Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat-37

37. وَتَرَكْنَا فِيهَآ ءَايَةً لِّلَّذِينَ يَخَافُونَ ٱلْعَذَابَ ٱلْأَلِيمَ

wa taraknā fīhā āyatal lillażīna yakhāfụnal-‘ażābal-alīm
37. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.

Tafsir :

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah meninggalkan tanda pada negeri tersebut yang menunjukkan bahwa tempat tersebut dahulu terdapat kaum yang telah dibinasakan. Para ulama berselisih pendapat tentang makna ayat ini letak negeri kaum Sodom, yaitu kaumnya Nabi Luth yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah Allah membiarkan tempat tersebut untuk menjadi daerah yang rusak, yang dapat dilihat oleh orang-orang setelahnya. Mungkin saja, tempat tersebut sudah tidak ada, tetapi sempat dilihat oleh orang-orang yang hidup di zaman setelah mereka. ([1])

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran: 137)

Dahulu hancurnya negeri mereka meninggalkan bekas sehingga masih dapat terlihat. Namun, seiring dengan berjalannya waktu hingga ribuan tahun mengakibatkan tanda-tanda tersebut hilang.

Ada juga ulama yang mengatakan bahwa tanda tersebut masih ada dan lokasi dibinasakan kaum Nabi Luth sekarang telah berubah menjadi (الْبَحْرُ اْلمَيِّت) yaitu laut mati([2]). Laut yang kadar garamnya sangat tinggi. Disebutkan bahwa kadar garamnya sepuluh kali lipat lebih asin dari kadar air laut biasa. Yaitu sebesar 35 gram per liter atau 32 % lebih tinggi jika dibandingkan terhadap kadar garam air laut yang memiliki rata-rata 3%. Sehingga sulit bagi makhluk hidup, seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk hidup di ekosistem ini, karena kadar garamnya yang sangat tinggi dan tidak seperti umumnya air laut. Disamping itu, posisi laut ini berada pada titik terendah di bawah permukaan bumi. Ada yang mengatakan titik terendahnya mencapai hingga 400 meter di bawah permukaan air laut, yang menunjukkan bahwa posisi laut mati ini sangat rendah. Karena dahulu pernah dicungkil oleh Allah, lalu diangkat dan dihancurkan sebagai adzab atas kaum tersebut. Inilah yang dikatakan oleh sebagian ulama, begitu juga menurut pendapat sebagian ahli sejarah. Wallahu a’lam. Kesimpulannya adalah kaum Nabi Luth pernah dijadikan ayat atau tanda kebesaran Allah, sehingga semua orang bisa melihat bagaimana dibinasakannya kaum tersebut.

لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

“Bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih.”

Ayat ini menjelaskan bahwa yang dapat mengambil pelajaran dari kisah ini hanyalah orang-orang beriman yang takut dengan azab yang pedih. Adapun orang-orang yang tidak beriman, mereka akan mengatakan bahwa kisah tersebut hanyalah kejadian alam belaka([3]). Seringkali terjadi malapetaka dan bencana, namun tidak dikaitkan dengan dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia. Seakan-akan itu hanya terjadi karena ada perubahan lokasi alam atau pergerakan lempengan kerak bumi. Padahal, sejatinya sebab terjadinya pergerakan lempengan bumi tersebut, akibat dari perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia. Betapa banyak orang-orang yang sudah menyaksikan bagaimana Allah menegur kaum-kaum yang melakukan dosa-dosa, namun mereka tidak bisa mengambil faedah. Dan yang mampu mengambil faedah hanyalah orang-orang yang takut terhadap azab Allah yang pedih.

Karenanya, jangankan musibah itu menimpa orang lain, terkadang musibah atau kesulitan yang menimpa kita sendiri, lalu kita menganggap musibah tersebut sebagai sesuatu hal yang kebetulan dan tidak mengaitkannya dengan dosa-dosa kita, maka kita tidak akan mampu mengambil pelajaran dari musibah tersebut. Seakan-akan itu hanyalah sebuah anggapan bahwa begitulah kehidupan manusia, perjalanan mereka tidak luput dari kebaikan dan kesulitan. Sehingga kita sendiri tidak mampu mengambil pelajaran pada diri sendiri. Akan tetapi bagi orang yang cerdas, dia bisa mengambil pelajaran atas musibah yang menimpa dirinya. Tatkala musibah datang kepadanya, dia selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah telah menegurnya dan itu menandakan bahwa Allah masih menyayanginya, karena bisa jadi dengan musibah itu Allah akan membinasakannya. Sehingga hal itu membuatnya kembali kepada jalan Allah. Jadi, orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari suatu musibah hanyalah orang-orang yang takut kepada azab yang pedih.

____________________

Footnote :

([1]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/179.

([2]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir 12/135.

([3]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 9/27.