Tafsir Surat Saba’ Ayat-16

16. فَأَعْرَضُوا۟ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ ٱلْعَرِمِ وَبَدَّلْنَٰهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ

fa a’raḍụ fa arsalnā ‘alaihim sailal-‘arimi wa baddalnāhum bijannataihim jannataini żawātai ukulin khamṭiw wa aṡliw wa syai`im min sidring qalīl
16. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.

Tafsir :

Di dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwa kaum Saba’ berpaling dari peringatan agar bersyukur atas kenikmatan yang diberikan kepada mereka. Mereka telah diperingatkan oleh orang-orang saleh di antara mereka agar taat dan bersyukur atas kenikmatan yang telah Allah ﷻ berikan kepada mereka, tetapi mereka berpaling. Ketika mereka berpaling dan tidak bersyukur dan kufur terhadap nikmat Allah ﷻ, akhirnya Allah ﷻ memberikan hukuman kepada mereka.

Pada asalnya mereka semua adalah orang-orang yang beriman, terutama sejak ratu Bilqis masuk ke dalam Islam. Para ulama khilaf tentang maksud berpalingnya mereka dari peringatan Allah ﷻ. Sebagian ulama berpendapat bahwa maksudnya mereka telah berpaling dari nikmat Allah ﷻ, hingga mencapai derajat kufur besar. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa mereka hanya kufur terhadap nikmat Allah ﷻ. Mereka tidak bersyukur atas kenikmatan yang mereka dapatkan, tetapi mereka cenderung menggunakan kenikmatan-kenikmatan tersebut untuk kemaksiatan. ([1])

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menggabungkan keduanya. Selain mereka kafir secara akidah, mereka juga kafir atas nikmat-nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada mereka. Namun, tidak dijelaskan secara pasti apakah mereka kufur secara akidah atau kufur dengan tidak menggunakan nikmat pada tempatnya.([2])

Firman Allah ﷻ,

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ

“Maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar.”

سَيْلَ ‘banjir’ atau arus air yang sangat besar. Adapun makna الْعَرِمِ terdapat khilaf di antara ulama. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah keras, sehingga lafal سَيْلَ الْعَرِمِ ‘banjir yang keras/deras’ adalah satu ibarat yang tersusun dari pada sifat dan mausuf([3]).

Ada juga yang berpendapat bahwa الْعَرِمِ adalah jenis airnya yang tidak seperti biasanya. Biasanya air yang mengalir menuju bendungan selalu dapat ditampung dan dialirkan dengan baik. Namun, pada saat itu Allah ﷻ mengirimkan arus air yang sangat besar dan keras, sehingga bendungan mereka hancur. Arus air yang besar itu disebut dengan الْعَرِمِ. ([4])

Ada juga yang mengatakan bahwa الْعَرِمِ merupakan bentuk jamak الْعَرَمَة ‘waduk’ atau bendungan. Ada juga yang mengatakan bahwa الْعَرِمِ adalah nama tikus. Disebutkan bahwa pada saat itu banyak tikus yang datang dengan jumlah yang sangat besar. Sebelumnya kebun-kebun mereka sangat indah, subur tanpa ada hama sama sekali, tetapi karena mereka berpaling dari Allah ﷻ, akhirnya dikirimkan tikus-tikus yang banyak merusak bendungan dan kebun-kebun mereka. ([5])

Semua tafsiran tersebut menunjukkan bahwa bendungan besar dan kuat yang biasanya mereka gunakan untuk mengairi kebun-kebun mereka tersebut hancur lebur.

Tidak ada yang mengetahui kapan peristiwa tersebut terjadi. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah zaman ratu Bilqis atau Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, lebih tepatnya pada masa fatrah, yaitu setelah masa Nabi Isa ‘alaihissalam hingga diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. ([6])

Firman Allah ﷻ,

وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr.”

Kebun subur mereka diganti dengan kebun yang memiliki buah yang خَمْطٍ, yaitu ‘pahit’ atau ‘kecut’ sehingga tidak enak untuk dimakan([7]). أَثْلٍ adalah jenis pohon yang tidak diambil buahnya, tetapi diambil kayunya. Padahal, sebelumnya mereka memiliki buah-buahan yang banyak dari pohon-pohon. سِدْرٍ ‘pohon Sidr’ memiliki dua bentuk, yaitu ada yang tumbuh di daratan dan ada yang tumbuh di perairan. Sidr yang tumbuh di darat tidak memiliki buah, tetapi daunnya bisa digunakan untuk mandi dan hal-hal yang lain. Adapun sidr yang tumbuh di air memiliki buah.

Para ulama berpendapat bahwa sidr yang dimaksud di dalam ayat ini adalah yang tumbuh di perairan, karena memiliki buah. Allah ﷻ tidak menghilangkan buahnya sama sekali, agar mereka ingat dengan banyak kenikmatan yang telah mereka rasakan sebelumnya. Selain itu, agar mereka sadar bahwa dahulu Allah ﷻ telah memberikan buah yang banyak, tetapi setelah itu buah yang banyak tersebut menjadi sedikit sekali. Allah ﷻ memberikan pelajaran kepada mereka agar mereka mengenang masa lalu yang indah dan penuh kenikmatan tersebut seluruhnya telah kembali kepada Allah ﷻ.

قَلِيلٍ memberikan makna penekanan bahwa sidr yang tersisa sangat sedikit sekali. Ada juga ahli tafsir yang menyebutkan bahwa maksudnya adalah arus banjir yang besar tersebut menyisakan buah-buahan pahit/kecut, pohon yang hanya bisa diambil kayunya dan pohon sidr yang sangat sedikit sekali. ([8])

Ini merupakan bentuk hukuman yang Allah ﷻ berikan kepada kaum Saba’, karena mereka telah berpaling dari ayat-ayat Allah ﷻ.

___________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir al-Alusi, (11/300).

([2]) Tafsir as-Sa’di, (hlm. 677).

([3]) Lihat: Tafsir al-Alusi, (11/300).

([4]) Lihat: Tafsir al-Alusi, (11/300).

([5]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/285-286).

([6]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/285).

([7]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/286-287).

([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (14/287-288).