Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat-4

4. إِنَّ ٱلَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَآءِ ٱلْحُجُرَٰتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

innallażīna yunādụnaka miw warā`il-ḥujurāti akṡaruhum lā ya’qilụn
4. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.

Tafsir :

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa di antara sebab turunnya surah Al-Hujurat adalah mengisahkan tentang orang-orang Bani Tamim yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang agama Islam. Dan ketika mereka datang pada tahun 9 H yaitu pada ‘aamul wufuud mereka datang dalam keadaan kurang beradab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berada di dalam kamar dengan berteriak memanggil: يَا مُحَمَّدُ اخْرُجْ إِلَيْنَا “Wahai Muhammad, keluarlah kepada kami!”, bahkan ada yang meriwayatkan bahwa mereka mengitari rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berteriak memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk keluar menemui mereka([1]), dan ini adalah perbuatan yang sangat tidak beradab karena mereka tidak memanggil dengan panggilan yang beradab seperti “wahai Nabi Allah” atau “wahai Rasulullah”, akan tetapi mereka memanggil dengan menyebut nama “wahai Muhammad keluarlah”, maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ini. Dari sisi lain seharusnya cukup bagi mereka dengan mengetuk pintu tanpa harus memanggil-manggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang berteriak hanya seseorang yaitu al-Aqro’bin Habis at-Tamimi.

عَنِ الْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ، أَنَّهُ نَادَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَلَمْ يُجِبْهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلَا إِنَّ حَمْدِي زَيْنٌ، وَإِنَّ ذَمِّي شَيْنٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمَا حَدَّثَ أَبُو سَلَمَةَ: ” ذَاكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ “

Dari al-Aqro’ bin Habis bahwasanya beliau menyeru Rasulullah shallallahu álaihi wasallam dari luar hujurot (rumah-rumah istri-istri Nabi shallallahu álaihi wasallam), namun Rasulullah shallallahu álaihi wasallam tidak menjawabnya. Maka Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ketahuilah bahwa pujianku adalah baik dan celaanku adalah keburukan !”. Maka Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata, “Yang seperti itu (yang pujiannya adalah baik dan celaannya adalah keburukan) hanyalah Allah azza wa jalla” ([2])

Jawaban menjadi pelajaran yang harus selalu kita ingat bahwa jika semua orang seisi dunia dunia mencela kita maka celaan mereka tidak akan memberikan pengaruh dan tidak akan memberikan masalah untuk kita, karena jika kita adalah orang yang terpuji di hadapan Allah maka akan tetap terpuji. Dan begitu juga jika  semua orang memuji kita maka pujian mereka tidak akan memberikan pengaruh apa pun di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, karena pujian dan celaannya yang berpengaruh hanya pujian dan celaan Allah subhanahu wa ta’ala, oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah teriakan panggilan mereka tersebut dengan ذَاكَ اللَّهُ “yang seperti itu hanya Allah subhanahu wa ta’ala”, ini adalah kalimat yang agung yang harus tersimpan di dalam hati kita agar kita bisa ikhlas dalam menjalankan segala kegiatan kita dan agar kita tidak mencari pujian manusia, karena percuma jika kita dipuji-puji manusia sedangkan kita termasuk penghuni neraka Jahannam, biarkan para manusia menela kita yang penting kita mulia di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Perhatikanlah dalam riwayat di atas dijelaskan bahwa yang berteriak itu hanya satu orang saja yaitu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimy, akan tetapi dalam ayat ini disebutkan إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad)” Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya dengan bentuk jamak/plural padahal yang berbicara hanya satu orang, hal ini dikarenakan seorang ini mewakili kebanyakan mereka, dan mereka setuju dengan apa yang diucapkan oleh Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimy. Hal ini seperti halnya kisah tentang orang yang menyembelih unta Nabi Shalih yaitu Salif bin Qudar, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَاۖ

“ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka” QS. Asy-Syams: 12

Yang dimaksud adalah orang yang membunuh Unta Nabi Shalih yaitu Salif bin Qudar. Walaupun yang membunuh hanya satu orang namun Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pada ayat selanjutnya,

فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَاۖ

“Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah)” QS. Asy-Syams: 14

Dalam ayat ini disebutkan dengan bentuk jamak “mereka” seakan-akan yang melakukan adalah orang yang banyak padahal yang melakukan hanya satu orang saja akan tetapi hukumnya disamakan seakan-akan yang melakukan adalah semuanya, hal ini dikarenakan mereka semua menyetujui apa yang dilakukan oleh Salif bin Qudar. Ini menunjukkan bahwa ketika ada kemaksiatan yang terjadi di hadapan seseorang walaupun dia tidak melakukannya namun dia mendukungnya maka dia hukumnya seperti orang yang melakukannya. Begitu juga dalam ayat ini, yang melakukan perbuatan tersebut hanyalah Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimy akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya dengan bentuk jamak إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad)” karena tidak mengingkari perbuatan Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimy tersebut, bahkan setuju, bahkan al-Aqro’ mewakili mereka.

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“kebanyakan mereka tidak mengerti.”

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dengan sangat detail dalam menjelaskan tentang mereka, Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengatakan bahwa mereka semua tidak berakal akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwa mayoritas mereka tidak berakal, maksudnya bahwa ada sebagian mereka yang berakal. Ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam menyifati suatu kaum, jangan sampai kita mengeneralisir dalam menghukum/memvonis/mencap suatu kaum.

Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya mereka tidak beradab, dan adab menunjukkan kadar akal seseorang([3]), hal ini dikarenakan Allah subhanahu wa ta’ala mengkaitkan antara tidak beradab dengan tidak berakal. Maka akan terlihat jelas akal seseorang dari adabnya dalam berbicara dan menyikapi suatu masalah dan yang lainnya.

_________________

Footnote :

([1]) Lihat: At-Tahrir

([2]) HR Ath-Thbrani dalam al-Mu’jam Al-Kabir no 878 dan imam Ahmad dalam Musnadnya no. 15991, namun dikatakan oleh Syu’aib bin Al-Arnauth bahwa hadits ini sanadnya lemah karena sanadnya munqhothi’ (terputus) karena hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Salamah bin Abdirrahman bin Áuf dari al-Aqro’ bin Habis, dan Abu Salamah tidak bertemu dengan al-Aqro’ bin Habis. Ibnu Hajar menilai bahwa riwayat ini adalah riwayat mursal (Lihat al-Ishoobah 1/253). Namun hadits ini dikuatkan (syahid) dari riwayat Al-Barra bin ‘Azib radhiallahu ánhu yang juga menjelaskan tentang ayat ini, namun hanya disebutkan bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak disebutkan nama lelaki tersebut. (HR. At-Tirmidzi no 3267)

([3]) Lihat: Tafsir As-Sa’dy hal: 799