Tafsir Surat Saba’ Ayat-34

34. وَمَآ أَرْسَلْنَا فِى قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرْسِلْتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ

wa mā arsalnā fī qaryatim min nażīrin illā qāla mutrafụhā innā bimā ursiltum bihī kāfirụn
34. Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Tafsir :

Ayat ini merupakan suatu bentuk hiburan (pelipur lara) bagi Rasulullah ﷺ, dimana Allah ﷻ menyampaikan bahwasanya bukanlah beliau ﷺ saja yang dikufuri oleh kaumnya, namun para nabi terdahulu pun mengalami hal yang sama, mereka alaihimussalam pun dicibir dan dikufuri oleh kaum-kaum mereka.

Firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ﴾

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri.”

Dalam bahasa Arab قَرْيَةٍ bermakna بَلَدٌ yaitu negeri, baik itu negeri kecil maupun besar.([1]) Karenanya, Makkah disebut dengan ummul Qura, padahal di zaman itu ia merupakan kota yang besar. Allah ﷻ pun juga menyebutkan Makkah dengan قَرْيَةٍ di dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِّن قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ﴾

“Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. Muhammad: 13)

Berbeda halnya di zaman ini, istilah قَرْيَةٍ digunakan untuk daerah kecil yaitu kampung. Adapun istilah بَلَدٌ digunakan untuk daerah yang besar yaitu kota ataupun negeri.

Firman Allah ﷻ,

﴿إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُم بِهِ كَافِرُونَ﴾

“Melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.”

Kata مُتْرَفُ merupakan isim dalam bentuk majhul, sehingga maknanya adalah yang diberikan kekayaan. Siapa yang memberikan mereka kekayaan tersebut? Tentunya adalah Allah ﷻ, Allah ﷻ yang menjadikan mereka kaya. Allah ﷻ berfirman dalam ayat yang lain,

﴿وَقَالَ الْمَلَأُ مِن قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ﴾

“Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.” (QS. Al-Mukminun: 33)

Firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُم بِهِ كَافِرُونَ﴾

“Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.”

Sangat disayangkan, kekayaan yang Allah ﷻ berikan ternyata membuat mereka sombong dan angkuh, bahkan sampai mereka mengejek para rasul.

Konteks perkataan mereka pada ayat diatas datang dalam bentuk mengedepankan objek, yang ini dalam bahasa Arab membawa makna pembatasan.

Jadi, ini menunjukkan seakan-akan mereka menyatakan bahwa mereka tidak kafir kepada yang lainnya, mereka hanya kafir kepada apa yang para nabi bawa. Jelas, ini merupakan bentuk keras kepala yang sangat luar biasa terhadap para nabi.

Dari sini, dapat dipahami bahwa kekayaan sangat mempengaruhi keangkuhan seseorang. Dalam banyak ayat Allah ﷻ sebutkan bahwa di antara orang-orang yang paling banyak menentang para rasul adalah orang-orang kaya, seperti firman-firman Allah ﷻ yang menyebutkan قَالَ الْمَلَأُ “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata”.

Demikian juga Allah ﷻ menyebutkan bahwa di antara ciri penghuni neraka adalah orang-orang yang bermewah-mewahan ketika hidup di dunia, sehingga mereka pun sombong dan angkuh tidak mau tunduk kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ  (٤١) فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ  (٤٢) وَظِلٍّ مِّن يَحْمُومٍ  (٤٣) لَّا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ  (٤٤) إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan. (QS. Al-Waqi’ah: 41-45)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,

﴿وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ  (١٠) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا  (١١) وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا  (١٢) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا  (١٣) إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ﴾

Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: ‘Celakalah aku’. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq: 10-14)

Demikianlah perilaku kebanyakan manusia, di mana mereka lupa diri sehingga menjadi angkuh dan sombong, bahkan sampai mengejek para rasul setelah Allah ﷻ berikan kekayaan kepada mereka.

Inilah yang terjadi pada Rasulullah ﷺ pada kaumnya. Mereka yang menolak dan menentang dakwah Rasulullah ﷺ adalah para pembesar-pembesar Quraisy seperti Abu Jahal, Abu lahab, Walid bin al-Mughirah dan yang lainnya, yang tentunya mereka adalah orang-orang terpandang dan berkehidupan mewah. Adapun para pemuda di antara mereka yang mana pada saat itu belum memiliki jabatan atau kekayaan, mereka beriman kepada Rasulullah ﷺ.

Demikian pula para nabi dan rasul sebelum Rasulullah ﷺ, mereka pun mengalami hal yang sama seperti apa yang dialami Rasulullah ﷺ.

_______________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu Utsaimin Surah Saba’ hal. 221.