Tafsir Surat Thaha Ayat-15

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ

innas-sā’ata ātiyatun akādu ukhfīhā litujzā kullu nafsim bimā tas’ā
15. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

Tafsir:

Yakni, seandainya boleh Aku sembunyikan info tentang waktu terjadinya Hari Kiamat dari diri-Ku sendiri, pasti Aku akan menyembunyikannya([1]). Namun hal tersebut tidaklah mungkin, karena Allah ﷻ adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Ini juga menegaskan bahwa waktu terjadinya Hari Kiamat benar-benar disembunyikan secara mutlak dari para makhluk. Tidak seorang pun dari makhluk yang mengetahuinya, baik dari kalangan para malaikat atau pun para nabi. Allah ﷻ berfirman,

﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah , tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.” (QS. Al-A’raf: 187)

Jadi merupakan fenomena yang aneh, menyedihkan, nan lucu, apa yang kita dapati dari sebagian “dai akhir zaman” berupa klaim pengetahuan tentang waktu terjadinya Hari Kiamat atau sisa umur dunia ini. Para pembaca yang budiman, sikap yang benar ketika menemukan klaim-klaim seperti ini dari seseorang, adalah langsung mendustakan dan mengabaikannya, walaupun sedemikian runut dan rinci penjelasan yang berusaha ia sampaikan kepada kita. Karena Allah ﷻ telah memastikan bahwa tidak ada yang mengetahui hal itu selainNya, sebagaimana dalam ayat-ayat di atas.

Kemudian Allah ﷻ menjelaskan hikmah di balik adanya Hari Kiamat, yaitu agar setiap jiwa dibalas dengan apa yang telah dia kerjakan, dan ini adalah bukti keadilan Allah ﷻ yang sempurna. JIka pemimpin suatu wilayah hanya diam saja menyikapi berbagai keributan, sengketa, atau penganiayaan yang terjadi di wilayahnya, apakah si penguasa ini bisa disebut sebagai penguasa yang adil?! Jika seorang direktur mendapati bermacam-macam kecurangan oleh beberapa petinggi perusahaannya, kemudian dia mendiamkannya dan tidak memperdulikannya, bukankah pantas ia disebut sebagai direktur yang buruk?! Lalu, jika tuhan alam semesta ini membiarkan begitu saja setiap kezaliman, kejahatan, penganiayaan, dan hal-hal sejenisnya yang terjadi pada alam tersebut, tanpa mengadakan Hari Perhitungan dan Hari Pembalasan, apakah tuhan semacam ini bisa disebut sebagai tuhan yang adil?! Semua itu tentu mustahil bagi Allah ﷻ, karena Ia ﷻ adalah Tuhan Yang Mahaadil.

Footnote

________

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 4/40