka beserta umat mereka, tentulah itu merupakan bukti nyata bahwa beliau ﷺ adalah benar-benar seorang nabi dan rasul yang mendapatkan wahyu dari Allah ﷻ.

Terlebih lagi, Nabi Muhammad ﷺ berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang sangat mengerti kisah-kisah orang-orang terdahulu. Namun dengan penuh kepercayaan diri dan keyakinan, beliau ﷺ mengisahkan segala yang beliau dapatkan melalui wahyu, tanpa pernah diriwayatkan adanya pengingkaran atau bantahan dari mereka. Bahkan sebaliknya, mereka mengakui bahwa apa yang beliau ﷺ kisahkan memang benar adanya, bahkan tidak jarang apa yang Nabi Muhammad ﷺ kisahkan jauh lebih detail dan akurat dari apa yang mereka ketahui dari kitab suci mereka. Subhaanallah!

Kedua: Sebagai tasliyah (pelipur lara) bagi Nabi Muhammad ﷺ.([2])

Ketika beliau ﷺ mengetahui bagaimana para nabu terdahulu juga didustakan, bagaimana umat mereka membangkang dengan kerasnya terhadap mereka, tentu Nabi Muhammad ﷺ akan terhibur dan teringat kembali bahwa beliau ﷺ tidaklah sendirian, dan bukan merupakan satu-satunya nabi yang mendapatkan respon buruk dari kaumnya.

Ketiga: Sebagai peringatan bagi umat([3]).

KIsah-kisah Al-Qur’an tentang siksa yang menimpa kaum terdahulu yang membangkang kepada nabi-nabi mereka, seharusnya menimbulkan efek jera bagi siapa saja yang masih mendustakan dan membangkan kepada Rasulullah ﷺ.

Demikianlah tiga faedah penting yang mewakili berbagai faedah dan hikmah lainnya.

Para ulama menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan kata {ذِكْرًا} pada akhir ayat ini, adalah Al-Quran. Kata {ذِكْرًا} disebutkan dalam bentuk nakiroh (indefinitif), dalam rangka pengagungan dan pemuliaan, dan membawakan sesuatu yang ma’rifah (definitif) dalam bentuk nakirah (indefinitif), dikenal dalam bahasa Arab sebagai salah bentuk pemberian makna pengagungan dan pemuliaan pada kata tersebut([4]).

_______
Footnote:

([1]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/243

([2]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi 11/243

([3]) Lihat: Tafsir Al-Alusi 8/568

([4]) Lihat: at-Tahrir wa at-Tanwir 16/302 dan Tafsir Al-Alusi 8/568