Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat-1

1. يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ ٱتَّقِ ٱللَّهَ وَلَا تُطِعِ ٱلْكَٰفِرِينَ وَٱلْمُنَٰفِقِينَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

yā ayyuhan-nabiyyuttaqillāha wa lā tuṭi’il-kāfirīna wal-munāfiqīn, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā
1. Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Tafsir :

Allah membuka ayatnya dengan memanggil Nabi ﷺ, يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ ‘Wahai Nabi’. Ini merupakan bentuk pemuliaan kepada Rasulullah ﷺ. Ada dua bentuk penyebutan Nabi Muhammad ﷺ di dalam Al-Quran, yaitu:

  • Bentuk pengkhabaran

Terkadang Allah ﷻ menyebutkan Nabi atau Rasul atau nama beliau, yaitu Muhammad. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” (QS. Ali ‘Imran: 144)

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur`ān ini diabaikan”.” (QS. Al-Furqan: 30)

Dalam hal ini Allah ﷻ menyebutkan beliau ﷺ dengan nabi atau rasul.

  • Bentuk panggilan

Dalam bentuk panggilan ini, Allah ﷻ tidak pernah menyebutkan nama Nabi ﷺ dan tidak sebagaimana nabi-nabi yang lain. Sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ

“Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 1)

Allah ﷻ tidak memanggil beliau ﷺ dengan Muhammad. Adapun nabi-nabi yang lain Allah ﷻ memanggi dengan nama mereka, seperti di dalam firman Allah ﷻ,

وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

“Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan isterimu di dalam surga.” (QS. Al-Baqarah: 35)

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَامُوسَى

“Maka ketika dia mendatanginya (ke tempat api itu) dia dipanggil, “Wahai Musa!.” (QS. Taha: 11)

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

“Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik.” (QS. Hud: 46)

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ

“(Allah berfirman), “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi.” (QS. Shad: 26)

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku.” (QS. Ali ‘Imran: 55)

Ketika Allah ﷻ memanggil para nabi, maka Allah ﷻ memanggil nama mereka. Kecuali Nabi Muhammad ﷺ, Allah ﷻ memanggil beliau di dalam Al-Quran dengan يَا أَيُّها النَّبِيُّ ‘Wahai Nabi’ atau يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ ‘Wahai Rasul’. Ini menunjukkan bagaimana Allah ﷻ memanggil beliau secara langsung dengan gelar nabi dan rasul yang telah disandangnya.([1])

Firman Allah ﷻ,

اتَّقِ اللَّهَ

“Bertakwalah kepada Allah.”

Apakah Nabi Muhammad ﷺ tidak bertakwa? Tentu saja, Nabi Muhammad ﷺ bertakwa kepada Allah ﷻ dan beliau ﷺ adalah hamba Allah ﷻ yang paling bertakwa. Berdasarkan sabda beliau ﷺ,

أَمَا وَاللهِ، إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَخْشَاكُمْ لَهُ

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa dan takut kepada Allah.” ([2])

Untuk apa Allah ﷻ memerintahkan beliau ﷺ beliau untuk bertakwa?

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ telah bertakwa kepada Allah ﷻ dan beliau diperintahkan untuk bertakwa lagi, maksudnya adalah agar beliau ﷺ mampu untuk istiqamah, yaitu bertahan di dalam ketakwaan.([3])

Ada juga sebagian ulama yang mengatakan bahwa maksudnya adalah agar Nabi Muhammad ﷺ menambah ketakwaan beliau ﷺ dengan menambah amalan-amalan saleh lainnya([4]). Sebagaimana firman Allah ﷻ,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`ān) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisa: 136)

Di dalam ayat ini Allah ﷻ memerintahkan orang-orang beriman untuk beriman lagi, maksudnya adalah istiqamahlah kalian di atas keimanan kalian dan tambahkanlah keimanan kalian, karena kalian telah memiliki sifat keimanan. Seperti halnya ketika seseorang berdoa di dalam salatnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Bukankah agama Islam merupakan agama yang lurus? Jika iya, kenapa orang-orang beriman selalu berdoa agar diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus? Apakah mereka tersesat? Tidak, artinya adalah mereka sudah berada di atas kebenaran agama Islam, tetapi mereka tetap meminta kepada Allah ﷻ agar diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus agar Allah ﷻ senantiasa memberikan keistiqamahan kepada mereka atau ditambahkan hidayah kepada mereka.

Oleh karenanya, jika seseorang telah memiliki suatu sifat ketakwaan, kemudian diperintahkan untuk selalu minta untuk menjalankan sifat tersebut, maka hal itu memberikan arti bahwa dia diperintahkan untuk bertahan dalam sifat itu atau menambahkannya.

Allah ﷻ memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ agar bertakwa, karena Nabi Muhammad ﷺ sedang digoda oleh orang-orang kafir dan munafik. Sehingga perintah tersebut memberikan arti agar beliau ﷺ senantiasa bersabar dari godaan tersebut dan terhindar darinya.

Firman Allah ﷻ,

وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ

“Janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.”

Asbabun Nuzul

Orang-orang kafir adalah orang-orang yang menampakkan kekufuran, sedangkan orang-orang menafik adalah orang-orang yang menyembunyikan kekufuran. Pada saat itu mereka seringkali datang dan memberikan godaan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mereka memiliki ide-ide kepada beliau ﷺ agar mau meninggalkan dakwahnya.

Di antara ide mereka yang ditawarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah agar beliau meninggalkan orang-orang miskin yang beriman kepada beliau ﷺ. Jika beliau ﷺ mau meninggalkan mereka, maka orang-orang kafir dan munafik akan beriman kepada beliau ﷺ, sehingga jika mereka beriman, orang-orangpun akan ikut beriman kepada beliau ﷺ.

Selain itu, mereka datang kepada Nabi Muhammad ﷺ agar beliau tidak mencela sembahan-sembahan mereka. Jika beliau mau melakukannya, maka mereka akan memberikan harta, kedudukan dan perkara-perkara duniawi kepada beliau ﷺ.

Mereka tidak henti-hentinya menggoda Nabi Muhammad ﷺ agar beliau menghentikan dakwahnya. Akhirnya, sempat terbetik ide mereka di dalam hati Nabi Muhammad ﷺ. Beliau ﷺ terbawa memikirkan tentang ide mereka. Namun, Allah ﷻ membimbing Nabi Muhammad ﷺ dengan melarang beliau untuk mengikuti ide-ide dari mereka.([5])

Hukum asal bagi orang-orang beriman adalah tidak meminta pendapat orang-orang kafir dan munafik dalam urusan agama. Di dalam masalah agama/akhirat, kita sebagai orang yang beriman tidak perlu bermusyawarah dengan orang-orang kafir maupun orang-orang munafik. Islam telah lengkap dan telah memiliki petunjuk-petunjuk bagaimana bermuamalah dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

Firman Allah ﷻ,

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

Ini disebut dengan jumlah ta’liliyah (yang menjelaskan sebab), artinya kenapa Allah ﷻ melarangmu wahai Muhammad? Karena Allah ﷻ Maha Mengetahui lagi Maha Bijak. Seandainya menaati mereka itu membuahkan kebaikan, maka Allah ﷻ mengijinkan beliau ﷺ. Namun, karena Allah ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu dan mengetahui sesuatu yang terbaik bagi Nabi Muhammad ﷺ dan orang-orang beriman, maka Allah ﷻ melarang beliau dan kaum mukminin untuk mengikuti orang-orang kafir dan munafik, karena mereka tidak menginginkan bagi kaum muslimin, kecuali kehancuran Islam dan kaum muslimin.([6])

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan firman Allah ﷻ ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ada tiga kemungkinan, yaitu([7]):

  • Pembicaraan ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga berlaku bagi orang-orang beriman seluruhnya. Contohnya adalah sebagaimana firman Allah ﷻ,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ

“Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu.” (QS. At-Talaq: 1)

Sangat jelas sekali bahwa Allah ﷻ membuka ayat tersebut dengan menyebutkan Nabi Muhammad ﷺ, tetapi maksudnya adalah orang-orang beriman.

  • Pembicaraan khusus kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1)

Hukum ini hanya khusus kepada Nabi Muhammad ﷺ.

  • Ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ namun tidak ada indikasi bahwa ini adalah khusus bagi Nabi. Contohnya adalah sebagaimana firman Allah ﷻ,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ

“Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 1)

Hukum asal dalam konteks seperti ini adalah bahwa perintah untuk Nabi Muhammad ﷺ juga berlaku kepada seluruh orang-orang beriman, karena asalnya Nabi adalah teladan bagi kaum mukminin.

Di dalam firman Allah ﷻ, إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا  “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” Imam Al-Qurthubi rahimahullah menukilkan dari An-Nahhas berkata,

وَدَلَّ بِقَوْلِهِ” إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا” عَلَى أَنَّهُ كَانَ يَمِيلُ إِلَيْهِمُ اسْتِدْعَاءً لَهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، أَيْ لَوْ عَلِمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّ مَيْلَكَ إِلَيْهِمْ فِيهِ مَنْفَعَةٌ لَمَا نَهَاكَ عَنْهُ، لِأَنَّهُ حَكِيمٌ

“Firman Allah إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا   menunjukkan bahwa Rasulullah ada kecondongan kepada orang-orang kafir dan munafik, berharap agar mereka masuk ke dalam agama Islam. Maksudnya adalah jika kecondonganmu kepada mereka itu ada manfaatnya, tentu Allah tidak akan melarangmu dari menerima ide-ide mereka, karena Allah Maha Bijaksana.”([8])

____________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-‘Ustaimin, (33/17-18).

([2]) HR. Muslim, No. 1108.

([3]) Raudhatul Muhibbin, (1/288).

([4]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, (6/375).

([5]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, (6/375) dan Tafsir Al-Qurthubi, (14/114-115).

([6]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubi, (14/115).

([7]) Tafsir al-‘Utsaimin, (33/17).

([8]) Tafsir Al-Qurthubi, (14/115).