Tafsir Surat Saba’ Ayat-36

36. قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdiru wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn
36. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Tafsir :

Pada ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwasanya banyak anak dan kekayaan bukanlah barometer kebenaran, sebab Allah ﷻ memberikan hal tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki, bisa jadi kepada orang-orang kafir dan juga orang-orang beriman.

Banyak di antara orang-orang beriman yang kaya seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan sahabat-sahabat lainnya radhiallahu ‘anhum. Begitu juga dengan sebagian para nabi, Allah ﷻ menjadikan mereka kaya, seperti Nabi Dawud dan Sulaiman alaihimassalam. Namun dengan begitu, bukan berarti kekayaan merupakan barometer kebenaran. Kekayaan bisa jadi dimiliki oleh orang-orang yang benar dan bisa juga dimiliki oleh orang-orang yang sesat.

Begitu pun juga banyak orang-orang beriman yang Allah ﷻ beri mereka kehidupan miskin. Lihatlah Nabi Muhammad ﷺ, beliau adalah seorang nabi yang berkehidupan pas-pasan. Sampai-sampai beliau ﷺ pernah menggadaikan baju perangnya untuk menafkahi istri-istrinya.

Inilah di antara perkara yang membuat sebagian orang menutup telinga ketika diserukan kebenaran kepada mereka. Mereka tidak mau mendengar, sebab mereka telah merasa nyaman dengan kehidupan mewah mereka. Mereka khawatir dengan menerima kebenaran maka kenyamanan yang mereka rasakan berupa kemewahan-kemewahan tersebut menjadi berkurang atau bahkan hilang. Kondisi seperti ini pun terjadi pada sebagian anggota kelompok-kelompok Islam yang menyimpang di saat ini.

Lihatlah bagaimana para sahabat dahulu, mereka rela meninggalkan kenyamanan mereka. Harta serta jabatan mereka tinggalkan demi memeluk Islam. Allah ﷻ berfirman,

﴿لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)

Lihatlah Mush’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu, disebutkan dahulu beliau adalah pemuda yang paling harum di antara penduduk Makkah, kulitnya begitu halus, dan baju serta pernak-pernik yang dipakainya merupakan barang-barang yang sangat mewah nan mahal.([1]) Ketika ia memeluk Islam, maka seluruh kenikmatan tersebut diputuskan oleh orang tuanya. Jadilah ia seorang yang miskin, baju yang tadinya mewah berganti dengan baju yang ditambal-tambal, kulit yang tadinya halus menjadi kasar dan bersisik.

Sebagian para ulama menyebutkan bahwa di antara sebab tidak maunya orang-orang kafir Makkah beriman kepada Rasulullah ﷺ adalah karena mereka melihat Makkah pada saat itu merupakan kota pusat perekonomian, dan juga di Makkah terdapat pusat wisata religi yaitu adanya Ka’bah dan juga sekitar 360 berhala di sekitar Ka’bah. Dengan itu mereka berpikir jika saja mereka mengikuti agama Nabi Muhammad ﷺ maka seluruh keadaan tersebut akan berubah secara total.([2]) Intinya, ada pertimbangan ekonomi yang menjadikan mereka tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Firman Allah ﷻ,

﴿وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Benar, inilah sifat manusia. Banyak orang yang merasa jika mereka diberikan kekayaan maka berarti mereka dimuliakan. Allah ﷻ berfirman,

﴿فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ  (١٥) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ  (١٦) كَلَّاۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ﴾

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (QS. Al-Fajr: 15-17)

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain Li al-Hakim No. 4904.

([2]) Lihat: Miftah ad-Dar as-Sa’adah (1/97).